CINTA GAIB LEAK NGAKAK

CINTA GAIB LEAK NGAKAK
Bab. 62


__ADS_3

Jika kamu tahu, betapa menderitanya diriku ketika bibirku tidak mampu tersenyum saat kamu bertanya, "Apakah aku harus menikah dengan Mayang?"


Aku terhenyak sedih, mataku tidak mampu menatap bola matamu saat pertanyaan itu meluncur dari bibirmu. Apakah aku harus mengaku bahwa cintaku setinggi gunung dan seluas Samudra? tidak, aku tidak akan pernah merendahkan diriku. Terlalu banyak sakit hati yang kau torehkan. Biarlah cerita cinta kita menjadi kenangan. bisik Devaly dalam hati. Dia menghapus air matanya yang merosot jatuh membanjiri bantal.


Tadi sore rombongan baru saja pulang, nenek ikut sibuk memamerkan calon istri Aditya yang akan mewarisi semua kebun, Bungalow dan kekayaan nenek yang lain. Siapa lagi jika bukan Mayang, wanita sombong dan merasa paling disayang nenek. Bagaimana Devaly tidak nyesek melihat semua itu, dia langsung masuk kamar melempar tubuhnya ke ranjang berusaha tegar.


Anehnya lagi Aditya sempat datang ke kamar dan bertanya, pernikahannya dengan Mayang Apalagi yang perlu dijawab kecuali Devaly mempersilahkan dan melanjutkan keinginan nenek.


"Devaly nenek memanggilmu?" Made nongol di pintu, tanpa mengetuk pintu.


"Hemm..."


"Kenapa kamarmu gelap begini, apa kamu menunggu seseorang?"


"Aku tidak sudi menunggu pepesan kosong yang membuat diriku menderita. kamu boleh duluan keluar, ntar aku menyusul." ucap Devaly lalu bangun.


"Oke..mereka menunggumu, jangan terlalu lama nanti nenek marah." kata Made keluar.


"Kenapa harus marah, aku turis dan tidak ada kesalahan yang aku perbuat." gerutu Devaly.


Made keluar, dia prihatin terhadap masalah yang dihadapi Devaly dan Aditya. Dia kasihan melihat Devaly yang tidak mengerti harus berbuat apa. Bagi gadis seperti Devaly tentu gampang mencari seorang pria tajir melintir, namun cintanya sudah terlanjur jatuh kepada Aditya. Itu yang Made tidak mengerti. Kenapa cinta itu tidak memandang tempat untuk berlabuh, kadang tepat, kadang juga tidak. Achh....


Devaly keluar menemui nenek. Untungnya sinar lampu di ruang tamu remang-remang, jadi wajahnya yang sembab tidak begitu terlihat. Disana ada Aditya, Mayang, nenek dan Made. Mereka menatap Devaly tanpa tersenyum.


"Selamat malam nek, apa nenek memanggil ku?" tanya Devaly sedikit nervous.

__ADS_1


"Duduklah, aku akan memberitahu batasan jika kamu masih tinggal disini." kata nenek tegas. Devaly duduk sendiri seperti pesakitan dan berusaha tegar.


"Aditya dan Mayang sebentar lagi akan menjadi suami istri, harap kamu menjauh dari kehidupan Aditya. Jika kamu masih ingin disini, kamu tidak boleh makan bersama. Kami akan rutin membawakan mu makanan ke kamar."


"Maaf nenek, aku jauh-jauh kesini berlibur untuk mencari ketenangan. Bukan aku tidak menghormati perintah nenek tapi aku rasa nenek sudah melewati batas. Aku tamunya Hotel Queen dan semuanya aku bayar, jika aku membuat kalian tidak nyaman, kembali kan aku ke Hotel Queen." Jawab Devaly emosi.


"Maksud nenek bukan begitu Devaly, kamu ïjangan pergi dari sini." Aditya tidak sadar memperlihatkan rasa sukanya kepada Devaly.


"Semua orang tahu kalau kamu seorang turis gembel, ntah apa pekerjaanmu di negara mu. Apapun itu yang penting jangan coba-coba mengganggu kehidupan Aditya." Mayang ikut angkat bicara. Matanya sinis.


"Mengapa kamu menekan aku, jika kamu ketakutan kehilangannya, kandangin dia. Jangan kasi dia kelayapan." ketus suara Devaly. Dia tidak takut sama nenek, Mayang apalagi Aditya. Cowok brengsek. bathinnya.


"Devaly ngomong yang benar, dasar bule kere tidak punya sopan santun. Hidupmu terlalu bebas." kata Mayang emosi, dia berdiri ingin menampar mulut Devaly, Aditya menahannya Mayang langsung memeluk Aditya.


Tidak peduli tanggapan mereka dia terlanjur sakit hati. Dengan setengah berlari Devaly beranjak dari pandangan mereka menuju Bungalow.


"Ada apa Devaly?" suara itu membuat Devaly menoleh kesamping, dia kaget ketika melihat kehadiran Rhafael Hindysugo dan Kemoning. Tanpa komando dia menghambur kepelukan pemuda itu, Kemoning sampai kaget.


"Tenanglah apa yang terjadi. Ceritalah kepadaku?" suara Rhafael tenang sambil membelai rambut Devaly.


"Biarkan aku menangis sesaat, aku tidak kuasa menghadapi semua ini. Hidupku sudah hancur, aku ingin pulang saja." air mata Devaly membasahi kemeja Rhafael.


"Aku menyiapkan bahu untuk kamu sandari, jangan pernah merasa sendiri, banyak orang menyayangimu." bisik Rhafael.


"Maaf anda siapa? ada keperluan apa kesini. Tolong jangan ikut campur masalah keluarga kami. Kemoning antar saudaramu keluar dan jangan coba-coba datang lagi!!" suara berat Aditya mengagetkan Devaly.

__ADS_1


Tangan Rhafael perlahan lepas dari tubuhnya ketika tangan kekar Aditya menarik tubuh Devaly dan menyeretnya ke kamar. Saat itu Devaly baru sadar, dan baru sempat berpikir, ketika Aditya melemparkan tubuhnya ke ranjang.


"Perempuan murahan, bisa-bisanya kamu berpelukan dengan orang yang belum kamu kenal. Tidak bisa menghargai diri, kamu tahu siapa bajingan itu. Dia itu play Boyolali." kata Aditya marah. Rahangnya mengeras.


"Berani dia bicara aku tampar mukanya, tidak ada etikanya."


"Ngapain kamu sibuk ngurusin aku, Rhafael temanku. Aku yang menyuruhnya kesini. Aku bisa pulang bersamanya ke luar negeri, mumpung dia mau tugas berlayar." sahut Devaly Berani.


"Kenapa kamu melakukan ini padaku, apa salahku. Kau seharusnya menjernihkan semua ini, bukan malah memperkeruhnya dengan cara membawa kelaki masuk ke Bungalow." Aditya begitu kesal sekarang.


Devaly meringis kesakitan saat tangan Aditya mencengkram tangannya, dia menatap pria itu yang lagi-lagi bersikap kasar padanya. Sikap Aditya yang seperti ini sudah sering ditunjukkan pada dirinya, mungkin dia akan tunjukkan pada siapapun yang membuatnya marah.


"Apa maksudmu? aku setuju memberikan pernyataan dan mendukung rencana ini, tapi aku tidak pernah menyetujui tindakan kasar mu padaku. Aku manusia bebas, jangan kamu mengekangku. Antara aku dan kamu susah tidak ada hubungan apapun lagi." kata Devaly menepis tangan Aditya dengan kasar.


"Jadi, kamu sehina ini. Jika kamu perlu uang atau kehangatan aku akan ladenin." teriak Aditya menarik baju Devaly. Tentu saja Devaly tidak terima diperlakukan begitu.


"Kenapa kau terkejut? kau marah atau kamu mendambakan kehangatan dengan Rhafael. Sekarang aku akan memuaskanmu, kamu yang telah membangkitkannya. Apa kau pikir, aku adalah malaikat yang akan melepaskan, tidak Devaly."


"Ada apa denganmu, lepaskan aku. Pergi kamu dengan calon istrimu. Aku juga akan mencari Rhafael. Aku benci padamu!!" kata Devaly yang mempertahankan pakaiannya dari tafikan tangan Aditya.


"Kau membuatku jatuh cinta padamu, sampai aku menjadikanmu sebagai duniaku, tapi kenapa kamu menghempaskan ku begitu saja dan pada akhirnya kamu menyakitiku. Dasar pecundang, penjahat!!" kata Devaly geram. Dia merasa terhina saat Aditya mulai naik ke ranjang.


"Sekarang kamu bertanya denganku? kenapa aku berbuat begitu, karena aku mencintaimu. Tapi kamu telah membuat aku marah dengan kebodohan mu yang menerima bajingan itu. Sekali saja aku melihat kamu dengan pria lain, jangan salahkan aku jika, tanganku akan membunuhnya." ancam Aditya serius.


*****

__ADS_1


__ADS_2