CINTA GAIB LEAK NGAKAK

CINTA GAIB LEAK NGAKAK
Bab.19


__ADS_3

Malam ini nenek dengan pelayannya akan pergi ke Delod Setra atau south of baby graves, agak jauh dari rumah nenek. Tadi ada teman nenek mengabarkan bahwa malam ini mayat bayi itu dibawa ke kuburan Delod Setra Mendapat informasi itu nenek bersemangat, dia bersiap mengajak pelayan kesana.


"Ada seorang ibu melahirkan anak terlalu dini. Umur kandungan ibu itu baru lima bulan dan bayi itu meninggal bersama ibunya. Ibunya akan di kremasi sedangkan anaknya dikubur di kuburan bayi." tutur nenek.


"Kita harus kesana sekarang, bayi itu akan dikubur malam ini. Jika kita mendapatkan ari-ari bayi itu, kita akan mempunyai Bebai. Benda ini khasiatnya sangat ampuh sekali untuk membuat orang gila." ucap nenek antusias.


"Kami sudah siap nek. Semoga nenek yang mendapatkan, jika tidak dapat jangan kecewa nek. Sebenarnya nenek sudah kaya raya buat apa mengambil ari-ari bayi. Mengapa harus ³ Bebwa aja ai?" Mayang protes secara halus. Dia lebih senang nenek apa adanya.


"Kau tahu Mayang, dulu aku selalu protes kalau nenekku menjadi Leak. Aku tidak pernah mau dibebankan masalah itu, sampai aku menghindari nenek dan tinggal di desa lain. Mungkin ini yang namanya takdir, sudah berapa kali menghindar akhirnya ngeleak juga jadinya."


"Jalani saja nek, nanti juga Aditya yang nenek wariskan." kata bibi Ayu.


"Dia tidak mau, sulit sekali." sahut nenek sedih. Raut wajahnya terlihat pasrah.


"Jangan khawatir nek kami siap membantu nenek dan membuat Tuan Aditya menerima warisan dari nenek." ucap Mayang berharap nenek setuju kalau dia menjadi istrinya Aditya.


"Tidak usah dipikirkan. Mari kita mulai ngereh. Kalian "ngereh" (berubah wujud) sesuai tingkatan kalian masing-masing."


"Baik nek..." sahut mereka serempak.


Mereka memakai kain putih sebatas dada dan menari-nari sebentar, setelah itu mereka mencari tempat di kebun yang tersembunyi dari pandangan orang. Rambut harus terurai ke depan dan kedua tangan dicakupkan di dada. Setelah itu mereka mengujar mantra "ngereh" supaya berubah sesuai tingkatan.


Nenek juga "ngereh" menjadi Lenda-lendi dan pelayan, ada yang menjadi monyet, anjing, bangkal, bade, celolok. Nenek merasa senang melihat tingkah pelayannya yang sudah bisa diandalkan. Ada kebanggaan tersendiri kalau punya anak buah yang sakti mandraguna.

__ADS_1


"Mari kita menuju delod Setra." kata nenek melesat, begitupun yang lain. Mereka adalah rombongan leak cantik yang membuat imam leak lelaki tergoda. Sepanjang perjalanan banyak leak yang berlomba menuju delod Setra.


Kuburan disini sangat seram, padahal khusus untuk kuburan bayi. Banyak sekali ada pohon yang menjulang tinggi, seperti pohon randu, pohon kapuk dan pohon lainnya yang rimbun. Nenek menginjakan kakinya ditanah, mulai berjalan bersama rombongan pelayan. Bola api berseliweran datang dan hinggap di atas pohon randu. Pelayan buru-buru berpencar mencari tempat tersembunyi karena banyak sekali leak berilmu tinggi ikut serta.


"Nenek aku menjauh dulu, semua yang datang leak berilmu tinggi. Aku takut kena imbasnya."


"Kalian sembunyi di bawah pohon beringin. Nenek akan mendekati leak barak yang berada dibawah pohon kecapi. Dia dari tadi melihat kearah nenek."


"Hati-hati nek nanti tergiur dengannya, dia itu leak Meranti dari desa sebelah."


"Nenek tidak senang dengan leak barak atau leak poleng. Nenek akan mencari dukun ngiwa yang berada diatas nisan." bisik nenek pergi ke arah selatan.


Sedang asyiknya pelayan dan bercengkrama dibawah pohon beringin. Tepat jam sembilan malam tiba-tiba ada suara tapak kaki, ramai sekali. Ada beberapa orang menangis sedu sedan. Rupanya rombongan pengantar mayat yang datang.


Para leak dan dukun ngiwa cepat menyingkir. Mereka membuat semedi para leak dan dukun ngiwa menjadi terganggu. Kaget ada mayat lagi. Tapi disisi lain mereka senang dan surprise juga.


Belum selesai penguburan bayi, tiba-tiba Leak Rangda maju dan mengambil ari-ari yang ditaruh di bawa oleh seorang laki-laki yang ternyata Jero Mangku. Yang juga kakek si bayi yang meninggal. Kakek ini sakti juga karena punya ilmu putih dan keris sakti.


"Heii...kau leak, jangan macam-macam. Aku tidak takut padamu, manusia lain boleh tidak melihat keberadaanmu, tapi aku melihatmu dengan nyata. Kau telah mengambil ari-ari ini, kau telah menyalahi aturan antara leak dan manusia!!" suara Jero Mangku keras menggelegar.


Jero mangku mencabut keris sakti dari pinggangnya. Semua pelayat menjadi merinding. Suasana tambah mencekam tatkala suara Leak tertawa ngakak.


"Kaukk...kaukk....kaukk...Jero Mangku dangin tukad (east of the river), apakah kau berani menantangku atau cuma mau menakutiku saja. Apa Jero tidak takut dengan Rangda yang bisa membunuhmu dengan sekali sentilan jarak jauh?" teriak Rangda mengejek.

__ADS_1


"Rangka keluar kau dari zona nyaman, kita mengadu kesaktian sampai titik darah penghabisan." kata Jero mangku emosi.


"Jero mangku kita pulang, jangan berkata yang bukan-bukan. Penderitaan Jro mangku sudah cukup dengan kehilangan anak dan cucu. Jangan ditambah dengan melawan leak lagi. cukup sudah." kata saudaranya yang ikut menemani Jro mangku.


"Pasti Leak ini yang makan anak dan cucuku sampai mati begini. Aku harus membalas dendam."


"Sudahlah Jero kita pulang." 0


Biasanya hanya orang sakti yang bisa melihat leak dengan jelas dan beradu argumentasi. Jika manusia biasa kadang melihat, kadang juga tidak. Leak dan Rangda yang ada di kuburan saat ini tidak terlihat, hanya Jro mangku yang melihat jelas.


Tiba-tiba terjadi sesuatu, tanah bergoyang. Angin bertiup kencang. Pohon yang ada disekitar sana seakan digoyang oleh ribuan tangan manusia. Terjadi perang Leak, bola api terbang saling berbenturan keras sampai mengeluarkan api dan suara gemuruh.


Para pelayat yang sudah selesai ritual cepat berlari. Mereka tidak mau kena imbas. Jero Mangku yang berkacak pinggang dan masih berkoar-koar ditarik supaya ikut lari. Tidak ada gunanya melawan Leak, yang akhirnya akan mati. Leak bisa terbang dan hilang ntah kemana. Sedangkan kita mati kaku ditengah kuburan.


Nenek dan pelayan terpaksa menghindar jauh karena Leak yang paling sakti berada di kuburan yaitu Leak Siwa Klakah.


"Siapa yang akan mengambil ari-ari itu nek, penasaran jadinya." kata Mayang.


"Tidak usah dipikirkan lagi, mari kita cepat pulang." sahut nenek bersiap melayang. Mereka melesat menembus malam diantara angin dingin yang menghadang.


Nun jauh di Gazebo Abisheka rebahan sambil menatap langit. Bukan malam membawa sunyi, tapi hati yang sudah terlanjur sepi. Saat malam mulai gelap, kerinduan semakin memudar, sabar pun tak berguna.


Jika malam adalah selimut kesunyian untuk apa perapian menghangatkan badan. Jiwa berada dalam sisi yang kelam dari kejamnya roda dunia. Tapi segelap-gelapnya malam, malam terkadang menghasilkan bintang yang bercahaya.

__ADS_1


******



__ADS_2