
Gusde dan Mayang berjalan bergandengan tangan menuju Bale Gede. Suasana yang mencekam membuat mereka berhalusinasi tentang Leak. Apalagi ditambah dengan suara burung hantu dan lolongan Anjing membuat badan Gusde merinding.
Angin malam berhembus kencang membuat suara dedaunan tambah berisik. Malam ini Mayang sengaja tidak berubah wujud karena ada Gusde, padahal kesempatan mencari mustika di depan mata.
"Kwek...kek...kek...." tiba-tiba ada seekor Angsa menghalangi jalan. Gusde berpikir bahwa Angsa itu adalah Leak. Mayang agak ragu-ragu tapi dia membiarkan Gusde menghadapi Angsa itu dengan gagah berani.
"Permisi Jro, jangan ikut campur di rumah ini. Pergilah, kau bukan saudara atau kerabatku. Jika kau orang luar minggir lah!!" bentaknya dengan nada tinggi. Gusde menghentakkan kakinya tiga kali sambil sesambat.
Angsa itu bukannya takut dan minggir, malah mulutnya nyosor ke kaki Gusde. Kemarahan Gusde menjadi-jadi, dengan sekali tendang Angsa itu melayang sampai membentur tembok.
"Bruuggh!!"
Angsa itu ambruk tak bernyawa. Gusde kaget bukan kepalang, segampang itu Leak kalah. bathin Gusde. Perlahan dia mendekati Angsa dan menginjak lehernya.
"Kraaakkk...." tamat sudah riwayat nya. Gusde merasa hebat bisa membunuh Leak dengan gampang.
"Gusde, kita masuk ke kamarku, banyak Leak yang menampakan diri." bisik Mayang takut sambil menggamit tangan Gusde. Walaupun Mayang Leak, ada rasa takut juga melihat
perwujudan Leak Asing yang menyeramkan.
Mereka cepat-cepat masuk kamar, karena Mayang merasa Angsa itu bukan Leak. Tiba di kamar Mayang marah kepada Gusde yang membunuh Angsa. Rasa kesalnya yang menumpuk kepada Devaly kini ditumpahkan kepada Gusde.
"Aku benci padamu, kenapa kamu tiba-tiba datang mencariku. Hubungan kita hanya sebatas suka sama suka, tidak lebih. Jika kamu menuntut lebih carilah wanita lain yang bisa mencintaimu." ketus suara Mayang.
Tadi dia berencana untuk mengintip Aditya lebih lama lagi. Dia ingin tahu kelemahan Aditya ada dimana. Mayang menarik nafas panjang membuangnya kasar. Setiap ingat pergumulan Aditya, hati Mayang bergejolak, terbayang badan Aditya yang tinggi tegap dan kekar, dengan atribut besar, membuat Mayang tidak bisa melupakan begitu saja. Seandainya dia bisa mendapatkan Aditya, dia akan puas.
"Mayang, kenapa kamu memarahiku." Gusde memegang tangan Mayang dengan erat.
__ADS_1
"Aku takut semua Leak akan mencari kita." kilah Mayang mengunci pintu. Dia langsung merebahkan dirinya di ranjang.
"Kenapa tidur, kita harus waspada. Aku ngeri, badan ku merinding ketakutan berhadapan dengan Leak. JIka Leak itu tidak kejam dan usil, aku berani menghadapinya."
"Elehhh, jangan banyak cingcong. Naik ke atas, malam ini puaskan diriku. Sudah lama kau tidak memuaskan aku." perintah Mayang manja.
"Baru tiga hari kita tidak bersama, kamu sudah rindu. Katamu tidak cinta padaku tapi selalu butuh dekapanku. Kemarin kamu sibuk aku tidak berani mencarimu, tadi karena aku ingin melihat nenek, aku memberanikan diri datang dan kebetulan melihatmu sedang mengintip di jendela."
"Aku menginginkanmu setiap hari, mungkin ini bawaan hamil."
"Kita menikah saja sebelum anak kita lahir. Tuan Aditya tidak mungkin menikahimu, dia sudah punya nona Devaly. Aku mencintaimu Mayang."
"Aku tidak mau menikah denganmu, aku ingin orang kaya supaya anakku bisa hidup mewah dan bersekolah di Internasional."
"Walaupun aku tidak sekaya nenek, aku bisa mewujudkan keinginanmu, memberikanmu mobil, rumah dan semua yang kamu inginkan aku siap mempersembahkan untukmu."
"Hahaha, dasar gombal. Kamu bukanlah satu-satunya, laki-laki yang pernah datang meniduriku, banyak sekali dan semua bicara bohong. Jadi aku tidak percaya padamu." ucap Mayang acuh.
Suara ketukan pintu mengagetkan Mayang, dia cepet melompat turun dan menarik Gusde ke balik almari. Mayang menyeret kakinya kepintu perlahan.
"Ada apa bibi?" tanya Mayang membuka pintu lebar-lebar.
"Pendeta Brahmana menegur bibi, katanya pacarmu yang membunuh Angsanya, hewan itu untuk menjaga nenek dari serangan Leak." kata bibi dengan wajah marah, Mayang kaget bukan kepalang, dia pikir Angsa itu Leak, tadi dia sudah ragu. Pantas Angsa gampang mati.
"0wh....aku kira itu Leak, namanya juga kita sedang panik. Itu masalah kecil tidak usah diperpanjang lagi. Kaki Gusde tidak sengaja menendangnya." sahut Mayang enteng.
"Efek dari perbuatan kalian, jazad nenek bisa dijangkau oleh Leak Asing. Ada tujuh Leak sakti yang berebutan mau mencuri mustika Leak. Untungnya pendeta keburu datang dan mengusir mereka. Hampir tubuh nenek di cabik-cabik."
__ADS_1
"Ahh bibi tidak usah ribut, dasar kampungan." gerutù Mayang slengean. Bibi kesal sekali melihat tampang Mayang yang masa bodo.
"Kamu digaji disini tolong rajin bekerja dan ikut menjaga nama baik keluarga nenek. Tidak sepantasnya kamu berkata begitu."
"Bibi, dimana mustika Leak yang berada di tubuh nenek, aku akan mengambilnya." tanya Mayang mengalihkan pembicaraan.
"Mayang jaga sikapmu, biarkan mustika itu dibawa mati oleh nenek." Bibi jadi esmoni.
"Daripada dibawa mati atau jatuh ke tangan orang lain lebih baik aku yang mengambil."
"Tidak ada mustika, itu issue yang tidak bisa dipercaya. Seandainya ada mustika ditubuh nenek, tidak mungkin Tuan memberi izin untuk mengambil mustika. Lebih baik kamu dengan pacarmu mengambil Angsa di kebun belakang sebagai pengganti."
"Suruh orang lain saja aku mau tidur." kata Mayang menutup pintu.
Brengsek! bibi Ayu tambah kesal dia kembali ke pendeta yang berusaha membangunkan semua orang di Bale Gede. Yang berjaga di Bale Gede semua kena sirep.
Suasana malam tambah mencekam, pelayan dan pecalang sedang berbenah dan menata kembali apa yang pecah dan berantakan. Pendeta membantu mengujar mantra untuk mengusir Leak yang masih ingin mengambil mustika nenek.
Gara-Gara Leak Asing penutup jazad nenek robek, sesajen berantakan disekitar Bale. Bibi Ayu dibikin pusing oleh ulah Leak Asing. Ini semua karena Angsa penolak bala di bunuh oleh Gusde, sehingga Leak bebas melepas sirep serta mengacau di tempat nenek.
Bibi ingin membangunkan Aditya tapi urung. Ada perasaan sungkan, tidak tega menyusah kan Devaly yang sedang mengandung. Aditya tentu takut meninggalkan istrinya sendirian di kamar. Masalahnya sangat riskan kalau meninggalkan Devaly sendirian, karena dia mengandung anak pertama. Akan menjadi incaran para Leak untuk menaikkan tingkat ilmu Leaknya.
Akhirnya bibi memutuskan membangun kan Made, karena malam ini suasananya sangat mengerikan. Lampu halaman dan gerbang dari tadi kelap kelip di mainkan Leak.
"Ginha kita mencari Made yuk, aku perlu orang untuk meredam ilmu sihir dari Leak. Tadi kita sudah kalah, mereka menyirep dengan ilmu tinggi sehingga yang berjaga di Bale Agung semua ketiduran. Aku tidak mau kejadian tadi terulang kembali." kata bibi mencolek tangan Ghina.
"Huahem...aku ngantuk berat bibi, tekanan darahku turun drastis gara-gara begadang setiap hati." kata Ginha menguap matanya terlihat merah dan berair.
__ADS_1
"Kondisi kita sama, kita harus bertanggung jawab dalam setiap situasi yang terjadi. Baik buruk efek samping yang kita alami harus di terima dengan legowo.
*****