
Seperti kebiasaan orang di kampung Drakula, kalau ada tetangga punya musibah mereka datang beramal-ramai untuk melihat lebih dekat apa yang terjadi. Sebagaian orang akan tertawa senang mengutuk dan bergosip ria atas karma buruk yang menimpa.nenek. Pro kontra akan terjadi, kebanyakan masyarakat senang melihat nenek menerima karma buruk dan berharap nenek cepat meninggal.
Semua orang mengeluarkan ilmu cocoklogi untuk menjatuhkan nenek dan keluarganya. Kebetulan mereka kurang senang dengan nenek yang sudah di stempel bisa ngeleak. Setiap orang sakit dan mati mendadak, yang di tuduh membunuh atau menyakiti adalah nenek. Seolah api di dalam sekam, sekarang baru bisa berkobar.
Aditya dan rombongan turun dari mobil sudah di sambut oleh Mayang. Masyarakat kampung tumplek-blek memburu menjadi satu dengan wartawan, Pemalang, polisi dan tokoh masyarakat.
"Sayank, kita duduk di dalam, aku ingin kamu mendengar ceritaku." kata Mayang mesra.
Aditya tidak menjawab, dia menggandeng tangan Devaly yang ada disampingnya. Made juga menggandeng Basabi demi menghindari orang kampung yang menunggu penjelasan penyebab kematian bule asing di kebun. Bibi menghampiri Aditya dan mengajak menuju ke pendopo.
Mayang yang merasa dicuekin oleh Aditya, diam dan berusaha tenang, dia sudah punya jurus jitu untuk menundukan Aditya. Matanya menatap Devaly dengan angkara murka. Dia juga kesal dengan bibi yang ikut mengatur dan lebih dipercaya oleh Aditya.
Bibi Ayu merasa lega setelah Aditya datang, semua tertekan karena terus kena marah dari Mayang yang merasa berkuasa setelah nenek stroke berat.
Mereka di arah kan ke pendopo yang ada di samping grasi, supaya masyarakat bisa ikut mendengarkan perihal tragedi yang menimpa nenek dan Abisheka. Polisi dan Tokoh agama semua ikut. Pendopo menjadi penuh sesak, untung ada pecalang yang mengatur.
Sebagai Tuan rumah penjelasan dari Aditya sangat dinantikan. Mereka sabar menunggu, tiba-tiba Mayang yang saat itu berpakaian seronok berdiri dan maju kedepan duduk di samping Aditya.
"Devaly kamu menjauh dulu, kami sedang mengalami musibah, kami berduka dan ingin menjelaskan duduk perkara." kata Mayang mengusir Devaly.
Aditya mau protes tapi Devaly memberi kode supaya Aditya diam. Devaly melipir mencari Rakhes dan Thasy yang duduk di belakang.
"Maaf saudara-saudara sekalian, kemarin aku pulang ke kota, aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Untuk itu aku tidak bisa menjelaskan. Namun cerita lebih lanjut akan dijelaskan oleh pelayan nenek." kata Aditya membuka percakapan.
"Saudara-saudara sekalian seperti yang nenek ucapkan sebelum mengalami Stroke, bahwa aku tidak sebagai pelayan lagi, aku adalah calon istri Aditya atau lebih tepatnya pemilik kebun di belakang. Sebelum nenek stroke dia telah berpesan padaku supaya aku cepetan menikah, nenek sudah punya feeling akan sakit." jelas Mayang berapi-api, made memegang tangan Aditya supaya bersabar.
"Mayang bicara intinya saja, jangan bolak balik dan bertele-tele." kata Made kesal.
"Supaya mereka tahu kedudukan ku disini." kilah Mayang sombong.
"Cepat jelaskan!!"
"Aku tidak tahu pasti karena tidak melihat, tapi aku yakin nenek menjadi Macan tutul lalu bertengkar dengan Abisheka. Mungkin nenek cemburu karena Abisheka memilihku akhirnya nenek memakannya." jelas Mayang.
__ADS_1
"Mayang jangan mengada-ada, apa kamu melihat kejadian itu. Hati-hati bicara, supaya tidak jadi fitnah." Aditya angkat bicara merasa Mayang memojokan neneknya.
"Ini perkiraan ku sayank." kilah Mayang.
"Bicara yang relevan saja Mayang. Kalau masih perkiraan jangan dibicarakan, biarkan pak polisi pakarnya yang bicara nanti. Kita tidak boleh julid kalau memang tidak tahu masalah ìtu." kata Aditya menahan emosi.
"Berarti masalah yang kalian hadapi belum pasti, tapi perkiraan nona Mayang bisa di pakai kesimpulan yang mengarah kebenaran, saya seolah meyakini omongam nona."
"Hehehe...kalian boleh viralkan omonganku, kadang instingku tajam." Mayang semakin sombong.
Apa boleh kami menengok nenek?" seorang pencari berita mengacungkan tangan.
"Mayang duduklah, jangan membuat opini yang merusak image nenek. Semua yang kamu perkiraan tidak benar. Dan kepada saudara-saudara yang bersimpati dengan kejadian ini harap memilah-milah apa yang di sampaikan pelayan nenek. Semua belum pasti." ucap Aditya kesal kepada Mayang.
"Maafkan, atas keteledoran kami yang membuat turis asing meninggal disini, dan membuat saudara ikut menanggung beban."
"Ini musibah, siapapun bisa mengalami hal seperti ini. Saya sebagai kepala desa sudah biasa menangani masalah begini."
Perbincangan semakin hangat dan panas setelah Mayang ikut campur serta berbicara yang tidak penting. Setelah dijelaskan oleh Aditya, masyarakat sedikit puas dan akhirnya mau pergi. Aditya mempersilahkan mereka untuk kembali kerumah masing-masing dan berpesan supaya tidak cepat percaya gosip.
Setelah bubar Aditya dan Made menengok nenek dikamarnya. Aditya kaget melihat keadaan nenek, dia tidak menyangka kalau nenek mengalami Stroke berat.
"Bibi apakah belum ada dokter yang datang memeriksanya?"
"Saya menunggu perintah Tuan."
"Tolong panggil dokter, harusnya bibi tidak usah menunggu perintahku, ini masalah urgent, apakah nenek harus di opname atau rawat jalan."
"Ya Tuan, maafkan saya."
"Sayank, semua tagung jawab dirumah ini dibebankan ke aku, jadi kamu tidak usah menyuruh pelayan kita. Apalagi nenek sudah memilih aku sebagai menantu disini." kata Mayang meradang merasa di cuekin oleh Aditya.
"Mayang kita fokus kepada kesehatan nenek, tidak segampang itu ngomong, kita harus mencari bukti. Contohnya seperti Abisheka, keluarganya tidak begitu saja menerima kematian anaknya, mereka menyuruh polisi untuk Autopsi anaknya dan menyewa orang untuk menyelidiki kematian anaknya. Jika suatu hari terbukti anaknya dimakan Macan kita bisa kena sanksi hukum."
__ADS_1
"Mana bisa dibuktikan kalau Abisheka dimakan Leak."
"Darimana kamu tahu?" tanya Aditya curiga. Matanya tajam menatap Mayang.
"Aku tidak tahu, itu hanya perkiraanku saja, masalahnya kita tidak ada memelihara Macan, rasanya semua pelayan bisa menjadi Macan."
"Maaf Mayang, ilmu kita tidak setinggi itu, tidak semua pelayan bisa ngeleak, misalnya Kemoning. Atau kamu yang bisa menjadi Macan?!"
"Bibi Ayu mulutmu kurang di tampar, mana mungkin aku mencelakainya, apalagi dia turis asing." bantah Mayang wajahnya memerah.
"Siapa yang bisa menjadi Macan? katakan saja supaya tidak jadi fitnah. Dari dulu kita tidak pernah bikin keributan, dan tidak ada masalah, semenjak kamu menjadi pelayan disini kita sering perang....."
"Bibi Ayu, kamu memang iri padaku lebih baik kamu aku pecat." bentak Mayang.
"Mayang, jangan kelewat batas!!" bentak Aditya memberi kode supaya Mayang keluar.
"Kamu boleh mengusirku, tapi nyawa nenek dan pacarmu ada di genggamanku." kata Mayang menyeringai. Dia keluar sambil menggebrak meja.
"Braakkk...."
Semua kaget dengan tingkah Mayang. Made mau menampar Mayang, bibi cepat menarik Made dan menyuruhnya duduk. Apakah ilmu nenek yang masih setengah sudah menjadi milik Mayang. Jika itu terjadi, Mayang akan menjadi Ratu Leak. pikir bibi.
"Bibi kenapa menghalangiku, dia itu patut ditampar. Dari pertama aku sudah tidak sudi melihatnya. Sombong dan licik." kata Made geram.
"Duduklah, jika kamu terpancing dan berbuat salah kepada orang yang seperti Mayang, jiwamu tidak bisa di tolong. Aku peringatkan supaya kalian lebih sabar, kita belum tahu siapa Mayang dan kenapa Mayang disayang nenek. Apakah nenek diancam atau memang nenek berniat menikahkan Mayang dengan Aditya. Kita selidiki siapa Mayang ini."
"Aku setuju, aku minta supaya pembicaraan ini tidak disebarkan luaskan, terutama kepada para tamu."
"Baik Tuan, kami akan menjaga nama baik keluarga disini." kata pelayan serempak.
*****
.
__ADS_1