CINTA GAIB LEAK NGAKAK

CINTA GAIB LEAK NGAKAK
Bab.35


__ADS_3

Bayangan wajah Basabi di cermin membuat jantungnya berdegup kencang. Benarkah ini diriku yang berbulu Serigala dan berparas Basabi. Dia tidak percaya dengan apa yang terlihat, penglihatannya buruk.


Dada Basabi seketika sesak, nafasnya tidak teratur. Angan-angannya untuk menjadi ibu dari anak-anaknya nanti pupus sudah.


"Bibi apakah ini sudah valid? aku tidak percaya kepada cerminmu. Bisa saja cermin ini berisi mantra gaib." kata Basabi masygul.


Dia mengembalikan cermin itu dan berdiri. Kemudian berjalan ke walk in closet, disitu ada cermin rias. Basabi tersenyum di depan cermin dan tidak ada perubahan sama sekali, wajahnya tetap cantik, tidak ada bulu, kuping Srigala yang aneh.


Basabi memanggil bibi Ayu supaya melihat di cermin, tidak terjadi perubahan apapun pada tubuhnya. Dia menitikan air mata, betapa tadi dia sangat khawatir. Dengan rasa yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata Basabi bersyukur bahwa bibi hanya menakutinya.


"Aku bilang bahwa cermin bibi ada mantranya sehingga aku bisa berubah." kata Basabi.


"Kamu buta Basabi, kamu buta mata dan buta hati. Aku tidak mengerti buat apa kamu membandingkan cerminku dan meja rias ini. Jamu kurang ajar, manusia iblis, hanya neraka tempatku." kata bibi marah.


"Geerrrr.... apa kau bilang bedebah?" suara Basabi berubah. Bibi sengaja membuat gadis itu marah, cermin memang semua sama. Tapi disaat marah cermin akan menampilkan sisi buruk Basabi.


"Di saat kamu marah tubuhmu membentuk wujud lain yang telah ada di badan mu. Sekedar saran, kamu hanya bisa menerima dan memanage perasaanmu supaya tidak cepat marah. Setiap kamu marah sisi burukmu akan terlihat."


Basabi menyadari, tujuan bibi marah karena ingin memperlihatkan sisi buruk dirinya. Dia merasa hancur. Semua sudah terjadi, ilmu itu tidak bisa dibuang begitu saja, kembangkan kearah yang positif akan sangat bermanfaat.


"Aku mengerti bi, berarti aku tidak boleh marah. Yang membuat setanku keluar, apa karena marah saja?"


"Tidak, ada hari-hari besar yang membuat kamu berubah, ini tidak bisa ditahan. Animo mu tinggi untuk berubah."


"Aku merasa sudah jelas, kesimpulan yang mempunyai ilmu Leak harus bisa memanage perasaan. Mengendalikan emosi."


"Begitulah, banting kamu akan terbiasa."


"Ingin rasanya membunuh nenek dan menghancurkan semua nya. Nenek sangat jahat padaku, dia telah membunuh karakterku. Menjatuhkan diriku di titik yang terendah."


"Atas nama nenek bibi minta maaf, yang jelas ini tidak sengaja. mungkin dengan cara ini kamu bisa menolong orang."


Basabi malas bicara, selama satu jam dirinya di ombang ambingkan perssaannya dan bibi hanya berkomentar itu-itu saja. Tidak ada solusi untuk membuang ilmunya. Intinya dia harus legowo!.

__ADS_1


"Aku ingin sendiri, maafkan aku." basabi kembali duduk di sofa. Tidak tahu apa yang harus dia kerjaan.


"Tenang kan pikiranmu, jika ada ganjalan kamu boleh menghubungi bibi."


"Mulai sekarang aku akan makan di kamar. Aku juga tidak ingin di ganggu atau ikut acara apapun, trimakasih."


Bibi keluar dari kamar Basabi dengan lega, dia tidak tahu reaksi Basabi selanjutnya. Apa Basabi akan melabrak nenek atau mau bunuh diri. Bibi hanya bisa pasrah menunggu apa yang terjadi selanjutnya.


NO DISTURB. bibi menggantung tulisan itu di gagang pintu, kemudian melangkah dengan perasaan tidak menentu. Mencari nenek itu tujuan utamanya. Ada rasa marah terhadap nenek yang gegabah membuat ulah demi dirinya.


Perputaran jarum jam rasanya lamban sekali. Dari detik ke menit dan begitu seterusnya. Basabi membuka matanya, tidurnya terasa sangat nyenyak. Tiga butir obat tidur cukup membuat dirinya lupa akan dunia. Tangannya meraih ponselnya di atas nakas, sudah jam delapan malam.


Perlahan dia bangun dan duduk di tepi ranjang. Ingatannya kembali ke masalah ilmu yang dia miliki, dan pemerkosaan tiga lelaki. Apa yang harus dia lakukan?


Basabi pindah duduk ke sofa, keinginannya untuk menghubungi Made lenyap sudah. Dia yakin Made mengerti bahwa dirinya ingin sendiri untuk sementara waktu. Tidak ingin diganggu.


Pukul 21.00 Basabi membuka pintu kamar, dia melihat Aditya duduk di lobby sendiri. Mata mereka bersitatap, tapi Basabi cepat membuang muka. Dia tidak ingin bicara atau sekedar say hello kepada siapapun.


"Basabi kamu ada masalah?" Aditya berdiri dan menghadang langkahnya.


Basabi pura-pura tidak mengerti, dia tidak terpengaruh oleh Aditya. Tujuannya hanya satu pergi ke Gazebo untuk mencari tiga lelaki yang memperkosanya.


"Aku adalah penanggung jawabmu selama kamu berada di pulau ini. Apapun yang terjadi dan menimpa salah satu dari kalian akan aku selesaikan dengan caraku. Aparat Polisi yang bertugas disini sangat Kooperatif, jadi kamu tidak boleh takut atau terabaikan."


"Kamu dan nenekmu Introspeksi dirilah. Tidak usah mengurus aku, apapun yang terjadi padaku anggap itu sudah takdirku." sinis suara Basabi.


"Maaf Basabi, aku tidak ingin menyinggung perasaanmu atau dirimu. Aku hanya ingin membantumu saja."


"Aditya sekali lagi aku peringatkan, aku tidak ingin diganggu. Apa kamu mengerti?"


"Apakah kamu sekuat itu? aku menunggumu dari jam tiga sore."


Air matanya bergulir jatuh. Sungguh dia tidak kuasa untuk berkata-kata. Apalagi sampai membagikan kisahnya kepada orang lain.

__ADS_1


"Sorry, aku terlalu sentimentil. Tidak ada apa-apa dalam diriku." jawab Basabi berlalu dari hadapan Aditya. Dia cepat menghapus air matanya.


Aditya hanya diam mematung, Devaly yang sedari memperhatikan sikap Aditya dan Basabi hanya bisa mengurut dada. Dia tidak menyangka Aditya membuat afair dengan tata riasnya.


Devaly keluar dari persembunyiannya, dia tadi tidak sengaja melihat Aditya dan Basabi seperti berdebat, Basabi lalu pergi ngambek. Wajahnya yang cantik bersemu merah.


"Aditya kenapa kamu sendiri disini?" tanya Devaly menahan emosi. Wajahnya yang cantik bersemu merah.


"Aku menunggu Basabi dari jam tiga sore." kata Aditya terus terang.


"Mengapa kamu menunggu Basabi, ada hubungan apa kamu dengannya?"


"Aku ingin bertanya sesuatu kepadanya tapi


Basabi tidak peduli padaku, aku berharap ada jawaban namun dia malah pergi begitu saja." keluh Aditya pasrah.


"Apakah kamu ada afair dengannya?" tanya Devaly menahan sabar.


Aditya menatap Devaly dengan perasaan aneh. Dia tidak menemukan senyum manis atau rasa empaty, wajah gadis itu masam.


"Apa kamu cemburu?" tanya Aditya berdiri dan memeluk Devaly. Gadis itu menepis tangan Aditya yang kekar.


"Hanya kamu yang aku cintai tidak ada gadis lain dihatiku."


"Kenapa lelaki senang sekali gombal aku benci sekali."


"Karena wanita senang di gombali. Kalau aku beritahu dengan jujur kamu tidak percaya. Kamu mengatakan aku bohong. Lebih baik lah para lelaki bohong kalau itu membuat para wanita puas."


"Aku benci padamu, bilang yang sebenarnya aku benci dibohongi."


"Kita ke kamar..." kata Aditya menarik tangan Devaly.


Gadis itu tidak bisa berkutik saat Aditya memeluk dan mencium nya dengan mesra. Aditya tidak memberi Devaly peluang untuk menolak kemesraan yang dia berikan. Walaupun Devaly sering menuntut untuk ditiduri oleh tapi pemuda itu tidak mau gegabah. Dia ingin menikah dulu baru membuka segel. Itu perkara mudah.

__ADS_1


.


__ADS_2