CINTA GAIB LEAK NGAKAK

CINTA GAIB LEAK NGAKAK
Bab.16


__ADS_3

Lebih baik mengikuti bibi Ayu menuju dapur, pura-pura pinjam pisau untuk mengupas mangga. Atau meneliti satu persatu pelayan nenek. Abisheka tidak pernah memperhati kan para pelayan. Baginya levelnya berbeda. Masa sih dengan pelayan, derajatnya bisa turun drastis. Kalau temannya tahu tamatlah riwayatnya.


"Tuan mau mencari siapa?" tanya bibi kaget ketika menoleh kesamping.


"Kamu ternyata bisa juga bahasa Inggris?" tanya Abisheka tersenyum.


"Saya bisa dikit-dikit karena sering bertemu bule dan mendengar mereka ngobrol. Yang pintar bahasa Inggris adalah pelayan lain. Mereka semua bekas kerja di hotel."


"Mereka bisa bahasa inggris, menakjubkan. Tapi mengapa mau menjadi pelayan?"


"Karena kami kena PHK Tuan, nenek cukup royal untuk memberi kami upah. Gaji kami disini melebihi gaji di Hotel." seorang pelayan menyela pembicaraan Abisheka dan bibi. Dia tersenyum genit melihat Abisheka yang ganteng mirip Ranveer Singh.


"Wow...amazing, aku baru memperhatikan kalian, semua cantik dan sensual." kata pria itu lalu masuk ke dapur. Dia melihat para gadis yang rata-rata masih muda dan mulus.


"Hallo Tuan tampan, anda dilarang masuk ke dapur dan mengganggu orang yang lagi kerja jika Tuan ingin di temani, tunggu setelah kami selesai kerja." kata Eny sopan.


"Oke...siapa yang mau menemani aku nanti malam, sekitar pukul setengah dua belas?"


"Maaf, tidak ada Tuan. Kami sudah tidur." mereka hampir serempak menjawab.


Abisheka kecewa terhadap jawaban mereka, ternyata pelayan-pelayan itu tidak mengaku telah tidur dengannya. Dia yakin salah satu dari mereka tidur dengannya. Tapi pelayan ini tidak ada bersuami seperti pengakuan gadis tadi malam itu.


Diapun keluar dari dapur menuju taman. Ada nenek sedang duduk di bangku taman sambil bersenandung. Walaupun nenek sudah tua masih terlihat cantik dan pakaiannya selalu serasi terkesan mewah. Mungkin juga karena nenek kasta ningrat sehingga terlihat wibawa dan berkharisma.


"Pagi nenek, lagu apa yang nenek nyanyiin." tanya Abisheka iseng duduk disamping nenek Odah. Orang tua itu tersenyum ketika melihat Abisheka.


"Lagu Give Me One Good Reason, dari Tracy Chapman. Lagu kenangan dengan kakek." jawab nenek sambil minum jamu.


"Yaelahh, ternyata nenek gaul juga. Apakah kakek semasa hidup pintar bahasa Inggris?"


"Dia bisa lima bahasa, karena dia owner hotel dan lama tinggal diluar negeri."


"Amazing!! ternyata kakek orang hebat, jika dia masih hidup nenek pasti sangat bahagia."


"Mungkin ya, mungkin tidak. Kebahagiaan itu tidak melihat seberapa orang itu kaya, tapi melihat kesetiaan pasangan." suara nenek tercekat.


"Aku bisa memastikan kalau kakek selingkuh, itu hal biasa menimpa laki-laki yang sudah menikah dan bosan dengan istrinya. Tidak disini saja, setiap laki-laki ingin selingkuh di saat kejenuhan melanda diri."


"Nenek juga merasa begitu, kita menemani dari nol, setelah sukses dia selingkuh terus menerus."

__ADS_1


"Tragis sekali, apakah nenek bercerai dengan kakek dan minta harta gono gini?"


"Ketika dia ketahuan berselingkuh untuk pertama kali nya, nenek sangat terluka dan hancur. Ada yang menyarankan supaya nenek mencari dukun minta "gegemet" (what is the name gegemet? wkwkwk). Setelah ke dukun nenek mendapat gegemet yang harus terus dibawa kemanapun pergi. Benda kecil yang dibungkus kain putih itu gunanya untuk menaklukkan suami."


"Apakah setelah itu kakek setia?" tanya Abisheka penasaran.


"Dirumah kalem dan menjadi suami penurut, tapi diluar sangat menjijikkan. Dia terus saja berselingkuh sampai beberapa wanita hamil."


"Ohh..berarti itu sudah karakternya suka berselingkuh, kalau begitu bunuh saja nek." ucap Abisheka ikut emosi.


"SUDAH!!"


"Aahhhh...." Abisheka kaget dan cepat berdiri.


"Hahaha....nenek bohong, mana mungkin aku membunuh suami."


"Kirain benar, aku jadi ngeri dekat dengan nenek." Abisheka kembali duduk.


Pelayan datang membawa sarapan. Mata Abisheka memperhatikan satu persatu leher pelayan itu, karena tadi malam Abisheka membuat kiss mark di leher gadis binalnya. Tapi leher mereka mulus tidak ada tanda merah di leher.


"Tuan silahkan minum, dan sarapan nenek sudah kami siapkan di dapur."


"Sudah semua bangun nek, sebentar lagi mereka datang."


"Nenek akan ke dapur, nanti habis sarapan katakan nenek mau bicara dengan Aditya." kata nenek berdiri.


"Baik nek." bibi Ayu memapah nenek ke dapur karena nenek tidak mau memakai tongkat.


"Pakai saja tongkatnya nek supaya enak jalannya. Saya takut lutut nenek kambuh jika tidak memakai tongkat."


"Nenek mau belajar tidak memakai tongkat, siapa tahu lutut nenek sembuh."


"Pakai tongkatnya, kalau jatuh tulang lutut nenek bisa patah. Sudah pengapuran, nenek jangan bandel, kalau lumpuh nenek tidak bisa kemana-mana." suara berat di belakangnya membuat nenek dan bibi menoleh. Mata Aditya tajam menatap nenek.


"Kamu marah cucuku?"


"Aku tidak akan mau ke notaris menerima warisan dari nenek. Aku ingin hidup normal."


"Duduk di dalam baru bicara, kamu tidak mengerti apa-apa. Semua untuk kepentingan dirimu di kemudian hari." kata nenek masuk ke ruang makan pelayan.

__ADS_1


Nenek duduk sembari tangannya meraih kotak sirih. Dia mulai mengambil dua lembar daun sirih dan dikasi sedikit kapur, gambir, buah pinang. Kemudian nenek mulai nginang dengan enaknya. Setelah bibirnya merah dia mengambil tembakau hitam.


"Aku cukup dengan warisan yang sudah ada, kasi yang lain. Buat apa mengambil warisan rumah ini, tanah atau semua yang ada disini. Berikan bibi atau siapa saja yang menjadi anak buah nenek."


"Amit-amit Aditya, begitu takutnya kamu menerima warisan ini. Kamu tidak kasihan kepada nenek yang sudah tambah tua."


"Jika aku mau menerima, maukah nenek tidak menurunkan ilmu Leak ke diriku. Terus terang aku takut menjadi monyet, babi, anjing atau hewan lainnya. Aku ingin hidup normal seperti orang lain, tidak merusak keluargaku jika suatu hari aku menikah. Tidak ingin kaya dengan cara membunuh bayi. Nenek yang harus mengerti." kata Aditya dengan suara rendah.


"Nenek tidak tahu harus bagaimana, jika ilmu nenek tidak di transfer ke kamu, nenek akan menderita dan akan terus ngeleak "Teluh tranjana" bisa tidak mati-mati."


"Aku berdoa supaya nenek mendapat pewaris dan orang itu mau mewarisi ilmu nenek juga." ucap Aditya berdiri.


Dia lalu keluar tanpa menghiraukan ocehan nenek yang kesal. Aditya menuju tamunya yang sedang sarapan.


"Bos sarapan dulu, bagaimana kalau kita ke hot springs yang berada di Ubud. Aku yakin mereka senang diajak kesana." ucap Made ketika Aditya duduk disampingnya.


"Pagi semua, kita masih berkabung, nanti kita dibilang tidak punya empaty terhadap musibah yang dialami Abisheka. Lihatlah wajah Abisheka pucat, aku yakin dia tidak bisa tidur."


"Pergilah kalian, aku tidak apa-apa. Aku akan tidur di Gazebo. Semalam aku begadang sampai pagi, mungkin aku akan terus begitu sampai aku bisa melupakan semua kejadian yang menimpa Kenny." ucap Abisheka lirih. Matanya merah karena mengantuk berat.


"Kami tidak akan pergi meninggalkan kamu sendiri. Kita akan jalan-jalan ke belakang sambil memancing. Kata bibi, kolam yang berada di belakang sering di sewakan untuk lomba mancing."


"Aditya, tolong antar aku ke Mall membeli pembalut." Devaly mendekati Aditya.


"Aku ikut...."


"Aku juga ikut."


"Kalian kenapa ikut, aku cepat-cepat." kata Devaly kesal.


"Gini aja, disini banyak ada motor kalian pilih saja kalau mau ikut, kita bisa boncengan." usul Made mendapat acungan jempol dari yang lain.


"Aku sama Aditya." kata Devaly.


"Aku dengan Thasy dan Made dengan Basabi klop sudah." kata Rakhes memegang tangan Thasy.


"Kita naik mobil saja." sahut Aditya kurang senang dengan Devaly. Terus terang dia gondok kepada Devaly yang suka nyinyir dan memerintah tidak sopan.


*****

__ADS_1


__ADS_2