
Pukul 11.00 wita. Devaly membuka matanya dengan sempurna, dia beberapa kali tertidur dan mimpi buruk. Apakah karena dia selalu
merindukan Aditya, sehingga dia disiksa mimpi berpelukan dengan pria itu.
Anehnya di akhir mimpi Aditya membuka mulut dan memperlihatkan taringnya yang tajam. Setelah itu lidah Aditya yang panjang akan menjilat lehernya menyisakan warna merah. Mimpi itu seolah nyata, membuat dia sangat terganggu.
"Tookk...tookk...tookk ..." Ada ketukan di pintu bukan deringan bell.
Devaly turun dari ranjang menyeret kakinya ke pintu. Abisheka dan seorang laki-laki pribumi sudah berada di depannya. Mereka tersenyum menatap Devaly yang berpakaian dan rambut acak-acakan.
"Maaf nona Devaly, ada kunjungan dokter yang akan memeriksa penghuni Home Stay, sekarang giliran kamu yang akan diperiksa."
"Siapa dia, rasanya aku tidak butuh teman." sahut Devaly sambil memijit keningnya, dia merasa tidak enak badan, tidurnya tidak nyenyak dan sempat basah-basahan tadi malam.
"Dia seorang dokter yang diperbantukan oleh Home Stay untuk merawat kita selama kita menginap disini." jelas Abisheka.
"Kalian boleh duduk dulu di lobby aku mau mandi, kebetulan aku sakit kepala, ntar aku sekalian minta obat."
"Kalau begitu silakan nona mandi, kita mau keliling dulu masih banyak pasien yang belum dapat penanganan." kata Abisheka. Devaly mengangguk setuju.
Sekitar tiga puluh menit Devaly baru keluar dari kamar, dia tidak melihat siapapun di lobby. Ternyata diluar masih hujan gerimis. Walaupun angin tidak sekencang kemarin, tapi hawa dingin masih menusuk sampai ketulang sumsum.
Devaly duduk di sofa yang ada di lobby, dia iseng menengok ke bawah. Air laut masih pasang, ombaknya terlihat sangat besar dan membawa hanyut beberapa kayu, sampah dan ntah apa lagi. Pantai terlihat kotor. Ada beberapa orang berpakaian adat memakai Jas hujan bekerja membersihkan pantai. Mungkin penghuni pulau ini yang bergotong royong. Disitu juga ada beberapa bule.
"Hai..nona Dèvaly sudah rapi dan cantik, ini dokter Respati yang akan memeriksamu." ucap Abisheka duduk di sofa bersama dokter Respati.
Tidak begitu lama datang Aditya ikut duduk, disamping Abisheka, dia tidak mau menoleh kepada Devaly.
"Maaf dokter kepalaku agak pening dan tidak bisa tidur, mungkin karena kehujanan tadi malam. Disamping itu Akhir-akhir ini aku terus mimpi buruk."
"Rata-rata keluhan warga disini berkisar sakit kepala, menceret, bersin-bersin. Saya yakin karena nona kehujanan dan masuk angin."
__ADS_1
"Benar dokter."
"Boleh saya periksa nona?"
"Silahkan, periksa di kamar saja, mari masuk ke kamar." ajak Devaly.
Aditya kesal melihat tingkah Devaly yang tidak punya sopan santun. Harusnya dia cukup duduk di sofa atau rebahan. Malah dia mengajak dokter itu ke kamar. Dasar wanita murahan. bathin Aditya.
"Aditya, kamu sudah sehat terlihat wajahmu sangat pucat. Aku ingin cerita bahwa tadi malam kami mengalami kejadian sangat aneh dan membuat kami sengsara. Maunya kami menyelamatkan diri dan hujan-hujanan ke Goa batu, ternyata sudah ada beberapa orang duluan kesana.
Kami sampai basah kuyup, akhirnya Made mengajak kami ke rumah dukun. Ketika kami melintasi jalan menuju rumah dukun, kami diganggu oleh Leak. Sampai Thasy pingsan dan kami semua juga ketakutan. Mereka serem semuanya, aku saja tidak berani apalagi yang cewek. Saat itu hanya Basabi yang tidak terpengaruh dia berani, aku salut sama cewek itu.
"Sekilas info, Leak itu ada banyak wujud yang paling serem Rangde dan lenda lendi."
"Untung aku tidak ikut, lagi malas keluar karena demam, pasrah saja tidur di kamar. Aku tidak tahu kalau ada Devaly di kamar sebelah."
"Bagaimana hubunganmu dengan Devaly, dokter Respati katanya naksir sama Devaly. mungkin karena aku tadi bilang Devaly jomblo."
Dia berusaha menelan rasa sakit yang dia rasakan saat ini. Bagaimana lagi, hidupnya sudah hancur, dia tidak ingin membuat gadis itu menderita. Semoga semua berjalan sesuai keinginan nya.
"Aku merasa kamu menyembunyikan sesuatu, ntahlah. Semenjak berada disini wajahmu berbeda, pucat dan sorot matamu aneh seperti mata iblis."
"Hahaha....emang kamu pernah melihat iblis atau ...."
"Pernah tadi malam, karena gelap aku cuma bisa melihat matanya sekilas setelah itu aku pingsan. Hanya Basabi yang tidak pingsan." potong Abisheka.
"Kirain Thasy saja yang pingsan, jadi kalian semua pingsan. Kalian kalah dengan Basabi."
"Karena aku tidak siap dan dalam keadaan gelap gulita. Waktu itu aku kaget banget, tapi ingin melihatnya lagi. Aku berencana bikin konten Leak ngakak, pasti seru."
"Tidak mudah melihat Leak, apalagi kamu malas berdoa. Tuhanpun malas menolehmu."
__ADS_1
"Apa hubungannya berdoa sama Leak."
"Bila kamu rajin berdoa dan mendekatkan dirimu sama Tuhan, maka kamu tidak takut sama Leak. Pada saat Leak ada di depanmu, orang lain yang malas berdoa akan melihat wujud Leak seram, dan jika yang rajin berdoa tidak akan melihat wujud orang itu seram, dia malah melihat wujud asli orang itu." jelas Aditya panjang lebar.
"Hai, Aditya kamu sudah baikan?" Basabi dan Made datang menghampiri Aditya. Punggung tangannya reflek ditempelkan di kening dan leher Aditya.
"Kamu demam, apa kamu sudah makan?" tanya Basabi menarik kursi dan duduk di depan Aditya. Matanya berkaca-kaca saat menatap pria itu, ingin dia memeluk Aditya dan meringankan beban bathin pria itu, tapi dia ingin hidup normal.
Made duduk disamping Abisheka pura-pura tidak peduli. Dia tidak ingin memperlihatkan perasaannya yang sedih melihat keadaan bos nya. Kalau saja dia bisa menolongnya, Made berani mengorbankan semua gajinya agar Aditya sembuh.
"Aku baik-baik saja, tidak ada yang perlu di khawatir kan. Sekarang ini kita belum bisa menyeberang karena cuaca masih buruk."
"Aku mengerti, kamu tidak usah banyak berpikir, jika sudah selesai masa liburannya aku akan pulang. Aku tidak mungkin bisa melupakanmu, tentang kebaikanmu trutama pengorbananmu." Basabi menangis didepan Aditya.
Saat itu Devaly keluar bersama dokter Raspati, dia kaget melihat Basabi menangis. Tiba-tiba rasa cemburunya mengoyak jantung, hatinya sakit melihat Aditya sangat dekat dengan Basabi. Sekuat tenaga dia tahan air matanya karena gengsi, tidak mau dia memperlihatkan rasa cemburunya.
Untuk menutup sakit hatinya dia malah menarik tangan dokter dan mengajaknya duduk di sofa yang ada di pojok.
"Dokter, aku ingin main kerumahmu bolehkah atau kita keliling pulau yang indah ini." Devaly sengaja berkata keras supaya di dengar oleh semua orang yang ada disitu.
"Aku akan mengajakmu ke suatu tempat yang membuatmu selalu ingat Bali."
"Kemana itu?" tanya Devaly senang. Matanya melirik kepada Aditya yang masih berbincang sedih dengan Basabi.
"Ke TRUNYAN!!"
Devaly kaget. Made seketika berdiri dia gerah melihat dan mendengar ocehan Devaly dari tadi, ingin sekali dia menampar mulut Devaly yang membuat Aditya tambah terluka.
"Kenapa kamu diam, apa kamu tidak suka dengan desa Trunyan?"
"Kami semua suka desa manapun di pulau Dewata ini, tapi mendengar nama Trunyan luka kami yang hampir sembuh terbuka kembali." kata Made kepada dokter Respati.
__ADS_1
****