
Basabi dan Made sangat antusias mencari durian yang jatuh dari pohon, dia tidak menyangka ada sepasang mata melihat diri mereka.
"Aku dapat..." teriak made senang luar biasa.
"Kamu hebat sayank, kita eksekusi durian ini sampai habis."
"Kamu sudah bisa makan durian, aku takut kamu muntah." kata Made sambil menenteng duriannya ketempat Gazebo yang terdekat dari pohon durian.
"Aku sudah bisa makan durian. Tapi kalau durian warna merah belum pernah."
"Rasanya sama, manis, legit. durian banyak varian, aku belum pernah makan durian disini biasanya kalau datang kesini tidak pernah nginap lama paling sehari."
Mereka berdua menuju Gazebo, senter mulai redup. Suasana makam mulai terasa mistis. Terdengar lolongan anjing terus menerus dan bersaut-sahutan.
"Kreesseekkk....kreesseekkk...."
"Iihh...suara apa itu, seperti suara babi berlari di pohon-pohon yang daunnya sudah mengering."
"Paling babi peliharaan buruh pemetik kopi yang tinggal di belakang." sahut Made menggeser duduknya supaya lebih dekat dengan Basabi.
"Tadi kamu belum cas senternya ya, tambah meredup. Nanti kalau mati kita tidak melihat apapun." kata Basabi membuka burger yang dia bawa.
"Lupa bawa gelas, aku mau ambil dulu ke dapur." kata Made berdiri.
"Jangan pakai gelas tangkai, ribet."
"Okee sayank...." kata Made beranjak pergi.
Basabi relaxs merebahkan tubuh dan mulai memejamkan matanya. Tiba-tiba wajahnya seperti ditiup orang. Dia langsung duduk dan tubuhnya terasa dingin. Nafasnya mulai tidak teratur dengan emosi yang meningkat.
"Siapa? jangan coba-coba ganggu aku. Aku ini manusia ciptaan Tuhan, sedangkan kau siluman brengsek penghuni kerak-kerak neraka!!" makinya melihat sekeliling.
__ADS_1
"Xixixi....krauxx...krauxx..." terdengar suara tertawa aneh dari rerimbunan.
"Wuusss...Wuusss...Wuusss.."
Gelombang mistis menampar wajah Basabi yang putih. Bulu kuduknya merinding disko. Dia penasaran berdiri dan berkacak pinggang sambil menunggu ke anehan berikut. Hanya gelap yang terpampang di depan mata.
"BRENGSEK!!...kau kira aku takut. Kurang ajar bajingan, beraninya cuma di balik pohon. Keluar brengsekk." teriak Basabi geram.
Dia mengambil botol Whisky dan menenggak minuman itu sedikit, kemudian dia mendekati rerimbunan pohon di sampingnya, dengan kuat dia semburkan Whisky yang dimulutnya. Anehnya semburannya itu kencang sekali sampai berbunyi dan kena tubuh Leak yang berada disitu.
"Aduuuhhhhh....auh..auh.. auh..."
"Hahaha, teriak lah yang kencang, dasar Leak matah, akhirnya kau salah memilih lawan. Aku bukan Kiky yang bisa kau permainkan, aku ini Leak Barak!!" bentak Basabi.
Dia kaget kenapa mulutnya nyerocos tanpa bisa dihentikan. Dia bukan Leak. Kenapa dia mengaku Keak. Aneh!
Dia tidak mengerti, seperti ada kekuatan lain berada dalam dirinya. Matanya jadi terang, dia nyata melihat Leak Matah. Basabi jadi semakin marah dan dia meloncat turun dari Gazebo.
Basabi sangat heran ntah darimana kekuatan itu, dia bingung. Badannya terasa ringan seolah terbang melayang saat tadi meloncat dari Gazebo. Dia seperti slow motion.
Tiba-tiba Leak Matah meringkik seperti kuda liar yang terganggu, sungguh mengagetkan. Leak Matah memamerkan taringnya yang panjang dan tajam, serta menjulurkan lidah yang berwarna merah.
Seketika tangannya melayang mau menarik Basabi. Gadis itu berkelit dan tangannya menarik rambut Leak Matah dengan kuat.
"Woaataahh...ternyata kau bisa ngeleak juga, dasar Leak Barak. Jangan sok kalm tapi ujung-ujungnya jadi Leak Barak xixixi." teriak Leak Matah berlari ke belakang sambil terus berlari jauh satu kilometer.
Basabi mengejarnya tanpa memberi ampun. Dia ingin tahu apa tujuan Leak Barak usil mengganggu dirinya. Namun, yang membuat heran kenapa Leak Barak bicara memakai bahasa Inggris. Canggih.
"Wuussss..." Basabi iseng meniup nyamuk yang mengganggu di depannya, dia sampai kaget karena dari mulutnya keluar api dan membakar pohon pisang yang ada di depan. Kembali dia mengulang kedua kali untuk meyakinkan kan dirinya.
"Wuusss...Wuusss...." Api yang kedua lebih besar dan membakar lebih banyak pohon.
__ADS_1
Basabi tidak melanjutkan mengejar Leak Barak, baginya itu tidak penting. Dia tertarik kepada penglihatannya yang berada di depan ada kebun Kopi dan Vanilli berjejer rapi.
Dengan percaya diri Basabi meneruskan langkahnya, baginya perjalanan ini sangat aneh dan membingungkan, Diapun sampai di perumahan buruh pemetik Kopi dan Vanilli. Walaupun keadaannya gelap, Basabi masih bisa melihat ada empat orang laki-laki yang sedang duduk di sebuah Dangau, semacam rumah kecil di tengah kebun yang digunakan sebagai tempat istirahat para buruh kebun.
Basabi menarik nafas panjang, kemudian mendekati Dangau. Tiba-tiba dia mendadak pusing matanya kabur dan dia sangat lelah.
"Kamu siapa datang kesini?" tanya salah satu dari laki-laki itu.
saat Basabi berada di depan ke empat cowok itu, dia memakai bahasa daerah, tentu Basabi diam tidak mengerti apapun yang di tanyakan oleh mereka. Dia diam mematung.
"Kenapa kamu diam, kamu tahu aku ini mandor disini. apa kamu buruh kebun kopi?"
Basabi tidak menjawab pertanyaan mereka, tiba-tiba saja kepalanya pening dan dia jatuh tersungkur. Ke empat laki-laki itu kaget. Dan memopong Basabi naik ke Dangau.
"Rupanya dia pingsan mungkin salah jalan, atau dimakan Leak. Mana ponselnya supaya kita bisa melihat wajahnya, siapa tahu dia ini buruh pemetik Kopi." kata Midun bergegas mengambil ponsel. Mereka menyalakan senter ponselnya.
"Ternyata cantik, putih mulus, enaknya di apain wanita ini. Apa boleh buat aku. Aku ingin menggoyangnya." kata Udin seraya membuka pakaiannya.
"Jangan diapa-apain, takutnya ini tamu nenek. Makanya berhenti minum TUAK supaya otak kalian normal kembali."
"Eleehh.. sok suci, jika kamu tidak mau, aku tetap akan menggarapnya." ucap Midun.
"Lebih baik pulang daripada mencari penyakit. Jangan libatkan aku kalau nenek mencari kalian." kata Pak Karta beranjak pulang. Temannya kebanyakan minum, jadi setengah mabuk. Biasanya mereka tidak pernah berbuat jahat, apalagi memperkosa orang. Pak Karta cepat berlari ke rumahnya.
Tubuh Basabi sampai tremor menahan sakit di bawah perutnya. Walaupun dia berteriak sekuat tenaga tapi ke tiga begundal itu tetap menggasak tubuhnya. Bau Tuak, minuman dari pohon enau yang memabukkan itu, kini membasahi tubuhnya.
Angin malam berhembus menusuk tulang sumsum, Basabi menjadi bulan-bulanan tiga lelaki pemabuk. Dia tidak berdaya, tenaganya terasa lenyap seketika. Air matanya tanpa henti mengalir membasahi pipinya.
Setelah ketiga lelaki itu membuatnya jatuh terkapar, Basabi duduk termenung sambil menghapus air matanya dan mengumpulkan tenaga. Ketika satu persatu lelaki itu pulang dan menghilang dari pandangan Basabi, barulah gadis itu turun dari Gazebo.
*****
__ADS_1