CINTA GAIB LEAK NGAKAK

CINTA GAIB LEAK NGAKAK
Bab. 96


__ADS_3

Don't Stop Believin' suara dari Journey mengalun dari playlist mobil. Devaly menatap kesamping dengan perasaan sendu. Jalanan desa bersih dan dikiri kanan jalan ada pohon hias yang tumbuh subur berjejer rapi. Rumah penduduk tidak begitu megah, lebih terkesan artistik dengan ukirannya.


Rakhes mengemudikan mobil Alphard nenek, disampingnya duduk Thasy, Devaly berada di belakang bersama bibi Ayu. Mereka mau ke Rumah Sakit Bhayangkara menjenguk Aditya. Menurut informasi dari pengacara keluarga, Aditya berada di sana dalam kawalan ketat polisi, karena Aditya ditengarai bisa berubah wujud jadi Macan.


Sebagai orang kaya dan sangat terpandang di masyarakat, serta punya nama sebagai pembisnis muda berbakat, polisi masih praduga tidak bersalah dan menunggu saksi serta bukti otentik untuk menjerat Aditya ke ranah hukum.


Saksi nyaris tidak ada, polisi yang bertugas di rumah nenek hampir semua meninggal dunia karena dilempar dan dicekik oleh Gorila. Saat pendeta memanggil kepala nenek, tidak ada warga dan pecalang kelihatan batang hidung nya, bisa saja mereka sembunyi atau tidak datang ke rumah nenek. Siapapun pasti takut melihat Leak, apalagi ada pembunuhan dari Gorila, lebih baik tidak dibayar daripada mati sia-sia.


Pendetapun nggan ditanya, mereka tidak tahu menahu masalah Macan dan kematian Basabi. Pada saat itu mereka sedang khusuk melawan kebatilan. Pendeta hanya tahu yang terakhir, saat polisi menembakan pistolnya, peluru nya nyasar ke Bejana yang berisi api. Waktu itulah terjadi percikan api, seketika berkobar melahap kain dan semua yang ada, sampai kepala nenek serta semua mayat terbakar tanpa kecuali.


Bibi, Rakhes dan Thasy berinisiatif ke polisi untuk menjadi saksi, bahwa Aditya tidak mungkin membunuh Basabi. Kejadian itu terjadi beda waktu.


Tidak berapa lama mereka sampai di kantor polisi. Disana sudah menunggu Pak Suwarno pengacara keluarga nenek.


"Selamat siang, kenalkan saya Suwarno pengacara keluarga nenek."


"Oke, kami tamu Aditya dan ini istrinya." sahut Rakhes pendek.


"Pak Suwarno, trimakasih telah datang. Kita bicara dulu masalah yang terjadi di rumah nenek." usul bibi.


"Oya mari, kita mencari tempat yang teduh." kata pak Suwarno mengajak ke kantin. Di kantin ini sangat luas dan ada ruangan privasi ber ac. Mereka masuk ke ruangan dan duduk semeja.


"Kalian minum apa, pilihlah." kata pak Suwarno menyodorkan daftar menu. Karena panas mereka memilih teh kombucha rasa strobery.


"Bibi tolong jelaskan apa yang sebenarnya terjadi, kenapa Tuan bisa berada disini. Sebelum saya bicara dengan Tuan, saya ingin mendapat masukan dari kalian." kata pak Suwarno selanjutnya.


Rhakes dan Thasy bercerita apa yang mereka


tahu. Bibi menambahkan menurut cerita Ghina dan Kemoning.

__ADS_1


"Harusnya Ghina dan Kemoning hadir disini." kata pak Suwarno.


"Mereka pasti ketiduran, tadi malam mereka berdua menjaga Tuan di rumah sakit."


"Telepon mereka, cuma pelayan saja mau seenaknya. Saya sendiri mengabaikan client demi Tuan Aditya."


"Mereka bukan pelayan Tuan, mereka masih ada hubungan saudara. Disitu mereka tidak pernah mau menerima gaji, tapi mereka sangat bertanggung jawab."


"Hahaha...mana ada nanusia begitu zaman sekarang, aku yakin mereka mengincar harta warisan nenek."


"Astaga pak Suwarno, jangan suudzon, mereka orang-orang kaya yang sengaja di suruh berjaga di rumah nenek. Saya tidak tahu pasti tujuannya, yang jelas mereka berdua tidak punya ilmu Leak." pungkas bibi membela Kemoning dan Ghina.


"Elehhh...saya tidak percaya itu, anak muda zaman sekarang...."


Dengan berat hati bibi menelepon Kemoning dan meminta datang untuk menjadi saksi jika polisi menanyakan tentang Aditya. Sambil menunggu Kemoning dan Ghina mereka terus berbincang-bincang tentang kejadian di rumah nenek.


Tidak berapa lama Kemoning dan Ghina sampai di Polda, mereka langsung menuju ke tempat bibi.


"Kami cukup lama menunggu, seharusnya kalian berdua ini duluan diurus, nenek sudah banyak yang mengurus." sahut pak Suwarno berdiri. Kemoning mengerjitkan alisnya tidak mengerti, kenapa pengacara ini bersikap begitu.


"Maaf pak kami berdua akan membantu jika bapak membutuhkan kami."


"Cepat ikut aku ke kantor polisi." sahut pak Suwarno kurang senang. Mereka berjalan menuju ruangan penyidik.


"Tookk...tookk...tookk..."


Mereka masuk ke sebuah ruangan dimana terdapat dua orang polisi.


"Ada apa ini?" tanya salah satu polisi.

__ADS_1


"Saya pengacara keluarga Drakula ingin menanyakan keberadaan Tuan Aditya."


"Silahkan masuk ke dalam dan yang lain tunggu di luar, nanti kalau diperlukan masuk satu persatu." kata polisi itu menyuruh pak Suwarno duluan masuk.


Kemoning paling sebel urusan begini, disamping lama, pertanyaan di putar-putar. Sebagai orang awam tentang hukum dia menjawab apa yang dia tahu, karena dia tidak mengerti apa jawabannya memberatkan atau meringankan Aditya. Baginya Tuan nya tidak bersalah, malam itu Aditya bersamanya di Bale Gede, jadi dia melihat Aditya ditembak.


"Tuan Aditya kenapa bisa kena tembak, apa dia bisa ngeleak?" tanya polisi menatap tajam Kemoning.


"Waktu itu polisi menembak asal, jangankan kaki Tuan yang kena, teman saya bernama Made sampai tewas di tembak. Saya tidak menyalahi polisi, perasaan takut dan panik mendera kami. Maklumlah kami di Bale Gede menghadapi Leak yang lagi marah. Makanya banyak polisi meninggal karena Leak juga melawan." tutur Kemoning berapi-api.


Kemoning dan Ghina tidak mau membuka rahasia Aditya yang bisa menjadi Serigala. Biarlah waktu yang menjawab, jika dia buka siapa Aditya sebenarnya persepsi polisi akan berbeda. Belum lagi reputasi Aditya sebagai orang terpandang. Apalagi kalau Devaly tahu, bisa hancur Aditya.


Untuk menutupi rahasia Aditya, akhirnya Kemoning membongkar rahasia Mayang dan kecurigaannya selama ini. Walaupun dalam hati dia merasa bersalah tapi itulah yang bisa dia lakukan saat ini.


"Kapan kamu melihat temanmu menjadi Macan?" tanya polisi tajam.


"Maaf pak polisi, sebelum saya lanjut, saya bercerita tentang diri saya sedikit. Kenapa saya bisa dirumah nenek beberapa -bulan terakhir ini. Sebenarnya nenek dan kakek kami bersaudara tapi nenek dan kakek saling bermusuhan karena nenek menganut ilmu Leak sedangkan kakek adalah pendeta suci yang memberantas ilmu Leak. Karena nenek sudah semena-mena akhirnya kami berdua dipanggil oleh Tuan Aditya dan Made menjemput kami. Disana kami menyamar sebagai pelayan supaya nenek tidak tahu."


"Nenek sakti tidak mungkin nenek tidak tahu tujuan kalian disana."


"Karena aura kami berbeda dan perlawanan yang kami lakukan sedikit demi sedikit, kami rasa nenek mengerti tapi tidak tahu pasti."


"Apa kalian senang kerajaan Drakula sudah hancur dan meninggalnya Ratu Leak?"


"Atas nama keluarga besar, kami bersyukur bisa memusnahkan banyak Leak, walaupun disisi lain kami tetap bersedih kehilangan nenek dan teman-teman baik kami. Seperti Made, Basabi dan polisi."


"Menurut ceritamu Mayang bisa menjadi Macan, bisa kamu buktikan?"


"Saya hanya mencurigai Mayang yang bisa menjadi Macan, kalau disuruh membuktikan saya tidak bisa. Kecuali Mayang tertangkap dan polisi bisa memeriksa kakinya. Menurut saya polisi harus kerumah sakit mencari wanita yang dirawat di UGD tadi malam dengan kaki tertembak. Cari alamatnya." kata Kemoning mengajari.

__ADS_1


****


__ADS_2