
Melihat cara Mayang membentak Devaly dan bibi Ayu, Kemoning langsung emosi. Dia tahu Mayang tinggi ilmunya, tapi dia tidak takut. Baru ilmu tinggi bebas marah, membentak orang, atau bebas membunuh orang, tidak begitu juga. Kita harus berani bicara dengan orang-orang yang seperti Mayang ini. Jika terus diam, Mayang akan tambah melunjak, apalagi merasa berilmu tinggi.
"Mayang jangan kamu semena-mena, nona Devaly adalah cintanya Tuan Aditya, kalau kamu merebut suaminya dengan cara licik, itu namanya kamu penjahat. Orang jahat tempatnya penjara." ketus suara Kemoning.
"Kamu manusia biasa berani ngoceh disini, apa yang kamu tahu. Aku adalah kesayangan nenek dan calon istri Aditya, Devaly yang liar itulah yang merebut jodohku, siapa yang mau dirugikan. Dasar pelayan. Otak deso!" sahut Mayang lalu masuk dapur. Dia takut kepergok dengan rombongan Aditya yang baru keluar dari kamar nenek.
"Songong, kamu juga dari desa, semasih statusmu disini pelayan, jangan sombong. Orang lain lebih istimewa darimu, Above the sky there is another sky!!" teriak Kemoning kesal.
Mendengar teriakan Kemoning Aditya dan kawan-kawannya buru-buru menuju dapur. Devaly yang duduk berdampingan dengan bibi Ayu diam saja, tidak berusaha menyapa atau memberi senyuman. Devaly membeku, hatinya sudah hancur. Baru menikah sudah mendapat cobaan yang berat begini.
"Ada apa Kemoning, ada yang mengganggu atau kamu melihat Leak." sindir Aditya keras, maksudnya supaya didengar Devaly.
"Hanya saya yang tidak bisa ngeleak Tuan, jadi hidup saya tiap hari di kelilingi Leak. Saya berteriak karena ada orang sombong jadi pelayan disini, yang mengaku sudah tidur dengan Tuan." geram Kemoning.
Aditya jadi berpikir kalau yang bicara itu Devaly, karena dia tidak pernah tidur dengan wanita lain.
"Siapa orang itu?" tanya Made emosi.
"Siapa lagi kalau bukan wanita Leak!!" tiba-tiba Mayang keluar menunjuk Devaly.
Perkiraan mereka benar, spontan Aditya dan Made menyeret Devaly. Ntah bagainana ceritanya Devaly menjadi sasaran kemarahan mereka. Tidak itu saja Mayang mengambil kesempatan untuk memukul kepala Devaly sampai pingsan.
"BERHENTI!! Kalian sudah gila, kalian yang Leak." pekik Kemoning marah. Dia langsung memeluk Devaly sambil menangis. Bibi Ayu dan pelayan lain juga ikut menangis. Aditya menjadi bingung.
"Nona Devaly sadarlah huu..huu." tangis bibi dan Kemoning sedih. Pelayan lain juga tidak bisa menahan tangisnya, melihat mata, bibir, dan hidung Devaly berdarah.
"Kalian setan, manusia sampah, beraninya sama perempuan dasar banci!!" teriak bibi Ayu marah sekali. Seumur-umur orang kepercayaan nenek itu marah dan menuding Aditya dan kawan-kawannya.
__ADS_1
"Pak Garden, tolong bawa nona ke kamarku." kata Kemoning menyuruh tukang kebun mengangkat Devaly ke kamar.
Diam-diam Aditya merasa bersalah, dia diam bersandar di tembok. Benarkah itu Devaly? Aditya masih ragu. Tapi kenapa Kemoning percaya itu Devaly.
Kemoning adalah cucu dari adik kakeknya Aditya, yang berilmu putih, kakek Kemoning Pendeta Brahmana sangat menentang orang yang menganut ilmu Leak. Apalagi dengan jalan sesat seperti nenek. Sebagai keturunan Pendeta Brahmana, Kemoning sangat taat menjalankan ibadah. Punya kelebihan seperti pendahulunya.
Made dulu sengaja membawanya kesini atas perintah Aditya, karena Aditya takut ancaman nenek yang akan mewariskan ilmu Leak. Tapi sudah telat, Basabi sudah terlanjur menerima ilmu nenek tanpa disadarinya.
Kemoning tidak menyangka kalau nenek licik, dia menghubungi Jro dukun supaya Basabi mentransfer ilmu Leak ke Aditya. Rencana si nenek memang jitu. Akhirnya Aditya ngeleak. Itulah yang membuat Kemoning selalu kesal sama nenek. Dan nenek juga kesal kalau ada Kemoning di rumahnya. Nenek tidak berani mengusir karena Kemoning cucunya juga.
Ketika Kemoning sibuk mencari jalan keluar untuk membuang ilmu Aditya, tiba-tiba dia dihadapkan dengan masalah baru, yaitu nenek sekarat. Beban Kemoning bertambah, karena nenek sulit meninggal kalau ilmunya belum diwariskan.
Lamunannya buyar ketika dokter keluarga datang memeriksa Devaly. Dia menghapus air matanya dan mempersilahkan dokter memeriksanya.
"Silahkan dokter, seperti biasa, kept secret." bisik Kemoning. Dokter mengangguk.
"Siap nona."
Ternyata di luar rombongan Aditya masih ada. Kemoning mendekati mereka dengan kemarahan yang meluap. Dia menghapus air matanya dengan ujung bajunya.
"Jika terjadi sesuatu kepada nona Devaly, aku pertama yang akan viralkan dan laporkan ke polisi. Kalian tahu, disini ada cctv dan semua ada buktinya. Rekamannya sudah aku kirim ke saudaraku yang berada dikampung. Kalau aku mati sekarang, pasti kalian membunuhku dan jika sakit bebai, Mayang otaknya."
Kata-kata Kemoning membuat rombongan Aditya mendadak mengkerut.
"Kalian semua sarjana, pintar, kaya, terkenal, tapi sangat bodoh. Seorang suami memaki istrinya, menampar dan seorang penata rias berani memukul bos nya, keterlaluan!!" teriak Kemoning lagi.
"Lancang kamu Kemoning, berani kamu melawan orang yang memberi kamu makan. Dia itu Tuanmu. Aku musnahkan dirimu dengan lidah api!" Mayang marah melihat Kemoning berani bicara kasar.
__ADS_1
"Aku tidak takut membunuh orang kalau dia bersalah. Bukan masalah siapa kalian, ini menyangkut penganiayaan. Aku tidak bisa ngeleak, namun aku biasa membunuh Leak."
"Tenang Kemoning, kamu tidak sungguh- sungguh kan, kamu tidak akan memberitahu keluarga besar?" Aditya akhirnya maju dan mendekati Kemoning.
"Jangan mencoba merayu Tuan, apapun bisa aku lakukan tergantung kalian selanjutnya. Dan tergantung nona Devaly juga. Kalau nona kondisinya memburuk, penjara tempat kalian. Jika dia sembuh aku mungkin memaafkan kalian, tapi aku tidak menjamin apakah nona Devaly memaafkan kalian." kata Kemoning cepat masuk ke kamar, karena dokter sudah selesai memeriksa Devaly.
"Jangan takut dengan ancaman Kemoning, itu gertakan sambel belaka. Sekali aku tiup, jiwanya bisa melayang. Anak baru kemarin sore banyak tingkah, dia berani karena kakek dan Ayahnya Pendeta Brahmana." sambung Devaly ketar ketir juga.
"Jika dia benar nona Devaly, hancurlah diriku, aku tidak bisa membayangkan berada dibalik jeruji besi." Basabi memegang kepalanya yang berdenyut.
"Siapapun dia, kita tetap bersalah." gumam Rakhes menyesal. Jika itu Devaly nasibnya juga akan sama dengan Basabi.
"Jika dia benar istriku, aku bersumpah akan membuat sorga dalam hidupnya. Aku tadi merasa geram dan gelap mata."
"Sayank, tenanglah. Aku yakin dia Devaly yang palsu. Biasanya kalau ada dua Devaly pasti yang palsu tetap disini dan yang asli disembunyikan. Itu sering terjadi." kata Mayang menghibur membuat mereka sedikit lega.
"Tapi kita tetap bersalah karena emosi." sambung Mayang menepuk pelan punggung Aditya.
Bibi Ayu keluar dari kamar dengan mata sembab. Dia sangat terpukul mendengar kata dokter, bahwa Devaly tidak akan bisa melihat untuk sementara waktu.
"Bibi Ayu, bagaimana keadaannya?" tanya Aditya mengikuti bibi menuju dapur. Bibi Ayu menghentikan langkahnya, berbalik badan menatap Aditya.
"Bersyukurlah kepada Tuhan kalau nona Devaly masih diselamatkan jiwanya." sinis suara bibi.
"Maafkan aku bibi, aku meragukan dia Devaly, semua mengira dia palsu."
"Tuan Aditya, saya mengerti keadaan Tuan, karena Tuan sudah kena ilmu penangkeb. Lama kelamaan Tuan akan tunduk kepada perintah seseorang."
__ADS_1
"Bibi Ayu, dasar setan! kau mau menghasut Tuan, pergi kau kedapur, pelayan busuk." kata Mayang sarkas.
****