
Devaly duduk termenung sambil menghapus air matanya, dia tidak tahu harus bagaimana lagi, pikirannya tertuju kepada Basabi yang seakan menjauhi dirinya.
Aditya jufa secara diam-diam suka masuk ke kamar Basabi, padahal gagang pintunya sudah digantungi dont disturb. Tapi terap saja Aditya memaksa masuk. Tingkah laku Aditya yang berbeda dari biasanya, membuat Devaly berburuk sangka.
Sejatinya dia tidak bisa marah sama Basabi, wanita itu tidak pernah neko-neko, tegas dan setia sama teman. Ntah kenapa Basabi saat ini lebih pendiam, dan jarang keluar kamar dan menghindar darinya. Lebih baik dia ke kamar Made mencari tahu ada apa dengan Basabi.
"Tookk...tookk...tookk."
Pintu segera terbuka, Made seolah tidak senang dengan kedatangan Devaly, apalagi gadis itu minta masuk ke kamar.
"Ada apa Devaly, jika tidak penting kita bisa duduk di lobby." kata Made. Dia berdiri di ambang pintu menghalangi Devaly masuk.
"Aku ada penting kita bicara di dalam, izinkan aku masuk."
Made terpaksa memiringkan badannya dan membiarkan Devaly masuk ke kamar. Pintu di biarkan terbuka pertanda mereka tidak melakukan yang aneh-aneh.
"Ada yang bisa aku bantu nona?"
"Aku hanya ingin bertanya hubunganmu dengan Basabi, aku merasa kalian tidak akur lagi. Bukannya aku cemburu, Basabi sengaja memancing Aditya masuk ke kamarnya." ucap Devaly dengan gaya berapi-api.
"Kami vakum untuk sementara, kami dibilang bubar juga boleh. Sebuah hubungan pasti ada pasang surutnya, tidak mulus melulu. Namun di dalam hatiku rasa cintaku padanya tidak pernah akan pudar."
"Aku merasa iri dengan Basabi, sebagai pacarnya kamu sangat setia. Berbeda dengan Aditya yang tidak peduli padaku."
"Kamu jangan berasumsi yang tidak-tidak, selama ini Tuan sangat menyayangimu. Dia menjagamu dengan baik. Tuan tidak seperti pemuda lain yang aji mumpung, dia berani berbuat dan berani bertanggung jawab."
"Hemm...menurutmu dia begitu, menurutku dia berbeda, apalagi semenjak kamu putus dengan Basabi, Aditya getol mendekati pacarmu tanpa jeda. Menunggunya dengan sabar, sambil bertangisan, kesal aku padanya."
"Antara Basabi dan Aditya tidak ada apa-apa mereka saling sharing. Aku sendiri percaya kepada mereka, mungkin saja ada masalah besar yang membuat Basabi menangis, kita tidak boleh suudzon."
"Aku tidak mengerti kenapa kamu santai sekali, apa artinya dua orang anak manusia dalam satu kamar tertutup." suara Devaly mulai meninggi, dia kesal kepada Made yang lemah dan tidak mengerti situasi.
"Aku sangat mencintai Basabi, tidak ada yang perlu diragukan lagi." kata Made.
Dia membela Basabi bukan tanpa alasan, karena saat ini Basabi mengalami goncangan yang sangat berat. Sebagai bawahan, wajar Made mengadu masalah Basabi kepada Aditya. Karena Made sangat percaya kepada bos nya itu yang sangat bertanggung jawab. Basabi pasti akan dilindungi oleh Aditya.
__ADS_1
Made minta tolong kepada Aditya supaya memberi bimbingan dan kenyamanan saat ini kepada Basabi. Aditya memberi rekaman kepada Made dalam setiap pembicaraannya dengan Basabi, diam-diam Aditya merekam semuanya, supaya tidak menjadi fitnah pertemuan mereka setiap saat.
Aditya orang yang bertanggung jawab, setia kepada Devaly, dia juga jujur, tidak mungkin dia berani nyelonong ke kamar Basabi tanpa sepengetahuan Made. Seperti saat ini Basabi duduk di sofa sambil menangis dan Aditya dengan sabar mendengar keluh kesah Basabi.
"Aku tidak mengerti apa maunya Made mengumbar aibku. Apa itu yang membuat hatinya senang, dia tidak punya empaty kepada ku sebagai korban." kata Basabi sedih bercucuran air mata.
"Basabi kamu salah menilai Made, aku bos nya. Sebenarnya dia mengadu bukan ingin nengumbar aibmu, dia ingin mencari solusi yang terbaik untukmu. Dia sayang padamu, tapi kamu tidak mau mengerti.
"Aku mampu mengatasi sendiri, tidak usah ďitolong. Kalau dia ingin mencari wanita lain silahkan. Aku tidak mencintainya lagi." kata Basabi lirih, air matanya mengalir.
"Apakah karena peristiwa itu membuat kamu menjauh dari Made, sedangkan Made tidak peduli semua itu. Dia mencintaimu apa adanya. Jangan menyakiti diri sendiri dan pasanganmu."
"Pergilah, kau sudah tahu jalan keluar!!"
Pemuda tampan itu terpaksa keluar, Basabi sangat kaku. Sampai diluar kamar, Devaly sudah menyambutnya dengan wajah keruh dan air mata berlinang.
"Sayank, sudah lama berada disini?"
"Hitung saja sendiri, dari kamu masuk sampai sekarang. Dasar pengkhianat."
"Istirahatlah, aku mau ke tempat nenek. Ada yang perlu diselesaikan." kata Aditya sambil melambaikan tangannya kepada Made.
"Ada apa Tuan." made datang tergesa-gesa.
"Aku mau menemui nenek, ada masalah di perumahan kebun Kopi dan Vanilli."
"Terus aku ngapain?"
"Ajak Devaly dan yang lain makan, setelah itu suruh dia istirahat." kata Aditya melirik Devaly.
"Aku sudah punya tangan dan kaki tidak usah repot-repot mengajak aku kesana dan kesini. Kalau mengurus orang lain kamu bisa, tapi ngurus aku kamu suruh orang lain."
Devaly menghentakan kakinya lalu pergi menuju kamar. Dia tidak peduli dengan Made yang mengikutinya dari belakang. Devaly masuk ke kamar dengan pintu dibanting dan berbunyi berdebam, tidak perlu kaget lagi itu sudah kebiasaan Devaly kalau sudah marah.
Made mundur dan memilih pergi ke rumah nenek. Dia bingung dengan tingkah wanita.
__ADS_1
"Mayang aku minta kopi satu." kata Made ketika dia sudah berada di beranda rumah nenek. Dengan santai dia duduk sambil menunggu Aditya yang berada di dalam kamar nenek.
"Tadi ada beberapa buruh kesini, katanya ada tujuh orang laki-laki dewasa dibunuh dalam keadaan tanpa busana." kata Mayang pelan, ikut duduk disamping Made.
Degg!! dadanya seperti kena palu godaan, dia duduk terhenyak, dadanya berdebar kencang mendengar berita ini. Tapi benarkah Basabi bisa membunuh orang sebanyak itu? apa itu perbuatan orang lain? pertanyaan itu berputar di kepalanya.
"Apa kata orang-orang yang tadi datang?"
"Mereka hanya ingin tahu apakah di antara pelayan yang tinggal disini ada yang pernah diperkosa."
"Kami katakan tidak ada yang di perkosa. Berani mereka memperkosa, duluan nyawa mereka.melayang." kata Mayang menyeringai sadis.
"Syukurlah mereka meninggoy, itu orang kena karmanya. Aku tidak respek dengan manusia laknat yang suka memperkosa."
"Nenek juga berkata begitu, intinya mereka yang membuat ulah. Nenek hanya membayar tiga kali gaji dan sedikit santunan."
"Nenek termasuk baik, seharusnya bersyukur mempunyai bos yang loyal kepada anak buah dan baik hati."
"Aku ingin bicara rahasia padamu, sepertinya Basabi yang diperkosa. Kalau aku tidak salah lihat, malam itu dia berada di Gazebo sempat berlari menuju ke perumahan buruh, aku tidak mengerti ngapain dia kesana."
"Setiap hari Basabi tidur berdua denganku, mustahil dia kesana." kilah Made ketakutan kalau sampai rahasia Basabi terbongkar. Dia sangat kasihan kepada nasib gadis itu. Tapi bagaimana kalau Basabi hamil?
Yang membuat perasaan Made ragu, tidak mungkin Basabi bisa membunuh tujuh orang sekaligus.
"Apa aku salah lihat, atau itu Thasy. Bodynya sama-sama kurus dan tinggi. Wajahnya samar karena gelap gulita."
"Berarti malam itu kamu berada tidak begitu jauh dengan orang yang diperkosa."
"Aku melihat sepintas, tidak berani menuduh orang itu di perkosa supaya tidak salah. Aku hanya menemukan orang itu di situ." jelas Mayang, masalahnya malam itu gelap gulita dan wajah wanita itu setengah berubah. Dia tidak bisa membedakan antara Basabi dan Thasy.
"Apapun yang kamu lihat lupakan, anggap kamu tidak pernah melihatnya. Jika polisi atau siapa pun datang jangan pernah mau bersaksi."
"Ya lah, lagian yang aku lihat belum pasti orangnya, disamping itu aku tidak ingin nenek kena masalah."
"Kita bekerja disini, sepatutnya kita menolong dan melindungi nenek yang sudah tua." kata Made menutup pembicaraannya.
__ADS_1
*****