
"Dasar setan, diajak mendayung malah teriak, tidak tahu diuntung. Rasain sekarang jiwamu melayang tanpa ampun, kamu yang mulai perkara ini." gerutu Gorila menyalakan lampu.
Dugaannya benar, ada koper Mayang berisi pakaian. Tas ada, tapi dompet tidak ketemu. Berarti kedatangannya rugi total. ATM tidak ketemu, terpaksa nenek mengambil arloji dan barang-barang berharga yang berada di kamar Aditya.
Dia lalu memastikan lelaki itu, apakah Aditya cucu nenek Saodah atau mandor kopi. Gorila membalikan badannya, ya ampun ini bukan siapa-siapa, ternyata orang lain. pikir nenek Bungkling, dia keluar lewat jendela dan lari menuju kebun belakang. Sudah jam tiga pagi, Gorila berlari kencang menuju desanya, dia takut keburu matahari terbit. Sampai dirumah nenek sangat lega dan masuk ke kamar.
Tidak habis-habisnya rasa kaget menyerang jantung para pelayan. Pagi ini mereka sudah disuguhi berita kematian. Hantung mereka berdebar kencang saat mendengar berita itu. Semua pelayan sibuk membersihkan kamar Aditya setelah polisi membawa mayat itu.
"Bibi Ayu siapa yang meninggal?" Devaly datang bersama Thasy.
"Syukurlah kalian datang, aku baru mau ke Bungalow memberi khabar. Tabahkan hati kalian berdua."
"Bibi jangan menakuti kami, siapa bi..."
"Rhakes..."
Seperti disambar petir disiang bolong, Thasy dan Devaly kaget setengah mati. Kedua wanita itu menangis berpelukan, masalahnya baru tadi malam Thasy dan Rakhes saling menyalahkan. Mereka berdua ingin kembali ke Los Angeles, namun Devaly minta ikut. Thasy minta Rakhes supaya mengajak Devaly tapi Rakhes tidak mau, karena Aditya masih di rumah sakit.
Akhirnya Rakhes dan Thasy berdebat kusir, Rakhes pindah tidur ke kamar Aditya dan Thasy ngambek pindah ke kamar Devaly.
"Dimana Rhakes sekarang?" tanya Thasy sesenggukan.
"Sudah dibawa oleh polisi untuk autopsi, kita tunggu proses selanjutnya. Nona harus tabah menghadapi kejadian ini, sudah takdir Tuhan. Aku heran kenapa ada korban lagi, siapa yang membunuh padahal...."
"Nona, kita duduk di dalam. Ada yang ingin aku tanyakan." Kemoning menyela. Dia baru datang dari pasar dan sangat kaget melihat kerumunan warga.
__ADS_1
Kemoning mengajak Devaly, Thasy dan Ghina duduk semeja di ruang makan dekat dapur. Ruangan ini khusus untuk pelayan jika mau makan. Bibi dan para pelayan lainnya duduk di meja lain, disini ada lima meja yang berisi enam kursi di setiap meja. Ruangannya luas dan bersih.
Mereka juga ingin mendengar apa yang akan dikatakan Kemoning. Dulu mereka tidak mau peduli kepada Kemoning, apalagi kepada Ghina yang pendiam dan agak tomboy. Tapi setelah mereka tahu Kemoning dan Ghina dari kasta Brahmana, masih ada hubungan persaudaraan dengan Tuan Aditya, mereka akhirnya menaruh hormat.
"Nona Thasy atas nama keluarga nenek dan pelayan, kami turut berduka cita. Aku pribadi sangat kaget dengan kejadian yang menimpa Rakhes." kata Kemoning sedih. Thasy duduk bersandar di kursi, perlahan dia mengambil tissue dan menghapus air matanya.
"Trimakasih Kemoning, aku sangat sedih dan merasa bersalah kepada Rakhes. Kami tadi malam selisih faham yang membuat Rakhes tidur di kamar Aditya. Padahal kami mau menikah karena aku sudah telat dua bulan." Air mata Thasy kembali membanjir.
"Aku dan Thasy berencana pulang ke Los Angeles untuk sementara waktu."
"Nona Devaly dan nona Thasy, sebelumnya aku minta maaf, aku sangat mengerti atas perasaanmu selama berada disini. Banyak hal yang telah terjadi, hidupmu melesat jauh menuju titik kulminasi dan jatuh diambang batas yang terendah. Aku tidak menyalahkan dirimu, tapi tolong pikirkan lagi nasib Aditya yang terkatung-katung dengan masalah yang membelitnya." kata Kemoning berjeda, dia menunggu respon dari Devaly.
"Tuan Aditya tidak bersalah, sudah tujuh hari di tahan. Aku bingung dengan pak Suwarno, kenapa Tuan dibiarkan, harusnya ditebus pakai jaminan dan Tuan bisa dirawat intensif di rumah sakit."
"Pak Suwarno mencariku dan meminta uang banyak. Rakhes yang memberi, tapi tidak ada tindakan dari pengacara itu."
"Kenapa tidak bicara dengan bibi, kalian bisa diperas. Pak Suwarno harusnya tidak boleh begitu." sahut bibi.
"Bibi beritahu pak Suwarno, jika dia tidak menjalani tugasnya kita ganti pengacara lain. Aku yakin pak Suwarno senang berurusan dengan nenek, karena nenek bisa ditipu dan dibodo-bodohin. Sekarang nenek tidak ada siapa yang mau ditipu?"
"Aku nanti nelpon pak Suwarno, supaya tidak biasa mengambil uang tamu Bungalow." bibi jadi kesel.
"Berapa pak Suwarno minta uang?"
"Pertama seratus juta, katanya sebagai jaminan. Rakhes memberi sepuluh juta dulu, lagi seminggu baru ditambahi."
__ADS_1
"Kalau begitu tunggu pak suwarno datang, nanti aku yang bicara. Apa dia tahu Rakhes sudah meninggal. Semoga dia tidak tahu."
Perbincangan mereka terhenti karena polisi kembali datang untuk menyelidiki serta mencari saksi. Petugas sampai memasang rambu-rambu tengkorak di depan rumah nenek. Masalahnya di rumah ini banyak terjadi pembunuhan dan menelan korban yang disebabkan oleh ulah Leak yang tidak bisa di intervensi.
Polisi kembali masuk ke kamar Aditya yang terlanjur di bersihkan oleh para pelayan padahal sudah di wanti-wanti. Untunglah ada masukan dari bibi supaya polisi tidak marah. Bibi mengatakan bahwa mereka mendengar teriakan tadi malam sekitar jam dua dini hari. Dia mengatakan bahwa pakaian Mayang ada yang mengobrak-abrik, barang Tuan yang hilang jam tangan, ponsel.
"Mayang adalah bekas pelayan disini, sampai sekarang hilang. Kami mencurigai dia yang menjadi Macan dan membunuh Basabi." kata Bibi kepada polisi. Kemoning lalu bercerita tentang Aditya, minta perlindungan hukum.
Polisi seperti penasaran dengan cerita bibi dan Kemoning. Mereka berjanji menindak lanjutin perkara Aditya serta akan memburu Mayang sampai ketemu.
Bisakah Mayang diketemukan? karena sudah hampir dua bulan dia tidak pernah keluar dari rumah nenek. Kakinya mulai sembuh berkat ketelatenan Paijo mengurus Mayang. Nenek tidak ikut campur ketika tahu, kalau Mayang dan Paijo punya hubungan terlarang.
Perut Mayang sudah terlihat buncit dan dia mulai mengeluh ingin sesuatu yang tidak bisa dipenuhi oleh Paijo. Itulah yang sering menyebabkan Paijo mati-matian mencari uang dengan cara mencuri. Pertengkaran sering terjadi sampai Mayang mengancam akan kembali ke rumah Aditya dan nenjadi istrinya.
"Laki-laki tidak berguna, kamu bisa niduri aku saja, tapi tidak pernah memberi uang. Sudah berapa kali aku katakan, aku sedang ngidam, namun kamu tidak pernah menuruti kemauanku." bentak Mayang kesal.
"Semua desa sedang melakukan penjagaan ketat dengan siskamling, aku tidak berani menembusnya. Sangat berbahaya."
"Kalau begitu kita pisah, kita mencari jalan masing-masing."
"Jangan pergi, aku yang mencari uang." kata Paijo berdiri. Dia mengambil sepeda bututnya dan keluar dari rumah nenek. Mayang tidak peduli Paijo mau kemana yang penting lelaki itu membawa uang.
Teriknya matahari tidak menyurutkan tekad dan semangat Paijo untuk minta pekerjaan di jalan Drakula. Paijo pernah mengatakan ingin bekerja di kebun nenek, tapi tidak dapat izin dari Mayang dan nenek. Sekarang Larangan utu dia langgar, demi cintanya yang sudah bersemi kepada Mayang.
Sekitar satu jam perjalanan sampailah Paijo di pintu gerbang rumah nenek. Seorang pecalang mengizinkan Paijo masuk ke dalam rumah, karena dia melamar pekerjaan di kebun sebagai pemegik kopi.
__ADS_1
,*****