CINTA GAIB LEAK NGAKAK

CINTA GAIB LEAK NGAKAK
Bab. 9


__ADS_3

Setelah berpamitan kepada neneknya, Aditya dan tamunya keluar dari kediaman nenek. Dia memacu mobil Van itu dengan kecepatan sedang. Sepanjang perjalanan tamunya riang gembira dan terus bernyanyi. Saat lagu india Kal Ho Naa Ho dinyanyikan oleh Rakhes, Adit tiba-tiba merasa sedih sekali. Biarpun dia tidak mengerti artinya, tapi lagu itu sanggup membuat perasaannya tercabik-cabik. Itu lagu kenangan saat pertama kali dia bertemu Shakira di sebuah restoran Nasi Kebuli.


Waktu itu dia ingin tahu rasanya nasi kebuli. Rupanya bukan dia saja ingin makan nasi kebuli, Shakira juga ingin mencobanya. Itulah pertama kali bertemu. Herannya setiap mereka ke Restoran itu lagu Kal Ho Naa Ho selalu berkumandang. Akhirnya lagu itu menjadi lagu kenangan mereka berdua.


Kejadian itu terjadi tiga tahun yang lalu. Adit akhirnya putus karena ada kejadian mistis yang Shakira alami sehingga dia memilih pergi daripada terus bersama Aditya.


Shakira seorang model cantik papan atas yang sedang naik daun. Mereka berpacaran jarak jauh, LDR. Aditya sangat mencintai Shakira begitupun sebalik nya. Dunia seperti milik mereka berdua.


Manusia hidup ada saja cobaannya. Ketika mereka akan melanjutkan kejenjang yang lebih serius yaitu pertunangan, Shakira diajak menginap di rumah nenek Saodah, pada saat itulah dia melihat nenek Saodah berubah wujud menjadi monyet.


Gara-gara kejadian itulah membuat Shakira meninggalkan Aditya, terjadi perang dingin di antara keduanya sampai sekarang. Aditya menutup diri dari dunia percintaan memilih meningkatkan bisnisnya.


Dia juga menyamar, kadang menjadi sopir mengajak tamunya traveling. Baginya tidak berguna pengakuan dan memperlihat kan dirinya sebagai owner dari Hotel D'Queen karena sebagian orang akan dekat padanya karena kekayaannya.


"Sebentar lagi kita akan memasuki kawasan desa Kintamani menuju dermaga Kedisan. Harap teman-teman mengikuti peraturan yang telah tertulis." Made mulai berkoar-koar memberi arahan.


"Oke... kita akan mematuhi aturan yang berlaku." sahut Rakhes.


"Tapi sebelumnya kita akan makan siang, nenek telah memasak untuk kalian semua." Made lalu membuka box have lunch dan membagikan makanan kepada tamunya.


"Trimakasih Made, nenek memang hebat. Makanan yang dia kirim sangat lezat." Thazy berkomentar manis hari ini, padahal dia kesal karena Devaly selalu minta duduk di depan disamping Aditya yang menyetir.


Akses ke pemakaman desa Trunyan bisa naik perahu dari dermaga Kedisan, dermaga Cemara Landung dan dermaga desa Trunyan. Yang lebih direkomendasikan adalah naik perahu dari desa Kedisan butuh waktu lima belas menit dibandingkan naik perahu dari desa Trunyan. Walaupun dermaga dari Desa Trunyan lebih dekat ke pemakaman namun akses jalan menuju desa tersebut cukup ekstrim. Jalan sempit agak menanjak. Untuk keamanan dan kenyamanan selama di perjalanan maka penyeberangan dermaga desa Kedisan lebih direkomendasikan.


Untuk kenyamanan tamunya Made sudah memesan perahu kepada tukang perahu langganannya yang biasa wisata ke kawasan pemakaman desa adat Trunyan. Dan sudah termasuk tiket sewa perahu, guide lokal dan juga donasi.


"Apakah ada cerita mistis tentang Danau Batur, aku membuat konten disini?" tanya Kenny kepada Made.


"Tentu saja ada, aku akan membagikan satu persatu buku kepada kalian." kata Made mengeluarkan enam þuku saku langsung membagikan kepada mereka.


"Trimakasih Made."

__ADS_1


Mereka lalu membaca kisah terjadinya Danau Batur yang melegenda itu.


"Ceritanya sangat menyentuh. Trimakasih Made." kata Basabi mengecup pipi Made.


"Oh no..kau jangan nyosor di depan kita, itu tidak boleh dilakukan di daerah ini." Rakhes memperingati Basabi dengan kesal.


"Sorry...spontan."


Tidak begitu lama sampailah mereka di desa Trunyan. Mereka memilih berjalan kaki, dari pada naik ojek. Cuaca disini agak dingin, yang membuat mereka risih banyaknya anak kecil pedagang asongan.


"Kalian jangan memaksa tamu, om kasi satu persatu setelah itu pergi ya." kata Made membagikan sedikit uang.


"Trimakasih om."


Kuburan Trunyan. Baru masuk ke wilayah kuburan tubuh terasa merinding. Bulu kuduk spontan berdiri, membuat Devaly memegang tangan Aditya. Pria itu menoleh tidak senang tapi dia membiarkan karena melihat raut wajah Devaly yang pucat.


Angin kencang datang bergulung menyapu batang pohon bambu, dan daun kering. Irama magis yang ditimbulkan membuat hati Tashy mengkerut. Mereka tambah takut, baru kali ini mereka punya rasa takut yang berlebihan. Mereka berjalan pelan sambil tengok kanan kiri, memastikan tidak ada mayat yang hidup.


Abisheka berjalan dengan Kenny saling bergandengan tangan. Disamping rasa takut dia sangat penasaran dengan pohon Menyan yang membuat bau busuk tidak tercium. Ini benar atau hanya sebuah pembodohan. Dia dan Kenny menyelinap dan menjauh dari teman-temannya.


"Kenny, aku mau mengambil ranting taru menyan ini, dan salah satu tengkorak yang menumpuk itu. Aku penasaran sekali, tidak mungkin ada pohon yang bisa membendung bau busuk."


"Aku juga penasaran. Liat orang-orang itu yang memungut uang. Dia kok boleh, apa bedanya dengan kita." kata Abisheka mengintip orang lokal yang mengambil uang yang berserakan di sekitar kuburan.


Banyak turis berkunjung khusus membuat konten. Abisheka dan Kenny diam-diam mengambil tengkorak yang sudah mengecil dan kering, serta mematahkan ranting taru menyan. Dia lalu memungut plastik kresek untuk pembungkus, kemudian memasukan benda-benda itu ke ransel.


Basabi dan Made memilih mendekati dagang acung, yang lahir disana dan tahu seluk beluk upakara, yang biasa dilakukan oleh warga setempat apabila ada kematian.


"Jika ada bayi meninggal di letakan dipohon, berbeda dengan yang lain." jelas Made menunjuk ke batang pohon.


"Owh...aku tidak berani mengatakan sesuatu. Aku hanya bisa berdoa supaya roh mereka mendapat tempat sesuai karma yang mereka lakukan semasa hidupnya."

__ADS_1


"Aku setuju dengan pendapatmu, bagi orang hindu Bali sangat percaya dengan karma baik dan karma buruk. Mereka percaya bahwa karma adalah teman yang mengikuti sampai mati."


"Aku minta kau mengambil gambarku untuk beberapa kali lagi. Masih banyak yang belum kau jelaskan."


"Aku akan membantumu asal kamu tidak mengambil benda-benda yang berada di samping mayat. Jangan meniru orang lain." kata Made mengambil camera nya.


Melihat perhatian Made kepada dirinya, Basabi terharu. Dia mengikuti Made dan menahan perasaannya, yang biasanya usil ingin mengambil barang-barang sebagai pelengkap kontennya.


"Hai...asyik sekali. Made apa boleh kita menginap disini, kita ingin tahu suasana malam hari. Aku ingin tahu kalau mayat dibiarkan begini, kalau malam apa bisa jadi hantu."


"Tidak boleh menginap, karena resikonya tinggi bisa saja nyawa melayang."


"Tapi belum pernah ada yang mencoba. Aku ingin mencobanya, pasti bagus untuk konten. kata Kenny kehkeh.


"Buat apa menginap disini lebih baik tidur dirumah, lagi pula disini semakin malam tambah dingin. Disini seperti hutan, jadi banyak ularnya."


"Katakan kau penakut Made." ucap Abisheka tertawa ngakak.


"Aku takut nyawaku melayang, apa yang di larang oleh penghuni desa ini harus ditaati." kilah Made tetap sopan.


"Hahaha.....kamu pengecut."


"Tidak apa-apa Kenny, cari selamat saja." jawab Made menggandeng tangan Basabi.


Tanpa terasa matahari sudah mulai condong kebarat. Suasana di kuburan juga mulai sepi. Cuacanya juga semakin lembab. Made dan Aditya mengumpulkan tamunya mengajak kembali ke Dermaga.


"Karena sudah sore kita akan kembali ke Dermaga untuk melanjutkan ke Bungalow. Tapi jika kalian mau langsung ke hotel aku akan mengantarkan." kata Aditya.


'Aku mau ke Bungalow saja untuk istirahat semoga tidak hujan lagi." ucap Devaly tidak mau lepas dari Aditya.


*****

__ADS_1


__ADS_2