CINTA GAIB LEAK NGAKAK

CINTA GAIB LEAK NGAKAK
Bab. 87


__ADS_3

Suara tangisan Mayang membuat yang lain kebingungan. Apalagi pecalang, mereka ikut mengerubungi Mayang. Bibi Ayu menendang pantat Mayang pelan sambil tersenyum sinis.


"Drama apa lagi, semua orang jadi bingung, melihat tingkahmu."


"Jangan ikut campur, aku ingin memberitahu Tuan bahwa Gusde meninggal tadi malam, dia ditembak oleh polisi..huuaaa...huhu..."


Semua kaget, terutama Ghina, masalahnya Ghina sering melihat Gusde menyelinap ke kamar Mayang. Tapi kalau ngeleak Gusde sepertinya tidak bisa. Tadi maunya Ghina tidur, tiba-tiba Mayang keluar dari kamarnya seperti orang gila.


"Darimana kamu tahu Gusde dibunuh polisi, yang dibunuh pasti Leak, apakah Gusde bisa ngeleak?" tanya bibi tidak percaya.


"Gusde tidak bisa ngeleak mana mungkin di bunuh. Kamu pembohong." kata Ginha.


"Tenang dulu, kamu duduk yang benar di kursi. Seandainya dia terbunuh dimana jazadnya dan siapa saksinya." ucap Aditya tidak begitu percaya.


"Jazadnya sudah dibawa ambulans tadi malam." Mayang sesenggukan.


"Bagaimana kamu bisa tahu, sedangkan kamu berada di dalam kamar. Kecuali kamu ikut menjadi Leak dan berkeliaran merebut mustika." kata Ghina menohok.


"Kenapa sih kalian memusuhiku, orang sedang bersedih malah di bully."


"Karena kami tidak yakin kalau Gusde kena tembak polisi, jangan-jangan kamu yang memakannya. Atau kamu menonton perang bathin tadi malam."


"Ngapain nonton perang Leak."


"Kalau begitu kenapa mayat itu kamu yakini bahwa itu Gusde. Jika dia berubah wujud berarti mayatnya tetap seperti wujud barunya tapi jika wujudnya normal berarti polisi tidak mungkin menembaknya."


"Aku tidak tahu Tuan, aku minta perlindungan darimu. Masalahnya aku sedang hamil."


"Ya ampun, kasihan sekali dirimu, semoga aku bisa melindungi mu." kata Aditya terharu. Dia tidak jadi marah-marah.


Melihat kelakuan Aditya kepada Mayang pelayan tidak senang, apalagi bibi Ayu.


"Mayang kenapa Tuan kamu tempel, Gusde punya keluarga. Katakan kepada keluarganya kamu hamil."


"Ini urusanku, aku merasa nyaman dengan Tuan. Lagipula aku dan Gusde pekerja disini, Gusde mati saat mengamankan situasi." kata Mayang sambil menangis.


"Diam lah kita akan mencari jalan keluar, kamu harus berani menderita."

__ADS_1


"Maksudmu apa berani menderita?" tanya Mayang menghapus air matanya.


"Kamu tetap sebagai pelayan, aku akan melindungimu dan aku akan mengangkat anakmu sebagai anakku."


"Tuaann....." Mayang langsung mencium kaki Aditya. Pria itu prihatin terhadap masalah yang dihadapi Mayang.


"Tuan Aditya, bibi tidak menggurui tapi tolong dipikir dua kali. Kalau Tuan ingin mengambil suatu keputusan tidak boleh memutuskan sendiri, karena saat ini Tuan sudah punya istri. Bicarakan dengan nona Devaly baru Tuan mengambil sikap, supaya tidak terjadi keributan di kemudian hari."


"Devaly pasti setuju, Mayang baru kehilangan calon ayah dari anaknya, siapa tidak sedih mendengarnya?"


"Bibi ngapain kamu usil, biarkan Tuan memutuskan." pungkas Mayang kesal.


"Karena aku tahu siapa kamu." ketus suara bibi.


"Sudah-sudah, jangan khawatir aku sekedar melindunginya sampai anaknya lahir. Aku mau memberitahu kepada Devaly masalah ini aku yakin Devaly pasti setuju." kata Aditya berdiri.


"Trimakasih sayank atas kebaikan mu." ucap Mayang tersenyum. Dia mengejar Aditya yang menuju ke Bungalow.


"Belum apa-apa sudah ngelunjak." kata bibi melempar serbet ke tubuh Mayang. Serbet melayang dan jatuh tidak jauh dari bibi berdiri.


"Bibi kalau mau melempar serbet dalamnya diisi batu baru kepala Mayang bocor." kata ketut yang ikut kesal dengan tingkah Mayang.


"Sayank, aku punya berita baru." kata Aditya duduk di sofa disamping Devaly. Seperti biasa Devaly akan memutar-mutar ponsel sambil mendengarkan lagu.


"Maaf nona Devaly, aku sebenarnya tidak ingin memberatkanmu, tapi aku terpaksa minta pertolongan dengan Tuan untuk melindungi anakku."


"Hemm...pertolongan apa ini?" tanya Devaly kurang senang, wajahnya tiba-tiba berubah.


"Aku tidak tahu kalau Mayang mengikutiku, maafkan aku sayank." kata Aditya melotot kepada Mayang.


"Besok-besok kalau mau kesini bilang dulu, jangan main nyelonong saja." kata Devaly.


"Kamu kan buta mana kamu lihat aku masuk kekamar."


"Orang butïa lebih tajam penglihatannya, karena memakai bathin." kata Devaly dengan kesal.


Tiba-tiba Mayang duduk disamping Aditya dan mengecup pipi pria itu.

__ADS_1


"Kamu melihat, apa yang sekarang aku lakukan?" tanya Mayang mengejek.


"Maaf Tuan aku cuma ingin mengetes pelihatannya. Siapa tahu dia sudah bisa melihat, jangan sampai kita ketipu." kilah Mayang.


Aditya mengangguk-angguk mengerti, tadinya dia mau marah. Devaly lalu berdiri dia meraba-raba tubuh Aditya, sambil tangan kirinya memukul-mukul ngawur, pura-pura tidak melihat. Tepat didepan Mayang, tangan Devaly menampar wajah Mayang.


"Plookk..." rasa marah tidak terkendali saat Mayang menjerit, manusia palsu. gerutu Devaly kesal.


"Brengsek kau Devaly, dasar si buta!!" bentak Mayang mau membalas tamparan Devaly, tangannya cepat dipegang Aditya. Akhirnya Mayang punya kesempatan untuk memeluk Aditya, hatinya senang sekali, dia langsung pura-pura menangis.


"Biarpun aku buta tapi aku punya adab. Suami orang terus kamu tempel, serendah itu jiwamu, tidak punya harga diri. Kamu duduk disamping suamiku, dasar perempuan tidak tahu malu." kembali Devaly mau menampar Mayang, kini tangan Aditya menangkisnya.


"Tenang sayank jangan main fisik, Mayang sedang mengandung dan sedang berduka. Kamu harus mengerti."


"Aku tidak bisa tenang karena kamu telah membawa racun kedalam cinta kita." kata Devaly keluar kamar. Mayang langsung memeluk Aditya dari belakang saat pria itu mau keluar.


"Biarkan dia menenangkan diri, kita harus mengerti situasi nya. Perempuan tidak punya akal sehat saat dirinya dimakan cemburu. Nanti juga dia baik."


"Harusnya aku bertanya dulu, tadinya aku kira dia akan kasihan padamu."


"Duduklah Tuan, Devaly itu tidak seperti aku, mungkin karena ras nya beda, hatinya tidak seluas Samudra. Dia memang cantik, tapi cemburunya membahayakan. Pipiku sakit sekali kena tamparannya, mungkin aku harus mencari rumah sakit untuk bukti."


"Mayang, apakah kamu akan melaporkan ke polisi masalah sekecil ini, aku sarankan jangan diperpanjang."


"Kalau dibiarkan, dia akan tuman dan kamu pasti jadi sasarannya, kamu sering dipukul. Aku tahu cewek type begini, gampang marah tidak ada bagus-bagusnya."


"Aku harus bertindak tegas, jangan sampai dia mendorong ku dari tangga, atau meracuni bayiku. Karena inilah satu-satunya pewaris Gusde, keturunan yang aku tunggu-tunggu."


"Tidak mungkin Dèvaly berbuat begitu, aku akan memarahinya."


"Marahi Devaly sekarang, kalau tidak aku akan melaporkan masalah ini."


Aditya langsung mencari Devaly yang duduk di lobby. Wanita itu duduk termenung sambil berpangku tangan, hati Aditra terenyuh melihat istrinya bersedih. Dia menyayangkan kenapa Devaly cepat sekali marah, padahal Mayang tidak ada menggodanya seperti dulu.


"Devaly, aku sekedar mengingatkan jangan main fisik, untung Mayang orangnya baik, jika tidak dia sudah melaporkanmu ke kantor polisi." kata Aditya menghampiri istrinya.


"Aku merasa kau bukan suamiku." jawab Devaly berdiri.

__ADS_1


"Duduk jangan berdiri, disini hanya ada aku suamimu dan Mayang pelayan. Dan kita tidak melakukan sesuatu yang bisa membuatmu marah." kata Aditya memegang punggung Devaly dan menekan menyuruh duduk.


*****


__ADS_2