
Siapapun tidak berani memberitahu Made dan Aditya kalau Basabi sudah meninggal. Polisi hanya bisik-bisik saat menggeledah kamar Mayang yang penuh dengan tulang belulang dan bau busuk. Kebetulan kamar Mayang ada di belakang kamar nenek, jadi agak tersembunyi dari pandangan mata. Kalau bau busuk rata-rata kamar pelayan berbau tidak sedap karena mereka sering makan kodok atau bangkai disaat ngeleak. Makanya mereka suka menaruh tembakau untuk menetralisir bau busuk.
Mayang yang berubah menjadi Macan lari tunggang langgang ke belakang. Darah bercucuran dari kakinya yang kena tembak. Untung polisi tidak mengejarnya, dia melesat ke desa sebelah di delod Setra menuju rumahnya.
Sebelum masuk rumah dia berubah wujud menjadi Mayang kembali, supaya neneknya tidak menjadi santapan selanjutnya.
"Neneeekkk....huuaaa...huaa..."
Tangisan Mayang bergema di rumah nenek Bungkling. Wanita tua itu kaget melihat cucu kesayangannya bersimbah darah.
"Siapa yang melakukan?" tanya nenek marah berkacak pinggang.
"Polusi Nek, aku ingin ke Rumah sakit dulu sebelum darahku habis, nanti aku ceritakan." kata Mayang menangis. Nenek bergegas ke kamar pembantunya.
"Tookk...tookk...tookk.."
"Paijo, bangun, bawa nona ke rumah sakit." perintah nenek menggedor pintu kamar Paijo berjali-kali.
"Sudah malam nek." sahut Paijo membuka pintu.
"Kau mau mati apa masih suka hidup?"
"Ampun nek, ya aku anterin." kata Paijo menyambar kunci motor. Dia lalu keluar dan kaget melihat nonanya menangis. Rasa malasnya langsung hilang.
"Nona sini naik, aku anterin."
"Kuatkan hatimu Mayang, aku akan datang membalas sakit yang kau rasakan!!" geram nenek.
"Uang nek untuk berobat."
"Pakai BPJS, tidak usah repot." kata nenek enteng.
__ADS_1
Setelah Mayang pergi, nenek masuk kamar. Dengan kemarahan yang meluap nenek lalu ngelekas, dia berubah wujud menjadi Gorila. Matanya merah menyala saat aliran darahnya memuncak.
"Aku akan membunuh kau bajingan!!" teriak nenek murka.
Bersama hembusan angin dingin Gorila itu menghentakan kaki kirinya tiga kali, lalu dia melesat mencari rumah nenek. Tidak berapa lama Gorila sudah sampai di kebun belakang rumah nenek.
Gorila berdiam sebentar dibawah pohon pepaya renteng. Suasana sangat mencekam, suara gender yang terdengat dari rumah nenek menyayat hati. Dia menyayangkan pemukul Gender (Gambelan) tidak merubah alunan irama gamelannya yang terdengar memilukan, seperti orang memanggil roh yang gentayangan.
"Aku tidak suka bau gaharu dan cendana, wanita tidak tahu diri sampai jadi mayatpun kau tetap membuat hatiku sakit." gerutu Gorila bersandar di pohon pepaya.
Pukul 11.45, suasana semakin memanas karena ada perlawanan dari kelompok dukun sakti yang tidak dikenal, mereka memakai ilmu hitam menahan kepala nenek di tempat tersembunyi. Namun di Bale Gede Pendeta serta beberapa orang sakti berusaha menarik kepala nenek menggunakan ilmu putih.
Letupan api dari Bejana menandakan perang rohani semakin memuncak. Para pelayan yang ada di kamarnya semua berubah wujud menggigil kedinginan.Begitu juga Aditya yang dari tadi duduk gelisah disamping Made.
"De..aku tidak tahan, badanku ingin berubah. Tapi aku takut pendeta marah kalau aku pergi masalahnya mereka memakai aku sebagai umpan untuk memancing nenek datang." bisik Aditya memperlihatkan tangannya yang keluar bulu. Made terkesiap kaget. Tapi dia pura-pura biasa.
"Tuan apapun yang harus terjadi biarkanlah, lepaskan, aku akan selalu melindungimu. Jangan takut." sahut Made menatap Aditya dengan sedih.
"Aku mengerti Tuan, jiwa ragaku akan aku serahkan untuk menyelamatkan Tuan."
"Trimakasih De, kamu temanku sejati. Jika pendeta mengusirku tolong jelaskan, aku diwariskan oleh nenek tanpa sepengetahuan ku. Katakan saja begitu."
"Siap Tuan." kata Made mengangguk.
Tiba-tiba saja mereka dikejutkan oleh suara ledakan, disongsong oleh datangnya angin puyuh menggoyang semua benda yang ada. Api dalam bejana dijaga ketat, jangan sampai padam. Kemudian terdengar ringkikan kuda diikuti oleh munculnya Leak barak.
"Weehhh...weehhh...weehhh..." Leak barak menari-nari, ntah untuk apa. Polisi ragu-ragu menembak, takutnya itu Leak baik yang hanya menginginkan ritual ini berjalan lancar. Seperti Angsa tempo hari. Polisi menunggu aba-aba dari pendeta.
Tiba-tiba terdengar teriakan melengking, seorang polisi terlempar ketengah halaman mengenai Leak barak. Hampir saja Leak barak terjatuh, tangannya cepat berpegangan dengan tiang.
"Gorila..Gorila...tembak....tembak."
__ADS_1
Perintah seseorang, tapi tidak terdengar suara tembakan. Hanya teriakan-teriakan yang tidak jelas berkumandang. Tidak ada satupun polisi yang berani maju kehalaman mengevakuasi mayat polisi yang tadi tertembak.
Leak barak tetap menari-nari, tidak goyah oleh insiden yang terjadi. Belum sempat menarik nafas Tiba-tiba kain kafan terbang melayang-layang di atas halaman, karena berupa kain kafan polisi tidak menembaknya, padahal itu juga Leak.
Setelah kain kafan tersangkut di pohon Ara, barulah kepala nenek muncul dari balik genteng dan melayang-layang dengan bau busuk yang menyengat. Ntah darimana asalnya puluhan Leak meloncat-loncat ingin menggapai kepala nenek.
Polisi mulai menembaki satu persatu Leak, sembari berteriak mengusir. Leak melawan dan menyeret polisi yang sebenarnya sudah ketakutan dari tadi. Ketika Gorila datang ikut adu tanding, semua Leak minggir, nyaris kepala nenek dapat ditangkap, secepat kilat Malamute meloncat mengambil kepala nenek. Made ikut meloncat melindungi Tuannya, karena Polisi menembak Malamute
"STOPP TEMBAK!!" teriak pendeta melihat Made bersimbah darah dan kaki Serigala itu juga tertembak. Kemoning sangat sigap melindungi Malamute setelah kepala nenek di lempar kepeti mati. Ghina dan Kemoning menyeret Malamute ke ambulans.
"Cepat, ke Rumah Sakit pak." perintah Ghina setelah mereka berada di dalam ambulans.
"Malamute cepat berubah, tanggung jawabmu sudah selesai." teriak Kemoning menepuk punggung Malamut.
"Biarkan aku mati, aku tidak mau hidup lagi, aku tidak tega melihat Made meregang nyawa." kata Malamute menangis.
"Semua orang membelamu Tuan, termasuk saya, Ghina dan istrimu. Jadi kau harus hidup untuk orang yang berjasa dalam prosesi ini. Bayar utang Tuan dengan ucapan trimakasih, dengan imbalan uang atau dengan apa yang Tuan miliki. Tanpa mereka kita semua pasti sudah mati." kata Kemoning.
"Tapi..tapi..."
"Tidak ada tapi-tapi Tuan, hidup harus diperjuangkan, jangan lemah, karena masih banyak orang menanti Tuan."
"Cepat ngelekas, kalau Tuan tidak mau, saya akan paksa dengan cara saya." ancam Ghina.
Akhirnya Malamute mau ngelekas dan mulai merintih karena kakinya yang sakit.
"Rumah sakit sudah dekat tahan lagi sedikit Tuan. Darahnya cukup banyak juga."
"Kemoning tolonglah, aku tidak ingin jadi leak lagi, berapa pun biayanya aku akan bayar, asal ilmu Leak ini hilang dari badanku."
"Aku akan berusaha minta tolong kepada kakek dan keluarga besar, jika mereka berkenan aku akan infokan." jawab Kemoning ragu. Karena ilmu Leak sulit dihilangkan.
__ADS_1
*****