
Kemoning yang semobil dengan Aditya memberanikan diri menegur Tuannya. Dia sudah gerah dengan tingkah Aditya yang bisa dibodo-bodohin oleh Mayang.
"Tuan, Mayang dimana?"
"Masih di Klinik, aku suruh pulangnya naik gojek."
"Apakah nona Devaly sudah pernah Tuan ajak ke Klinik?"
"Belum, banyak masalah dengan Devaly, kadang aku tidak mengenal jiwanya."
"Maaf Tuan, rajinlah sembahyang seperti dulu. Kalau Tuan terus mengikuti perasaan malas, pasti ilmu hitamnya mendominasi."
"Susah Kemoning, aku merasa berada di tengah-tengah, sembahyang tidak khusuk, jiwaku kadang kosong, sulit menjelaskan. Belum lagi ketakutan kalau sampai Devaly tahu."
"Tuan prioritaskan istri Tuan dan janin yang dikandungannya. Apa yang dibutuhkan oleh ibu hamil itu yang Tuan lakukan. Masalah nenek kami mengaturnya sampai finish. Dan yang kedua jangan terkecoh dengan tingkah si Mayang. Kalau Tuan terus melindungi nya dia akan terus ngelunjak." Bibi ikut berkomentar.
"Mayang tidak pernah memaksaku untuk melindungi dirinya. Aku yang tahu diri, aku merasa bertanggung jawab kejadiannya terjadi di rumah nenek." kata Aditya tandas.
"Tuan, hati-hati saja karena Mayang bisa ngeleak sedangkan Devaly tidak bisa. Kita tidak tahu dalamnya perasaan orang, takut nya janin yang berada dalam kandungan Devaly menjadi rebutan. Saya yakin Mayang yang memakan Gusde." kata bibi Ayu ikut nimbrung.
"Jangan suudzon tidak baik, apalagi sampai menuduh orang bisa ngeleak itu sama artinya membunuh karakter orang. Aku sih sama Mayang biasa saja, tidak ada yang istimewa."
"Tuan Aditya sadarlah, kami menyayangi nona Devaly, tolong jangan nona dibuat kecewa." kata Kemoning sambil memberi isyarat berhenti bicara karena sudah sampai di Kuburan.
Matahari sudah condong ke Barat waktu kaki menginjak areal kuburan. Suasana sedang panas-panasnya. Mobil yang membawa sesajen baru sampai, ada Jro Mangku Kaler yang akan menyelesaikan ritual. Jika Devaly sudah dipakai tumbal akan ditebus dengan ayam hitam Cemani.
"Bapak-Bapak, ibu-ibu, ini setra gede (kuburan besar) jaga tingkah laku dan bicara kalian, jangan sampai terjadi sesuatu yang bisa mencelakai kita." ujar Jro Mangku Kaler wanti-wanti.
"Siap Jro ..." mereka berbarengan menyahut sambil menunggu dibawah pohon Randu. Suasana tidak begitu seram, karena masih siang dan terang benderang.
Mereka menggelar tiker, lalu sarana sesajen ditata rapi, kemudian hio dinyalakan, barulah Jro Mangku mengujar mantra, suara alunan genta terbawa semilirnya angin sore yang melintasi cakrawala dan menembus relung hati seorang gadis perawan yang sudah biasa sebagai pengantar supranatural.
"Hua..hua.." gadis itu mulai kesurupan dia kemasukan roh, dua orang sigap memegang dan seorang sepuh lalu bertanya.
"Siapa kau?"
__ADS_1
"Lepaskan aku dari lingkaran api, kalian jahat mengurung jiwaku dalam bejana... hiks..."
"kami tidak mungkin melepasmu sebelum kau kembalikan gadis yang kau culik!!"
"Aku tidak menculiknya, dia yang ikut denganku. Aku menganggap itu kebetulan semata, sebab aku butuh janinnya untuk menambah ilmuku."
"Kau tidak kenal gadis itu, siapa yang menyuruhmu."
"Tidak ada,,hua...hua...hua...." gadis itu berteriak saat ibu jari kakinya dikasi tiga butir merica utuh.
"Jawab!, siapa menyuruhmu." teriak Kemoning berdiri.
"Jika kau tidak mengaku, aku akan menyiksamu."
"Ampun..ampun, lepaskan aku dari lingkaran api...hiks. Aku akan memberitahumu ..huaa.."
Setelah lama tawar menawar akhirnya dia menyerah, tapi sebelum dia menjawab siapa dalangnya, tiba-tiba .....
"STOPP!!"
"Sayank....." Aditya berlari menuju Devaly. Dia serta merta memeluk istrinya. Melihat sikap Aditya yang hanya fokus dengan Devaly saja, Mayang pura-pura ikut gembira padahal dia ingin Aditya juga memeluknya.
"Tuan bawa Devaly ke Jro Mangku Kaler supaya dia betul-betul sadar."
Ucapan trimakasih kepada Mayang mengalir, termasuk Aditya dan Made. Kecuali Ghina, Kemoning dan bibi Ayu. Mereka bertiga tidak percaya, ini pasti ulah Mayang, supaya Aditya merasa berhutang budi dengan Mayang. Modus!!.
Setelah selesai ritual di kuburan mereka segera pulang. Hari semakin sore dan semua sudah lelah. Aditya terus memeluk Devaly di mobil sambil sesekali mengecup pipi istrinya.
"Kenapa kamu ikut nenek itu sayank?" tanya Aditya setelah mereka di mobil.
"Aku tidak ingat apapun."
"Kamu ditolong oleh Mayang, kamu harus bertrimakasih padanya, kalau tidak ada Mayang mungkin aku tidak bisa memelukmu lagi." bisik Aditya mesra. Devaly hanya mengangguk.
"Nona kamu tidak ingat dimana rumah penculiknya?" Kemoning ikut bertanya, dia gregetan melihat tingkah Mayang yang over.
__ADS_1
"Kemoning pertanyaan mu aneh, dia itu buta mana mungkin bisa mengenali sesuatu." kata Mayang.
"Atau kamu bisa mengenal suaranya, adakah diantara kita suara itu?"
Devaly menyudahi pertanyaan teman pelayan dengan cara menyilang kan kedua telunjuk. Dia lalu menyandarkan kepala di dada bidang Aditya sambil memejamkan matanya. Devaly mungkin tidak dilepas kalau si nenek merasa kesakitan dan berteriak-teriak.
Masih kental dalam ingatannya bahwa si nenek membuat dirinya linglung serta mengajaknya pergi ke sebuah rumah tua tidak jauh dari kuburan ini. Rumah nenek jorok sekali, segala macam bekas sampah kuburan ada dirumahnya. Bau busuk menyebar dari segala arah.
Devaly diajak ke sebuah ruangan, dia disuruh duduk di tepi di pan bambu.
"Tidurlah, aku menginginkan janinmu." kata nenek enteng. Devaly menurut, tidak ingin menolak atau berkata sepatah katapun.
Yang membuatnya kaget adalah Mayang yang tiba-tiba datang. Dan nenek itu mulai berteriak tidak karuan.
"Bu menyerah lah daripada badan ibu sakit, aku akan mengembalikan wanita ini. Mereka pasti akan menemukannya. Lebih baik aku menjadi pahlawan untuk mengambil hati Tuan Aditya. Aku akan bekerja santai." kata Mayang menarik tangan Devaly dan mengajaknya pergi ke kuburan. Ternyata rumah nenek itu dekat kuburan.
Semua penglihatannya dia simpan, suatu hari dia akan buka kedok Mayang yang pura-pura baik dan menjadi pahlawan.
"Trimakasih banyak Mayang tanpa bantuan dari kamu niscaya hidup Devaly berada di ujung tanduk." kata Made ketika Mayang bercerita halu, tentang pertemuan heroiknya dengan Devaly.
"Apakah nenek itu berubah wujud?" pancing Kemoning.
"Berubah menjadi Macan." jawab Mayang tegas.
"Aku jadi heran dari mana kamu tahu nona Devaly diculik oleh si nenek, sedangkan kamu berada di Klinik." sambung Kemoning.
"Dari Klinik aku pulang ke Bungalow, terus ada yang memberitahu kalau Devaly di culik nenek. Aku segera naik gojek ke kuburan. Didepan aku melihat nenek menyeret Devaly, setelah itu aku rebut dari tangannya."
"Segampang itu? aku tidak percaya."
"Nenek melihatku saja sudah takut, ilmu nenek jauh dibawahku." kilah Mayang terus berbohong.
"Syukurlah Devaly sudah ketemu, sekarang tugas kita menjaganya. Dia adalah pewaris tunggal dari the Queen.
****
__ADS_1