
Lega rasanya sekarang, karena Adit, mau menunda sampai besok pagi. Setelah capek berdebat, Made dan para tamu akhirnya merebahkan badannya.
Aditya menarik nafas panjang dan membuangnya kasar. Dia sangat lelah memikirkan apa yang akan terjadi malam ini. Jika nenek tahu, mereka pasti disuruh membuat upakara adat yang sangat besar.
"Kita dalam keadaan lelah dan takut, tolong jangan membuat ulah lagi. fokus tidur saja." Made merebahkan tubuhnya disamping Basabi. Gadis itu langsung memeluk Made dengan mesra. Made menahan gejolak hatinya ketika Basabi mendaratkan bibirnya.
Rakhes dan yang lain mulai mencari pasangannya masing-masing. Rakhes dan Thasy, Abisheka dan Kenny, Made dan Basabi. Aditya memilih tidur di sofa panjang daripada tidur dengan Devaly yang cerewet.
Made menyuruh pelayan memasang empat buah spring bed. Untung saja ruang keluarga luas, ada setengah lapangan bola. Mereka leluasa tidur. Sedangkan tengkorak itu mereka bungkus kembali dan dimasukan ke ransel, kemudian diletakan dilantai di depan pintu.
Mereka memeluk pasangannya, Rakhes dan Thasy, Abisheka dan Kenny, Made dan Basabi. Aditya memilih tidur di sofa panjang daripada tidur dengan Devaly yang cerewet.
"Aditya, aku tidak ada pasangan. Kamu tidur disini aku takut sendirian kamu jangan egois." kata Devaly merajuk.
"Aku sangat capek Devaly, besok aku harus bangun pagi untuk menyetir, kita harus kembali ke kuburan."
"Jangan khawatir aku tidak akan menyentuhmu, cukup berada satu bed denganmu aku sudah senang. Masalahnya aku takut sekali."
Dengan gondok akhirnya Aditya mau juga tidur di bed. Mata mereka terbuka kembali ketika tiba-tiba ada bau bangkai yang sangat menusuk hidung. Mereka duduk kembali.
"Abisheka, mungkin bau ini keluar dari benda yang kamu bawa." kata Devaly menutup hidung.
"Itu tengkorak sudah kering mana mungkin ada baunya." bantah Kenny berdiri.
Abisheka cepat bangun dan mencari benda itu. Dia mengambil benda itu dan menaruh diluar. Tapi tetap saja bau bangkai memenuhi ruangan, padahal sudah memakai kopi dan pewangi ruangan.
Setelah menyingkirkan benda itu, Abisheka kembali merebahkan tubuhnya, dia tidak bisa menahan rasa kantuk. Mereka seperti kena sirep, yang membuat semua tidur pulas.
Sekitar jam setengah dua belas malam terdengar suara jendela terhempas, angin dingin menerobos masuk. Kenny membuka matanya, betapa kagetnya dia, lembaran kain kapan masuk lewat jendela yang terbuka. Seolah punya mata, kain kapan itu meliuk-liuk seperti ular.
Kenny berteriak kencang melihat gulungan kain yang sangat panjang dan berputar-putar di ruangannya.
"Tolong..tolong...."
Semua meloncat bangun ketika mendengar suara teriakan Kenny. Mereka kaget melihat tubuh Kenny digulung kain kapan dan dibawa terbang keluar lewat jendela.
"Kenny....Kenny...." teriak Abisheka melemparkan bantal ke arah kain kapan.
__ADS_1
"Kita kejar keluar." Aditya lari keluar, tapi bayangan kain kapan sudah tidak ada. Lenyap tidak berbekas.
"Setan!! kembalikan pacarku, kau pengecut tidak berani dengan aku. Jangan kau ngumpet." Abisheka berkata meracau dan berlari kalang kabut sambil berteriak-teriak tidak karuan. Mereka semua ikut keluar dan mencari Kenny.
"Tangisan Thasy pecah menerima kenyataan pahit ini. Mereka sudah berkeliling tapi tidak menemukan Kenny. Kemana Keny dibawa oleh setan itu?
"Aku akan ke kuburün aku yakin itu." ucap Abisheka sedih.
"Kita harus mengembalikan benda itu sebelum ada korban berikutnya."
"Memang sebaiknya begitu bos, aku akan bersiap. Tolong yang lain juga bersiap, tidak boleh ada alasan. Nyawa taruhannya. Aku katakan lagi sekali jangan berulah sepanjang jalan. Lebih baik kalian berdoa untuk keselamatan Kenny." kata Made tegas.
Tanpa dikomando lagi satu persatu menuju mobil. Bibi sudah biasa menyiapkan makanan dan minuman serta membersihkan mobil, setiap mobil Van datang bibi sudah tahu harus menyiapkan apa. Jadi tinggal jalan saja. Mereka sudah bersiap dan buru-buru menuju mobil. Aditya sudah berada di belakang setir.
"Abisheka tolong bendanya letakan di bagasi saja, jangan dibawa dalam tas." kata Made menatap Abisheka yang bermuram durja.
"Bibi sudah meletakan dibagasi."
"Silahkan kalian berdoa dengan cara masing-masing, kita mohon supaya perjalanan ini lancar dan Kenny bisa ditemukan dalam keadaan hidup." ucap Aditya ikut sedih. Terbayang wajah Kenny yang cantik tapi pucat saat duduk disampingnya.
Tidak ada yang bicara dalam perjalanan malam ini. Untung langit cerah, bintang bertebaran di langit. Jalanan sangat sepi dan gelap. Doa terus dipanjatkan dalam hati, dan berharap semua berjalan dengan lancar.
"Kalian mau minum apa?" tanya Made membuka kulkas.
"Aku minta satu sloki whisky black label, untuk menghangatkan badan." ucap Rakhes. Dia merasa tertekan dan butuh minum, supaya rasa takut sedikit berkurang. Satu sloki tidak mungkin mabuk.
"Aku akan bagikan, asal tidak lebih dari satu sloki. Aku berharap yang terbaik untuk kalian semua. Jika kalian lapar aku punya Rice Bowl dan Spaghetti Bolognese."
"Aku tidak lapar, hanya gabut saja. Kelihatan jalanan sangat sepi dan seram, aku seolah melihat orang terbang didepan kita." Devaly yang duduk disamping sopir menatap tajam kedepan.
"Aku melihatnya, sepintas seperti seorang pria. mengapa dia begitu?"
"Itu leak, mungkin maksudnya agar kita mengikutinya. Bisa juga leak itu mengelabui supaya kita mengikuti dia dan terakhir kita menjadi tumbal. Ngeri sekali.
Kita berdoa dalam hati supaya leak itu tidak mengganggu kita." kata Made. Dia mengucapkan mantra "Penolak Bala" yang biasa diucapkan setiap malam. Perlahan leak itu pergi ntah kemana.
"Kita sudah sampai di Dermaga Kedisan. Jangan turun semua, biar Made yang turun mencari orang. Siapa tahu ada yang mau mengantar kita ke kuburan." kata Aditya.
__ADS_1
Cuaca yang sangat dingin "sayong" atau kabut menutupi penglihatan. Rasanya mustahil kalau menyebrang saat ini. Apalagi air danau meluap.
Lampu mobil terus menyoroti dermaga. Aditya dan made turun membawa senter, mereka berdua mencari perahu yang bisa di pakai. Rupanya perahu dikunci rantai.
"Kita naik ke mobil, mungkin besok baru bisa melanjutkan perjalanan."
"Siap bos yang penting tujuan kita baik, kendalanya di angkutan, tidak ada perahu berlayar."
Mereka berdua kembali naik ke mobil. Kalau tahu begini lebih baik datang ketika Abisheka mengaku mencuri tengkorak.
"Bagaimana Aditya apa kita bisa langsung menyebrang?" tanya Thasy sambil menguap.
"Tidak ada nakoda perahu. Kita tunggu besok pagi. Yang ingin lanjut tidur silahkan, yang ingin makan silahkan." kata Aditya memperbaiki posisi mobilnya.
"Aku akan melanjutkan tidur, tolong bangunin nanti." kata Rakhes.
"Kalau begitu kita tidur semua."
Baru saja mereka menutup mata, terdengar suara ketukan di jendela mobil. Aditya membuka matanya lalu berteriak kaget saat menoleh ke samping. Dia melihat kakek-kakek, wajahnya menempel di jendela.
"Aagghhhh....."
"Ada apa kakek?" tanya Aditya menurunkan kaca mobil perlahan.
"Sini menyebrang." ajak kakek itu.
"Kabutnya tebal kek, kita menunggu pagi." kilah Aditya. Dia takut kalau kakek ini siluman atau leak yang terbang didepan mobil.
"Ditunggu di kuburan." kata kakek itu dengan mata berkilat. Adit seketika merinding.
"Teman-teman semua, kakek ini mau mengantarkan kita ke kuburan apakah kalian mau?" tanya Aditya.
"Mau saja, supaya cepat sampai. Aku tidak peduli kakek ini setan atau leak sekalipun, yang penting dia bisa mengantar kita dengan selamat." pungkas Basabi.
Akhirnya mereka turun dengan cepat, ingin melihat kakek itu. Made dan yang lainnya mengerumuni kakek.
*****
__ADS_1