
Tidak peduli apa yang terjadi di luar, Mayang tetap asyik dengan nafsu liarnya melilitkan kakinya di pinggang Gusde sambil melenguh. Ini sudah yang kedua kalinya Mayang klimak. Gusde ingin Mayang terpuaskan malam ini, dia ingin melebihi Aditya yang diinginkan oleh Mayang.
Gusde merebahkan tubuhnya disamping Mayang menunggu wanita itu memulihkan tenaganya yang terkuras. Perlahan tangan Gusde meraba-raba tubuh Mayang yang berkeringat. Mayang sengaja mematikan lampu supaya dia sepenuhnya membayang kan sosok Aditya.
"Sayank aku ingin lampunya menyala, supaya bisa melihat ekspresi mu saat kamu berada di bawahku. Aku cemburu kepada Aditya yang namanya kamu sebut di setiap helaan nafas mu. Kamu begitu dalam membayang kan sosok Aditya sampai kamu lupa bahwa yang kamu ajak bercinta adalah aku."
"Elehhh...jangan lebay. Aku mencintai Aditya, tadi aku mengintip nya sedang bergumul dengan Devaly, permainannya hebat jadi aku membayangkan kamu adalah Aditya. Terima sajalah kamu tidak rugi apapun."
"Aku juga ingin mendengar namaku kamu sebut bukan nama Aditya."
"Tidak usah neko-neko levelmu jauh dibawah Aditya, hanya dia yang aku idolakan dan cintai seumur hidup."
"Hatiku sakit atas pernyataanmu, selama ini kamu hanya mempermainkan aku?"
"Gusde, aku hanya ingin terpuaskan. Apa kurang kebaikanku. Berapa karung kopi dan cengkeh kamu selundupkan. Aku sengaja memberimu peluang untuk mencuri." suara Mayang meninggi.
"Trimakasih sayank, tapi aku ingin kamu mencintaiku."
"Jangan mimpi, cintaku hanya untuk Aditya. Jika kamu keberatan silahkan keluar dari kamar ini."
"Tidak sayank, aku tidak mau berpisah denganmu." kata Aditya memeluk Mayang. Dia mencium Mayang dengan lembut dan penuh kasih.
Mereka kembali bergumul dengan seru, Gusde ingin menunjukkan bahwa dirinya lebih hebat dari Aditya. Tapi tetap mulut Mayang menyebut nama Aditya.
"Ohh...ahhh...Adit...terus...Adit...sayank.." rasanya ingin menampar mulut Mayang, terus menerus Mayang menyebut nama Aditya, membuat hasratnya mengendur dan Gusde tidak bisa mencapai puncak.
"Kenapa kamu berhenti, bukankah kamu belum keluar?" tanya Mayang heran.
__ADS_1
"Aku kurang konsentrasi." jawab Gusde pendek.
Tanpa basa basi, Mayang mengambil alih kendali. Dia membayangkan sosok Aditya dan berusaha bertingkah seperti Devaly yang liar dan buas. Setiap jengkal tubuh Gusde mendapat elusan lembut, disertai jilatan mesra, tentu Gusde merasa di awang-awang anehnya kesadaran Gusde mulai memudar tidak berdaya. Sesuatu menusuk lehernya dan mencengkram tubuhnya.
Dia hanya merintih kesakitan kala mendapat gigitan maut dari Mayang yang kini wujudnya sudah berubah menjadi Macan. Taringnya menancap di leher Gusde. Mayang seperti drakula mengisap darah Gusde sampai Lidah Mayang bertambah panjang dengan air liur yang menetes pelan, sangat menjijikan. Bau tidak sedap menyebar keseluruh ruangan.
Mayang dengan susah payah berusaha menahan perubahan itu, tapi dia tak berdaya, kekuatan itu begitu besar semakin ditolak tubuhnya tambah sakit.
Malam semakin larut, suasana mistis datang menyusup ke setiap orang yang bisa ngeleak. Tanpa disadari perubahan wujud tiba-tiba terjadi. Semua kaget, tapi mereka tidak bisa mengelak. Aditya yang sedang berpelukan dengan Devaly tidak merasakan perubahan itu karena dia tertidur. Untunglah Devaly tidak melihat Aditya berubah menjadi Malamute.
Keadaan betul-betul mencekam, sepuluh pendeta di kerahkan. Made, Basabi, Rakhes, Thasy, Kemoning, Ginha dan pecalang sedang berada di Bale Gede menunggu nenek. Mereka mengujar mantra sakti untuk mengusir Leak. Pertempuran bathin sedang berlangsung.
Api suci menyala di sepuluh bejana besar yang mengitari Bale Gede. Sepuluh pecalang berdiri sambil membawa garam krosok dan melemparkan kepada sembarang tempat. Satu peleton polisi yang terdiri dari tiga puluh orang juga standbay dengan senjata mereka. Rata-rata mereka tidak melihat apa-apa, hanya orang-orang tertentu yang melihat Leak. Makanya polisi hanya diam mematung, padahal Leak hilir mudik di depan mereka.
Saat seekor Macan menyeret tubuh Gusde ke bawah pohon Kamboja, polisi hanya melihat tubuh Gusde saja yang bergerak, sedangkan Macannya tidak ada yang melihat, kecuali para pendeta dan pelayan.
"Hai..mati kau!!" teriak Kemoning melempar garam, Macan itu cepat menghilang, dalam sekejap.
Polisi yang melihat ada korban cepat-cepat bertindak dan mengevakuasi mayat yang hancur ke mobil ambulans. Hari Leak ada sekali saja dalam setahun, jadi semua sudah tahu. Jika ada orang yang menjadi tumbal dan meninggal itu sudah biasa.
Sudah menjadi kebiasaan, bahwa Leak akan berebut mencari tumbal, tepat jam setengah dua belas malam. Angin bethembus kencang menerbangkan bermeter-meter kain kafan. Suasana menjadi mencekam ketika ada suara jeritan. Sang pendeta semakin keras mengujar mantra, Kemoning, Made dan Ghina berteriak-teriak mengusir Leak.
"Jero Leak yang datang kesini, pergi kau!! kami tidak akan menyusahkan tumbal untuk kalian, mustika Leak sudah ada yang mencuri jadi kalian rugi kesini." kata Ginha lantang.
"Hahahaha.. wehh...wehh...Wehh..." tiba-tiba sesosok Gorila datang menampakan dirinya. Semua orang bisa melihat.
"Leakkk...." teriak pecalang ketakutan.
__ADS_1
"Jangan takut dan jangan menantangnya. Berhenti melempar garam, bawang dan air. Mantra tolak bala diucapkan dengan keras, keluarkan rasa marah." perintah Kemoning.
"Boleh menembak??" tanya aparat serempak.
"Jika dia menyerang kalian boleh tembak, tapi kalau Gorila itu diam kalian cukup maju dan memperhatikannya." sahut Made tegas.
Untungnya aparat banyak orang luar, ada yang dari pulau Kupang, Sumba yang tidak pernah melihat Leak. Rata-rata mereka hanya mendengar ceritanya saja. Jadi tidak ada rasa takut, malah mereka ingin sekali mengambil gambar untuk ditaruh di status whatsapp.
Karena tugas mereka hanya bisa mengikuti gerak gerik Gorila itu saja. Gorila juga duduk saja menghadap Bale Gede, mungkin dia tahu dalam bahaya, melihat laras senjata dari aparat mengarah padanya.
"Gorila, awas kau makan manusia yang ada disini. Jika kau berani makan, aku akan menembak mu!!" bentak pak polisi.
"GEERREEHHH...." Gorila memperlihatkan giginya yang tajam, matanya tajam melihat aparat.
"Semua siap-siap, tolong jaga di Bungalow juga. Karena ada nona Devaly."
"Siap nona, sudah ada lima orang disana. Saat ini keadaannya aman terkendali."
"Tepat pukul dua belas, pak ketut dan dua teman memukul kentongan." perintah Ghina.
"Kwett...kwett...kwett..." monyet berteriak saat mendengar suara kentongan. Satu persatu monyet jatuh dari pohon mangga. Sang monyet berlarian ke kebun belakang untuk menghindari aparat.
"Ternyata monyet itu ketakutan." polisi itu tertawa ngakak, diikuti teman yang lain.
Sebenarnya banyak Leak yang menutup dirinya dengan sehelai daun, supaya tidak bisa dilihat oleh orang. Namun kesempatan untuk mengambil mustika terhalang. Mereka harus memperliatkan wujudnya dulu, setelah itu baru bisa mencuri.
"PERGIII tidak ada MUSTIKA disini!" teriak Kemoning kesal melihat para Leak bandel.
__ADS_1
"Jika kalian tidak mau pergi, aku akan memerintahkan aparat menembak kalian." Made ikut menimpali.
****