CINTA GAIB LEAK NGAKAK

CINTA GAIB LEAK NGAKAK
Bab. 92


__ADS_3

Sumpah badanku hari ini lelah banget dan mata sulit dibuka karena mengantuk, tapi aku harus kuat melek sebelum kepala nenek bisa datang. Ya Tuhan, rasanya menderita sekali. gumam Aditya bersandar di sofa yang sudah dipersiapkan untuknya di Bale Gede. Sebagai pewaris satu-satunya, banyak orang segan dan memprioritaskan dirinya. Namun Aditya bukan pewaris sombong yang ingin dilihat wahh, dia tetap apa adanya.


Pendeta terus mengujar mantra sampai ke langit, diiringi suara gamelan yang berirama melankolis, membuat hati teriris sendu. Bau wangi hio menyebar keseantro rumah yang di bawa oleh semilirnya angin malam yang dingin. Mata sudah berair menahan kantuk dan mulut ratusan kali menguap.


Terlihat pelayan satu persatu menghilang dari Bale Gede pergi ke kamarnya masing- masing, kini tertinggal Kemoning, Ginha dan Made. Tiga orang ini sangat bertanggung jawab dan tulus membantu Aditya dari awal sampai sekarang ini.


Pukul. 22.30 wita, cuaca terasa moist, suara lolongan anjing kampung di kebun belakang membuat suasana semakin mencekam. Seseorang melemparkan menyan, irisan kayu cendana dan menyalakan api di setiap bejana perunggu sambil mengipasnya. Api menyala berwarna kuning keemasan.


Basabi dari tadi gelisah di kamarnya menjaga Devaly. Rakhes dan Thasy tidak datang untuk ikut berjaga, padahal Aditya sudah minta tolong supaya Devaly dijaga dengan ketat karena janin Devaly incaran Leak.


"Basabi aku mau tidur, mataku tidak kuat melek." Devaly menguap dan memiringkan tubuhnya.


"Tidurlah, malam ini terasa mengerikan, aku akan melindungimu." jawab Basabi bangun dari ranjang dan duduk di sofa. Dia yakin Leak sudah siap-siap mencari Devaly maka nya Devaly langsung mengantuk.


"Basabi, apa Devaly ada di kamarmu?" chat datang dari Mayang. Degg!! perasaan Basabi murka membaca chat nya Mayang.


"Kenapa kamu mencari Devaly, dia sudah tidur nyenyak, jangan diganggu." balas Basabi kesal. Ini sudah larut malam, bikin gara-gara. gerutu Basabi.


"Keluar sebentar aku mau memberi sesuatu untuk kalian."


"Tidak usah repot-repot Mayang, kami sudah kenyang dan sebentar lagi tidur." balas Basabi.


Malam semakin larut Basabi belum juga bisa tidur, dia mendengar suara burung hantu dan suara lolongan anjing. Ingin sekali keluar tapi dia tahan. Dia menghibur diri dengan cara main game.


"Tookk...tookk...tookk.."


Suara ketukan pintu membuat Devaly bangun untung Basabi cepat bergerak mendorong Devaly ke ranjang dan Basabi menahan pintu. Dorongan daun pintu dari luar terasa nyata, Basabi lalu mengucap mantra yang diajarkan oleh Made sambil mengoleskan daun pintu dengan garam dan bawang.


Devaly yang tadi sempat bangun, tidur lagi. Basabi merasa dorongan semakin melemah, tapi rasa kantuk tiba-tiba menyerangnya. Dia lari ke wastafel untuk mencuci muka, tapi ilmu sirep itu sulit di lawan.


Basabi menutup badan Devaly dengan dua selimut, garam dan bawang disebar di atas nya. Dia juga menaruh pohon pandan berduri yang sudah mengering diatas kasur. Hatinya sedih tidak bisa berbuat lebih. Jika malam ini ajalnya, setidaknya dia bisa melindungi Devaly dan janin yang dikandung.

__ADS_1


"Brengsek Mayang, aku tahu kau datang dengan wujud macanmu. Kau hanya berani memakai sirep, selebihnya omong kosong!!" teriak Basabi dalam hati, karena dia sudah tidak mampu bersuara, bergerak. Matanya setengah terpejam berusaha menahan daun pintu. Basabi bersandar di daun pintu sambil menahan kantuk.


"Geerrrr...Geerrrr ....." Macan itu menyeruduk masuk lewat jendela belakang.


"Prraankk...." suara kaca jendela pecah terdengar keras di kesunyian malam.


"Siapa itu!!" teriak polisi.


Polisi yang kebetulan lewat naik ke Bungalow untuk melihat apa yang terjadi. tidak terlihat orang. Dia mondar mandir karena mendengar suara aneh. Polisi yakin itu Leak. Mendengar langkah orang mendekat Macan ketakutan, dengan beringas dia menyeret tubuh Basabi.


Polisi yakin suara itu datang dari kamar di depannya, dengan menggedor-gedor pintu sambil berteriak dia membangunkan semua tamu. Yang ada hanya Thasy dan Rakhes.


"Ada Leak di dalam, kalian bantu memanggil orangnya." kata polisi memakai bahasa Indonesia.


"What happened?" tanya Rakhes tidak mengerti.


"Waduhhh...ada Leak, ada teman di dalam?"


"BRAAKKK..." Pintu terbuka, mereka melihat kaca jendela pecah berantakan. Polisi menyingkapkan gorden dan samar-samar melihat ada Macan sedang menyeret orang.


"Leakkk..." teriak Thasy dan Rakhes. Macan itu menoleh, polisi segera menembaknya dari celah jendela kaca. Sayang sekali hanya kena kakinya. Macan itu lenyap. Rakhes dan polisi lari memutar ke belakang mencari orang yang diseret.


Sedangkan Thasy membuka selimut dan kaget melihat Devaly tertidur lelap. Dia baru ingat Aditya menitipkan Devaly kepada Basabi. Perasaannya langsung tidak enak saat ingat Macan yang menyeret seseorang.


"Basabi...Basabi...." panggil Thasy merasa bersalah, karena dia dan Rakhes juga dititip kan Devaly.


"Devaly...Devaly....bangun-bangun." Thasy menggoyang-goyangkan tubuh Devaly.


"Ada apa, mana Basabi?" Devaly bangun malas-malasan.


"Kita pindah ke kamarku." kata Thasy menarik tangan Devaly ke kamarnya.

__ADS_1


Sampai di kamar, Devaly naik ke ranjang dan tertidur lagi. Ilmu sirep masih bereaksi, tentu saja Thasy takut. Dia menyelimuti Devaly, menaruh garam, bawang dan pohon pandan berduri kering. Dadanya berdebar ketakutan, mau menelepon Rakhes tapi ponsel Rakhes ditinggal. Apa yang harus dia lakukan. Dia cepat mengambil kalung Salib dan berdoa.


"Tookk...tookk...tookk.." Thasy tidak berani membuka pintu.


"Ini aku sayank, buka pintu." terdengar suara Rakhes.


Thasy cepat membuka pintu dan memeluk Rakhes. Pria itu mengelus rambut Thasy, air matanya bergulir jatuh membasahi pipi. Dia sesenggukan dan tambah erat memeluk Thasy. Perasaannya hancur dan sangat perih melihat Basabi.


"Sayank ada apa?"


"Basabi telah meninggal." kata Rakhes tersendat.


Thasy langsung lemas. Rakhes mengunci pintu, mereka duduk di sofa berpelukan sambil menangis.


"Aku bersalah tidak menungguin Basabi, aku manusia tidak berguna."


"Aku juga bersalah." Mereka terus menyesal dan menangis.


"Dimana dia sekarang?" tanya Thasy sangat sedih.


"Aku dan polisi mengejar Macan, mendapati tubuh Basabi sudah hancur. Aku tidak tahan melihat keadaan tubuhnya yang hancur aku yakin itu Mayang yang menjadi Leak. Untung polisi sempat menembak satu kaki kanannya, sehingga ada ≈ukti, jika besok kita ketemu."


"Aku ingin membunuhnya, nanusia setan!!" ketus suara Thasy, dia marah sekali.


"Bagaimana kalau Made tahu, pasti dia akan mengamuk dan membunuh Mayang."


"Dimana jazad Basabi sekarang?"


"Dibawa oleh ambulans ke RS.Bhayangkara. Setelah di Autopsi baru ditindak lanjutin." sahut Rakhes sedih.


Di Bale Gede Made sangat gelisah, pikirannya tiba-tiba sedih sekali. Dia terus teringat dengan Basabi, tapi tempat ini tidak bisa di tinggal begitu saja. Made melihat Aditya yang terus menguap, mau mendekati nanti pendeta melarangnya.

__ADS_1


****


__ADS_2