
Mayang yang masih berwujud Macan tutul menjilati bekas darah yang berceceran di lantai. Dia berusaha menghilangkan jejak. Walaupun kesadarannya belum pulih sebagai manusia, dia merasa takut juga kepada aparat yang berjaga. Lebih baik mengurung duri daripada keluar mencari mustika. Leak yang berada diluar banyak yang levelnya lebih tinggi.
"Wuaumm..." mata Mayang mengantuk karena perutnya sudah kenyang. Dia tidur di lantai dekat almari. Agak tersembunyi dari pandangan mara. Kamar juga gelap karena Mayang sengaja mematikan lampu.
Diluar masih terjadi perang bathin, polisi sudah menembak ke atas sebagai peringatan untuk Leak Bangkal yang menerjang sesajen.
"Gaoss...gaoss...gaoss..." Bangkal mengamuk dan menerjang sesajen. Pak polisi memukul Bangkal memakai bambu yang kebetulan ada disitu. Bangkal menyeruduk polisi, taringnya yang panjang hampir mengenai tubuh polisi. Untung aparat itu berkelit.
"Kau tidak malu menjadi binatang, semoga kau tidak bisa berubah kembali menjadi manusia." rutuk pak polisi kesal.
Bangkal itu marah dan kembali menyerang aparat yang lain. Polisi yang memang sigap terus menghindar dan memukul Bangkal itu. Tapi salah satu polisi ada yang ambruk kena terjangan Bangkal. Merasa kewalahan Bangkal mencari akal.
Tiba-tiba Bangkal diam mematung, matanya terpejam. Pada saat itu seorang pendeta memerintahkan untuk memnembak. Karena pendeta itu tahu bahwa Bangkal itu akan menyebar sirep untuk membunuh pak polisi.
"Doorr...doorr...doorr."
Bangkal tergeletak bersimbah darah. Polisi membereskan dan membawa ke ambulans. Kejadian itu membuat Leak yang tingkatan rendah berlari ke kebun belakang.
Tinggal beberapa Leak yang levelnya tinggi dan salah satunya adalah Gorila yang tempo hari membunuh Rhafael. Gorilapun merasa bahwa dirinya menjadi target polisi, makanya dia melipir, dia mencari kesempatan baik untuk membunuh salah satu pendeta supaya ilmunya semakin tinggi.
Kepergian Leak yang levelnya rendah tidak membuat suasana tambah membaik, malah semakin mengerikan. Lolongan anjing dan suara ringkikan kuda terdengar mendekati Bale Gede. Tampak Leak yang menyeramkan menari-nari di depan Bale Gede. Mereka sekarang mulai menampakan diri.
Celuluk, Lenda Lendi, Cicing gudig leak Bade, Leak barak, Gegendu dan ratunya Leak yaitu Rangda. Rangda adalah sosok manusia yang menjelma menjadi Ratu para Leak. Biasanya penampakannya serupa dengan Leak, yakni berbadan besar dan bergigi tajam. Sungguh seram dan menakutkan.
__ADS_1
Di siang hari, Leak pada umumnya menyamar sebagai manusia biasa. Para Leak beraksi jika malam sudah tiba. Sepertinya malam hari adalah milik para Leak. Mereka biasanya pergi mencari mangsa di kuburan. Leak akan mencari seperti organ-organ tubuh manusia yang digunakannya untuk membuat ramuan sihir.
Tarian mereka semakin dasyat, dan begitu juga para pendeta, mereka mengerahkan ilmu bathinnya semakin tinggi. Mereka yakin kebenaran itu akan menang walaupun sedikit pengikutnya. Dan kebatilan itu akan kalah walaupun banyak pengikutnya.
"Ruwehhh...ruwehhhh...ruwehhh...." suara Leak bergema dan bercampur aduk.
Saat para Leak menerjang maju seorang pendeta tiba-tiba trance dan mengambil kris sakti peninggalan Majapahit. Dengan mata melotot dan tangan mengacung membawa kris, pendeta itu melayang turun dari Bale Gede. Dia mengamuk maju seperti banteng yang punya kekuatan tinggi. Menerjang Leak serta menusuk Rangda berkali-kali.
"Aagghhhh...." teriakan bergema panjang dan Rangda itu lenyap ntah kemana. Sedangkan Leak yang lain di beredel habis oleh aparat. Ada yang tiba-tiba lenyap dan ada yang tergeletak mati.
Mungkin aparat sudah bosan dengan drama yang di pertontonkan oleh Leak, sehingga mereka menghabisi satu persatu Leak itu.
Akhirnya semua bisa terlewati tanpa banyak korban dari pihak nenek. keyakinan, bahwa Tuhan selalu berpihak kepada yang benar. Sungguh pengalaman yang sangat dramatis memacu adrenalin.
"Kita selamat." ujar Made senang.
Pergulatan bathin yang kini menyisakan bau anyir dan rongsokan sampah, membuat para pelayan kerja rodi. Kasihan pelayan yang ikut begadang seperti Kemoning dan Ghina.
Tapi Mayang dan kelompok bibi Ayu tidak ikut begadang, karena mereka bisa ngeleak. Takut juga kena imbas mantra para pendeta yang sedang perang bathin dengan Leak. Pertimbangan itu yang membuat mereka diam di kamar masing-masing.
Matahari telah muncul di ufuk Timur dengan membawa energi baru, suara kokok ayam saling bersahutan. Para pendeta duduk di meja bundar sambil membahas pertempuran bathin tadi malam.
"Trimakasih Pendeta, saya pribadi sangat terharu, sampai sulit berkata-kata. Atas izin Tuhan melalui doa para pendeta, masalah yang berat ini bisa diselesaikan tanpa banyak memakan korban." Made dan Kemoning mencakupkan kedua tangannya setengah membungkuk.
__ADS_1
"Ini sudah tugas kami, kebetulan tadi malam perlawanan Leak sangat gencar, jadi kami merasa payah dan perlu meditasi dan yoga untuk memulihkan tenaga kami. Untuk itu kami mohon diri dan minta izin tiga hari, kami sudah siap penggantinya."
"Sebaiknya pendeta memang harus Istirahat untuk memulihkan tenaga, supaya pikiran lebih fresh." sahut Kemoning sopan.
"Kalian tetap harus waspada walaupun kita menang, tapi mereka tetap akan mengincar mustikanya. Jangan sampai teledor, dicuri oleh teman sendiri. Kalian tidak tahu hati masing-masing teman. Kalau tidak orang luar yang mencuri, bisa saja di antara kalian punya pikiran untuk mencuri."
"Benar sekali pendeta, kami akan waspada. Semoga tidak terjadi korban lagi, dan semua berjalan dengan lancar."
Mereka terus berbincang-bincang sambil menunggu para pendeta breakfast. Setelah selesai semua, baru gantian shift jaga. Made dan yang lain diganti kelompok bibi Ayu.
"Apakah banyak korban tadi malam?" tanya Aditya yang menemui bibi Ayu di dapur.
"Saya tidak tahu Tuan yang begadang adalah Rhakes, Kemoning, Ginha, Made, Basabi dan Thasy. Selebihnya tertidur pulas."
"Mereka pasti sudah tidur semua, gantian kita yang berjaga." seloroh Aditya.
"Tuan mau sarapan, hari ini saya terpaksa catering, tidak bisa mengejar waktu karena pertempuran bathin sampai jam tiga pagi. Saya baru berani keluar kamar jam lima pagi."
"Aku kesiangan juga, mau keluar kamar takut ninggalin Devaly yang lagi mengandung. Ada dengar suara ribut-ribut diluar, aku percaya saja sama pendeta, mereka lebih tahu cara melawan Leak."
"Saya sempat bertanya sama Basabi, katanya tidak satupun vidio yang berhasil direkam. Semua kosong tidak ada gambar. Sungguh aneh, padahal sangat seru."
"Hahaha....kasihan banget Basabi." sahut Aditya tertawa.
__ADS_1
Tiba-tiba Mayang berlari dari kamarnya lalu berteriak menangis histeris dan menjatuhkan tubuhnya di kaki Aditya. Dia memeluk kaki Aditya dengan linangan air mata. Semua pelayan datang ingin tahu apa yang terjadi, maklumlah Mayang Ratu Drama!.
*****