CINTA GAIB LEAK NGAKAK

CINTA GAIB LEAK NGAKAK
Bab 88


__ADS_3

Masalah kecil itu menjadi pertengkaran antara Devaly dan Aditya. Mayang bersorak dalam hati ketika Aditya marah dan pergi ke kamarnya di samping kamar nenek. Mayang ikut menerobos masuk.


"Ngapain kamu ikut masuk?"


"Tuan trimakasih telah melindungiku, jika ada waktu bisakah Tuan mengantar saya ke klinik atau dokter. Saya takut terjadi sesuatu pada janin yang saya kandung. Tidak lama, paling satu jam." jawab Mayang pindah.


"Panggil dokter pribadi saja."


"Harus dokter kandungan, bukan dokter umum. Jika Tuan sibuk saya bisa jalan sendiri." kata Mayang pura-pura merana. Aditya serba salah, akhirnya dia mengambil jaket dan mengajak Mayang ke Garasi.


"Mau kemana Mayang?" tanya pecalang yang berpapasan dengannya.


"Mau periksa ke dokter kandungan." jawab Mayang dengan suara keras supaya semua orang mendengar, trutama oleh Devaly yang masih duduk di lobby.


NYEESSS!! luka Devaly terasa disiram air garam. Sakit sekali, perih menembus jantung perlahan air matanya bergulir jatuh ke pipi. Saat pandangannya mengarah kepada dua orang yang berjalan ke Garasi, disitulah dia merasa suaminya akan terjebak. Apalagi Mayang punya ilmu sihir.


Devaly berdiri dan berjalan menuju kamarnya. Dia mengunci pintu berharap tidak ada orang yang datang. Dia duduk di sofa memandang ponselnya.


"Ya Tuhan, tabahkanlah hati hamba. Semoga semua cobaan yang datang padaku, cepat berlalu dan kami bisa bersatu kembali seperti sedia kala." bisik Devaly dalam hati.


Devaly menuju wastafel mencuci muka, hari ini cuacanya panas dan sangat gerah sekali padahal masih terlalu pagi. Suara ketukan pintu membuatnya terganggu, dia mengambil washlap untuk menghapus sisa air di wajah.


"Tookk..tookk....tookk..."


Suara ketukan pintu terus saja terdengar, Devaly membuka pintu. Seorang wanita tua tersenyum padanya.


"Kamu sudah lama disini?" tanya wanita itu menatap Devaly dari atas ke bawah.


"Silahkan duduk di lobby, kalau nenek ingin tahu lebih banyak tentang diriku." kata Devaly terpaksa tersenyum.


Mereka duduk berdua di lobby, ada rasa takut menyelimuti perasaan Devaly. Wanita ini dari tadi terus menatapnya tajam.


"Ada perlu apa nenek mencariku?" tanya Devaly sopan. Dia memuji nenek ini ternyata bisa berbahasa inggris. Rata-rata di pulau ini banyak yang bisa berbahasa Inggris pasaran.


"Maaf saya mengganggu, apa nona namanya Devaly?" tanya nenek itu lagi.


"Ya nek, ada apa ya."


"Saya membawa makanan untuk nona, ini titipan dari Tuan, suami nona."


Degg!! dada Devaly berdesir, apa Aditya ingin berbaikan? bathin Devaly.


"Nenek ketemu dimana dengan suami saya?"

__ADS_1


"Tadi saya di telepon disuruh mengantar makanan kesini untuk nona."


"Trimakasih jauh-jauh membawa makanan."


"Tadi saya iseng melihat nenek Saodah di Bale Gede secara langsung, sungguh mengerikan tidak menyangka nasibnya akan begitu. Orang kaya yang sombong matinya tanpa kepala." kata wanita tua itu tertawa. Mendengar tertawa nya Devaly merinding, padahal masih siang.


"Nenek tinggal dimana?"


"Tinggal di desa sebelah jauh dari sini. Tapi masih satu provinsi. Makanlah, ini namanya nasi goreng." katanya lagi.


"Ya nek, nanti saya makan."


"Makan sekarang nanti keburu dingin." kata nenek. Karena terus dipaksa Devaly terpaksa membuka rice box.


"Cicipi rasanya enak." kata nenek tersenyum.


"Maaf nek, ini nenek beli atau masak sendiri?"


"Makan sajalah, jangan ditanya darimana asalnya."


"STOP nona." tiba-tiba Kemoning datang dengan wajah berkeringat.


"Nona tidak boleh makan sembarangan, nanti Tuan marah dengan saya." sambungnya lagi.


"Maaf nek, nona dalam pengawasan dokter tidak boleh makan diluar anjuran dokter. Nenek jangan marah, nanti setelah Tuan datang saya mau tanya beliau apa boleh atau tidak."


"Saya memberi dengan tulus tapi kenapa kamu malah merecokinya, anak kurang ajar!!"


"Nek nasi ini nanti dimakan setelah Tuan datang." jelas Kemoning.


"Nenek tidak mau tahu makan sekarang!!"


nenek berdiri dan membentak kasar.


Devaly dan Kemoning kaget, mereka ikut berdiri. Kemoning tidak mau gegabah karena tidak tahu siapa nenek itu.


"Sabar nek, tunggu disini. Silahkan duduk." kemoning tetap sopan, dia semakin curiga kepada nenek ini.


Kemoningl setengah berlari membawa nasi ke Bale Gede, dia menemui tiga pendeta yang sedang berjalan.


"Maaf pendeta saya mengganggu ada seorang nenek memberi istri Tuan Aditya makanan, apa boleh dimakan atau tidak."


"Taruh makanannya di atas piring tembaga dan letakan disini." seorang pendeta memberi perintah.

__ADS_1


"Ada apa Kemoning." bisik bibi Ayu kepo.


"Lihat aja nanti." kata Kemoning berteka-teki. Bibi Ayu memanggil pelayan lain ikut ke Bale Gede. Pecalang juga ikut.


"Letakan nasinya didepan sini."


"Siap pendeta." Kemoning naik ke Bale Gede, bau tidak sedap tercium dari pormalin dan dari jazad nenek.


Pelayan, pecalang dan semua membuat vidio mini merekam nasi yang lagi berada di piring tembaga. Pendeta mengujar mantra suci, tiba-tiba terdengar leupan kecil dan nasi goreng berubah berisi belatung.


"Pak ketut tolong lihat Devaly, kita introgasi nenek siapa yang menyuruhnya meracuni nona Devaly."


"Mari kita kesana."


Mereka ramai-ramai mencari nenek, tapi nenek dan Devaly tidak ada. Semua jadi panik takut kena marah Aditya.


"Bangun kan teman Devaly semua, telepon Than Aditya." perintah bibi Ayu dengan wajah garang. Sampai Devaly hilang tamatlah riwayat nya.


"Pendeta, saya lagi sekali mohon petunjuk, berhubung istri Tuan hilang. Kemungkinan besar diajak oleh nenek itu. Waktu bertemu saya tidak begitu memperhatikan wajahnya, karena saya lebih curiga ke makanan yang dibawa."


"Kamu begitu ceroboh, bagaimana penjagaan di depan bisa memasukkan manusia sakti. Kamu cepat cari ke setiap kuburan dan bawa sesajen." tugas pendekatan.


"Kira-kira arah mana dia berada pendeta?"


"Cari kuburan di desa sebelah baratnya kali wangke." jelas pendeta. Kemoning cepat kedepan menemui teman-temannya. Tiba-tiba mobil Tuan datang dan berhenti di garasi.


"Siapa tadi menjaga di gerbang depan!!" Aditya datang dengan wajah merah padam. Dia menutup pintu mobil sampai berdebam.


"Orangnya sudah pergi mencari istri Tuan." Bibi Ayu menjawab gemetar. Jarang-jarang Tuannya marah, sekali marah semua engsel pintu bisa lepas.


"Terus bibi dan yang lain ngapain?"


"Kami mempersiapkan sesajen membantu warga di pendopo."


"Maaf Tuan Aditya, kami sangat kewalahan tenaga, karena hanya beberapa warga yang ikhlas bekerja membantu, selebihnya mereka menghindar."


"Kita jangan menyalahkan warga Tuan, itu namanya karma. Mungkin nenek dulu malas membantu orang, sehingga sekarang orang malas membantu kita."


"Sudahlah, cari ke segala penjuru." perintah Aditya.


"Siap Tuan."


Akhirnya mereka berbagi tugas. Kuburan utama dan kuburan anak kecil. Bibi Ayu, Ghina, Kemoning pergi ke Delod setra, semua membawa sesajen dan perlengkapan. Aditya berjalan di depan, hatinya sangat sedih mengingat Devaly yang buta diculik orang.

__ADS_1


*****


__ADS_2