
Jro dukun kembali ke dalam kamar untuk melihat melati. Dia merasa senang mendapat pasien muda dan mulus. Melati telentang menatap Jro dukun dengan tatapan kosong. Dia kembali berteriak ketika melihat ada bayangan hitam melintas di matanya.
"Tenang melati, aku akan membuka pakaian mu supaya lebih gampang mengobati." kata Jro dukun mulai membuka pakaian Melati.
"Aku takut, ada bayangan hitam ingin mencekikku...." Melati gemetar karena takut dan kedinginan.
"Tidak boleh takut! dia akan hilang setelah kamu dibersihkan." kata Jro dukun mengajak Melati ke pancoran yang berada disamping kamar pengobatan.
"Rentangkan tanganmu supaya air kembang tujuh ini bisa masuk ke seluruh tubuhmu." ujar dukun itu sambil menyiram tubuh Melati.
Jro dukun menggosok tubuh itu sambil mengucapkan mantra tong-ketong-ketong beberapa kali.
"Sekarang rebahkan tubuhmu dan pejamkan matamu. jika kamu tetap melihat bayangan hitam itu berteriaklah. Aku akan menutup setiap lubang yang ada."
Gadis ramping itu menutup matanya, dia kembali melihat bayangan hitam itu. Reflek dia berteriak lantang. Jro dukun menutup telinganya dengan kapas.
"Humm....Ups..."
Melati sudah hilang akal ketika Jro dukun menutup mulutnya dengan bibir Jro dukun. Dia mau menolak tapi Jro dukun menahan mulutnya dengan cara mempermainkan lidahnya.
Badannya jadi kaku ketika Jro dukun naik ke tubuhnya dan tetap dalam posisi semula, sekarang Melati hanya bisa menahan berat badan sang dukun, berusaha tidak bereaksi serta membiarkan Jro dukun memberi jeda supaya dia bisa bernafas lega.
"Kembalilah merem, apakah orang hitam tetap mendekat?"
Dia tidak menjawab dan tambah merem karena bayangan hitam tambah mendekat. Tangan Melati spontan memeluk pinggang Jro dukun sangat erat saking takutnya. Sang dukun merasa Melati menginginkan lebih, dengan pede nya dia meraba-raba tubuh Melati dan merasa puas.
"Kurang ajar!! ternyata bebainya sembunyi di lubang rahasia. Jika kamu ingin sembuh aku akan menutupnya. Semua sudah diraba tapi tidak ada sembunyi disitu.
"Ya Jro..aku ingin sembuh hiks..hiks.."
"Jangan menangis, kamu sekarang akan sembuh, aku akan membunuh bebai ini." Jro dukun turun dari dipan kayu yang hanya beralasan tikar.
Kemudian dia meloloskan kolornya secepat kilat dan kembali naik ke dipan kayu.
__ADS_1
"Apakah kamu sudah siap, aku sebenarnya tidak ingin melakukan ini. Bertentangan dengan hati nurani. Tapi gimana lagi demi kesembuhan dirimu aku rela berkorban."
Melati melirik sekilas Waow... kembali dia menutup matanya, dan membiarkan sang dukun mulai mengeksekusi, pasrah saja.
JLEB!! semua tertutup sekarang, hanya lubang hidung tersisa.
"Bagaimana, sudah hilang bayangan hitam?" tanya sang dukun membuka penutup telinga Melati.
"Belum...." ucap Melati takut bergerak.
"Karena aku belum bergerak, nanti dia akan takut kalau melihat kita bergerak berirama.
Jro dukun benar, bayangan hitam akan sirna karena bayangan itu tercipta dari emosi yang melanda Melati saat perjodohannya ditolak oleh Aditya. Sekarang semua emosi Melati akan di lampiaskan kepada sang dukun jika Melati sudah merasa panas. Sang dukun sudah berpengalaman dalam menangani wanita yang marah dan kesurupan.
Beda dengan wanita yang betul-betul kena Bebai, tingkah nya akan berbeda jauh dari kesan menyerah dan menurut. Dia akan ngamuk dan meminta yang bukan-bukan.
Begitulah penyembuhan Melati, begitu cepat. Tidak lama Jro dukun mengajak Melati bangun dan membersihkan diri dipancoran. Melati memang penurut apa yang disuruh dilakukan dengan santai.
"Apa badanmu segar sekarang?"
"Gampang itu, kita akan pesan makanan lewat online." kata Jro dukun sambil berganti pakaian. Tadi pakaiannya basah kuyup saat memandikan Melati.
"Apa kamu sudah merasa sehat atau masih ingin disini sampai besok?"
"Aku belum berani pulang, takut nenek Saodah mencariku." kata Melati menggeser duduknya mendekati Jro dukun.
"Aku mau tanya, apakah setiap pengobatan berisi adegan mesra?"
"Hahaha....hanya denganmu saja. Karena penyakitnya berada disitu. Disamping itu aku tertarik padamu, kamu cantik, mulus dan sangat menggemaskan." jawab Jro dukun mulai bohong. Ntah sudah berapa wanita kena rudalnya. Namun dia mengakui kalau Melati istimewa, walaupun tidak gadis tapi Jro dukun memberi nilai delapan.
Melati cuma nyengir, dia sudah biasa hidup bebas dengan teman-temannya, dan sering melakukan kehendaknya tanpa beban. Mungkin kalau dukun ini tua dan dekil, dia akan menolak. Dukunnya berumur sekitar empat puluh sembilan tahun, badan sehat dan kekar. Wajah tidak jelek, lumayan lah untuk ngilangin bayangan hitam yang krap hadir dalam halusinasinya.
"Jro dukun apakah aku bisa nginep disini sebulan, sampai penyakitku betul-betul sembuh?"
__ADS_1
"Tidak bisa Melati, kalau kamu terus disini, perutmu bisa melendung, akan berabe Istriku galak." kilah Jro dukun. Masalahnya Murni, Sarita, Dewi, Puspa, dan yang lainnya mau dibawa kemana?
Ohh Noo, jangan sampai mereka saling bertemu serta membuat keributan massal. Baginya setiap wanita punya ke istimewaan, masing- masing. Keuangan sangat berperan dalam kelangsungan hidup Jro dukun, itu yang menyebabkan dia mempertahankan Dewi, karena wanita itu adalah bank berjalan.
Atau Puspa yang setia mengirimkan makan siang. Kalau Sarita, gadis manja yang sangat dicintainya selama setahun ini, yang selalu menghiasi setiap mimpi-mimpinya. Ketika dia iseng meniduri Melati, pandangannya tentang kesetiaan berubah. Mungkin Melati paling cocok untuk meneruskan keturunan.
"Sekarang sudah zaman now kalau hamil tinggal di nikahi, mau nikah siri atau kontrak, aku tidak menolak." kata Melati nekat.
Dia terlanjur malu ditolak oleh Aditya. Sang dukun kalau didandani lumayan ganteng. Mobil tinggal rent car dan rencana ini pasti akan disetujui oleh ibunya. Daripada nama keluarga terpuruk.
"Kamu serius Melati, bagaimana kita kekota menikah disana dan aku akan kontrak rumah untukmu."
"Setuju, aku harap kamu meminangku." pinta Melati mantap.
"Itu pasti, tapi aku tidak punya keluarga, aku hidup sendiri. Bagaimana kalau kita langsung menikah di catatan sipil?"
"Terserah kamu, aku ngikut aja. Biarpun kita belum saling mencintai, tapi kita saling butuhĺ satu sama lain. Aku harap jalan yang aku tempuh adalah solusi yang terbaik." ucap Melati mantap.
Kesepakatan ini sudah final, dukun yang punya nama asli Astawa itu mengajak Melati kembali ke rumah ibunya. Mereka naik motor N'Max yang masih kredit. Dalam perjalanan tingkah Melati sangat mesra, dia mabuk ke payang gara-gara permainan kuda lumping si dukun sangat perkasa.
Angin malam berhembus dingin menyapu badan Melati. Tangannya semakin erat memeluk pinggang sang dukun. Sesekali tangan Melati mengusap dada sang dukun dengan rasa bahagia.
Tiga puluh menit perjalanan sampai di rumah Melati. Semua kaget melihat Melati sudah sembuh. Mungkin yang masih menemani ibu Melati adalah sanak saudara dekat.
"Selamat malam bu, permisi...." ucap Jro dukun membuat yang berada di ruang tamu serentak keluar.
"Astaga, kamu sudah sembuh nak. Tidak salah memilih Jro dukun. Trimakasih banyak Jro dukun, ternyata Jro sangat sakti bisa melawan nenek Saodah. Saya ingin supaya nenek mati bersama cucunya itu." kata ibu Nyoman menggandeng anaknya masuk ke dalam.
"Itu gampang bu, sebenarnya saya kesini ingin minta izin mengajak Melati ke kota. Dia saya suruh kerja di hotel daripada bengong di rumah. Kebetulan saya ada teman kerja di hotel."
"Mulia sekali hatimu Jro dukun, tapi untuk menetap di kota ibu tidak izinkan takut Melati kena pergaulan bebas."
"Ibu jangan khawatir aku masih takut tinggal disini. Bisa mati kalau tetap disini. Jro dukun hanya mengantar saja, sampai di kota aku kontrak rumah sendiri." Melati meyakinkan ibunya yang berat melepaskan dirinya.
__ADS_1
Tidak dapat dipungkiri kalau gelaran Melati membuat ibunya tidak mengizinkan melati pergi sendiri. Melati belum mengerti jahatnya Ibu kota. Kalau ada masalah siapa yang bertanggung jawab. Mereka orang kampung yang masih katrok dan tidak mengerti apapun.
*****