
Mereka sampai di rumah sakit pemerintah yang terdekat. Dikampung jarang ada rumah sakit swasta, ini pilihan satu-satunya. Ghina dan Kemoning duluan turun dari Ambulans, kemudian petugas menurunkan Brankar dan Aditya disambut oleh seorang suster jaga langsung dibawa ke UGD.
"Ghina jaga Tuan aku akan cuci tangan dulu." kata Kemoning memperlihatkan tangannya yang penuh darah. Mereka sekarang berada di UGD.
"Gantian aku juga blepotan."
"Nona tunggu di luar." kata suster mengusir Ghina. Kebetulan Ghinapun menyusul Kemoning ke kamar mandi.
Tadi Ghina sempat mendengar suster bicara kepada dokter, bahwa ada pasien wanita juga tertembak kakinya.
"Ghin, kamu duluan ke ruang tunggu aku mau membeli air dulu." kata Kemoning berlalu.
Akhirnya Ghina menuju ruang tunggu yang berada di luar UGD. Disini berjejer bangku besi dengan penerangan yang redup. Ruang tunggu yang seluas itu berisi lima orang saja, itupun mereks berangsur hilang satu persatu. Tinggal Ghina saja duduk termangu.
Ngeri juga duduk sendiri, baru menoleh ke samping ada tulisan kamar mayat. Ghina yang biasa tabah langsung merinding disko.
Untunglah Kemoning datang, dia membawa dua botol air mineral.
"Hanya ada air saja, kantin tutup." kata Kemoning menyodorkan sebetol kepada Ghina.
"Kalau tutup Air ini siapa ngasi?"
"Seorang nenek." jawab Kemoning santai.
"Jangan diminum, aku meragukan." kata Ghina meletakan airnya.
"Itu neneknya datang yang ngasi air." tunjuk Kemoning.
"Aku tidak jadi minum, orangnya pasti bisa ngeleak. Sepertinya aku pernah melihatnya tapi dimana. Kita bohong identitas kalau dia bertanya tentang kita."
"Hee..nunggu siapa, tidak takut berada disini. Disamping ada kamar mayat." sapa nenek itu tersenyum.
"Nenek pertanyaannya diborong, saya akan jawab satu-persatu nek. Kami sama seperti nenek nunggu orang sakit. Kamar mayat ada disamping, orangnya sudah mati semua nek, tidak mungkin mengganggu, hanya orang hidup yang suka heboh, berubah wujud dan mengganggu kita hehe..." Jawab Kemoning asal. Dia tidak begitu takut dan peduli dengan keberadaan nenek. Pikirannya tertuju kepada Aditya dan keadaan nenek di rumah.
"Hee...kalian sungguh berani, tidak takut melihatku."
"Tidak, nenek seperti nenekku dirumah."
"Kau tidak melihat sisi lain dari diriku?"
"Tidak, nenek tetap seperti semula." jawab Kemoning berani. Dia tidak peduli nenek ini berwujud Gorila atau hewan lainnya yang penting bagaimana caranya supaya tidak terhipnotis oleh sihir si nenek, gitu aja.
__ADS_1
"Kalian kasta apa?"
"Kami dari kasta Brahmana." kata Ghina dingin. Nenek itu duduk terhenyak, dia memandang Ghina lekat-lekat.
"Siapa yang kau tunggu disini, apa kalian dari jalan Drakula?"
"Saudara yang tadi tabrakan. Aku tidak tahu jalan yang nenek sebut." jawab Ghina cepat.
"Owh....apakah kalian ingin melihat cucuku?"
"Sakit apa dia nek?"
"Kakinya kena peluru polisi dari jalan Drakula." kata nenek berdiri.
Kemoning mengerjitkan alisnya, bukankah yang kena peluru polisi adalah Aditya. Siapa lagi orang yang kena tembak? bathinnya.
Seorang suster datang memanggil nenek dan mengatakan sudah dapat kamar. Padahal Kemoning mau bertanya siapa cucu nenek.
"Nenek mau kedalam dulu, rupanya dia sudah dapat kamar." kata nenek mengikuti suster yang memanggilnya.
Kemoning dan Ghina saling pandang penuh tanda tanya. Tentu omongan nenek tidak berpengaruh bagi mereka, jika nenek tidak mengatakan bahwa cucunya kena tembak di jalan Drakula.
Pada saat kejadian mereka berdua berada di Bale Gede. Jika nenek mengatakan cucunya tertembak, siapakah dia?
"Siapa Gorila yang membunuh polisi?"
"NENEKK!!" kata mereka berbarengan.
"Nenek itu yang membunuh polisi, siapa lagi dialah yang menjadi Gorila." bisik Ghina. Mereka serentak menutup mulut ketika tiga orang polisi dan reserse lewat dan masuk ke UGD.
"Ngapain polisi datang malam-malam?" tanya Kemoning curiga.
"Kepo amat, biarin aja mereka datang." Jawab Ghina merebahkan tubuhnya di kursi panjang. Punggungnya terasa dingin saat menyentuh besi dari kursi itu.
"Ghin, jangan tidur dong, aku ikut ngantuk jadinya."
"Yaelah, tenang saja tidak mungkin aku tidur." kata Ghina sambil menguap. Tapi tidak berapa lama mata Ghina tertutup. Tinggal Kemoning duduk terpaku sambil main ponselnya. Dia tidak bisa tidur sembarangan kalau bukan di kamarnya. Masalahnya dia takut dilecehkan, banyak orang jahat.
Pukul. 02.45 wita, Kemoning tanpa sengaja melirik pintu samping. Dia kaget melihat Gorila menggendong seorang wanita.
"Woii...nenek..." tanpa sadar dia teriak. Dan saat itu juga Gorila lari ke lorong. Seketika bulu kuduknya merinding. Angin dingin menyergap tubuhnya.
__ADS_1
"Ghin bangun, bangun..." Kemoning melihat sekelilingnya dan menggoyang-goyang kaki Ghina. Aneh Ghina tidak bangun-bangun. Dia berdiri dan kaget ternyata Ghina berada di sebelah kanan. Terus yang sebelah kiri siapa?
"Ghin bangun ada setan." kata Kemoning mengarahkan senter ponselnya ke manusia tidur sebelah kiri.
"Siapapun kau, jangan mengganggu kami, pergi dari sini!!" bentak Kemoning marah. Tiba-tiba sosok itu lenyap.
"Tuhan lindungilah kami." kata Kemoning berulang-ulang.
"Ada apa Kemoning?" Ghina membuka matanya.
"Bangun, tadi ada setan ikut tidur disini."
"Kamar mayatnya disamping terbuka." bisik Ghina menunjuk kesamping.
"Kita pindah saja kelorong disana pasti ada orang." kata Kemoning mulai menciut nyalinya. Setan dengan Leak berbeda, dia hanya hafal mantra pengusir Leak.
"Kita ke UGD cari Tuan, siapa tahu Tuan sudah dapat kamar." usul Ghina sebelum mengambil keputusan ke lorong. Masalahnya dia agak ragu pergi ke lorong, karena sering di lewati orang sakit atau orang meninggal.
Ini rumah sakit pemerintah, sudah tua tapi pasien nya sampai di lorong-lorong karena kekurangan kamar, biasanya penjaganya berada di luar lorong, mereka tidak mungkin ikut diam di lorong.
Mereka masuk ke UGD, celingukan karena tempat Tuannya tadi sudah kosong.
"Kita tanya dokter jaga, mungkin Tuan sudah dapat kamar." bisik Kemoning. Mereka berdua bergegas kedepan menemui dokter jaga. Dia melihat ada suster dan dokter duduk di kursi sambil mencatat sesuatu, Ghina dan Kemoning mendekat.
"Malam dok, saya mau tanya pasien yang bernama Aditya sudah masuk kamar?"
"Aditya? sakit apa?" tanya suster balik
"Pasien laki-laki yang kakinya kena tembak."
"Pasien itu sudah dibawa polisi, sudah ditahan."
"Apaaa?" Kemoning dan Ghina kaget. Mereka bergegas keluar.
"Bagaimana ini, apa kita susul ke polisi?" tanya Kemoning merasa bersalah.
"Jangan buru-buru lebih baik kita pulang minta pertimbangan kepada yang mengerti. Kita masih banyak pekerjaan, sebentar lagi nenek kremasi." sahut Ghina melihat jam tangannya. Sudah jam setengah empat pagi.
"Kita pulang sudah pagi." ajak Ghina.
Mereka akhirnya pulang melewati lorong, sepi sekali. Ada beberapa orang sakit tidur diatas Brankar berselamut kain garis-garis putih biru, ciri khas rumah sakit.
__ADS_1
"Tadi aku sempat melihat tiga orang polisi dan seorang reserse, aku tidak menyangka Tuan ditangkap polisi. Jangan-jangan Tuan dituduh membunuh polisi." kata Kemoning.
****