CINTA GAIB LEAK NGAKAK

CINTA GAIB LEAK NGAKAK
Bab. 80


__ADS_3

Ketika mereka sedang membahas isi BAP tiba-tiba datang orang suruhan dari keluarga Rhafael. Dua orang laki-laki itu di terima oleh Mayang dan Kadek. Dari raut wajahnya bisa dipastikan bahwa kedua orang itu adalah saudara Rhafael. Mereka terlihat mirip.


"Sayank, ada tamu untukmu." kata Mayang membubarkan rapat mendadak dari Rhakes. Dia berdiri di ambang pintu dengan berkacak pinggang. Matanya tajam memandang Aditya yang duduk berdampingan dengan Devaly.


"Siapa itu?" tanya Made menoleh. Basabi juga ikut mencuri pandang dari celah tubuh Mayang yang berada diambang pintu.


"Keluar dan lihat, jangan ngajak si buta nanti dia ngoceh tidak karuan. Mana dia mengerti kebiasaan orang disini." ketus Mayang.


Dia naik darah melihat Aditya mesra bersama Devaly. Belum ada enam bulan penangkeb sudah pudar. Mayang curiga kepada Ghina atau Kemoning yang baru datang dari desa, bisa mereka berdua memusnahkan ilmu itu. Keluarga Kemoning bisa mengobati orang yang kena ilmu hitam dan menghilangkan pelet, bebai dan penyakit lainnya.


"Devaly istriku, kamu tidak usah julid dengan keberadaannya." ketus Aditya.


"Sayank, kita keluar menemui mereka. Aku yakin mereka akan butuh penjelasanmu." bisik Aditya menggandeng tangan Devaly. Wanita itu menepis tangan Aditya dan berusaha berdiri tegak. Mayang tertawa puas melihat penolakan Devaly.


"Jaga sikapmu supaya masalah ini cepat clear dan kita lega semua." Aditya memeluk Devaly. Kembali Devaly menolaknya dia tidak menjawab mencoba meraba-raba sekeliling. Teman yang lain melihatnya saja tidak mau membantu, mereka sengaja membiarkan Devaly kebingungan.


Aditya mendekati istrinya dan menggandeng keluar. Tudak ada penolakan lagi. Mayang muak melihat tingkah Aditya yang jelas-jelas berpihak kepada Devaly.


"Kemoning sini kamu." panggil Mayang dan mendorong Kemoning ketempat sepi.


"Mayang apa-apaan ini." Kemoning menolak dada Mayang yang menekan tubuhnya.


"Jangan pura-pura bego, kamu yang membuat ilmu penangkeb ku tidak berfungsi. Ngaku atau aku robek jantungmu." ancam Mayang dengan sadis. Kukunya mencakar lengan Kemoning.


"Dasar Leak, aku juga bisa membunuhmu!!" bentak Kemoning menendang paha Mayang. Dia sangat benci dengan Mayang yang arogan.


"Berani kau melawanku!!" Mayang tambah gusar. Dia memukul tubuh Kemoning asal kena. Darahnya mendidih saat Kemoning tidak takut mengakui perbuatannya.


"Mayang tidak lama lagi pengeleakan mu akan punah, hati-hati bawa diri. Tidak selamanya orang menunduk dengan ulahmu."

__ADS_1


"Aku tidak peduli, setelah nenek mentransfer ilmunya ketubuhku, satu persatu kalian akan aku mskan. Seluruh Kekayaan nenek akan jadi milikku, tinggal aku menendangmu ke jalanan."


"Hahaha..dasar Leak mengkhayal terus!!" bentak Kemoning tertawa.


"Wehh...kalian sudah gila, ada tamu disini kalian malah berantem. Tidak punya etika." Bibi menarik baju Mayang dengan kasar.


"Kemoning siapkan minum kaleng." perintah bibi.


"Mereka tidak mungkin mau minum, takut di cetik (racun)."


"Terserah mereka yang penting kita siapin minum." kata bibi Ayu.


Akhirnya pergulatan antara Kemoning dan Mayang berakhir. Kemoning ke belakang dan Mayang duduk di sofa, tidak jauh dari tamu. Bibi kembali ketempat Aditya dan tamunya. Ternyata yang datang adalah kakaknya Rhafael dan paman Gunawan.


Paman adalah Adik ibunya Aditya yang paling bungsu, jarang kesini kecuali ada masalah penting. Hubungan nenek dengan keluarga besar dari ibu kurang harmonis. Sehingga Aditya juga jarang bertemu dengan paman.


"Bagaimana kabar nenek?" tanya paman basa basi, Aditya yakin sudah banyak gosip di kampung tentang nenek yang stroke.


"Ilmunya terlalu tinggi sehingga sulit meninggal, kecuali ada sukarelawan yang mau menerima warisan ilmu dari nenek."


"Rasanya tidak ada paman......."


"Aku mau." potong Mayang dari tempat duduknya. Nyangka berdiri dan ikut duduk di samping Aditya. Semua kesal dibuatnya.


Wajah Aditya seketika merah menahan malu dan marah. Aditya menggeser duduknya, tangannya meremas jari Devaly. Wanita itu tidak menepis perlakuan Aditya, karena dia tahu suaminya saat ini sedang nervous.


"Orang luar dilarang mewarisi ilmu nenek." Made membantu Aditya menjawab.


"Aku bukan orang luar, aku calon menantu nenek. Pernikahan kami tertunda karena nenek keburu stroke."

__ADS_1


"Tuan sudah punya istri, sedangkan nenek tidak mampu melaksanakan keinginannya, lebih baik kamu tidak berharap menjadi penguasa di rumah nenek."


"Kamu orang luar tidak usah ikut campur, nyawamu ada di genggamanku." Mayang berdiri, giginya gemeretuk menahan marah. Made terlalu lancang bicara.


"Mayang keluarlah kamu tidak sopan, disini ada tamu!!" bentak Aditya mengusir Mayang.


"Gendang perang sudah ditabuh, tunggu pembalasanku. Kalian berani menantangku, berarti kalian mati. Mulai saat ini hubungan kita putus." kata Mayang marah-marah.


Tidak ada yang merespons perkataan Mayang, mereka membiarkannya pergi. Semua gerah melihat tingkah Mayang. Made tersenyum miring ketika mayang marah padanya dan mengutuknya habis-habisan.


"Maaf Aditya, kedatangan paman dan putu kesini tidak lain menawarkan perdamaian. Orang tua Rhafael dan keluarga besar di desa sangat marah atas kejadian itu. Kita tidak menyalahkan mereka dan juga tidak bisa sepenuhnya menyalahi disini. Rasanya tiap orang akan marah dan mengutuk kejadian Ini. Hanya saran paman, tidak ada gunanya kita saling tuntut, dan mencari kebenaran yang tidak berujung. Dari pihak Rhafael cuma meminta ganti rugi satu miliar."


"Paman, saya pribadi pasti akan membantu, itu sudah kebiasaan kami disini, namun kalau di targetnya kami tidak mau. Biasanya seluruh kremasi kami menanggung, sekitar lima ratus juta."


"Aditya tidak bisa begitu kalau kami lanjutkan ke jalur hukum salah satu dari kalian bisa di penjara. Karena kejadiannya di rumah ini."


"Memang terjadi di rumah ini, tapi kita tidak tahu pelakunya, ini bukan masalah baru, sering terjadi di desa Drakula dan tidak bisa terdeteksi pelakunya, walaupun memakai mesin pembohong."


"Tapi disini sudah jelas orangnya, aku yakin semua bisa ngeleak. Kita akan :melanjutkan ke jalur hukum. Kalian tidak mengerti betapa menderitanya keluarga kami. Rhafael tulang punggung keluarga, jadi kami merasa sulit uang kedepannya."


"Saya juga bisa menuntut, tiap hari Rhafael menemani istri saya. Waktu itu almarhum masuk ke kamar istri saya, kami bertengkar. Seperti biasa dia menang karena istri saya lebih membelinya." kata Aditya memandang Devaly.


Keadaan sunyi sesaat. Mereka saling mengukur kekuatan lawan dan mencari kesalahan masing-masing.


"Begini saja Putu dan Aditya, kita ini masih bersaudara, malu di dengar orang kalau kita musuhan karena uang, bagaimana kalau Aditya membayar sembilan ratus juta kepada keluarga putu?"


"Maaf paman ini sudah ada di buku besar kami, semua di tulis oleh nenek. Saya tidak mengada-ngada, boleh paman baca sendiri jumlah sumbangan yang harus kami keluarkan, ada tanda tangan kepala desa." Bibi Ayu yang bertanggung jawab bagian keuangan menyodorkan buku besar.


Tidak urung perdebatan terjadi, Putu tetap pada pendiriannya karena Rhafael masih punya tunggakan hutang di properti.

__ADS_1


****


__ADS_2