CINTA GAIB LEAK NGAKAK

CINTA GAIB LEAK NGAKAK
Bab. 101.


__ADS_3

Hampir semua yang ada di rumah nenek sangat lega. Mereka bergembira menyambut kebebasan Tuannya. Devaly langsung minta pindah dari rumah nenek, dia trauma tinggal di rumah itu.


"Sayank, ajak aku pindah dari sini. Aku trauma tinggal disini." kata Devaly berharap.


"Aku akan membawamu ke kota, kita akan pindah ke kota." jawab Aditya, dia melirik Thasy yang duduk termenung. Aditya kasihan melihat wanita itu sedang hamil, ditinggal Rakhes.


"Thasy apakah kamu tidak ingin pulang ke Los Angeles atau mau menetap disini?" tanya Aditya pelan. Thasy menggeleng.


"Aku tidak mau pulang, lebih baik tinggal dulu disini. Setelah anakku lahir aku baru pulang." jawab Thasy tanpa menoleh.


"Kamu tidak menyesal karena disini kamu harus kerja keras, sedangkan kalau pulang ke Los Angeles kamu akan jadi model."


"Tidak Devaly, aku akan menemanimu." kata Thasy mantap.


Keesokan harinya mereka bertiga pulang ke Denpasar. Semua urusan di rumah nenek di limpahan ke bibi Ayu. Aditya percaya kepada bibi Ayu dan tidak mau menggantinya.


Sebenarnya Devaly keberatan kalau Thasy ikut dengannya. Kata orang pemali. Tidak tahu perasaan Thasy kedepannya, sekarang memang baik dan sekedar minta berlidung. Takut nya dia kecantol dengan Aditya.


Kadang Devaly menahan diri jika Aditya terlalu mesra dengannya, karena Thasy seolah jealous melihat kemesraan Aditya.


Kalau dipaksa pulang Thasy tidak mau, jalan satu-satunya adalah mencari lelaki untuk Thasy. Supaya dia punya tempat berlindung.


Aditya memacu mobilnya dengan kecepatan sedang, dulu mobil ini penuh dengan orang tapi sekarang cuma mereka bertiga. Sedih sekali kalau mengingat teman-teman yang sudah meninggal.


"Thasy jangan bersedih nanti aku ikut bersedih." kata Devaly memeluk Thasy.


"Aku menyesal karena akulah yang menyebabkan Rhakes meninggal "


"Jangan dipikir itu hanya jalan. Kita tidak bisa mengelak dari takdir."


Devaly melepaskan pelukannya, dia juga sedih. Kejadian ini membuat dia tegar dan belajar bersabar. Biarlah semua menjadi kenangan, pada akhirnya semua manusia menuju kematian.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan menuju kota, yang membutuhkan waktu tiga jam diisi dengan menangis dan bercerita sedih. Apalagi kalau mengingat pengorbanan Basabi dan Made.


"Kita sudah hampir sampai di rumah, hapus air mata kalian." kata Aditya melihat dari kaca spion.


Akhirnya mobil masuk ke sebuah pekarangan khusus di pakai Garasi. Disana ada banyak mobil dengan berbagai type. Ada scurity nya.


"Rumahku di sebelah." kata Aditya menatap Devaly. Pria itu menggandeng tangan Devaly sesekali dia mengecup pipi Devaly.


"Love you sayank.." bisik Aditya melingkarkan tangannya di pinggang Devaly.


Di depan rumah Aditya, beberapa scurity dan pelayan menyambutnya, ada yang membawa koper dan barang-barang. Devaly dan Thasy berdecak kagum melihat rumah mewah milik Aditya. Megah, tapi tidak meninggalkan gaya arsitektur Bali. Walaupun mereka sering melihat rumah mewah di luar negeri, tapi tetap mereka kagum dengan rumah Aditya.


"Selamat datang Tuan dan nyonya, kami sangat merindukan kalian."


"Trimakasih semuanya." sahut Aditya dengan wajah sumringah.


Di garasi ada Lamborghini dan mobil Ferrari. Mungkin mobil itu tunggangan Aditya. Devaly malu mengingat dulu dia sering menghina Aditya karena dia terlihat sederhana.


"Ini rumah kita, kau akan menemaniku sampai kakek-kakek." kata Aditya masuk ke ruangan utama. Dia memeluk pinggang Devaly. Thasy ikut senang walaupun dalam hatinya merasa teriris. Dia selalu teringat Rakhes.


"Selamat datang Tuan dan nyonya, kami sangat merindukan kalian."


"Trimakasih semuanya." sahut Aditya tersenyum sumringah. Devaly sangat bangga punya suami baik dan kaya. Rasanya tidak ada celah untuk membenci atau marah padanya.


"Sayank, aku kasihan kepada Thasy. Bagaimana caranya supaya dia juga bahagia seperti kita. Maksudku supaya dia menikah juga."


"Dia sedang mengandung tidak mungkin ada pria mau menikah dengan nya."


"Ya ampun kasihan sekali." gumam Devaly. Dia merasa sangat kasihan kepada Thasy, tapi apa boleh buat takdir telah memisahkan mereka.


Dengan berjalannya waktu perut Devaly dan Thasy sudah mulai membenci. Mereka terlihat akur dan sangat bahagia. Aditya juga sangat sayang dan perhatian kepada Devaly, mereka sudah menyiapkan segala sesuatu untuk menyambut kelahiran bayinya.

__ADS_1


"Devaly, indah sekali kamar bayinya. Aditya sangat perhatian, aku ingin punya suami seperti dia." kata Thasy melihat-lihat kamar warna biru itu. Dia membuka almari yang penuh berisi baju dan perlengkapan bayi.


Devaly menoleh sesaat sambil tersenyum gembira. Siapa tidak bangga mempunyai suami seperti Aditya.


"Aditya menghabiskan uang banyak untuk putranya, dia begitu gembira menyambut buah hatinya."


"Aku ikut bahagia, kamu sangat beruntung punya suami seperti Aditya. Devaly, perutku semakin besar, bolehkah aku pindah tidur ke Kantil?"


"Kenapa kamu pindah kesana, disana sepi hanya ada dua kamar itupun tidak luas. Kata Aditya itu tempat pelayan yang berkeluarga.


"Aku akan senang disitu, disana aku punya privasi. Aku juga ingin melukis disana."


"Nanti aku bilang kepada Aditya, apa kamu butuh pelayan nanti aku omongin."


"Trimakasih Devaly kamu temanku yang paling baik."


"Yang penting kamu senang, aku akan lakukan sebisaku. Jika kamu butuh sesuatu katakan saja."


"Trimakasih Devaly." ucap Thasy keluar dari kamar. Dia ingin tidur di Kantil karena ingin punya kamar untuk bayinya. Nanti dia akan menyuruh Aditya membeli perlengkapan untuk kamar bayinya.


Kesempatan untuk mendekati Aditya, sangat terbatas. Semakin hari Aditya semakin repot karena tamu hotel semakin membludak. Thasy jadi urung-uringan jika tidak ketemu dan melakukan keinginannannya. Akhirnya Thasy nekat mencari Aditya ke Kantor.


"Maaf nona, ingin bertemu dengan siapa?" tanya seorang Scurity yang berjaga-jaga di pintu masuk hotel.


"Aku ingin bertemu Tuan Aditya, aku teman istrinya." kata Thasy sambil memandang bangunan hotel yang gagah di depannya. Tiba-tiba ada perasaan ingin memiliki Aditya dan menjadikannya ayah dari bayinya.


"Maaf nona, Tuan Aditya akan pergi untuk menengok proyek. Jadi tidak bisa menerima tamu. Jika nona tidak keberatan boleh meninggalkan nomer telepon, nanti kalau Tuan ada di kantor saya hubungi nona. Dengan kecewa Thasy menumpang duduk di pos jaga.


"Oke pak, saya mau balik pulang dulu." kata Thasy tidak enak hati saat dia diusir dari gardu jaga.


Thasy setuju, baru saja dia mau balik pulang tiba-tiba melintas mobil Lamborghini yang atapnya terbuka. Thasy kaget melihat Tuan Aditya dengan seorang gadis dalam satu mobil. Jantungnya berdetak kancang saat otak nya berpikiran negatif.

__ADS_1


Tashy cepat pergi menuju rumah Aditya, dia marah melihat Aditya bersama wanita lain. Ingin dia nencakar wanita itu. Kurang ajar!! makinya sendiri.


****** TAMAT *****


__ADS_2