
Pertanyaan mereka mengusik pikiran Aditya. Dia memang menyuruh teman-temannya segera pulang, walaupun mereka tidak tahu dan mengerti permasalahannya, tapi mereka menurut, padahal mereka merasa sangat seru berperang dengan Leak.
Kalau menurut pikiran mereka kenapa harus takut melawan Jro dukun, bukankah semua Leak bisa dikalahkan dengan mudah. Tidak ada satupun yang selamat dari garam dan bawang. Gampang sekali membunuh Leak. Jadi tidak masuk akal kalau Aditya masih takut dan mundur. Mereka semua menurut saat Aditya memerintahkan untuk kembali ke Home Stay.
"Kenapa kita harus pulang, seru kalau disitu. Tidak ada Leak yang berani keluar, termasuk Jro dukun." kata Abisheka ketika mereka lagi melewati perkampungan, berjalan santai' sambil melihat pemandangan dan keramaian masyarakat desa di sebuah pasar tradisional.
Masyarakat mulai terlihat ramai beraktivitas setelah desa mereka diguncang gempa dan badai angin.
"Garam kita mulai mau habis, bawang juga. Istilahnya Jro dukun masih berbaik hati kalau siang hari. Jika Matahari tenggelam, dia tidak akan mengenal anak istri, semua ingin di makan asal tubuh orang itu baunya wangi." sahut Aditya.
"Mulai sekarang kita jangan memakai parfum dan sabun." kata Devaly.
"Bukan wangi begitu, maksudnya darahnya yang wangi."
"Hii...ngeri."
"Tadi apa saja kalian ucapkan dengan Jro dukun?" tanya Abisheka ingin tahu, karena Aditya selama di rumah Jro dukun memakai bahasa daerah. Jadi mereka semua tidak mengerti kecuali Made.
"Kita bahas di Home Stay, aku mau membeli makanan khas pulau ini." kata Aditya menuju ke sebuah warung.
"Ikut ahh..." kata Thasy memegang tangan Aditya. Devaly menelan rasa cemburunya dan memilih jalan sendiri.
"Devaly ikut aku." ajak Rakhes.
"Aku mau sendiri." jawab Devaly berjalan mengikuti rombongan. Waktu mau masuk ke warung Devaly melihat Kemoning dengan seorang pemuda. Dia langsung menuju ke tempat Kemoning.
"Hai Kemoning kamu kemana saja?"
"Nona Devaly kamu disini, kemana yang lain?" tanya Kemoning memeluk Devaly. Dia rindu kepada rombongannya.
"Semua ada di warung."
"Nona Devaly kenalkan ini saudaraku."
"Rhafael Hindysugo." tangan pemuda itu terjulur dan disambut oleh Devaly.
"Nama yang bagus, aku Devaly senang bertemu denganmu."
"Kamu cantik sekali, apakah kamu ingin membeli sesuatu?"
__ADS_1
"Aku tidak makan sembarangan karena menjaga penampilan. Tapi aku tidak menolak jika kamu membelikan aku makanan khas daerah disini."
"Bagainana kalau rujak rumput laut atau buah lamun?" tanya Rhafael tersenyum ramah, dia kagum melihat kecantikan Devaly.
Devaly menyetujui dan mereka berdua ke warung yang berbeda dari rombongan.
"Aku senang kamu mengerti bahasa Inggris dan ramah sekali." Devaly duduk disamping Rhafael.
"Aku bekerja di kapal pesiar di luar negeri."
"Oh pantas."
Mereka berbincang-bincang dengan gembira dan merasa cocok, kebetulan dia orangnya humble, sehingga Devaly senang dengan Rhafael.
Kemoning yang senang rombongannya ada di pasar, buru-buru masuk ke warung Bu Nyoman.
"Hallo semuanya, aku tidak menyangka kalian ada disini. Maaf aku belum sempat ke Home Stay masih ada upacara ke agamaan." kata Kemoning duduk disamping Abisheka.
"Hai Kemoning, aku rindu padamu, tega sekali pergi begitu saja." Abisheka langsung memeluk Kemoning.
"Kemoning melihat Devaly diluar, tadi dia bersama kita."
"Apa?, v'kenapa kamu tidak suruh kesini, apa maksudmu dia bersama sepupumu?" tanya Aditya menahan emosi. Dia lalu berdiri dan keluar dari warung.
"Tuan, dia cuma makan di warung sebelah." kata Kemoning ikut berdiri, tidak menyangka kalau Tuan marah. Padahal Tuan tidak peduli dengan nona Devaly.
"Aku adalah kepala rombongan kau terjadi apa-apa aku yang bertanggung jawab." kilah Aditya menutupi rasa cemburunya.
Aditya masuk ke warung, dia melihat Devaly asyik ngobrol sambil foto selfie. Dadanya seketika bergemuruh. Apalagi dia melihat pemuda itu ganteng, blasteran.
"Devaly kita pulang." kata Aditya menekan suaranya. Devaly kaget ketika tangan Aditya nenyentuh bahunya.
"Kenapa cepat, aku masih mau disini, nanti aku pulang sama Rhafael."
"Kita masih banyak punya pekerjaan pesanan makanan dirusuh bungkus saja. Kamu tidak boleh membantah."
"Devaly nanti aku mampir ke tempatmu, sekarang pulang dulu bersama teman-teman yang lain." kata Rhafael, dia juga memberi bungkusan yang mereka pesan tadi.
"Kita belum tukar nomer whatsapp, nanti tanya Kemoning saja ya." kata Devaly. Dia buru-buru pergi karena tangannya ditarik Aditya sampai warung sebelah.
__ADS_1
"Kemoning ajak sepupumu pulang, tidak usah mencari Devaly ke Home Stay, aku tidak ingin ada masalah lagi. Tamu kita banyak membuat masalah disini." kata Aditya memakai bahasa daerah.
"Maaf kan saya Tuan, saya permisi dulu, sebentar saya menyusul ke Home Stay, saya mengambil baju dulu."
"Tidak apa-apa pergilah.,"
"Kemoning nanti kasih nomer ponselku kepada Rhafael, aku ingin komunikasi dengannya."
"Siap nona. Teman-Teman semua aku pergi dulu, sampsi ketemu."
"Jangan lama-lama pergi Kemoning, aku merindukanmu." kata Abisheka.
Aditya memdekati penjual dan menyuruh membungkus pesanan mereka. Dia sudah ingin cepat pulang matanya mengantuk.
"Kita akan segera pulang, semua pesanan dibungkus." kata Aditya masih membara. Devaly diam saja ketika diajak pulang. Dalam perjalanan pulang Aditya banyak diam, dia tidak lagi bersama Thasy, kini dia seolah mengawal Devaly tangannya memegang tangan Devaly.
Sampai di Home Stay Made langsung menuju dapur, dia menyiapkan apa yang tadi dibeli. Hanya dia yang mengerti perasaan Aditya, dia tahu bos nya sangat mencintai Devaly tapi disisi lain dia tidak mau Devaly sengsara menikah dengan Leak sepertinya.
"Kita akan kembali membahas Jro dukun. Masalah ini menemui jalan buntu, karena yang kita lawan ilmu gaib, sulit membuktikan. Makanya Jro dukun berani melawan kita dan berani di laporkan ke polisi, karena bukti yang kita punya sangat lemah. Kecuali kita berani menangkap dia dan membunuhnya. Tapi apa kita sanggup membunuhnya?"
"Aku sanggup!!"
"Thasy resikonya kau dihukum mati atau Penjara seumur hidup. Hanya satu yang bisa di pakai bukti yaitu jika kamu hamil dan tes DNA."
"Aditya bicara apa kau, teganya kau bicara seperti itu dan tidak mempertimbangkan perasaanku." Thasy langsung menangis.
"Maaf Thasy, aku bicara apa adanya tidak ada maksud untuk merendahkanmu."
"Thasy jangan ke kanak-kanakan!!" bentak Basabi kesal. Dia sangat mengerti perasaan Aditya yang di pengaruh ilmu Leak.
"Kamu tidak di posisiku apa bisa diomongin." sahut Thasy.
"Kau pikir Aditya dan aku tidak pernah punya masalah berat gara-gara Leak. Hanya waktu itu aku tidak cerita. Begitu juga Aditya tidak pernah cerita masalah yang dihadapi nya."
"Jadi kalian berpikir masalahku tidak penting atau kalian tidak peduli padaku, seperti Rakhes."
"Aku peduli, tapi aku tidak mengerti caranya melindungimu." kilah Rakhes, sebenarnya diai tidak peduli.
****
__ADS_1