
Malam semakin merangkak, Aditya menoleh ke pintu kamar Devaly, dia melihat gadis itu keluar dengan badan terhuyung. Made cepat menghampiri Devaly dan memapahnya.
"Awas nona, hati-hati berjalan..."
"Kepalaku seperti di tusuk jarum, sakit sekali. Mulut dan tenggorokanku terasa kering." ucap Devaly sambil memijit keningnya.
"Duduklah, malam ini kita akan berada disini, jika nona lapar sudah disiapkan makanan." kata Basabi bangun mendekati Devaly. Dia memijit kening Devaly seperti bisanya. Tapi gadis itu menepis tangan Basabi dengan halus. Dia merasa Basabi bukan teman yang baik, yang tega menusuknya dari belakang.
"Nona Devaly aku minta maaf, waktu berada di rumah nenek, aku dalam kondisi tidak baik, kesehatanku menurun. Waktu itu keadaanku antara hidup dan mati. Jangan kamu marah jika sikapku kurang simpati kepadamu, aku sendiri tidak bisa mengontrol rasa sedih dan putus asa yang aku alami."
"Aku tidak peduli Basabi, jika kamu merasa berada disini karena aku, tidak sepantasnya kamu berbuat begitu. Apakah kamu iri atau memang tidak senang padaku, sehingga kamu menjauh dariku. Dan anehnya hanya Aditya yang mau kamu dekati." kata Devaly menohok.
"Sudah-sudah, Basabi tidak tahu kalau kamu terluka dengan sikapnya. Dia tidak sengaja bersikap begitu. Lupakanlah, sekarang kita harus bersatu melawan penyakit yang berada ditubuhmu." kata Aditya menatap Devaly.
"Hemm.. aku malas bicara denganmu atau dengan Basabi, biarkan aku sendirian dengan pikiranku." ujar Devaly kesal.
Basabi mau menjawab tapi Made memberi kode diam. Dia juga pernah di posisi Devaly dan pernah merasa di cuekin Basabi. Made lalu berdiri dan mengajak Basabi duduk di pinggir ruangan, sesekali mereka melihat ke bawah. Suasananya Gelap gulita. Basabi memanggil Abisheka yang duduk menyendiri.
"Sama kita duduk disini, jangan suka melamun dan menyendiri." kata Made setelah Abisheka duduk semeja dengannya.
"Aku banyak pikiran." ucap Abisheka tidak bergairah.
"Abisheka apa yang kamu rasakan saat ini, kamu masih takut atau ada perasaan lain di hatimu?"
"Ntah lah, mungkin karena merasa bersalah atau ini hanya ilusi, setiap mataku meram terlihat patung dewi cantik itu mau memanah ku. Anehnya aku selalu ditolong oleh nenek."
"Kamu harus berdoa supaya hal buruk tidak menimpamu. Kadang kita melupakan Tuhan karena asyik dengan gemerlapnya duniawi."
"Aku sangat menyesal jika di deportasi dan di cekal." keluh Abisheka. Raut wajahnya sedih dan terlihat muram.
__ADS_1
"Sudah sering terjadi pelecehan itu, dan itu resiko dari perbuatan orang-orang yang bandel sepertimu. Semua di deportasi tanpa kecuali biarpun yang melecehkan itu seorang petinggi atau orang berkuasa."
Mendengar omongan Abisheka dan Basabi, Devaly sontak menoleh ketempat ketiga temannya duduk. Dia tidak mengerti kenapa Abisheka berkata begitu, apakah Abisheka kembsli berbuat salah. Aditya memalingkan muka, dia pura-pura tidak mengerti maksud Devaly mengerling nya.
"Aku lapar...." kata Devaly berdiri.
Dia menuju meja yang berada di sebelah Abisheka. Walaupun Devaly tidak menyuruh terang-terangan, Aditya tetap mengambilkan makanan, pria itu melayani Devaly karena dia tahu gadis itu sangat mencintainya.
"Makanlah supaya tidak sakit. Kamu adalah tamuku yang harus aku layani, sama seperti yang lain. Setelah kamu pulang ke negaramu jangan lupa dengan sopir travel ini." kata Aditya menaruh makanan di atas meja.
Wajah Devaly langsung cemberut, kenapa sih ngomong begitu, seolah-olah Aditya menilai dirinya seperti temannya yang lain. Padahal mereka pernah saling mencintai, walaupun tidak pernah making love seperti temannya yang lain, Devaly sudah pernah berciuman.
Laparnya jadi menghilang, konsentrasi untuk menguping problem yang dihadapi Abisheka juga ikut lenyap. Hatinya sangat sakit, ngilu diperlakukan begini oleh Aditya. Tidak pernah Aditya berkata mesra atau berbuat romantis akhir-akhir ini, semenjak Basabi mendekati pria itu.
"OUUHHHUUSS....krauxx..krauxx..."
"OOAAAA....."
Sedangkan Devaly berdiri kaku tanpa bisa bergerak. Matanya melotot ketakutan. Aditya cepat memeluk Devaly dan mengajaknya ketempat Made dan teman yang lain.
"Jangan berteriak tidak karuan, Cafe semua tutup, tidak satupun ada orang disekitar sini. Kalian tidak usah takut anggap ondel-ondel." kata Aditya marah, dia sendiri hampir takut. Untung dia cepat mengendalikan diri, kalau tidak, Leak itu bisa saja memakannya.
"Huuaaa...huuaaa...." tangisan Devaly membuat yang lain tambah takut. Tangan gadis itu memeluk kencang Aditya.
"Devaly sadarlah, dia malah senang melihat kamu menangis. Ngapain takut kepada kakek tua, lebih baik berdoa dan baca mantra yang pernah aku ajarkan waktu di rumah nenek. Berhenti semua menangis, kalian lebih baik berdoa minta tolong sama Tuhan." perintah Aditya dengan suara tinggi.
"Iiihh ... Iihh..Isshh..ahhhh..aahh..."
Suara ketawa Leak itu menambah suasana semakin seram. Aditya tidak mungkin bisa berubah tiba-tiba, apalagi ada teman yang lain. Hanya dia sendiri yang tidak melihat perubahan wujud Jro dukun, kakek itu tetap terlihat seperti semula dimata Aditya. Ini bisa terjadi karena Aditya mulai rajin sembahyang seperti dulu dan berusaha menekan rasa ingin memakan "bayi" merah.
__ADS_1
"Jro dukun jangan kau mengganggu kesini, ketahuilah kau tidak mungkin bisa memakan mereka. Kau itu sudah tua masih saja ingin membunuh orang. Kalau sampai kau berani membuat onar disini, besok pagi aku akan menyuruh warga membakar kau hidup-hidup beserta gubuk mu." ancam Aditya geram memakai bahasa Bali. Dia tidak ingin teman yang lain ketakutan.
Bajunya sampai basah dibanjiri air mata Devaly. Kesempatan Aditya memeluk mesra Devaly dan mengelus rambut gadis itu.
"Anak durhaka!! jika kau tidak membawa tumbal bayi kepadaku, kedua temanmu yang berada di gubuk linggau akan aku makan." Jro dukun ikut mengancam.
"Jangankan kau makan, kau colek saja kedua temanku, Ratu Leak akan mencabut jantung dan isi perut mu."
"Anak Bebai, kurang ajar kau!!" pekik Leak itu marah besar. Dia lalu menari-nari sambil memanggil-manggil Leak lain.
"Tuhan akan menurunkan azab kepadamu, jika kau mati, mayat mu tidak akan terbakar sempurna sampai seharian." kutuk Aditya saking geramnya.
"Bruuggh!!"
"Aoaaa....Aoaaa...."
Kembali Abisheka dan yang lain memekik ketakutan, ketika mendengar suara benda jatuh. Ternyata semua diluar dugaan, Leak itu terjatuh tengkurap, padahal tidak ada yang memukul atau mendorong. Adityapun tidak ada melakukan sesuatu.
"Cepat masuk kamar!" seru Aditya. Dia baru ingat jika Leak tiba-tiba jatuh dia akan merubah wujud menjadi lebih serem.
Mendengar ajakan Aditya mereka serempak berlari menuju kamar Devaly. Gadis itu tidak mau melepaskan Aditya. Made mengunci pintu sambil membaca mantra penolak bala.
"Ayo kita baca mantra ini dengan suara keras supaya Leak takut dan mati." teriak Aditya emosi. Dia belajar melenyapkan rasa takut dengan cara mengeluarkan rasa marah.
"Ang Ong nora katon I ring leyak all, if I'm more powerful, I'm deserting all leyak, yan tuhu, wisesa, tka add us to my ring, Ang, Ung, Mang, Ong tra tri we ring arepku, ngru, ong rastu tatastu rastu."
"Jangan ngumpet dalam kamar...Xixixi...mai.. mai..mai pesu...." Leak itu berubah jadi kodok poleng dan memanggil-manggil dari luar.
"Abisheka jangan membuka pintu, kamu akan dimakan, jangan kena sihirnya. Baca mantra berulang-ulang." teriak Aditya.
__ADS_1
"Leak ngakak, kurang ajar kau, iblis kau!!" teriak Made dan Aditya berbarengan.
****