Cinta Sang Ajudan

Cinta Sang Ajudan
Dokter Killer


__ADS_3

Hari H yang di tunggu pun tiba. Kinan sudah bersiap pergi ke tempat acara sosialisasi itu. Kinan bersama tujuh tenaga paramedis menaiki sebuah mobil dinas rumah sakit, tak terkecuali Dokter Adam.


Duduk berdampingan dengan Dokter Adam dan staf yang lain membuat jantungnya semakin berpacu. Bukan karena cinta, tapi karena takut melakukan kesalahan.


Satu jam pun berlalu. Terlihat mobil memasuki sebuah kawasan militer. Ternyata acara itu di adakan di sebuah Batalyon. Memang sudah menjadi kebiasaan, setidaknya setiap setahun sekali mereka pasti mengundang tenaga medis rumah sakit untuk melakukan sosialisasi dan pemeriksaan Pap Smear.


Saat turun dari mobil, sudah ada beberapa perwira yang menyambut mereka.


"Selamat datang di Batalyon kami." Ucap seorang perwira berpangkat Letnan Dua seraya mengulurkan tangan.


"Terima kasih." Jawab Dokter Adam membalas jabat tangannya.


Mereka pun juga bersalaman dengan Kinan dan petugas paramedis yang lain.


"Mari, mari silahkan masuk."


Mereka masuk ke dalam sebuah ruangan yang sudah di sediakan. Disana ada Komandan Batalyon beserta istrinya.


Saat tengah berbincang bincang, ada seorang perwira yang masuk ke dalam ruangan.


"Siap, ijin Komandan. Peralatan LCD nya sudah siap." Ucapnya.


"Iya, terima kasih." Jawab Komandan.


Namun saat akan berbalik, tiba tiba saja langkahnya terhenti.


"Kinan."


Kinan menengok dan melihat sosok yang dia kenali.


"Niko??" Kinan terkejut.


Melihat suasana itu, Komandan pun menegur.


"Kalian sudah saling kenal??" Tanya Komandan.


"Siap, ijin. Kami saling kenal Komandan."


"Ohh, gitu. Apa dia yang akan jadi Ibu Persitmu Nik??" Canda Komandan.


"Siap." Niko hanya tersenyum.


Mendengar jawaban itu, Kinan menatap tajam ke arah Niko menandakan bahwa dia tidak suka.


"Tempatnya sudah siap, mari langsung di mulai saja sosialisasinya." Ucap Ibu Komandan.


"Baik Bu. Nanti yang akan menyajikan materinya Dokter Kinan." Dokter Adam tiba tiba menunjuk Kinan.


Kinan yang mendengar hal itu pun terkejut. Dia berada disana hanya untuk menjadi asisten Dokter Adam saat pemeriksaan Pap Smear, bukan untuk pemateri.


"Loh kok saya dokter?" Tanya Kinan lirih.


"Udah, turutin saja kata kataku." Tegas Dokter Adam.

__ADS_1


Kinan pun hanya bisa terdiam dan pura pura tersenyum.


("Betul betul nih dokter cari ribut. Mana belum belajar materinya lagi.") Batin Kinan.


Dengan berat hati Kinan pun melangkahkan kakinya masuk ke sebuah aula besar. Disana sudah duduk berjajar rapi para istri abdi negara. Kinan di sambut senyuman para bujangan, tak terkecuali Niko yang sedari tadi memperhatikan Kinan.


Sejenak Kinan melihat draft materi yang akan dia sajikan. Seorang operator sudah duduk di belakang laptop. Dan Dokter Adam duduk di bangku tamu undangan, memperhatikan Kinan dengan matanya yang tajam.


"Assalamu'allaikum Ibu ibu. Selamat pagi semuanya." Sapa Kinan dengan ceria.


"Pagi!!!" Jawab serentak.


"Wihh semangat sekali ya." Puji Kinan.


"Sebelumnya mohon ijin ya ibu memperkenalkan diri. Nama saya Kinan, saya dokter dari Rumah Sakit Malang. Mau memaparkan materi tentang kanker serviks. Nanti setelah materi akan ada sesi tanya jawab, jadi jika ada yang mau di tanyakan silahkan bertanya tidak apa apa."


"Dan nanti sekitar jam 11 akan ada pemeriksaan Pap Smear di Klinik Batalyon. Silahkan yang mau ikut bisa di persilahkan sebelum jam 11 sudah berkumpul di depan klinik." Jelas Kinan.


"Oke, biar tidak terlalu siang kita mulai materinya ya??" Pamit Kinan.


Kinan pun memaparkan materi yang sudah di sediakan. Meski pun materinya hanya garis besar saja, tapi slide demi slide bisa Kinan perjelas secara rinci. Bahkan Kinan bisa menjawab semua pertanyaan yang di ajukan dari Ibu ibu Persit.


Kinan sangat pandai membuat suasana itu agar tidak bosan. Sesekali dia menyelipkan sebuah candaan dalam penjelasannya.


"Nanti pulang sama siapa?" Tanya Niko saat melihat Kinan sedang duduk santai.


"Sama temen temen rumah sakit." Jawab Kinan sembari meminum air mineral.


"Aku antar pulang ya?" Ajak Niko.


"Ya nanti aku antar kamu ke rumah sakit."


"Nggak usah, aku nggak mau ada gosip." Kinan pun beranjak, namun Niko masih tetap mengikutinya.


"Ya elah jutek amat bu dokter." Ejek Niko.


Namun Kinan tidak bergeming. Dia malah sibuk memainkan ponselnya. Namun tiba tiba Niko mengambil ponsel Kinan.


"Ehh, ehh mau ngapain?" Kinan kesal. "Balikin."


Namun Niko malah menaikkan ponsel Kinan agar tidak bisa terjangkau. Dan dia mengetik sebuah nomer di dalam ponsel Kinan.


"Minimal kasih aku nomermu." Ucap Niko seraya mengembalikan ponsel Kinan.


"Ngapain juga aku nyimpen nomermu?" Tanya Kinan sambil memasukkan ponselnya ke dalam tas.


"Ya kali aja butuh bantuanku."


"Ihh, ngarep." Kinan sinis. "Udah deh nggak usah ganggu, aku mau pemeriksaan Pap Smear dulu nih."


"Siap bu dokter." Jawab Niko seraya hormat lalu beranjak pergi.


Kinan melihatnya dengan tatapan sinis.

__ADS_1


Kurang lebih sampai jam 2 siang meraka disana. Dan waktunya mereka kembali ke rumah sakit.


.


Saat waktu menunjukkan jam 8 malam. Kinan bersiap akan pulang.


"Belum pulang dokter?" Tanya Ana.


"Belum nih. Yang jempt belum datang."


"Ciee ciee siapa nih yang jemput??" Gurau Ana.


"Sopir." Jawab Kinan singkat.


"Kirain pangeran berkuda.... eitss salah, maksudnya pangeran bermobil. Jaman sekarang mana ada kuda." celoteh Ana.


Mendengar ucapan Ana, Kinan hanya tersenyum.


"Emang dari tadi dokter telpon nggak di angkat ya??"


"Nggak."


"Apa sudah telpon rumah, kali aja sopirnya belum berangkat."


"Sudah. Aku tadi sudah telpon nenek, dan beliau bilang kalo Pak Rachmat sudah dari dua jam yang lalu berangkat."


"Dua jam?? Seharusnya udah dari tadi dong sampai kalo gitu."


Kinan hanya mengangguk.


"Gimana kalo dokter Kinan nemenin aku jaga malam aja?" Saran Ana.


"Nggak aja. Aku aja udah dari tadi pagi kerja."


"Oh iya, tadi pagi dokter Kinan ikut acara Pap smear di Batalyon ya?"


"He em."


"Gimana dokter?? Ada kenalan abdi negara nggak buat saya??"


"Kalo mau punya kenalan kenapa nggak kamu aja tadi yang berangkat??"


"Ogah. Orang partnernya dokter Adam. Bisa mati berdiri aku jadi asistennya dia." Celetuk Ana.


"Hahahahaha." Kinan tertawa. "Udah ah, aku pulang dulu ya??"


"Emang udah di jemput dokter??"


"Belum. Mungkin aku naik G*ab aja."


Kinan pun mengambil tasnya dan berlalu.


Sudah hampir setengah jam dia menunggu di depan rumah sakit, namun Pak Rachmat tak kunjung datang. Ponselnya pun masih tidak bisa di hubungi.

__ADS_1


"Aduhh, gimana nih? Apa aku jadi naik G*rab aja, tapi kalo aku di sasarin gimana?? Mana aku masih belum paham jalan lagi." Kinan bingung.


Di saat kebingungan tiba tiba saja sebuah suara mengejutkannya.


__ADS_2