Cinta Sang Ajudan

Cinta Sang Ajudan
Penghalang Lagi


__ADS_3

Berbeda dengan Kinan. Saat makan, Indra lebih banyak diam. Sepertinya dia sedang menormalkan kembali akalnya.


Setelah selesai makan, Indra meminum teh hangat yang Kinan buatkan.


"Dek, habis ini Mas pulang ya??" ijin Indra.


"Tapi di luar kan masih hujan deras Mas."


"Nggak apa apa. Mas nggak bisa lama lama disini, Mas takut nggak bisa nepati janjinya Mas. Jadi lebih baik Mas kehujanan dari pada harus disini dan nyakitin Adek." ucap Indra yang sangat peka perasaan sang istri.


"Ya udah kalo gitu Mas." jawab Kinan.


"Dek." Indra kembali memegang tangan Kinan.


"Kita harus segera mengurus pengajuan pernikahan ya??" ajak Indra. "Mas sudah ngumpulkan semua berkas berkas yang di butuhkan. Besok kita mulai menghadap ke Batalyon ya??"


"Tapi baju Persitnya Adek kan belum selesai Mas."


"Oh iya ya, ya udah nanti Mas telpon penjahitnya biar segera di selesaikan."


Kinan menganggukkan kepalanya. Indra pun segera berpamitan dan pulang menuju mess.


Sesampainya di mess dan berganti pakaian.


Ya Allah. Untung saja nggak sampe kebablasan. Kenapa aku makin nggak bisa menahan hasrat saat dekat sama Adek sih?? Kenapa saat dekat sama Adek seakan akan benteng pertahananku bisa runtuh dengan mudah?? Hahh?!! Keluh Indra.


Indra mengeluh tentang dirinya sendiri yang hampir saja tak bisa menepati janji.


Hari demi hari pun berlalu. Setelah kejadian terakhir di rumah nenek Kinan tempo hari, Indra berusaha menjaga jarak dengan Kinan. Dia sangat menghindari berada di dalam ruangan yang hanya berdua dengan Kinan.


Kalau pun bertemu, Indra hanya menyempatkan bertemu di tempat terbuka agar tak ada pikiran yang negatif lewat di benaknya. Tapi siapa sangka, meskipun hanya bertemu dan melihat Kinan saja sudah membuat Indra ingin sekali memilikinya.


[Dek. Baju Persitnya sudah selesai, nanti sore Mas ke rumah nganterin bajunya ya??] ucap Indra di telpon.


[Iya Mas.]


[Besok kita langsung ke Batalyon untuk menghadap.]


[Iya Mas.]


Sore harinya saat Indra akan berangkat ke rumah nenek Kinan.


"Ndra."


"Siap Komandan." tegas Indra.


"Selamat ya, Ndra." sang Komandan menyalami Indra.


"Siap. Selamat untuk apa ya Komandan??"


"Loh, kamu belum monitor grup Batalyon??"


"Siap, belum Komandan."


"Coba kamu monitor." suruh sang Komandan.


Indra pun segera mengeluarkan ponselnya dari tas slempangnya. Dia melihat secara seksama berita apa yang ada di grup, hingga sang Komandan sendiri yang menyalaminya.


Namun tak di sangka sangka, ternyata kabar yang ada di grup adalah tentang kelulusannya tes Secaba (Sekolah Calon Bintara).

__ADS_1


"Ini??"


"Iya, Ndra. Itu hasil dari tes Secabamu kemarin. Selamat yaa??" ucap Komandan.


"Siap..., siap. Terima kasih Komandan." ucap Indra yang bahagia.


Antara bahagia dan sedih. Bahagia karena dia bisa naik beberapa tingkat lebih tinggi dengan usahanya sendiri. Sedihnya, karena yang namanya sekolah itu tidak sebentar. Minimal enam bulan dia harus menghabiskan waktu untuk menempuh pendidikan.


Bagaiman dengan rencanaku mengurus pengajuan?? Apa harus tertunda lagi?? Apa Kinan mau menunggu??


Pikiran Indra tak tenang. Selama perjalanan ke rumah nenek Kinan, dia memikirkan bagaiman cara untuk mengatakannya pada Kinan. Dia khawatir Kinan tidak mau menunggunya. Dia takut Kinan akan berpaling darinya.


Dasar suami yang lagi bucin, pikirannya kacau. Mana mungkin Kinan bisa berpaling. Orang dia sudah di ikat ijab qobul dengan Indra.


Sesampainya di rumah nenek Kinan.


"Assalamuallaikum." Kinan menyambut Indra di depan rumab dan mencium tangannya.


"Waallaikumsalam, istriku sayang." jawab Indra tersenyum. "Ini bajunya Dek."


Indra menyerahkan sebuah bungkusan pada Kinan.


"Adek coba dulu gih, nanti kalo ada yang kurang pas Mas bisa balik lagi ke penjahitnya." suruh Indra.


Kinan pun segera masuk dan mencoba pakaian itu. Terlihat Indra menunggu di depan teras dengan gelisah.


Apa dia akan bisa menunggu?? Bukannya waktu enam bulan itu sangat lama?? Kalau aku mengajukannya besok, nggak mungkin bisa keburu. Karena besok lusa aku sudah harus berangkat ke tempat pendidikan.


Tak lama kemudian, Kinan pun muncul dengan memakai baju Persit lengkap dengan sepatu dan tasnya. Kinan terlihat sangat anggun dan cantik saat memakai itu, Indra pun sampai melongo melihat istrinya itu.


"Mas, Mas??!" panggil Kinan sambil melambai lambaikan tangannya di depan wajah Indra.


"Jelek ya??"


"Nggak. Bagus kok, kelihatan makin cantik." puji Indra.


"Ihh, gombal."


"Beneran. Kelihatan seperti Nyonya Indra." timpal Indra. Kinan hanya membalasnya dengan tersenyum.


"Dek." ucap Indra yang tiba tiba menjadi serius.


"Ada apa Mas??" Kinan merasa aneh.


"Mas boleh ngomong sebentar??"


Kinan menganggukkan kepalanya.


"Dek." Indra menggenggam tangan Kinan.


"Mas lolos tes Secaba."


"Alhamdulillah. Beneran Mas??" Kinan senang.


"Iya."


"Alhamdulillah kalo gitu. Adek bangga Mas bisa lolos dengan usaha sendiri. Selamat ya Mas??" ucap Kinan senang.


"Terima kasih ya sayang." jawab Indra dengan wajah yang lesu.

__ADS_1


"Tapi, ada satu masalahnya."


"Masalah apa??"


"Pendidikan Secaba itu nggak sebentar Dek. Butuh waktu minimal enam bulan, dan besok lusa Mas sudah harus berangkat ke tempat pendidikan." jelas Indra.


Sejenak Kinan terdiam.


"Ya udah kalo gitu nggak apa apa Mas." jawab Kinan santai.


"Adek nggak keberatan??" Indra heran.


"Ya nggak lah, itu kan demi karirnya Mas sendiri. Seorang istri hanya bisa mendukung dan mendoakan untuk karir suaminya."


"Tapi dengan ini otomatis kita nggak bisa ngurus pengajuan dulu Dek."


"Ya udah nggak apa apa. Nanti selesai Mas pendidikan kita baru ngurus pengajuan nikahnya."


"Tapi itu kan lama Dek."


"Nggak lama kok Mas. Nggak sampe setahun, cuma enam bulan aja. Enam bulan itu nggak terasa lohh."


Kinan berusaha mendukung sang suami, namun sepertinya Indralah yang seakan keberatan untuk meninggalkan Kinan dalam waktu yang lama. Banyak pertimbangan yang dia pikirkan. Apalagi saat ini status Kinan yang masih belum nikah kantor dengan dirinya.


"Tapi Mas maunya kita nikah kantor secepatnya."


"Nggak usah cepat cepat. Nggak apa apa agak terlambat, yang penting selamat." ucap Kinan bijak.


"Mungkin saja dengan waktu enam bulan itu kita bisa lebih mengerti dan paham akan perasaan kita masing masing. Bisa menghargai yang namanya jarak dan waktu. Bisa mengenal sifat lebih dalam lagi sebelum kita menuju ke jenjang yang lebih serius."


Kinan berusaha tegar di hadapan Indra. Meskipun sebenarnya dia juga tak ingin berjauhan dengan sang suami. Namun ini semua demi karir Indra.


"Adek beneran nggak apa apa Mas tinggal sementara??"


"Nggak apa apa Mas." jawab Kinan.


"Adek harus janji bakal nungguin Mas ya??"


"Iya." jawab Kinan tersenyum.


"Adek janji nggak bakal nakal nakal kan selama di tinggal Mas??"


"Iya Mas."


"Janji loh ya??"


"Iya, iya Mas."


Indra pun memeluk sang istri. Pelukan yang mungkin akan selalu Indra rindukan selama di tempat pendidikan.


"Adek sudah janji bakal nungguin Mas loh?? Jadi jangan harap untuk berpaling." ucap Indra dengan nada yanh sedikit mengancam.


"Iya Mas." Kinan tersenyum.


Seperti apa yang di katakan Indra, dua hari kemudian Indra pun berangkat ke tempat pendidikannya. Doa dan harapan untuk sang suami Kinan panjatkan pada Yang Maha Kuasa.


Lindungilah selalu suamiku dimanapun dia berada. Jagalah selalu kesehatannya, Ya Allah. Jangan biarkan dia lalai atas perintah dan kewajibannya sebagai seorang muslim.


Selama Indra di tempat pendidikan, Kinan berkeliling untuk mencari rumah yang akan mereka tempati kelak. Dia ingin mencari perumahan yang sederhana, dan sisa tabungannya akan Kinan belikan untuk perabotan rumah.

__ADS_1


Pilihan Kinan pun jatuh pada sebuah perumahan yang cukup strategis di dekat tempatnya bekerja. Kenapa harus di dekat tempat Kinan bekerja?? Karena sebelumnya Indra pernah berpesan untuk mencari rumah yang dekat dengan tempat Kinan bekerja. Sungguh suami yang selalu mementingkan istri.


__ADS_2