Cinta Sang Ajudan

Cinta Sang Ajudan
Bayar Hutang


__ADS_3

Selang beberapa menit, mereka pun tiba di sebuah tempat makan pinggir jalan. Tempat makan yang sangat sederhana, atapnya pun hanya di tutupi sebuah terpal.


"Mbaknya nggak apa apa makan disini?" tanya Indra saat Kinan turun dari motor.


"Nggak apa apa kok Om, santai saja." jawab Kinan cuek.


Dia pun masuk ke warung tenda itu dan memesan makanan.


"Mbak mau pesan apa?" tanya Indra.


"Ada lalapan apa aja?"


"Lele, ayam, bebek, sama burung dara." jelas Indra.


"Wihh, hafal banget Om." sindir Kinan sambil tersenyum.


"Tempat makan favorit saya ini Mbak."


"Ehmm gitu, aku lalapan ayam saja Om."


"Nggak nambah tempe atau tahu?"


"Nggak usah, ayam saja." tolak Kinan sopan.


"Minumnya?"


"Teh hangat saja."


"Lalapan ayam satu, lalapan bebek satu ya?" pesan Indra ke penjual. "Teh hangatnya dua."


"Baik mas." jawab si penjual.


Mereka pun berbincang sambil menunggu pesanannya datang. Melihat hiruk pikuk suasana malam Kota Pasuruan.


"Omnya sering makan disini ya?"


"Ya kalo pas lagi pengen aja Mbak. Lagian ini kan warung lalapan yang paling dekat sama mess."


"Ohh, messnya Om ada di dekat sini?"


"Iya Mbak. Paling sekitar seratus meter dari sini." Indra pun berdiri hendak menunjuklan messnya ke Kinan. "Tuh di pertigaan lampu merah Mbak, rumah cat hijau di sebalah kiri jalan." tunjuk Indra.


"Ohh rumah yang itu."


"Mbak pernah kesana?"


"Nggak pernah."


"Ohh, kirain pernah kesana." sahut Indra sembari tersenyum.


"Ini mas pesanannya." si penjual menyodorkan pesanan mereka. Mereka pun menyantap lalapan itu sambil mengobrol.


Namun saat sedang menikmati lalapan, tiba tiba saja kehadiran seseorang mengejutkan mereka.


"Ndra." panggil seorang lelaki. Indra pun sontak menolah.


"Ris, Wan!!!" sahut Indra terkejut. "Ngapain kamu disini?"


"Ya beli makan lah." jawab Erwan. "Kamu lagi kencan?"

__ADS_1


"Ohh, jadi ini cewekmu yang sekarang Ndra. Cewek, pacar apa TTM (Teman Tapi Mesra) an aja nih?? Cewek yang ke berapa lagi nih?" celetuk Aris seakan tak memberi kesempatan Indra untuk berbicara.


"Ehh, ehh. Jaga mulutmu itu." Indra terlihat kesal. "Dia cuma teman."


"Ohh, teman." Aris cuek.


"Kamu bilang nggak punya cewek Ndra, kok nggak di kenalin nih??" sindir Erwan.


"Iya Wan, dia itu emang nggak punya cewek. Yang ada cuma TTM saja." ejek Aris.


"Ehh, Ris. Mulutmu itu ya??" Indra kesal, dia merasa tidak enak Kinan harus mendengar semua itu.


"Udah, udah. Ngapain sih ribut? Kita kesini kan niatnya mau cari makan." saran Erwan.


"Kita cari makan di tempat lain aja Wan." ucap Aris seraya beranjak dari tempat itu.


"Loh Ris, mau kemana lagi? Aku udah lapar nih." Erwan mengejar Aris.


Saat Indra merasa teman lettingnya itu sudah jauh.


"Maaf ya Mbak."


"Maaf buat apa Om?"


"Maaf karena tidak sengaja libatin Mbak."


"Nggak apa apa kok Om, santai saja."


"Maaf karena Mbak harus dengar kata kata yang tidak pantas tadi."


"Tidak pantas yang mana Om?? Yang bilang kalo Om Indra ini banyak TTMan nya ya??" gurau Kinan.


"Mbak itu nggak bener kok, mereka salah paham saja." bela Indra.


("Pasti dia udah mikir aku ini seorang playboy") batin Indra.


Saat selesai makan.


"Berapa semua mas?" tanya Indra.


"Ehh, nggak usah Om. Aku bayar sendiri saja." tolak Kinan sembari membuka dompet.


"Saya kan punya hutang Mbak."


"Hutang?? Hutang apa??"


"Dulu Mbak kan pernah ngajak saya makan, waktu saya jemput Mbak di Bandara."


"Ohh, itu kan sudah lama Om." Kinan baru ingat. "Lagian aku nggak menganggap itu hutang kok, aku cuma bercanda."


"Minimal saya juga mau traktir Mbak makan." jelas Indra.


Kinan sejenak terdiam, dia merasa tidak enak karena sudah merepotkan Indra dan sekarang Indra harus mentraktirnya makan.


"Boleh kan Mbak?" tanya Indra membuyarkan lamunan Kinan.


"Tapi nanti saya jadi hutang lagi dong?" sahut Kinan.


"Nggak kok. Kan sudah impas Mbak." jawab Indra.

__ADS_1


"Hemm, ya udah kalo gitu." Kinan pasrah. Dia malas berdebat hanya karena urusan makan.


Indra pun membayar apa yang tadi mereka makan, dan melanjutkan perjalanan mengantar Kinan pulang.


Saat dalam perjalanan, Kinan kembali menutup mulutnya. Dia lebih banyak diam.


("Kenapa dia diam sekali? Apa dia memikirkan perkataan Aris tadi?") pikir Indra.


Setibanya di depan rumah nenek.


"Terima kasih ya Om." ucap Kinan seraya melepas jaket dan helmnya Indra yang tadi dia kenakan.


"Iya Mbak, sama sama." balas Indra.


Kinan pun masuk ke dalam rumah. Terlihat Indra masih terus memandangi Kinan yang semakin menjauh darinya.


(Ya Allah...Bagaimana ini??") batin Indra yang seakan mulai bingung. Dia menghela napas berkali kali dan pada akhirnya beranjak pergi.


"Jadi sakitnya Pak Rachmat kambuh Nek?" Kinan terkejut saat mendengar penjelasan Nenek.


"Iya Nak. Tadi Nenek di hubungi sama Rumah Sakit kalau Pak Rachmat tadi sempat pingsan waktu beristirahat di sebuah pom bensin. Sama warga di bawalah ke Rumah Sakit."


"Astaghfirullahal'adzim.Terus, terus sekarang gimana kondisinya Pak Rachmat Nek? Istrinya udah tahu kan?" Kinan khawatir.


"Udah, tadi istrinya Pak Rachmat langsung menyusul ke Rumah Sakit. Sekarang kondisinya Alhamdulillah sudah baikan."


"Alhamdulillah kalo gitu Nek. Aku saja tadi sempat berfikir yang macem macem."


"Makanya jangan negatif thingking dulu." nasihat Nenek.


"Wihh bahasanya Nenek, gaul loh pakai Bahasa Inggris." sindir Kinan.


"Iya dong, siapa dulu cucunya." puji Nenek. "Tapi meski sudah baikan, Pak Rachmat masih belum boleh kerja dulu."


"Iya nggak apa apa kok Nek, mulai senin Kinan bisa naik angkutan umum saja." jawab Kinan tersenyum agar tidak membuat Neneknya khawatir.


"Emang kamu udah hafal jalan?? Nggak takut di sasarin??" Nenek khawatir.


"Nggak mungkin nyasar lah Nek. Kan tiap angkutan umum biasanya ada tulisan, jurusan Malang gitu. Terus turun deh di terminal Malang." jelas Kinan.


"Terus ke Rumah Sakitnya naik apa?"


"Banyak Go*jek atau Gr*ab Nek."


"Beneran yakin bisa naik angkutan umum?"


"Yakin." jawab Kinan berusaha meyakinkan Nenek.


"Ya udah kalo gitu. Ohh iya, mana orang yang tadi nganterin kamu pulang?" Nenek melupakan sesuatu.


"Udah pulang." jawab Kinan cuek.


"Loh kok nggak di suruh masuk dulu sih?"


"Nggak usah Nek. Lagian ini sudah malem, nggak enak di liatin tetangga kalo ada cowok masuk ke dalam rumah."


"Ya nggak usah masuk ke dalam rumah, kan bisa duduk di teras. Kasih minuman atau apa gitu Nak."


"Udah terlanjur pulang dianya Nek." Kinan cuek.

__ADS_1


"Ihh, nih anak kok nggak peka sekali sih." ejek Nenek. Kinan pun tersenyum.


"Aku ngantuk Nek, aku masuk kamar dulu ya." pamit Kinan.


__ADS_2