
Dan tibalah waktunya tes pemeriksaan kesehatan. Pagi itu mereka sudah sampai di Klinik Pusat untuk melakukan tes kesehatan. Ternyata bukan hanya mereka yang ada disana, beberapa pasangan lainnya pun sudah berjajar disana untuk menunggu giliran. Kinan dan Indra pun duduk bersama di sebuah bangku di area tengah.
Melihat ekspresi Kinan yang tegang membuat Indra tersenyum. Dia pun menggenggam tangan sang istri.
"Santai aja, sayang." ucap Indra yang berusaha menenangkan istrinya. Kinan pun tersenyum, meski di dalam hatinya sebenarnya dia sangat tegang.
Tak lama kemudian, nama Indra pun di panggil. Kinan masuk ke dalam sebuah ruangan dan di temani oleh Indra.
Pemeriksaan pertama yang harus Kinan jalani adalah pemeriksaan darah dan tes urin (tes kehamilan). Setelah di ambil darahnya, Kinan di berikan sebuah pot urin kecil untuk wadah menampung urinnya.
Indra menemani Kinan ke kamar mandi.
"Ngapain ngikutin sampe sini sih??" tanya Kinan pada Indra yang masih membuntutinya.
"Ya nggak apa apa, Mas kan cuma mau jagain Adek aja."
"Tapi kan nggak usah sampe kesini juga. Sana, Mas jauh jauh." Kinan mendorong lembut Indra.
"Ehh, Dek. Tunggu dulu deh."
"Kenapa lagi??"
"Kita beneran belum pernah ngelakuin itu kan?? Waktu terakhir di rumah nenek, kita nggak ngapa ngapain kan??" Indra mencoba menggoda Kinan agar tidak terlalu tegang.
"Ihh, apaan sih Mas??" ucap Kinan malu.
"Ya kali aja kan waktu itu Mas nggak sadar dan akhirnya kebablasan, nanti hasil tes kehamilannya positif lagi." canda Indra.
"Ihh, Mas Indra?!!" celetuk Kinan.
"Tapi ya nggak apa apa juga sih kalo positif, itu berarti kan anaknya Mas." sahut Indra lagi.
"Udah, udah ahh. Sana, sana. Makin tambah ngaco lagi kalo deket sama Mas." Kinan mendorong Indra jauh jauh darinya.
Dari kejauhan terlihat Indra tersenyum bahagia saat berhasil menggoda sang istri.
Tak beberapa lama kemudian Kinan pun keluar dari kamar mandi sambil membawa pot yang sudah berisi urin miliknya. Tanpa pikir panjang, Indra mengambil pot itu.
"Loh, kok di ambil sih??"
"Emangnya kenapa??"
"Itu kan jorok." ucap Kinan heran.
"Nggak pun, nggak jorok sama sekali." ucap Indra santai.
Indra pun pergi menyerahkan pot kecil itu ke tempat pemeriksaan laboratorium.
Setelah beberapa saat berselang, hasil pemeriksaan pun keluar.
"Loh, kok negatif sih." ucap Indra dengan ekspresi yang pura pura kecewa.
"Ihh, Mas ini apaan sih??"
"Berarti Mas kurang semangat nih. Nanti kita coba lagi ya sayang." goda Indra sembari mengedipkan matanya.
"Tau ahh, gelap." kesal Kinan.
Indra pun tertawa bahagia saat melihat sang istri yang sedang kesal itu.
"Nah, sekarang udah nggak tegang lagi kan??" tanya Indra.
Ternyata sedari tadi Indra berusaha untuk menghilangkan rasa tegang yang ada pada diri Kinan. Kinan yang mendengar hal itu pun ikut tersenyum.
Pemeriksaan selanjutnya, adalah pemeriksaan penyakit dalam. Di sebuah ruangan terdapat Dokter Bedah perempuan dan seorang asisten perawat yang siap untuk memeriksa Kinan.
Kinan naik ke atas meja pemeriksaan, dan Indra setia menunggu di depan meja Dokter.
"Tolong lepas bajunya, Bu." pinta si Dokter.
Indra yang mendengar itu pun langsung mengalihkan pandangannya ke arah yang berlawanan dari meja pemeriksaan. Untung saja ada sebuah sketsel pembatas, jadi Indra tidak tahu apa yang sedang di lakukan di dalam sana.
Namun meski tidak dapat melihat, tapi otak Indra seketika langsung travelling saat mendengar kata kata si Dokter.
"Bagus. Ini *********** normal, bentuk juga normal, tidak ada tanda tanda penyakit payudara." jelas si Dokter.
Terlihat Indra berkali kali menghela napas. Dia tidak mau si junior akan lepas kendali saat membayangkan sesuatu yang tidak seharusnya dia bayangkan. Ya, meskipun mereka sudah halal sih.
Setelah selesai pemeriksaan, mereka pun kembali menunggu di luar.
__ADS_1
"Kenapa dari tadi Mas diam terus??" tanya Kinan heran saat melihat sang suami hanya diam.
"Ng..ngg..nggak Dek. Nggak apa apa." jawab Indra canggung.
Indra diam bukan karena malas bicara, tapi dia masih terngiang kata kata Dokter Bedah tadi yang membuat otaknya jadi travelling kemana mana.
Nih otak bisa nggak sih di ajak kerja sama dikit. Gumam Indra kesal.
Saat mereka menunggu pemeriksaan selanjutnya, dia melihat ada sepasang orang yang terlihat marah marah dan membuat sang calon istri menangis saat keluar dari sebuah kamar pemeriksaan. Membuat semua pandangan orang tertuju pada mereka.
Indra pun penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Itu kenapa, Dek??" tanya Indra pada seorang Pratu yang saat itu juga mengurus pengajuan.
"Siap, Bang. Itu pengajuannya bermasalah."
"Bermasalah gimana maksudnya??"
"Siap, Bang. Sepertinya si calon istri sudah tidak perawan. Dan lelaki itu tidak merasa pernah melakukan dengan calon istrinya itu." jelas Pratu itu.
"Emang kalo sudah nggak perawan jadi bermasalah??"
"Tidak juga sih, Bang. Sepertinya sih asalkan yang memerawani dia adalah si prajurit, nggak akan jadi masalah." imbuhnya.
Indra pun seketika baru ingat kata kata Erwan dan Aris yang pernah menjelaskan tentang pemeriksaan keperawanan.
Gimana caranya aku menjelaskan?? Apa seharusnya aku tanya pada Kinan?? Aku takut dia malah akan salah paham.
"Tadi itu kenapa, Mas??" tanya Kinan penasaran.
"Ehm, itu.. Mereka, ehm, mereka...." Indra ragu untuk menjelaskan.
Kinan pun menunggu penjelasan Indra.
"Ehm, pengajuan mereka bermasalah Dek."
"Kenapa bisa gitu??"
"Karena, karena si perempuan sudah nggak perawan." ucap Indra dengan suara berat. Kinan yang mendengar hal itu pun heran.
"Kenapa kesucian perempuan masih aja di nilai dari keperawanannya?? Padahal keperawanan itu kan bisa saja pecah bukan hanya dari melakukan hubungan saja. Bisa dari aktifitas fisik, atau pun cedera jatuh yang pernah dia alami." jelas Kinan.
"Ohh." jawab Kinan singkat.
"Ehmm, Dek. Mas mau tanya sesuatu??"
"Tanya apa??" tanya Kinan serius.
"Sebelumnya Mas cuma mau bilang kalo Mas itu sayang banget sama Adek. Mas akan nerima Adek apa adanya." ucap Indra seraya menggenggam tangan sang istri.
"Maka dari itu Mas harap Adek bisa jujur, apapun yang terjadi Mas akan nerima Adek apa adanya sayang."
Kinan menyimak apa yang akan Indra katakan selanjutnya.
"Ap..app..apa..Adek pernah ngelakuin itu??"
Tiba tiba pertanyaan itu pun sontak membuat Kinan terkejut.
"Mas, aku........."
"Maaf kalo Mas tanya seperti ini. Mas cuma nggak mau pengajuan kita bermasalah. Mas mau kita secepatnya menikah Dek. Mas mau kita secepatnya bisa tinggal bersama, membangun keluarga kecil yang bahagia. Persetan dengan perawan atau tidak, Mas akan tetap menerima Adek apa adanya." ucap Indra yang memotong kata kata Kinan. Dia hanya ingin menjelaskan seberapa besar cintanya untuk sang istri.
Mendengar kata kata itu, Kinan pun menunduk. Dia seakan ingin menangis dan menenggelamkan kepalanya.
Paham akan maksud Kinan, perlahan Indra pun memeluk tubuh sang istri.
"Nggak apa apa sayang, nggak apa apa. Mas sayang sama Adek, Mas terima Adek apa adanya. Semua orang pasti punya masa lalu, dan masa depannya Adek hanya milik Mas." ucap Indra memeluk hangat sang istri.
Betapa besar cinta untuk sang istri.
Tak lama berselang, nama Indra pun di panggil. Terlihat Kinan seakan berat melangkahkan kakinya memasuki ruangan tersebut.
"Nggak apa apa, sayang. Ada Mas, nggak usah takut." ucap Indra menggenggam erat tangan sang istri.
Perlahan Kinan bersama Indra memasuki ruangan tersebut. Seorang Dokter Kandungan perempuan sudah bersiap di dalam ruangan itu.
"Silahkan naik ke meja pemeriksaan, Bu." pinta si Dokter.
Sejenak terlihat Kinan memandangi Indra. Indra pun tersenyum dan menganggukan kepalanya seakan berkata 'Nggak apa apa, ada Mas disini. Mas yang akan menangani semuanya.'
__ADS_1
Dengan langkah berat, Kinan pun menaiki meja pemeriksaan.
"Tolong buka rok dan ****** ******** ya??" pinta si Dokter.
Indra pun segera memalingkan wajahnya ke arah yang berlawanan.
"Pakai selimut ini dulu ya?? Tolong angkat sedikit bokongnya." pinta si Dokter memulai pemeriksaan.
"Auwhh!!" Kinan memekik kesakitan.
Saat Indra sudah bersiap untuk mengatakan.
"Maaf Dokter, sebenarnya kami sudah pernah..........."
"Bagus." tiba tiba si Dokter menghentikan kata kata Indra.
Bagus?? Apanya yang bagus?? Gumam Indra.
"Bagus. Utuh. Nggak ada robek sama sekali." jelas si Dokter.
"Loh, mak..maksudnya??" tanya Indra bingung.
Saat Dokter kembali duduk di depan meja dan menghadap Indra.
"Bagus. Selaput darahnya masih utuh."
"Masih utuh??" Indra masih heran. Dia pun menoleh ke arah Kinan yang sudah memakai roknya kembali, dan duduk di samping Indra.
"Iya. Calon istri Anda masih perawan." jelas si Dokter.
Indra yang mendengar hal itu sedikit terkejut dan tersenyum. Antara bingung dan heran. Kinan yang melihat ekspresi Indra itu pun malah tersenyum.
"Jarang loh ada perempuan yang bisa menjaga kesuciannya." ucap si Dokter tersenyum.
"Ini surat untuk ke Batalyon tentang hasil pemeriksaan kesehatan calon istri Anda. Dan semua hasilnya bagus." jelas si Dokter seraya memberikan dua buah amplop berisikan hasil pemeriksaannya kepada Indra.
Setelah keluar dari ruang tersebut, terlihat Kinan senyum senyum sendiri seakan menertawai Indra.
"Ohh gitu ya sekarang, mau ngeprank nih ceritanya??" ucap Indra.
"Ihh, siapa juga yang mau ngeprank." Kinan tersenyum.
"Nah itu tadi buktinya."
"Aku kan nggak bilang apa apa. Cuma nundukkin kepala doang. Mas Indranya aja yang mikirnya gitu." Kinan tersenyum licik.
"Hemm, awas yaa."
Kinan pun menjulurkan lidahnya seperti anak kecil yang berhasil mengerjai temannya.
Saat berada di dalam mobil. Tiba tiba Indra memegang tangan Kinan.
"Terima kasih ya sayang." ucap Indra tersenyum.
"Terima kasih buat apa??"
"Terima kasih karena sudah menjaganya untuk Mas."
"Ihh, Pede. Siapa bilang aku menjaganya untuk Mas??" celetuk Kinan.
"Terus mau untuk siapa lagi?? Suaminya Adek kan Mas." Indra cemberut.
"Ehmm, gitu ya??" Kinan pura pura bego.
"Ya iya lah. Mas kan suaminya Adek, jadi Mas lah akan menjadi yang pertama buat Adek."
"Ehmm, nggak bisa janji deh." gurau Kinan.
"Lama lama kok makin mengkhawatirkan ya istriku ini. Sepertinya malam ini harus segera Mas ambil deh."
"Hahahahaha." Kinan tertawa lepas. "Janganlah, kan belum nikah KUA."
"Tapi kan sudah ngelewati tes kesehatan, jadi aman." tawar Indra.
"Nggak ahh, nggak mau." tolak Kinan tersenyum.
"Hahh, puasa lagi dehh." celetuk Indra dengan nada nakal.
Mereka pun keluar dari Klinik Pusat.
__ADS_1