Cinta Sang Ajudan

Cinta Sang Ajudan
Kepergian


__ADS_3

Berbeda dengan Kinan yang dalam keadaan suka cita karena kehadiran sang buah hati.


Di tempat meledaknya truk yang di kendarai Indra. Truk itu benar benar hangus dan tak tersisa apa pun. Bagaimana tidak?? Ledakan granat tidak akan bisa di hindari.


Sang Komandan yang melihat hal itu pun seketika langsung frustasi. Tatapannya kosong, dia tak percaya akan kejadian yang menimpa anak buahnya itu. Terlihat sang Komandan menghela napas berkali kali, telapak tangannya menutup kedua matanya.


Mereka semua pun kembali, melaporkan kejadian yang barusan terjadi.


Seketika kabar itu pun sampai di telinga sang mertua. Di tengah kebahagiaan Kinan, dia tidak mungkin menyampaikan berita duka itu pada sang anak.


"Bagaimana ini, Pah?? Kita harus ngomong apa sama Kinan??" tanya Mama kuatir. Namun Papa terdiam.


Mereka sedang berada di depan kamar rawat inap Kinan, dia melihat dari balik kaca Kinan sedang berbahagia. Dia menggendong dan berusaha memberikan ASI pada sang anak.


"Kasian anak dan cucuku, Pah." Ucap Mama menangis.


Papa pun hanya bisa memeluk sang istri dan mengusap pundaknya.


"Sabar, Mah. Sabar. Ini semua ujian terbesar buat kita. Bukan hanya kita, tapi untuk Kinan." jelas Papa.


Suara tangisan Mama pun semakin keras, membuat Kinan yang berada di dalam rawat inap pun terkejut. Dia menoleh ke luar kamar.


Kenapa Mama menangis?? Pikir Kinan. Namun dia cuek, saat ini dia sedang sangat bahagia.


Mas, pangeran kecilnya Mas udah lahir nih. Wajahnya persis banget sama Mas. Ini buah cintanya kita.


"Ayah, cepet pulang ya?? Dedek mau ketemu Ayah juga kan??" tanya Kinan menyapa sang anak.


Dia mengusap lembut kepala sang anak, memberikan ciuman hangat di keningnya. Senyumnya tak pernah padam semenjak si bayi hadir. Senyuman itu selalu terpancar dari wajahnya yang membuatnya semakin cantik.


Dia pun memeluk hangat bayi lelaki itu. Bayi yang begitu mungil dan lembut.


Beberapa jam kemudian kabar itu pun terdengar sampai ke telinga orang tua Indra. Kebetulan saat itu mereka berdua sudah sampai di rumah sakit.


"Gimana ini, Yah?? Gimana keadaan Indra sekarang??" sang Ibu menangis tersedu sedu, setelah beberapa saat yang lalu beliau sempat pingsan.


"Kita berdoa saja ya, Bu. Semoga saja Indra tidak apa apa." jawab Bapak berusaha menegarkan istrinya, padahal sebenarnya di dalam hatinya juga hancur saat mendengar berita itu.

__ADS_1


Papa Kinan berupaya mencari informasi tentang keadaan sang menantu. Tapi yang dia dapatkan hanyalah kekecewaan. Mereka berkata 'Indra ikut hangus terbakar bersama dengan truk yang dia kendarai.'


Kabar yang tak sanggup dia jabarkan kepada anak dan besannya. Dia tak tahu harus menjawab seperti apa. Kedua besannya pun menunggu nunggu setiap kata yang akan keluar dari mulutnya. Namun Papa Kinan bingung akan mulai menjawab dari mana.


"Pah, gimana katanya??" tanya Mama penasaran.


"Mah.., itu..itu..." jawab Papa ragu.


"Truk yang di kendarai Indra hangus terbakar." ucap Papa dengan sangat berat.


"Terus gimana keadaan Indra??" sahut Ayah.


"Ehmm, pintu... Pintu truknya masih tertutup rapat. Jadi.., jadi kemungkinan Indra ikut terjebak di dalam truk itu."


"Ya Allah?!!!!!" ucap semua orang yang ada di dalam ruangan itu.


"Gimana ini, Yah?? Gimana anak kita bernasib malang seperti ini???" sang Ibu sudah tak tahan lagi.


Tangisannya makin kencang. Begitu pula Mama, dia tak sanggup membayangkan bagaimana jika Kinan mengetahui hal itu. Namun saat berada dalam keterpurukan, tiba tiba saja.


"Pa..., Papa...,, tadi bilang apa??" sebuah suara muncul dari belakang mereka.


"Papa.., tadi bilang apa Pah?? Mas Indra kenapa, Pah??" tanya Kinan sedikit ragu.


"Indra..., Indra.., dia...."


"Pah, cepet jawab. Mas Indra kenapa??" Kinan meninggikan suaranya. Dia penasaran dengan apa yang tadi dia dengar.


"Apa benar mas Indra kecelakaan??" tanya Kinan yang tak percaya.


Namun tak ada satu pun yang berani menjawab. Semua orang hanya bisa terdiam.


"Kenapa semua diam sih?? Ayoo, jawab. Suamiku kenapa?? Apa yang sebenarnya terjadi sama suamiku?!!" bentak Kinan.


Perlahan Papa pun mendekat ke arah Kinan. Dia ingin menenangkan sang anak yang kelihatan sangat emosi.


"Nggak usah dekat dekat, Pah." Kinan berusaha menghindar.

__ADS_1


"Jawab aja pertanyaan Kinan. Apa yang terjadi sama suamiku?? Apa yang tadi Papa katakan itu benar??" selidik Kinan.


Terlihat Papa menghela napas, dan kemudian dia menganggukkan kepalanya. Seketika Kinan pun histeris. Kakinya tak mampu menopang tubuhnya lagi, dia pun hampir terjatuh di lantai. Namun beruntungnya sang Papa menangkap tubuh anaknya itu.


"Nggak, Pah. Papa pasti bohong kan?!! Papa pasti bohong!!! Mas Indra udah janji bakal pulang. Mas Indra juga janji bakal ngasih nama untuk anak kita. Mas Indra nggak mungkin ingkarin janji itu, Pah." ucap Kinan histeris. Matanya memerah, dia tak sanggup menerima kenyataan itu. Dan seketika Kinan pun pingsan.


Beberapa saat kemudian, terlihat Kinan sudah kembali tidur di atas bednya. Seluruh keluarga sudah berjajar lengkap di samping Kinan. Mereka tak ingin Kinan kenapa kenapa. Di tambah lagi dia sekarang mempunyai seorang bayi.


Perlahan tapi pasti, Kinan pun membuka matanya. Tatapannya sayu mengingat kejadian yang barusan dia alami. Saat kembali mengingat, Kinan pun kembali menangis.


Dengan hangat, sang Mama meluk putrinya itu.


"Sabar, Nak. Sabar, sayang." ucap Mama dengan air mata yang juga ikut mengalir. Hanya itu kata kata yang bisa beliau ucapkan. Karena Mama yakin, saat ini Kinan berada di fase yang sangat terpuruk.


Melihat Kinan yang semakin menangis histeris, membuat sang Ibu pun tak tega melihatnya. Dia ikut memeluk menantunya itu. Pelukan dari dua bidadari tak bersayap itu, di harapkan bisa sedikit membuat hati Kinan tenang.


"Gimana Kinan sekarang, Bu?? Nggak ada lagi suami yang akan menjaga Kinan. Gimana nasib anak kami tanpa seorang Ayah??" tanya Kinan mulai meracau.


"Sabar ya sayang. Masih ada kami yang akan selalu menemani Kinan."


"Ibu yakin, Indra disana juga pasti akan senang melihat anak kalian yang sudah lahir dengan selamat." imbuh Ibu.


Kinan tak henti hentinya menangis. Dia mengingat semua janji dan perkataan Indra. Dia benar benar tak sangup jika harus menerima kenyataan sepahit ini.


"Ibu paham bagaimana perasaan Kinan sekarang, bahkan Ibu sendiri yang melahirkan Indra pun tak bisa menerima kenyataan ini. Apalagi Kinan yang seorang istri." ucap Ibu sembari mengusap kepala Kinan.


"Tapi kini Kinan nggak sendirian, ada bayi yang juga butuh perhatian dari Ibunya. Dia masih sangat membutuhkan kehangatan sang ibu, membutuhkan kasih sayangmu Nak." Ibu memberi petuah.


.


Beberapa hari kemudian Kinan dan bayinya pun di perbolehkan pulang. Tak bisa di pungkiri, kesedihan masih bergelayut di batin Kinan. Namun orang tua dan sang mertua pun selalu menemani Kinan agar dia tidak sampai berbuat yang macam macam.


Meski tatapan Kinan masih kosong dan masih di selimuti kepedihan, tapi dia tak meninggalkan kewajibannya sebagai seorang Ibu. Dia masih tetap mengurus bayinya, menyusuinya bahkan mengajak si bayi bicara meski pun terkadang ada tetesan air mata yang mengalir dari pelupuk matanya.


Wajah anaknya sangat mirip dengan Indra. Membuatnya selalu merindukan sang suami.


Saat berada di dalam kamar, dia selalu mengingat setiap kemesraan yang Indra lalukan padanya. Bahkan tawa canda, dan pertengkaran kecil masih lekat dalam ingatannya.

__ADS_1


Sesekali Kinan membuka lemari Indra, menciumi bahkan memeluk pakaian sang suami. Bau parfum sang suami yang masih melekat, membuatnya semakin merindukan Indra.


Bahkan tak jarang saat tidur, Kinan membawa baju itu di pelukannya. Berharap jika saat tidur, dia bisa bermimpi akan kehadiran sang suami.


__ADS_2