Cinta Sang Ajudan

Cinta Sang Ajudan
Perjanjian


__ADS_3

Setelah makan, mereka pun menuju ke sebuah tempat wisata keluarga yang terkenal di daerah Batu.


Disana di suguhkan dengan pemandangan alam yang sangat cantik. Karena hawa di luar sangat dingin, orang tua Indra memutuskan untuk duduk santai di dalam cafe saja sekalian menyeruput kopi hangat.


Berbeda dengan Kinan dan Indra yang lebih memilih diluar untuk menikmati pemandangan indah itu.


Meski saat itu menjelang malam, namun suasana disana terlihat sangat tenang. Hanya ada beberapa orang yang duduk santai melihat pemandangan.


"Haaa... Seger banget liat pemandangan ini." ucap Kinan seraya menghirup udara segar alam pegunungan itu.


Namun seketika tiba tiba saja sebuah jaket menutupi tubuh Kinan. Sebuah slayer pun tak luput melingkar di lehernya.


"Mas??" ucap Kinan.


Terlihat Indra memeluk sang istri dari belakang dan melempar senyuman padanya. Tangan Indra melingkar di leher Kinan. Kepala mereka pun saling bersandar.


"Pemandangannya bagus ya, Mas. Aku seneng banget bisa kesini lagi." ucap Kinan.


"Emangnya Adek pernah kesini??"


"Pernah."


"Sama siapa??" tanya Indra curiga.


"Ada deh." sahut Kinan.


Dia tak ingin mengatakan jika saat itu dia bersama Niko. Kinan tidak ingin membuat Indra cemburu.


"Hayoo sama siapa??" Indra makin penasaran.


"Sama temen kok, Mas."


"Temen yang mana?? Ana??"


"Ya temen deh. Mas nggak perlu tau, toh itu juga udah berlalu." ucap Kinan.


"Ohh, Mas tau."


Seketika Indra pun melepas pelukannya.


"Siapa??" tanya Kinan seraya berbalik menghadap Indra.


"Orang yang awalnya mau di nikahkan sama Adek itu kan??" selidik Indra dengan nada yang cemburu.


Kinan tak menjawab, dia hanya tersenyum pada sang suami.


Sebaliknya, Indra hanya menampakkan wajahnya yang tidak senang.


"Hei, kok diam aja Mas." Kinan berusaha mengalihkan Indra.


Namun Indra masih saja cemberut. Dia seakan cemburu dengan apa yang pernah terjadi pada Kinan dan Niko. Meskipun memang tak pernah ada sesuatu antara mereka, namun jika mengingat ada pria lain yang sangat mencintai istrinya membuat hati Indra seakan ingin meledak.


"Mas Indra??" panggil Kinan manja.


Namun Indra tetap saja tak bergeming. Dia hanya melirik sebentar sang istri, kemudian melempar pandangannya ke arah yang berlawanan. Kinan pun bingung dengan sikap Indra yang tiba tiba berubah. Tapi sebagai istri, Kinan paham apa alasan sang suami menjadi dingin.


Kinan pun mengambil sikap. Dia tiba tiba mendekat ke arah suami. Saat berada di depan sang suami, dia pun mencubit pipi Indra. Cubitan yang lembut dari seorang istri.


"Suamiku, jangan marah ya. Aku dan Niko udah nggak ada hubungan lagi. Sekarang aku kan udah jadi istrinya Mas." ucap Kinan berusaha menenangkan Indra.


Namun Indra masih saja tak bergeming.

__ADS_1


"Hemm, masih marah ya Mas??" tanya Kinan murung.


Seketika Indra pun menggapai tangan Kinan yang sedang mencubit pipinya.


"Mas bukan marah sama Adek, Mas cuma cemburu karena ada pria lain yang mencintai istrinya Mas. Pria lain yang bahkan dia lebih berkuasa dari pada Mas." jelas Indra.


"Kok bahas itu lagi sih??" ucap Kinan tak suka.


Tiba tiba Indra pun membelai pipi Kinan. Dia melihat lekuk wajah sang istri dengan seksama.


"Mas cuma takut Dek. Takut akan ada orang yang akan merebut istrinya Mas ini." ucap Indra.


Terlihat jelas dari kata katanya jika Indra sangat tak ingin kehilangan Kinan.


"Nggak usah berfikiran yang macem macem Mas. Kita jalani aja yang sekarang. Toh kita juga baru aja sehari nikah." ucap Kinan tersenyum.


"Lagian setiap orang pasti punya masa lalunya sendiri sendiri. Tak terkecuali Mas , Mas pasti punya banyak kenangan di masa lalu kan??" imbuh Kinan.


"Jadi biarkan saja masa lalu hanya sebatas masa lalu, dan masa depan adalah milik kita berdua."


"Iya Dek." Indra pun membalas senyuman dan memeluk hangat sang istri.


Masa lalunya Mas terlalu kelam untuk di ingat Dek. Sampe sekarang aja Mas takut untuk mengungkap masa lalunya Mas. Mas takut Adek akan membenci Mas saat tahu semuanya. Karena Mas yakin, Adek pasti nggak mau berhubungan lagi dengan Mas. Bahkan mungkin Adek akan jijik sama Mas. Dan akan langsung ninggalin Mas. Gumam Indra. Entah rahasia besar apa yang Indra maksud.


"Dek." panggil Indra yang sedang memeluk sang istri.


"Hemm."


"Adek janji kan, Adek akan selalu nemenin Mas. Adek akan selalu ada di sampingnya Mas apapun yang terjadi ke depannya." pinta Indra.


"Iya." jawab Kinan santai.


Tiba tiba Kinan pun langsung melepas pelukan Indra. Dia menatap tajam sang suami.


"Iya, sayang." jawab Indra mengusap lembut kepala sang istri.


"Kalo itu nggak usah di ragukan lagi. In Shaa Allah Mas akan selalu setia dan berusaha menjaga kesucian pernikahan ini Dek." Indra meyakinkan.


"Beneran nih??" tanya Kinan pura pura ragu.


"Untuk apa Mas sampe berkorban nyawa ngadepin Papa, kalo pada akhirnya Mas akan merusak apa yang telah Mas perjuangkan." kata kata bijak Indra yang membuat Kinan yakin akan kesungguhan sang suami.


"Mas memang nggak bisa menjanjikan apa apa buat Adek. Tapi sebagai suami, Mas akan berusaha untuk tidak membuat istrinya Mas ini menangis." imbuh Indra.


Kata kata itu membuat Kinan terharu. Kata kata tulus yang Indra ucapkan.


"Oh iya, Mas ada sesuatu buat Adek."


"Apaan??" Kinan penasaran.


"Tunggu sebentar disini ya, Mas ambilkan dulu." ucap Indra seraya berlari menuju ke tempat parkiran.


Dia pun mengambil sebuah tas ransel loreng yang memang sedari tadi dia bawa dari mess. Indra memberikan tas ransel itu pada Kinan.


"Apa ini Mas??" tanya Kinan penasaran.


"Coba Adek buka aja."


"Kok kayaknya berat banget sih Mas." ucap Kinan sambil membuka tas ransel itu.


Tanpa di duga ternyata di dalan tas ransel itu ada sebuah boneka bantal berbentuk lumba lumba yang Indra bawa jauh jauh dari Sumatera saat dia bertugas kemarin.

__ADS_1


Kinan pun terkejut melihat boneka bantal itu.


"Mas, kok bisa tau sih kesukaanmya Adek??" ucap Kinan terharu.


"Ya bisa lah. Mas kan suaminya Adek." jawab Indra bangga.


"Kasian loh nih lumba lumba, jauh jaub datang dari Sumatera."


"Mas beli ini di Sumatera??"


"Iya." jawab Indra santai.


"Ya Allah Mas. Adek kan udah bilang, Adek nggak butuh oleh oleh."


"Ini bukan oleh oleh kok, sayang. Dia sendiri aja yang pengen ngikut sampe ke Jawa. Katanya sih pengen jagain di saat Adek lagi tidur." goda Indra.


"Hemm, modus." sahut Kinan.


"Emang Mas bisa bawa boneka bantal ini?? Mas masukkin kemana nih bantal dari Sumatera??"


"Mas masukkon ke bagasi." jawab Indra santai.


"Terus Komandan tau dong." selidik Kinan.


"Ya pasti tau lah."


"Terus Komandan bilang apa??"


"Ya nggak bilang apa apa. Beliau pasti udah ngerti kok Mas belikan boneka bantal ini untuk siapa." jelas Indra.


"Terus Mas nggak malu??"


"Awalnya sih malu. Tapi ya udah lah cuek aja."


Kinan benar benar tidak habis pikir bagaimana jalan pikirannya Indra. Yang dia tahu seorang tentara itu sangat menjunjung tinggi harga dirinya. Tapi entahlah dengan lelaki yang ada di hadapannya sekarang. Dia sama sekali tak bisa menebak jalan pikiran suaminya itu. Ya, mungkin karena dia terlalu bucin.


"Oh iya, ada satu lagi tuh di dalam." imbuh Indra.


"Apalagi??" tanya Kinan.


Dia pun membuka isi tas ransel itu. Dan ternyata Kinan menemukan satu set perlengkapan Persit. Ada kain PSH plus jilbabnya, sepatu, tas dan lencana Persit.


"Ini???"


"Iya. Ini adalah perlengkapan untuk menjadi seorang Persit. Awal mula yang harus kita persiapkan sebelum melangkah ke pengajuan." jelas Indra.


"Selamat berjuang Ibu Persitku." ucap Indra tersenyum hangat.


Perlengkapan Persit adalah salah satu cara mengungkapkan isi hati seorang prajurit untuk meminang sang gadis.


Ada kalanya seorang prajurit bukanlah tipe pria yang bisa mengungkapkan sebuah kata kata manis. Jadi saat menyukai seorang gadis, biasanya seorang abdi negara akan langsung memberikan satu set perlengkapan Persit pada sang perempuan sebagai bukti keseriusannya.


"Terima kasih ya, Mas." ucap Kinan.


"Sama sama, istriku." goda Indra. Kinan pun membalasnya dengan senyuman.


"Karena udah Mas kasih sesuatu, Mas boleh minta sesuatu nggak??" pinta Indra.


"Apaan tuh??" tanya Kinan memicingkan mata.


"Mas boleh nggak cium Adek??" tanya Indra meminta persetujuan.

__ADS_1


"Cium apa dulu nih??"


"Kalo cium bibir boleh??"


__ADS_2