Cinta Sang Ajudan

Cinta Sang Ajudan
Gunung Bromo


__ADS_3

Awalnya Kinan menolak, namun sekali lagi Indra tak menerima penolakan Kinan itu. Dia tetap memaksa Kinan untuk memakai sarung tangannya. Dia khawatir Kinan akan kedinginan.


Mereka pun berjalan menyusuri lautan pasir yang begitu luas. Pemandangan Gunung Bromo pun terlihat semakin dekat.


"Ini masih jauh ya Mas??" tanya Kinan yang sudah kelelahan.


"Ya, sebentar lagi kok."


"Haa...dari tadi ngomongnya sebentar sebentar terus. Sebentarmu itu yang kayak gimana sih??" tanya Kinan dengan nafas yang mulai tersengal.


"Sebentar lagi sampai kok." ucap Indra santai.


"Ya kalo Mas sih enak. Tenaga tentara, mau jalan 100 kilo pun nggak masalah." sindir Kinan. "Lah aku, jalan gak sampe 1 kilo aja udah capek."


Melihat Kinan yang mulai lelah, Indra pun tersenyum.


"Makanya sekali kali ikut Mas olahraga." ajak Indra.


"Iya deh, nanti nanti aja kalo ada niat." sahut Kinan.


Tak beberapa lama berjalan, mereka pun sampai di perbukitan kapur yang berada tepat di bawah gunung Bromo.


"Ini kita masih harus ngelewati ini nih??" tunjuk Kinan pada perbukitan kapur yang ada di depannya.


Indra hanya mengangguk.


"Haahh?? Yang bener aja." Kinan heran.


"Terus setelahnya kita harus menaiki tangga itu??" tunjuk Kinan pada tangga yang menuju ke kawah Gunung Bromo.


"Iya." jawab Indra tersenyum.


"Hahhhh???" Kinan tercengang. "Kenapa nggak sekalian aja kita muteri nih gunung??"


Indra mulai tak bisa menahan tawanya. Namun Kinan pun langsung menatapnya tajam.


"Ya udah nggak apa apa, kita jalan pelan pelan aja. Nanggung udah sampe sini, mau balik juga jauh." ucap Indra.


"Hah?? Iya deh."


Mereka pun mulai menaiki bukit berbatu itu. Bukit yang lumayan terjal, dan perlu sedikit tenaga untuk menaikinya.


Lama berjalan, Indra sesekali melihat ke araj Kinan. Melihat Kinan yang mulai kelelahan, dia pun mengulurkan tangannya.


"Sini, aku bantu untuk naik ke atas." ajak Indra.


"Nggak usah deh." jawab Kinan.


"Apa mau naik disini saja??" gurau Indra sambil menunjukkan punggungnya.

__ADS_1


"Ihh, apaan sih." Kinan menepuk punggung Indra dan berlalu. Namun tiba tiba Indra meraih tangan Kinan.


"Biar kamu nggak jatuh." ucap Indra.


Kinan yang melihat itu, tak bisa berkata apa apa. Dia bingung dengan sikap Indra yang begitu berubah.


Kemarin kemarin dia nggak kayak gini deh, kok sekarang makin berani ya.


Namun Kinan berusaha untuk berfikir positif. Dia berfikir mungkin Indra hanya ingin melindunginya.


Dengan sabar, Indra menuntun Kinan naik ke atas bukit berbatu itu. Bahkan dia memilihkan jalan yang tidak begitu terjal untuk Kinan lewati. Terlihat Indra beberapa kali berhenti hanya untuk menstabilkan nafas Kinan lagi.


Hingga akhirnya mereka pun sampai di atas gunung Bromo. Indra perlahan menuntun Kinan mendekat ke arah tepian untuk melihat kawah Gunung Bromo. Bau khas belerang langsung menusuk penciumannya.


"Jadi ngeri ngelihatnya." ucap Kinan saat melihat ke dalam cekungan yang ada di tengah Gunung Bromo.


"Jangan dekat dekat, bahaya." ucap Indra menahan Kinan agar tidak terlalu dekat dengan tepian pembatas.


Kinan hanya mengangguk. Saat itu Indra benar benar sangat menjaga Kinan. Tiap kali Kinan melangkah, Indra pasti selalu ada di depannya untuk menuntun.


"Ayo kita foto." ajak Kinan. Indra hanya mengangguk.


Mereka berdua pun berfoto bersama sambil menikmati keindahan ciptaan Allah yang sangat luar biasa. Pemandangan dari atas gunung Bromo yang cantik, membuai mereka dalam keindahannya. Rasa lelah yang tadi Kinan keluhkan, terbayar sudah dengan hamparan keindahan yang di suguhkan oleh Sang Maha Pencipta.


Setelah puas berfoto.


Dia melihat ada banyak orang yang menaiki tangga hendak naik ke Gunung Bromo. Kinan mengajak Indra turun, namun Indra mencegah.


"Disini saja dulu." tolak Indra seraya menarik tangan Kinan.


"Tapi disini semakin ramai loh." jawab Kinan.


"Ada sesuatu yang mau aku bicarakan." tiba tiba Indra mendadak serius.


"Bicara apa??" Kinan heran.


"Tapi aku minta tolong kamu jangan marah ya??"


"Marah?? Emang mau ngomong apa sih?? Serius amat."


"Ya kamu harus janji dulu nggak bakal marah kalo aku ngomong."


"Ngomong apaan?? Buruan." Kinan semakin tidak sabar.


"Janji ya nggak marah." Indra memastikan.


"He em." jawab Kinan singkat.


"He em apa??"

__ADS_1


"Ihh, ribet deh. Nggak usah ngomong aja deh sekalian." Kinan kesal. Melihat tingkah lucu Kinan, Indra hanya tersenyum.


Kinan pun berpaling menghadap kawah. Tubuhnya mendekat ke tepian pembatas sambil melihat ke dalam kawah Gunung Bromo.


"Kinan." panggil Indra.


"Hem." jawab Kinan dingin.


Namun tiba tiba dari belakang, sepasang tangan memagari tubuhnya. Kedua tangan itu memegang pagar pembatas, dan mengurung Kinan di dalamnya. Membuat Kinan tak bisa bergerak. Ya, meski pun tak berbalik tapi Kinan tahu itu adalah tangan Indra.


"Ap..app..appa apaan ini Mas??" tanya Kinan canggung.


"Aku suka sama kamu, Kinan."


Sontak Kinan terkejut mendengar kata kata itu. Matanya terbelalak mendengar pengakuan dari Indra.


Sejak kapan dia suka sama aku?? Kenapa dia malah kayak gini?? Bukannya kemarin kita biasa biasa saja. Bahkan bisa di bilang hubungan kami juga nggak terlalu dekat.


"Aku tau kamu pasti bingung dengan ucapanku yang mendadak ini. Mungkin kamu juga berfikir apa yang aku ucapkan ini hanya bercanda atau bualan saja." jelas Indra.


"Awalnya aku memang berharap seperti itu, namun semakin hari perasaanku itu semakin nyata. Bahkan sejujurnya aku cemburu saat melihat kedekatanmu dengan pria lain."


"Aku berfikir ini hanya perasaan sesaat saja, karena mungkin aku terlalu terbawa suasana. Aku bahkan sudah mencoba untuk jalan dengan cewek lain, tapi tetap nggak bisa. Kamu masih tetap ada di pikiranku, Kinan. Sebesar apa pun aku ingin melupakan perasaan itu, sebesar itu pula aku menginginkanmu." imbuh Indra yang seakan menahan tangis.


Kinan pun menghela napas mendengar ungkapan Indra.


"Kamu tau kan kalo aku sudah bertunangan sama Niko??" tanya Kinan.


"Iya, aku tau."


"Dan itu artinya cepat atau lambat kami akan menikah. Jadi aku harap kamu bisa menghilangkan perasaan itu." ucap Kinan tegas.


"Apa nggak ada sedikitpun ruang buat aku??" tawar Indra.


Kinan menggeleng.


"Meski jadi yang kedua, aku nggak apa apa." ucap Indra. Sontak kata kata Indra itu membuat Kinan terkejut.


"Mas jangan ngomong gitu, masih banyak cewek di luar sana yang akan menempatkan Mas Indra jadi yang pertama. Kenapa harus memilih jadi yang kedua??" Kinan emosi.


"Untuk apa jadi yang pertama, tapi itu bukan kamu." jawab Indra.


Seketika tangan Indra pun melingkar di leher Kinan.


"Aku serius dengan kata kataku. Aku bisa kok hanya jadi selinganmu saja. Aku bisa kok hanya jadi pelampiasan di saat kamu marah, sedih atau mungkin kesal dengan sesuatu." Indra semakin memelas.


"Mas......."


"Tolong, kasih aku sedikit aja ruang." pinta Indra yang matanya mulai berkaca kaca.

__ADS_1


__ADS_2