
"Mas sering makan disini??"
"Nggak juga. Cuma kalo pas lagi main ke Malang aja." jawab Indra.
"Termasuk saat lagi jalan sama pacarnya ya?"
"Pacar siapa?? Saya nggak punya pacar."
"Ohh, salah yaa. Kalo gitu aku ganti kata katanya." sindir Kinan. "Jalan sama ceweknya."
"Cewek yang mana?? Kinan kan juga cewek." Indra berusaha ngeles.
"Hemm, pinter ngeles nih Masnya." ejek Kinan. "Itu tuh yang dulu pernah ketemu aku di depan rumah sakit. Waktu itu mas abis jalan sama ceweknya kan??"
Kinan mengingatkan momen saat kemarin malam dirinya bertemu dengan Indra dan pada akhirnya dia di antar pulang oleh Indra.
"Nggak kok, saat itu emang lagi sama temen."
"Ihh, Masnya ngeles terus. Nggak mau jujur." kesel Kinan.
Indra pun tersenyum saat melihat kekesalan Kinan itu.
"Ini makanannya sudah siap." seorang pelayan membuyarkan kekesalan Kinan.
"Oh iya, terima kasih." ucap Kinan.
Mereka pun membawa makanan masing masing dan mencari tempat duduk yang dekat dengan kolam ikan.
"Mari makan. Bismillahirrohmanirrohim." ucap Kinan bersemangat.
Dia pun mulai melahap nasi pecel itu dan mulai berkomentar.
"Lumayan." ucap Kinan.
"Bumbu kacangnya terasa kan??" tanya Indra.
"He em." jawab Kinan yang sedang asyik melahap nasi pecel yang ada di depannya.
Melihat hal itu Indra tersenyum.
Makan gini aja dia terlihat cantik.
Selesai makan mereka pun langsung melanjutkan perjalanan. Dalam perjalanan, tiba tiba ponsel Kinan berdering. Ada sebuah nomer yang tidak dia kenal.
"Halo. Assalamu'allaikum." ucap Kinan.
"Wa'allaikumsalam."
"Siapa ya?"
"Wihh, baru beberapa hari yang lalu ketemu udah lupa aja nih bu Dokter." sindir sang penelpon.
Namun Kinan terdiam, dia malas menjawab penelpon yang tak jelas itu. Saat Kinan hendak menutup telpon, sang penelpon mencegahnya.
"Ehh, tunggu dulu. Jangan di tutup. Kamu beneran nggak nyimpen nomerku?? Jahat banget sih." protes si penelpon.
"Emang kamu siapa?? Kenapa aku harus nyimpen nomermu??" ucap Kinan sinis.
"Ya elah, ini nih yang di maksud kacang lupa sama kulitnya."
"Kalo kacang kupas kan sudah nggak ada kulitnya." bantah Kinan.
"Hahahahahah." tawa si penelpon.
__ADS_1
"Ketawa lagi. Udah deh ngomong aja, kamu ini siapa sih?" Kinan makin kesal.
"Aku adalah calon suamimu di masa depan."
"Calon suami???!!" Kinan terkejut.
Indra yang berada di samping Kinan pun ikut terkejut. Dia sempat melirik Kinan, namun berpura pura tidak mendengar. Ada sebuah rasa penasaran di benak Indra.
Siapa yang nelpon Kinan? Calon suami? Apa dia benar benar sudah punya calon suami?
"Nggak lucu tau."
"Aku emang nggak lagi ngelawak kok." jawab si penelpon terdengar mulai serius. "Kelak kamu akan jadi Ibu Persitku."
"Ibu persit?? Mimpi tau."
"Nggak apa apa sekarang hanya mimpi, suatu saat itu akan menjadi kenyataan. Dan kelak kamu akan di panggil Ibu Niko." si penelpon sangat pede mengatakan hal itu.
"Ooh, jadi kamu Niko??" Kinan mulai sadar. "Pantes aja omongannya ngelantur dan sok pede gitu."
"Hahahaha." Niko tertawa lagi. "Makanya simpen dong nomerku."
"Buat apa?? Malas."
"Ihh judes amat bu Dokter. Slow dong." Niko merendahkan suaranya. "Lagi dimana sekarang??"
"Lagi di jalan nih."
"Abis dari mana?? Pulang kerja??"
"Nggak. Abis dari jalan jalan."
"Jalan jalan kemana??" Niko penasaran.
"Sama siapa??"
"Sama teman."
"Teman siapa?? Cowok cewek??" Niko makin penasaran.
"Kepo banget." celetuk Kinan.
"Ya kan cuma pengen tau aja. Apa salahnya nanya."
"Salahlah. Ini kan kehidupan pribadiku, ngapain kamu kepo."
"Bukan kepo. Aku cuma mau menjalankan perintah aja."
"Perintah apa??"
"Perintah kalo aku harus jagain kamu. Dan perintah itu turun langsung dari Papamu loh." jelas Niko.
"Ngapain Papa nyuruh kamu jagain aku?"
"Ya mungkin karena Papamu percaya kalo aku bisa jadi orang yang selalu jagain kamu."
"Nggak usah repot repot. Udah ada malaikat dan Allah yang selalu jagain aku."
"Iya deh Bu Ustadzah." sindir Niko. "Tapi kan setidaknya ada makhluk yang berwujud dan bernyawa yang selalu ada di dekatmu. Nemenin kamu saat suka maupun duka."
"Udah ada kok." jawab Kinan.
"Siapa?" Niko penasaran.
__ADS_1
"Banyak. Ada nenek, Papa, Mama, temen temenku." jawab Kinan seakan tidak mengerti maksud dari kata kata Niko.
"Hadehh, nih bu Dokter satu bikin pusing kepala." protes Niko.
"Hahahaha." Kinan tertawa. "Bisa pusing juga nih Danton??"
"Bisa lah. Orang punya kepala juga." celetuk Niko. "Ehh. Kamu beneran lagi di jalan??"
"Iya, ini masih di perjalanan pulang. Kenapa sih??"
"Nggak. Aku cuma mau main ke rumahmu aja. Kamu tinggal sama Nenek kan??"
"Emang kamu tau rumah Nenek??"
"Tahu lah. Dulu waktu SMA kan pernah nganter kamu pulang, gara gara kamu pingsan saat upacara."
"Emang dulu ada kejadian kayak gitu ya??"
"Ada lah. Sampai aku harus berkorban punggung buat gendong kamu. Berat lagi."
"Ngarang aja. Dulu badanku kecil ya??" protes Kinan.
"Ohh berarti yang bikin berat itu dosamu."
"Hemm, memang ya kalo anaknya Pak Anthok yang ngomong nggak ada saringannya." ejek Kinan.
"Hahahaha. Jangan sebut sebut nama calon mertuamu dong." canda Niko.
"Ngarep." Kinan sinis.
"Hahaha. Ya udah, buruan pulang gih. Aku tungguin di rumah Nenek ya??"
"Iya." jawab Kinan singkat.
Ternyata selama mereka menelpon, Indra yang berada di belakang kemudi pun menguping pembicaraan antara Kinan dan Niko. Ada rasa sakit di dalam hatinya. Tapi Indra berusaha menepis perasaan itu. Dia menganggap mungkin karena mereka terbawa suasana saja hingga membuat Indra merasa cemburu. Terlihat Indra seringkali menghela napas untuk menghilangkan perasaan panas dalam hatinya itu.
"Dia itu kakak kelasku semasa SMA dulu. Sekarang dia bertugas di Batalyon *****." tiba tiba Kinan menceritakan tentang Niko.
"Ooh, perwira ya??"
"Iya, pangkat Lettu kalo nggak salah. Bapaknya dia temannya Papa juga."
"Hemm, kamu dekat ya sama dia?"
"Nggak kok, biasa aja."
"Tapi kelihatan dari cara bicaranya sepertinya kalian lumayan dekat."
"Mungkin karena kita udah berteman cukup lama ya, jadi ya gitu deh. Kalo ketemu sering tengkar." jawab Kinan seraya tersenyum.
Indra sejenak terdiam. Dia menghela napas untuk mempersiapkan pertanyaan yang selanjutnya.
"Kinan...ehmm, suka sama dia??" tanya Indra ragu.
"Suka?? Hahhahah." Tiba tiba Kinan tertawa. "Dia itu cuma aku anggap sebagai kakak saja. Nggak lebih."
"Ohh." ada perasaan lega di hati Indra. Namun masih ada keraguan yang dia simpan.
"Tapi sepertinya dia suka sama kamu." jelas Indra.
"Masa sih?? Hemm.., nggak tau juga ya. Kita nggak pernah ngobrol masalah itu." sahut Kinan memperjelas.
Sebenarnya Indra masih ingin bertanya lebih dalam tentang hubungan Kinan dan pria bernama Niko itu, namun Indra sadar dia bukan siapa siapanya Kinan. Dia hanya seorang sopir. Bukan hak dia untuk mempertanyakan tentang kehidupan pribadi tuannya.
__ADS_1