Cinta Sang Ajudan

Cinta Sang Ajudan
Saling Mengenal


__ADS_3

"Oh iya nanti kita mampir sarapan dulu ya Mas."


"Mau nyari sarapan apa jam segini?? Baru juga masak mereka."


"Ya kan aku bilangnya nanti Mas, bukan sekarang." gurau Kinan.


"Emang mau sarapan apa??"


"Masnya mau makan apa??"


"Kalo saya sih terserah. Semua bisa masuk." canda Indra.


"Kalo gitu aku balik pertanyaannya?? Mas nggak suka makan apa??"


"Hemm.., apa ya??" Indra mencoba berfikir. "Saya nggak suka lele, ikan wader sama jengkol."


"Kenapa nggak suka lele?? Lele itu enak loh, gurih lagi. Kaya akan sumber protein " Kinan makin banyak bertanya.


"Iya sih, tapi...hiiyy." Indra bergidik. "Kalo lele, sebenarnya dulu pernah suka. Tapi karena pernah ngeliat orang yang budidaya lele di septi tank, akhirnya udah nggak suka."


"Hahahahhaa. Tapi kan nggak semua lele Mas?? Kayak temennya Papa tuh, ada juga yang budidaya ikan. Tapi dia di kolam kok, bahkan makanannya pun khusus yang untuk lele."


"Iya. Tapi yang namanya orang udah geli, masih ingat ingat jadi nggak berani makan." jelas Indra.


"Kalo Kinan sendiri, makanan apa yang nggak di sukai??" tanya Indra balik.


"Aku nggak terlalu suka coklat."


"Coklat?? Sama sekali nggak suka coklat" Indra heran.


"Bukan nggak suka sama sekali, cuman nggak terlalu suka aja. Palingan cuma secuil aja, udah."


"Padahal itu makanan favorit orang seluruh dunia loh."


"Iya sih, tapi gimana ya?? Terlalu manis gitu rasanya."


"Coklat apa dulu?? Kalo dark coklat kan nggak manis, pahit malah." imbuh Indra.


"Tapi aku tetap nggak suka. Kayak eneg gitu rasanya."


"Kalo coklat putih??" tanya Indra.


"Sama. Coklat hitam, coklat putih sama sama nggak terlalu suka."


"Jadi selama ini nggak pernah ada yang ngasih coklat??"


"Ada sih, banyak malah. Dulu waktu kuliah sering ada cowok yang ngasih aku buket coklat."


"Dalam rangka apa?? Hari Valentine?"


"Bukan. Cuman sekedar ngasih aja."


"Saat ada yang ungkapin perasaannya ya??" Indra semakin penasaran.


"Ihh Mas kepo." sindir Kinan sembari tersenyum.


"Terus coklatnya di buang??"


"Ya nggak. Aku kasihkan temanku."

__ADS_1


"Enak dong jadi temennya Kinan. Bisa dapat coklat gratis tiap hari."


"Ya nggak tiap hari juga kali Mas. Bisa bikin perusahaan coklatnya makin kaya nanti " celetuk Kinan.


Indra pun tertawa. Terlihat mereka semakin mengenal. Banyak yang mereka tanyakan. Hubungan canggung di antara mereka sudah tak terlihat. Batas yang teman teman Indra khawatirkan ternyata tidak berlaku pada mereka. Bahkan mereka sudah tak canggung lagi untuk mengatakan hal yang bersifat privasi, misal tentang masa lalu atau kisah percintaan masing masing.


Sesekali terdengar Indra memanggil Kinan dengan sebutan 'Dek', dan respon Kinan pun biasa saja saat Indra memanggilnya seperti itu. Indra merasa ada lampu hijau akan perasaannya.


Sesampainya di sebuah rumah makan sederhana, mobil mereka berhenti. Saat itu hujan turun. Dan Kinan lupa tidak memasukkan payung dalam bagasi mobil.


"Gimana turunnya nih Mas??" tanya Kinan cemas.


"Tunggu disini dulu sebentar." ucap Indra menenangkan.


Tiba tiba Indra pun turun dari mobil. Kinan yang melihat itu terkejut. Indra turun dan mendekati pintu mobil Kinan.


Dengan sigap Indra membuka pintu mobil itu dan menggelar jaket kulitnya di atas kepala Kinan.


"Ayo turun." ajak Indra seraya mengulurkan tangan pada Kinan.


Kinan yang melihat itu tidak berfikir panjang, dia langsung meraih tangan Indra dan berteduh di bawah jaket yang dia siapkan. Jarak mereka sangat dekat. Hujan lah yang membuat mereka semakin dekat. Sejenak mereka saling menatap, pandangan mereka tertuju satu sama lain. Bahkan mata Indra tak berkedip saat melihat Kinan dari jarak yang sangat dekat. Detak jantungnya semakin cepat, seakan mau meledak. Tak lama kemudian, Kinan pun tiba tiba membuang pandangannya. Dia berusaha bersikap biasa.


"Hemm..., kita...kita jalan sama sama." ucap Indra yang masih canggung.


"Iya Mas." jawab Kinan berusaha membuang rasa canggungnya.


Mereka pun perlahan berjalan memasuki rumah makan. Indra menaungi kepala Kinan dengan jaketnya. Hingga tak sadar jika bahunya basah terkena hujan.


Saat sudah sampai di dalam rumah makan.


"Bahunya Mas basah." ucap Kinan.


"Nggak apa apa, cuma gini aja." jawab Indra. "Ayo masuk." ajaknya.


"Nggak pernah." jawab Indra. "Cuma tadi saya sempat nyari di mbah google tempat makan yang enak di sekitar sini. Dan ketemunya ini."


"Ooh, kirain pernah makan disini sama ceweknya." canda Kinan.


"Saya nggak punya cewek Dek."


"Iya deh nggak punya." jawab Kinan dengan ekspresi tidak percaya.


"Beneran nggak punya."


"Iya, iya nggak punya." imbuh Kinan dengan tersenyum.


"Kenapa senyum senyum?? Pasti masih nggak percaya ya??" Indra memastikan.


Namun Kinan hanya tersenyum, dia enggan menjawab pertanyaan Indra.


"Selamat Datang di Rumah Makan Sederhana. Silahkan ini daftar makanannya." seorang pelayan menyambut mereka di meja pemesanan.


Mereka melihat lihat daftar menu yang tersedia.


"Ini semua di hitung satu porsi atau gimana Mbak?" tanya Kinan.


"Mau pesan satu porsi bisa, mau pesan per orang juga bisa."


"Masnya mau makan yang mana??"

__ADS_1


"Terserah Adek aja, saya ikut. Yang penting bukan tiga item yang tadi saya sebutkan." jawab Indra. Kinan pun melirik Indra sinis.


"Oke deh, saya pesen setengah bakul nasi, gurami bakar mentega satu, udang asam manis satu, sama cah kangkung satu."


"Minumnya Mbak??"


"Es teh dua." imbuh Kinan.


"Baik. Sebentar saya totalkan dulu ya??" ijin si kasir.


Kinan hanya mengangguk.


"Pesannya banyak sekali Dek?? Siapa yang mau makan??"


"Mas lah." jawab Kinan sontak.


"Ihh,, siapa yang mau makan sebanyak itu. Kurangin aja. Mubazir kalo sampe kebuang."


"Nggak bakal kebuang kok." jawab Kinan senyum.


"Tapi jangan jadikan Mas sebagai korban untuk habisin semua makanannya loh." canda Indra. Namun Kinan hanya tersenyum jahil.


"Totalnya 185 ribu Mbak." ucap si kasir.


Namun saat Kinan akan membayar.


"Ini." ucap Indra menyerahkan dua lembar uang 100 ribuan kepada kasir.


"Loh?!!" Kinan terkejut.


"Nggak usah pake 'loh'." sahut Indra.


"Tapi..."


"Nggak usah pake 'tapi'. Tinggal makan aja." singkat Indra yang berhasil membungkam mulut Kinan.


"Ini kembaliannya Mas." ucap si kasir sambil menyodorkan uang kembaliannya. "Mau duduk di meja mana ya?? Nanti makanannya akan di antar."


"Di sebelah sana saja Mbak." Indra menunjuk sebuah tempat lesehan di pinggir taman.


"Baik." jawab si kasir.


Mereka pun beranjak pergi menuju sebuah tempat lesehan yang berada di pinggir taman. Tempat makan yang bernuansa pedesaan, dengan beberapa saung sebagai lesehan. Di hiasi oleh tiang tiang bambu yang menjulang tinggi, tempat yang sangat asri dan nyaman.


"Lagi banyak uang nih ya??" sindir Kinan yang sudah duduk di meja yang Indra tunjuk.


"Amiiin." Indra mengaminkan.


"Lain kali jangan Mas terus yang bayar, aku jadi nggak enak. Lagian kan aku yang ngajak Mas." protes Kinan.


"Kenapa sih tiap kali makan pasti yang di ributin soal bayarnya??" tanya Indra heran.


"Ya kan nggak enak aja kalo Mas terus yang bayar."


"Mas ini seorang lelaki Dek, dan memang seharusnya Mas yang bayarin. Bukan malah perempuannya." jelas Indra. "Apa jangan jangan Adek ngira kalo Mas ini nggak punya uang ya??"


"Ehh.., nggak kok Mas. Aku nggak mikir kayak gitu." jawab Kinan tegas. Karena memang bukan itulah yang ada di pikirannya.


"Tenang aja Dek. Meski Mas ini cuma Tamtama, tapi Mas masih punya gajian. Dan masih bisa bayarin Adek makan." imbuh Indra.

__ADS_1


"Udah di bilang Adek nggak mikir kayak gitu kok." Kinan kesal.


Indra pun tersenyum melihat Kinan yang kesal. Dia sebenarnya paham kalau Kinan memang tidak mempunyai pikiran seperti itu, hanya saja itulah satu satunya cara yang terpikirkan agar Kinan tidak lagi berdebat tentang urusan pembayaran saat mereka lagi makan bersama.


__ADS_2