Cinta Sang Ajudan

Cinta Sang Ajudan
Gangguan Lain


__ADS_3

Namun saat sedang asyik menikmati malam itu, tiba tiba saja.


Tok....tok...tokkk...


Ada seseorang yang mengetuk pintu kamar mereka.


"Mas." panggil Kinan.


Namun Indra tak bergeming. Dia masih terus memberikan tanda di dada Kinan.


Tokk..tok..tok...


Suara ketukan pintu itu mulai keras.


"Mas?!" panggil Kinan tegas.


"Kenapa sayang??" tanya Indra.


"Ada orang yang ngetuk pintu."


"Ya udah nggak apa apa, biarin aja. Palingan juga layanan kamar."


Saat hendak melancarkan aksinya lagi, suara ketukan itu pun terdengar semakin keras.


"Mas, bukain dulu. Takutnya ada sesuatu yang penting." saran Kinan.


"Hah?!!" Indra kesal. "Siapa sih yang ganggu?? Nggak tau apa kalo hal ini lebih penting, demi keberlangsungan masa depanku ini."


Dengan langkah kasar Indra pun berjalan menuju pintu. Saat sedikit membuka pintu.


"Ayo kita turun buat makan. Dari tadi kita kan belum makan." ajak sang Papa.


"Ohh. Baik, Bapak." tiba tiba suara Indra jadi tegas.


Ternyata sang Jendral yang dari tadi mengetuk pintu kamarnya.


"Ajak Kinan juga. Papa juga sudah memesan makanan kesukaannya di restaurant bawah."


"Siap, Bapak."


Indra pun kembali menutup pintu kamarnya.


Ada ada aja sih gangguannya. Gerutu Indra.


Saat menuju ranjang, sosok sang istri sudah tidak ada di atas ranjang.


Kemana dia??


"Sayang?? Sayang??" panggil Indra. Namun tak ada jawaban.


Dengan cepat dia pun membuka pintu kamar mandi. Ternyata sang istri sedang berdiri di depan wastafel, dan sedang memandangi bekas penandaan yang tadi Indra bubuhkan.


"Mas." jawab Kinan terkejut.


"Kenapa sayang??"


"Gara gara Mas nih, jadi merah merah gini kan." sungut Kinan.


Perlahan Indra mendekati Kinan.


"Jangan dekat dekat, disitu saja dulu." cegah Kinan.


Namun kata kata itu tak berpengaruh sama sekali pada Indra. Dia malah semakin mendekatkan tubuhnya pada Kinan. Di raihnya pinggul sang istri yang ramping itu. Mendekap tubuh sang istri yang saat itu masih tak memakai baju atasan. Hanya ada b*a yang menutupi gunung kembarnya.

__ADS_1


"Biar Adek paham, kalo Adek ini miliknya Mas seutuhnya." ucap Indra tersenyum.


Saat hendak menciumi sang istri kembali, tiba tiba sang istri mencegah.


"Tunggu dulu, Mas. Tadi siapa yang datang Mas??" tanya Kinan penasaran.


"Oh iya, tadi Papa datang mau ngajak kita makan bareng." ucap Indra.


"Ohh, ya udah kalo gitu kita ganti baju." Kinan berusaha beralih.


Saat dia akan beranjak, Indra mencegah. Tangannya masih erat memeluk pinggul Kinan.


"Nanti aja makannya." ucap Indra. "Buka puasanya Mas aja belum."


"Nanti dulu aja. Kasian keluarga udah pada nunggu di bawah Mas."


"Nggak apa apa, Dek. Toh mereka juga pasti udah makan kok. Nggak mungkin nungguin kita baru makan."


"Tapi kan nggak enak, Mas. Udah ahh, kita ke bawah dulu yukk." bujuk Kinan membelai pipi sang suami.


"Jadi batal nih buka puasanya??" Indra cemberut.


"Bukan batal, cuma di tunda sebentar." balas Kinan.


"Aishh?!! Mas frustasi nih Dek." ungkap Indra.


Kinan hanya tersenyum melihat kekesalan sang suami itu. Namun saat akan beranjak, tiba tiba saja Indra menggendong Kinan dan meletakkannya di atas meja wastafel.


Saat ini posisi Indra lebih rendah dari Kinan, jadi mudah baginya untuk menjelajahi tubuh sang istri. Dia pun langsung bergerilya melanjutkan permainan yang tadi sempat tertunda. Dia kembali menciumi leher Kinan dengan leluasa.


"Ehm.., Mas." Kinan menahan desahannya.


Namun Indra tetap pada misinya.


"Nggak apa apa, sayang. Milikmu adalah milikku." ucap Indra.


Perlahan Indra pun melepas b*a yang masih melilit gunung kembar Kinan.


Seketika desiran panas makin meluap pada tubuh Indra. Seakan ada air yang sedang mendidih dalam tubuhnya. Indra pun ikut serta membuka pakaiannya. Terlihatlah tubuh bidang Indra yang membuat Kinan sejenak mengalihkan pandangannya. Baru kali ini Kinan melihat sang suami tanpa memakai baju.


Indra menciumi bibir sang istri. Tak lama kemudian, ciuman itu pun turun.


"Mas..., jangan. Itu geli." ucap Kinan sambil menormalkan nafasnya. Dia menutup gunung kembarnya itu menggunakan telapak tangan.


"Nggak apa apa, sayang. Nanti lama lama juga enak. Nikmatin saja." ucap Indra.


Tubuh Kinan mulai menggeliat menahan rasa geli yang tiba tiba memenuhi tubuhnya. Dia berusaha keras menahan rasa itu, hingga tak sengaja dia mengeluarkan suara suara nakal yang malah membuat Indra makin mengganas.


Saat tangan Indra hendak turun, sontak Kinan pun menahan tangan Indra.


"Mas, jangan." ucap lembut Kinan dengan nafas yang tersengal sengal.


"Sayang." panggil Indra lembut. "Tenanglah." Indra berusaha meyakinkan Kinan untuk menyerahkan tubuhnya.


Terlihat Kinan mulai memejamkan matanya. Tubuh Kinan makin menggeliat. Dia berusaha menutup mulutnya rapat rapat. Melihat hal itu, Indra pun bereaksi.


"Nggak usah di tahan sayang. Lepaskan saja kalo memang mau bersuara." pinta Indra.


"Tapi nanti Adek kelihatan seperti orang mesum." jawab Kinan malu.


"Apa menurut Adek yang Mas lakukan ini nggak di katakan mesum?? Ini bahkan berkali kali lipat jauh lebih mesum." sahut Indra.


"Apa Adek lihat yang di bawah ini??" tunjuk Indra pada bagian bawahnya, ada sesuatu besar yang ingin menerobos keluar.

__ADS_1


"Di dalam itu, udah nggak bisa di hentikan lagi Dek. Malam ini, mau nggak mau dia menginginkan haknya." ucap Indra.


Sejenak Kinan malu saat melihat bagian bawah Indra. Indra pun kembali melancarkan aksinya.


Terlihatlah seluruh tubuh sang istri. Tubuh seksi nan mulus yang selama ini tertutup oleh pakaian longgar dan hijab itu, kini telah Indra liat sepenuhnya.


"Mas, jangan gitu liatnya. Adek malu." ucap Kinan.


Indra pun tersenyum saat melihat wajah sang istri bak buah tomat yang sudah matang. Dia mendekatkan wajahnya di depan inti Kinan.


"Ma...mau ngapain, Mas??" tanya Kinan canggung.


Namun Indra tak membalas pertanyaan Kinan itu dan terus melancarkan aksinya. Seketika Kinan langsung menggelinjat. Dia mendorong kepala Indra.


"Jangan, Mas. Itu jijik." ucap Kinan.


"Nggak jijik Dek, bahkan manis dan lembut." jawab Indra dengan tatapan mesum.


Namun Kinan tetap menggelengkan kepalanya sebagai tanda bahwa dia tidak mau.


"Ya udah kalo gitu kita pindah ke tempat tidur ya??" pinta Indra. Kinan menganggukkan kepalanya.


Dia pun menggendong si istri menuju ke ranjang. Meletakkannya perlahan di atas ranjang.


Sejenak Kinan malu melihatnya, pandangannya berusaha melihat ke arah lain.


Perlahan Indra pun mendekatkan miliknya pada inti Kinan.


"Mas?!" ucap Kinan yang merasa takut.


"Santai saja, sayang." balas Indra sembari menciumi bibir Kinan.


"Akhh!!" suara Kinan menahan sakit.


"Sakit?" tanya Indra lembut.


Kinan mengangguk.


"Tahan sebentar ya sayang. Mas akan pelan pelan kok." sahut Indra lembut.


Dia pun kembali berusaha menerobos dinding pertahanan Kinan yang tak mudah. Namun Indra sangat peka, dia memasukkannya perlahan. Dia tidak ingin sang istri terlalu kesakitan.


Hingga saatnya, satu hentakan yang cukup keras mampu menerobos masuk ke dalam intinya.


"Aakkkhhhh!!" teriak Kinan. Tangannya mencengkeram erat punggung Indra. Sedari tadi dia berusaha menahan sakit pada inti tubuhnya.


"Sakit, Mas." ucap Kinan dengan mata yang berkaca kaca.


"Iya, sayang. Setelah ini udah nggak sakit lagi kok." ucap Indra tersenyum.


Dia pun mulai menggerakkan pinggulnya. Mempraktekkan apa yang pernah dia lihat.


Rasa perih pun muncul, namun Kinan berusaha menepisnya. Ini adalah kewajibannya, dia tidak boleh terus menghindar.


Dengan rasa sakit yang masih tersisa, Kinan berusaha kuat menikmati permainan Indra. Keringat Indra pun setetes demi setetes turun ke dada Kinan. Suara mereka berdua pun saling beradu. Suara yang membuat Indra semakin candu. Terlihat jelas Indra sangat menikmatinya.


Hingga selang satu jam permainan, Indra pun mengeluarkan air kehidupannya ke dalam rahim Kinan. Air kehidupan yang cukup banyak, dan mampu memenuhi rahim sang istri.


"Hha...haa..hhaa..."


Suara nafas mereka saling bertautan.


Indra pun menyeka keringat yang ada di dahi sang istri, dan mengecupnya.

__ADS_1


"Terima kasih ya sayang." ucap Indra tersenyum. Kinan pun membalas dengan senyuman hangatnya.


__ADS_2