Cinta Sang Ajudan

Cinta Sang Ajudan
Tamu Tak Di Undang


__ADS_3

Keesokan paginya saat Kinan sudah tiba di rumah sakit.


"Dokter, Bu Direktur nyariin tuh." ucap seorang perawat.


"Bu Direktur?? Ada apa ya??" Kinan heran.


"Nggak tau juga. Tadi dia nyariin Dokter Kinan, dan bilang kalo ketemu suruh Dokter menghadap ke ruangan beliau." imbuhnya lagi.


"Ohh gitu. Ya udah kalo gitu, terima kasih ya." jawab Kinan tersenyum.


Selang beberapa saat Kinan sudah berada di depan pintu ruangan Bu Direktur.


Tokk...Tokk...Tokk...


"Masuk." ucap seorang wanita dari balik pintu.


Kinan pun masuk ke dalam ruangan itu.


"Ibu memanggil saya??" tanya Kinan saat berada di depan meja Bu Direktur.


"'Iya Dokter Kinan. Ini ada tamu yang mau ketemu Dokter Kinan."


Bu Direktur menunjuk seorang pria yang sedang duduk di sebuah sofa, tempat dimana Bu Direktur biasanya menjamu tamu.


Seorang pria dengan baju yang rapi. Berjas hitam dan bersepatu. Lelaki dengan kulit bersih itu di dampingi oleh seorang pria yang berdiri tepat di sampingnya, sepertinya lebih muda dari orang yang sedang duduk di sofa.


"Iya?? Anda siapa ya??" tanya Kinan penasaran.


"Maaf, Anda tidak kenal tuan kami??" tanya pria yang berdiri.


"Tuan?? Maaf saya tidak mengenal Anda." ucap tegas Kinan.


"Dia ini orang yang pernah kamu tolong, Dokter."


"Tolong?? Yang mana ya?? Bukankah seorang Dokter itu tugasnya memang menolong orang ya??" tanya Kinan.


"Maaf Ibu Direktur, bisakah kami mengobrol sebentar dengan Dokter Kinan??" pinta lelaki itu.


"Dokter Kinan masih ingat kejadian sebulan yang lalu, dimana Anda pernah mendonorkan darahnya untuk tuan kami ini."


"Mendonorkan??"


Kinan berusaha mengingat kejadian itu. Kejadian sebulan yang lalu, dimana dia memang pernah menolong seorang pria dengan sayatan di bagian perutnya. Namun saat itu Kinan memang benar benar tak melihat secara jelas wajah pasien yang dia tolong.


"Ohh, yang waktu itu. Iya saya ingat." jawab Kinan.


"Terus bagaiman kondisinya sekarang, apa sudah baikan??" tanya Kinan pada pria itu.


"Syukurlah karena darah yang Anda donorkan, tuan kami bisa selamat dan bisa sembuh total." ucap pria itu.


"Ohh, Alhamdulillah kalo gitu." ucap Kinan tersenyum.


Namun saat akan bertanya kembali, si pria itu mendekatkan dirinya pada si tuan.


"Tuan saya mau berbicara dengan Anda, Dokter Kinan. Saya dengar Anda lulusan dari Singapura, jadi jelas bisa bahasa inggris kan?? Karena tuan saya ini tidak bisa bahasa Indonesia." jelas si asisten.


"Ehm..., iya bisa."

__ADS_1


(Percakapan di bawah ini menggunakan Bahasa Inggris ya reader.)


"Anda yang bernama Dokter Kinan??"


"Iya, saya."


"Terima kasih karena sudah menyelamatkan saya. Kalau tidak ada Anda, mungkin saat ini saya tidak bisa duduk santai disini."


Kinan hanya tersenyum.


"Bagaimana kondisi luka sayatan itu?? Apa sudah sembuh??"


"Sudah. Berkat Anda, semua sudah sembuh."


"Apa boleh saya mengajukan pertanyaan yang bersifat privasi??" tanya Kinan yang penasaran.


"Silahkan saja. Selama saya bisa menjawab, saya akan menjawabnya."


"Luka yang Anda alami waktu itu, sepertinya itu bukan luka dari kecelakaan mobil. Melainkan dari sebuah benda tajam, misalkan saja seperti pisau." telisik Kinan.


Sebenarnya dia tak ingin bertanya, hanya saja saat itu dia merasa aneh.


"Iya, kamu memang benar. Itu adalah sayatan pisau." jawab si tuan.


"Ohh, apa Anda sedang berkelahi?? Atau jangan jangan Anda anggota gangster??"


Pertanyaan Kinan yang kelihatan konyol itu di tanggapi dengan tawa oleh si tuan.


"Tidak. Kami hanya sedang ada masalah saja waktu itu." jawab si tuan singkat, seakan tak ingin menjelaskannya lagi.


"Ohh, ya udah kalo gitu." Kinan pun balas cuek.


"Anda memang pinter, Dokter." puji si tuan.


"Saya disini sebenarnya hanya ingin memberikan sebuah hadiah karena saat itu Dokter Kinan sudah menolong saya dari ambang kematian." jelas si tuan.


Kinan pun hanya mengernyitkan dahi.


"Ini ada tiga macam hadiah yang bisa Anda pilih."


Si asisten menjajarkan tiga buah kotak di atas meja. Dia pun membuka satu persatu kotak itu, sesuai arahan si tuan.


"Yang ini, kunci sebuah apartemen mewah di daerah Jakarta. Dan yang kedua, ini kunci sebuah mobil sport termahal yang hanya di produksi sebelas mobil saja di dunia. Dan yang terakhir, ini ada sebuah perhiasan berlian yang bisa Anda kenakan." jelas si tuan.


Namun Kinan hanya berdecak heran, kenapa hanya mendonorkan darah saja sampai harus melakukan hal seperti ini.


"Mungkin Anda pasti heran, biar saya jelaskan." ucap si asisten.


"Tuan saya ini adalah seorang pebisnis yang terkemuka di dunia. Tak ada yang tidak mengenalnya." si asisten mulai menjelaskan.


Tapi aku nggak kenal tuh. Gumam Kinan.


"Bahkan saingannya pun ketakutan saat mendengar nama tuan saya ini. Meski pun masih muda, tapi namanya sudah tidak di ragukan lagi. Dia adalah anak tunggal dari............"


"Sudah, sudah. Cukup. Saya nggak mau mendengarnya lagi. Yang jelas tujuan Anda kemari untuk mengucapkan terima kasih kan?? Iya, saya sudah terima ucapan terima kasihnya." tegas Kinan.


"Kalo begitu, saya permisi dulu." ucap Kinan hendak beranjak.

__ADS_1


"Anda yakin tidak mau menerima hadiah dari saya ini??" tanya si tuan.


"Maaf, saya tidak butuh hal yang seperti itu." tolak Kinan, namun dengan wajah yang dia paksa untuk tersenyum.


"Saya dengar kamu sudah menikah dan tinggal di sebuah rumah sederhana. Bukankah jika Anda menerima salah satu dari hadian ini bisa membuat kehidupan Anda semakin baik."


Terlihat Kinan mulai menghela napas menahan emosinya.


"Sebelumnya terima kasih atas hadiah yang Anda berikan. Namun maaf, tuan. Kami tidak bisa menerima hadiah itu. Lagi pula kehidupan saya dan suami saya baik baik saja meski pun tanpa bantuan Anda." tegas Kinan.


"Dan lagi, meski pun Anda orang terkaya di dunia pun tapi Anda tidak berhak mengorek informasi seseorang. Bahkan sampai menyelidikinya." imbuh Kinan.


"Benarkah Anda tidak membutuhkan bantuan saya??"


"Iya, benar." jawab Kinan yakin.


"Kalo gitu, saya permisi dulu tuan. Masih banyak pasien yang harus saya periksa."


Namun sekali lagi, saat hendak beranjak tiba tiba saja kata kata lelaki itu membuat Kinan berhenti.


"Apa kamu sangat mencintai suamimu itu??"


Kinan enggan menjawab.


"Apa kamu tau bagaimana masa lalu suamimu itu?? Jika kamu tau dia di masa lalu, apa kamu akan tetap berada di sampingnya??"


"Masa lalu suamiku, tidak ada hubungannya dengan Anda. Lagi pula sepertinya obrolan kita ini sudah melenceng terlalu jauh. Maaf. Saya permisi dulu."


Kinan pun langsung bergegas keluar dari ruangan itu.


Ngeselin banget sih?? Siapa sih tuh orang?? Pengen aku bejek bejek, terus aku buang ke selokan. Ihh, ngeselin banget. Sampai sampai pengen aku makan tuh orang. Gumam Kinan.


Di waktu yang sama, saat Indra sedang duduk di meja ajudan.


"Ndra, ini ada kiriman buat kamu." ucap seorang tentara memberikan sebuah amplop coklat untuk Indra.


"Untuk Komandan??"


"Bukan. Buatmu, tuh ada namanya disitu."


Indra membaca nama pengirimnya, namun tidak ada. Yang ada hanya nama penerimanya saja, Untuk Indra.


Dengan rasa penasaran yang besar, dia pun membuka amplop itu. Dan tanpa di duga, ternyata di dalam amplop itu ada beberapa foto istrinya. Sepertinya ada seorang paparazi yang sedang membuntuti istrinya itu. Entah ada niat baik, atau hanya sekedar iseng saja.


Sontak Indra pun langsung mengambil ponsel dari dalam tasnya.


[Iya, halo Assalamuallaikum Mas.] ucap Kinan lembut di ujung telpon.


[Waallaikumsalam. Adek dimana sekarang??] tanya Indra tegang.


[Lagi di rumah sakit.]


[Dek, tolong dengerin Mas. Adek harus selalu berada di tempat yang ramai. Kemana mana jangan sendirian, bahkan ke kantin pun harus bareng sama temannya.]


[Emang kenapa sih Mas??] tanya Kinan heran.


[Sudah. Adek ikutin aja kata katanya Mas. Nanti tunggu Mas di dalam rumah sakit saja. Mas sendiri yang akan ke dalam untuk jemput Adek.]

__ADS_1


[I..iya Mas.] Kinan ikut panik.


Setelah menelpon sang istri, Indra kembali mengetik sebuah nomer di dalam ponselnya. Entah apa yang sedang dia obrolkan.


__ADS_2