Cinta Sang Ajudan

Cinta Sang Ajudan
Pembelaan


__ADS_3

Setelah beberapa saat berselang, mereka pun sampai di sebuah kedai lalapan yang ada di pinggir jalan.


"Mas, lalapan ayamnya 2 ya??" pinta Niko pada si penjual.


"Iya Mas." jawabnya.


"Besok kamu ada acara kemana??"


"Nggak ada, cuma ke rumah sakit aja."


"Masih masuk pagi kan??"


"Iya." jawab Kinan cuek.


"Gimana kalo besok setelah pulang kerja, kita langsung ke Malang."


"Ngapain??" tanya Kinan heran.


"Ya fitting baju lah. Kita kan masih belum nyari baju buat acara lamaran nanti. Mana tinggal seminggu lagi." ucap Niko.


"Acara lamaran aja harus ada fitting baju segala." celetuk Kinan.


"Ya iya lah sayang, ini kan momen spesial kita. Jadi harus benar benar di persiapkan dengan matang." sahut Niko.


"Iya, sampe gosong sekalian."


"Hahahahahah." Indra tertawa lepas.


Tak lama berselang, pesanan mereka pun datang. Sambil mengobrol, mereka menyantap lalapan itu.


"Terus untuk persiapan yang lainnya gimana?? Seperti tamu undangan, makanan....."


"Tenang, itu semua udah di urus sama orang tua kita. Udah beres semuanya." jelas Niko. "Kita hanya perlu fitting baju saja."


"Emang kamu udah punya rekomendasi tempat untuk fitting baju??" tanya Kinan.


"Udah lah. Mamaku udah nyari, dan besok kita tinggal kesana." ucap Niko santai.


Kinan sejenak terdiam. Dia seakan mencari momen yang pas untuk mengatakan sesuatu.


"Ehmm, Nik." panggil Kinan.


"Hem." jawab Niko yang sedang menyantap makanannya.


"'Ehmm. Bisa nggak, kalo acara tunangannya kita di tunda dulu??"


"Kenapa??" tanya Niko terkejut.


"Ya kan kita masih sama sama muda. Lagian kita juga belum saling mengenal, apa nggak lebih baik di pikirkan dulu aja. Nggak usah terburu buru."


"Mau sampe kapan di pikirkan??"

__ADS_1


"Ya, minimal tahun depan lah kita baru bisa melangkah ke jenjang yang lebih serius." tawar Kinan.


"Kenapa harus selama itu??"


"Ya nggak lama sih menurutku, yang namanya ingin menuju ke jenjang yang lebih serius kan memang harus di pikirkan matang matang. Lagian dari awal kamu bilang sendiri kan, kalo pertunangan ini hanya untuk mengalihkan orang tua kita saja." jelas Kinan.


"Ya awalnya emang aku mikirnya kayak gitu, tapi ternyata mereka malah mengambil langkah cepat untuk segera meresmikan pertunangan ini." jelas Niko.


"Apalagi di saat mereka tau kalo kita pernah bermalam bersama di vila." imbuhnya.


"Kamu kan bisa jelasin kalo malam itu nggak ada yang terjadi sama kita. Kita cuma numpang bermalam saja." tegas Kinan.


"Ya..., sudah sih." ucap Niko ragu.


"Terus kenapa mereka masih bersi keras?? Kalo kamu jelasin yang sebenarnya, sepertinya mereka nggak bakalan maksa kita untuk segera meresmikan pertunangan ini." ucap Kinan.


"Udahlah, kita tinggal terima aja keputusan mereka. Ngapain harus ributin sesuatu yang udah di putuskan sih??"


"Gimana nggak di ributin coba?? Yang mau tunangan itu kita, yang mau ngejalani ya kita. Tapi kenapa seakan mereka yang semangat untuk segera menikahkan kita??"


"Terus kamu maunya apa sekarang?? Kamu mau nentang mereka gitu??"


"Bukan menentang. Setidaknya kita kan sama sama ngomong kalo kita itu belum siap." saran Kinan.


"Kalo kamu mau ngomong, ya silahkan kamu. Tapi aku nggak mau ikut ikutan." tegaa Niko. "Aku nggak mau di coret dari daftar KK gara gara nentang keputusan mereka."


"Kok gitu sih?? Jadi kamu nggak mau bantu aku??"


Mendengar hal itu, Kinan hanya bisa menghela napas. Entah apa lagi yang harus dia lakukan untuk menggagalkan pertunangan ini.


Di sisi lain, dalam hati Niko memang tidak berniat untuk menggagalkannya. Karena dia sudah menyimpan perasaan pada Kinan. Perasaan yang mendalam sejak mereka sama sama di bangku sekolah menengah. Ini adalah kesempatan bagi Niko agar Kinan bisa menjadi miliknya.


Sesampainya di rumah. Kinan di sambut oleh kedua orang tuanya.


"Loh, ada Niko juga ya??" sapa Mama.


"Iya, Tante." ucap Niko sambil mencium tangan Mama.


"Sini masuk dulu Nak." sambut Papa.


Saat Niko hendak menjawab, Kinan pun mendahuluinya.


"Nggak usah Pa, dia lagi sibuk." jawab Kinan mencegah.


"Bener kan Nik?? Kamu katanya tadi masih ada urusan kan di kantor??" ucap Kinan tersenyum seraya mendorong tubuh Niko mendekati pagar.


"Urusan apa?? Aku nggak ada urusan apa apa kok." jawab Niko lirih.


"Udah nggak usah bawel. Anggap aja kamu lagi urusan." pinta Kinan.


Niko pun dengan terpaksa berpamitan pada kedua orang tua Kinan.

__ADS_1


Sepeninggal Niko, Kinan pun kembali masuk ke dalam rumah bersama kedua orang tuanya. Mereka bertiga duduk di ruang tamu.


"Nggak terasa ya Ma, anak kita udah besar. Sebentar lagi dia akan bertunangan, dan syukur Alhamdulillah dia bisa nemuin pasangan yang pas untuknya." ucap Papa bangga.


"Iya, Pa. Mama juga bersyukur banget mereka bisa bersama. Karena Mama awalnya kuatir mau nempatin anak kesayangannya Mama ini ke tangan siapa." sahut Mama.


"Papa kan tau sendiri di jaman sekarang ini banyak lelaki yang hanya mempermainkan perempuan saja, tapi tidak berniat untuk menjalin hubungan yang serius." imbuh Mama.


"Iya, Ma." jawab Papa.


Sejenak mereka berdua larut dalam kegembiraan, tanpa mengerti bagaimana perasaan Kinan. Terlihat Kinan menundukan kepala, seakan hendak mengucapkan sesuatu.


"Pah, Mah."


"Iya, kenapa sayang??" ucap Mama lembut.


"Hemm, gini. Apa.., apa nggak sebaiknya pertunangan ini kita pikirkan dulu??"


"Maksudnya??" tanya Papa heran.


"Ya, kan Papa tau sendiri selama ini aku tinggal di luar negeri. Aku jg sudah lama nggak komunikasi sama Niko. Lagian hubungan kita selama ini juga nggak sebaik yang Mama dan Papa pikirkan." jelas Kinan.


"Apa nggak sebaiknya berikan kami waktu untuk saling mengenal lebih dulu??" tanya Kinan berhati hati.


"Bukannya dulu kalian sudah pernah dekat ya??" tanya Mama heran.


"Itu kan dulu Mah. Ya kali aja kan sekarang sifatnya Niko berubah." Kinan berusaha membela diri.


"Sebenarnya ada apa sih sayang?? Mama ngerasa kamu seakan akan kayak menghindari pertunangan ini."


DEGHH....


Kata kata itu langsung membuat Kinan terkejut. Dia tidak ingin membuat orang tuanya kecewa, tapi dia juga tidak bisa memungkiri jika selama ini dia memang tidak ada hubungan apa apa sama Niko.


"Kenapa?? Kinan nggak suka sama Niko??" tanya Papa.


"Bukan nggak suka Pa, Kinan selama ini hanya menganggap Niko sebagai teman Pah. Nggak ada hubungan yang spesial antara kami berdua." jelas Kinan.


"Jadi menurut Kinan, lebih baik kita pikirkan ulang saja pertunangan ini."


"Ya nggak bisa. Bagaimana Papa dan Mama akan ngadepin keluarnya Pak Antok?? Mau taruh dimana muka kami Nak, kalo seandainya kamu menolak lamaran dari mereka." Papa berusaha menahan diri.


"Sabar Pah, sabar." ucap Mama seraya memegang pundak sang suami.


"Kamu tau sendiri kan, Papa dan Pak Antok itu sudah bersahabat sejak lama. Gimana bisa kamu menolak lamaran ini?? Mau ngomong apa Papa sama mereka??" ucap Papa.


Tak terasa, mata Kinan mulai berkaca kaca. Dia adalah anak yang sangat patuh pada orang tuanya. Apa pun yang mereka ucapkan, meski pun terpaksa Kinan akan tetap menurutinya.


"Papa harap mulai sekarang, kamu harus belajar untuk mencintai Niko. Karena secepatnya dia akan menjadi suamimu." tegas Papa yang kemudian berlalu.


Air mata Kinan sudah tak terbendung lagi.

__ADS_1


__ADS_2