
Sore harinya, Indra pun menjemput Kinan di rumah sakit. Benar apa yang di katakannya, Indra masuk ke dalam rumah sakit untuk menjemput Kinan.
"Ada apa sih, Mas??" tanya Kinan heran saat melihat sang suami melihat sekeliling rumah sakit.
"Nggak apa apa sayang, kita langsung pulang ya??" ucap Indra seakan terburu buru.
Dia pun memakaikan jaket tebalnya untuk sang istri, mengaitkan helm Kinan dengan kencang.
"Adek pegang Mas kuat kuat ya?? Mas akan sedikit ngebut." ucap Indra.
Kinan pun hanya mengangguk mengikuti kata suaminya itu. Dalam perjalanan pulang, tak ada sepatah kata pun yang di katakan Indra. Terlihat berkali kali Indra mengawasi spion, seakan akan dia waspada akan sesuatu.
Sesampainya di rumah. Indra langsung masuk ke dalan rumah dan mengamati situasi di luar rumah.
"Kenapa sih, Mas??"
"Ng..nggak apa apa Dek." jawab Indra seakan menyembunyikan sesuatu. "Ya udah kalo gitu Adek mandi duluan gih. Gantian sama Mas."
"Ehmm, ya udah kalo gitu Adek mandi duluan ya Mas." jawab Kinan.
Indra pun hanya mengangguk.
Sepeninggal Kinan, Indra pun mulai mengetik sesuatu di ponselnya. Wajahnya terlihat cemas.
Saat Kinan baru keluar dari kamar mandi.
"Dek, Mas keluar dulu ya sebentar."
"Keluar kemana Mas??"
"Mau ketemu sama teman. Lagi ada sedikit urusan. Nggak lama kok, sayang." jelas Indra.
"Ya udah kalo gitu hati hati ya, Mas." ucap Kinan tersenyum.
Indra pun pergi mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi.
Ada sedikit perasaan aneh dalam hati Kinan, namun dia tak bisa mengungkapkannya. Seperti ada sesuatu yang Indra sembunyikan.
.
Selang beberapa saat, di tempat yang berbeda terlihat Indra memasuki sebuah gedung. Banyak penjaga yang ada disana. Mereka satu per satu melihat pergerakan Indra. Namun Indra terus melangkah menuju sebuah ruangan yang ingin dia tuju.
Sesampainya di depan sebuah ruangan, Indra membuka pintu itu.
"Ada tujuan apa kamu kesini?? Tuan Andrey." tanya Indra tegas pada seorang pria yang tengah duduk santai sambil menghisap sebuah cerutu.
"Cepat juga datangmu." ucap pria itu.
Ternyata pria yang Indra temui itu adalah tuan yang tadi bertemu dengan Kinan di rumah sakit. Sepertinya mereka pernah saling mengenal.
"Atau karena istri cantikmu ya yang membuat kamu bergegas datang kesini??" sindir pria itu.
BRAKKK...
Tiba tiba Indra menggebrak meja yang ada di depannya.
"Jangan pernah sentuh istriku. Jika tidak, kamu pasti tau apa akibatnya." ancam Indra dengan nada membentak.
"Wihh, slow bro. Slow. Jangan main ancam gitu." ucapnya santai.
"Aku cuma heran saja, bagaimana bisa lelaki sepertimu dapat istri yang secantik dan sebaik dia. Lelaki yang tangannya banyak berlumuran darah."
"Cukup!!! Aku sudah tak mau membahas itu lagi denganmu. Aku kesini hanya ingin memperingatkanmu, jangan sentuh istriku meski pun itu hanya seujung rambut." ucap Indra hendak berlalu, namun di cegah oleh penjaga di depan pintu.
Tuan Andrey hanya tersenyum.
"Apa kamu ingat kejadian setahun yang lalu, kamu pernah mengobrak abrik gedungku?? Bahkan kamu sudah membunuh beberapa anak buahku dan membuat beberapa usahaku bangkrut."
"Terus kamu maunya apa sekarang?? Mau balas dendam??" jelas Indra seakan menantang.
"Ohh, jelas tidak. Aku kesini hanya ingin melihat, bagaimana kehidupan seorang mantan pasukan elit bayangan setelah berusaha membebaskan diri dari tugas yang kalian sebut sebagai pengabdian untuk ibu pertiwi." jelas Tuan Andrey.
__ADS_1
Indra hanya mendengarkan, namun enggan menanggapi.
"Tapi tak kusangka, ternyata aku bisa lebih dulu bertemu dengan istrimu yang seorang dokter itu. Aku berhutang budi padanya, jadi tidak mungkin jika aku melakukan sesuatu yang kejam pada wanita secantik dan sebaik itu." imbuhnya.
"Jangan pernah........."
"Sstt..., jangan katakan itu lagi. Karena aku tidak mungkin melakukan itu pada Dokter baik itu. Dokter cantik yang sudah menyelamatkan nyawaku." ucap Tuan Andrey dengan nada sedikit genit.
"Lalu, kenapa kamu masih ada disini??"
"Karena aku hanya heran. Apa dia tidak tau bagaimana masa lalumu?? Bagaimana jika dia tau kalo masa lalumu itu kelam, bahkan tanganmu saja sudah berbau anyir." ejek Tuan Andrey.
Sekali lagi, Indra enggan menanggapi perkataan Tuan Andrey itu. Dia pun segera keluar dari ruangan itu.
"Bagaimana ini?? Apa kita harus mengejarnya, Tuan??" tanya si asisten.
"Tidak perlu. Biarkan saja dia pergi. Kita jangan membuat masalah lagi dengannya, kamu tau sendiri kan bagaimana sifat dia?? Tidak ada yang bisa menyentuhnya. Jika tidak, semua akan dia bunuh tanpa pandang bulu." jelas Tuan Andrey tersenyum.
.
Di rumah, terlihat Kinan yang sedang cemas menunggu kedatangan Indra.
Mas Indra pergi kemana ya?? Kenapa terburu buru gitu?? Mudah mudahan dia nggak ada masalah, Ya Allah. Gumam Kinan.
Di tengah kecemasannya, terdengar suara pintu pagar terbuka. Seketika Kinan pun mengintip dari balik jendela, terlihat sang suami sudah datang. Kinan pun membuka pintu untuk suaminya.
"Assalamuallaikum." ucap Indra.
"Waallaikumsalam, Mas." balas Kinan seraya memeluk kedatangan suaminya itu.
"Adek nungguin Mas ya??" tanya Indra lembut sembari mengusap kepala Kinan.
Kinan hanya mengangguk.
"Maaf ya kalo Mas lama." sahut Indra.
"Nggak apa apa, yang penting Mas pulang." jawab Kinan.
Di saat saat santai menonton televisi. Kinan bersandar di dada Indra.
"Mas lagi ada masalah ya??" tanya Kinan yang sedari tadi menelitik wajah sang suami yang seakan cemas.
"Nggak apa apa, Dek." ucap Indra dengan senyum palsunya.
"Beneran nggak apa apa??" Kinan kuatir.
Sejenak Indra terdiam, dia seakan sedang mengatur kata kata untuk menjelaskan semua pada Kinan. Namun dia bingung, akan cerita mulai dari mana.
"Dek, sebenarnya Mas mau ngomong sesuatu."
"Ngomong apa??"
"Tapi Adek janji dulu, Adek nggak akan ninggalin Mas." pinta Indra.
"Ihh, apaan sih ngomongnya kayak gitu??" Kinan kesal. Namun tatapan Indra tiba tiba menjadi serius.
"Iya, iya Adek janji." imbuh Kinan.
"Dan Adek harus percaya semua kata katanya Mas."
"Iya." jawab Kinan.
Terlihat Indra berkali kali menghela napas. Mengumpulkan keberanian untuk mengatakan sesuatu pada Kinan. Dia pun memegang kedua tangan Kinan, dan kemudian menggenggamnya.
"Adek tau kan dulu Mas pernah jadi ajudan di Jakarta??"
"Iya tau. Yang jadi ajudannya Jendral itu kan??" Kinan memastikan.
"Iya, betul." jawab Indra yang kemudian sejenak terdiam. Perlahan Indra menjelaskan semuanya.
"Sebenarnya selain jadi ajudan, Mas juga masuk ke dalam salah satu jajaran pasukan elit bayangan. Ada beberapa tim dalam pasukan itu, dan Mas adalah Ketua Tim Alpha."
__ADS_1
"Pasukan bayangan?? Kayaknya Adek nggak pernah denger nama itu."
"Iya, karena memang tidak boleh di bocorkan kemana pun. Hanya orang intern saja yang tahu. Mas menceritakan ini, karena Adek adalah istrinya Mas. Cepat atau lambat Adek harus tau." imbuh Indra.
"Terus??"
"Pasukan Alpha ini bertugas melakukan penyergapan dan penyerangan pada kelompok kelompok yang di kehendaki."
"Semisal??"
"Ya, seperti mafia besar yang sulit untuk di tangkap. Atau seperti bandar narkoba terbesar yang tidak mudah untuk di lumpuhkan. Disitulah tugas Mas dan tim."
"Membunuh gitu??" tanya Kinan.
Sejenak Indra terdiam, dan kemudian dia mengangguk.
"Iya. Membunuh semuanya sampai ke akar akarnya. Entah dia punya anak atau tidak, entah dia punya keluarga atau tidak. Mas nggak perduli. Yang jelas semua harus di habisi, itulah perintahnya."
"Jadi semuanya Mas bunuh?? Emang atasannya Mas nggak apa apa??" Kinan semakin heran.
"Itulah tugas pasukan kami, Dek. Pekerjaan kami tak terlihat, namun hasil nyata dari pekerjaan kami bisa di lihat." jelas Indra.
Sejenak Kinan mencerna apa yang di katakan suaminya barusan.
"Tapi semua yang Mas lakukan atas perintah kan?? Bukannya jalan sendiri."
"Bukan, Dek. Mana mungkin Mas yang hanya prajurit biasa punya wewenang menghabisi semua mafia itu." jelas Indra.
"Tadi pagi Adek baru bertemu salah satunya."
"Bertemu?? Siapa??" Kinan heran.
"Tuan Andrey. Dia dulu adalah salah satu target tim kami, namun pergerakannya begitu lincah. Hingga membuat tim Mas nggak bisa menemukannya."
Ohh, apa yang Mas maksud lelaki yang aku selamatkan itu.
"Sampai suatu hari, Mas pernah merasa tangannya Mas ini berbau anyir Dek. Bau darah. Sebanyak apa pun Mas membasuh, tangan ini masih saja berbau anyir." Indra mulai meratapi apa yang pernah dia lakukan.
"Meskipun Mas tau apa yang Mas lakuin itu adalah perintah, entah kenapa Mas ingin keluar dari tim itu. Dengan memberi alasan jika Mas mau menikah." lanjut Indra.
"Dan kebetulan saat itu Mas memang lagi dekat dengan cewek yang bernama Novi."
"Novi lagi, Novi lagi." ucap ketus Kinan. Dia cemburu jika sang suami membahas tentang perempuan lain.
"Dengerin Mas dulu, Dek." sahut Indra mengusap lembut pipi sang istri.
"Mas mengatakan itu karena Mas ingin keluar dari tim itu. Mas ingin bebas, tanpa di hantui bayang bayang jika suatu saat mereka akan berbalik ingin membunuh Mas." ungkap Indra.
"Mas juga ingin punya keluarga yang lengkap, Mas juga ingin menikah dengan wanita yang Mas sayangi, memiliki anak yang lucu lucu seperti orang lain."
"Jujur, sebenarnya sejak awal Mas memang tidak ada perasaan apa apa sama Novi. Tapi berhubung yang saat itu kenal dekat sama Mas adalah Novi, ya udah Mas pikir ya sudahlah dia saja yang akan Mas jadikan alasan."
"Jadi maksudnya Mas, seadanya yang ada di depan mata gitu??"
"Iya, seperti itu. Karena Mas pikir, dengan keadaan Mas yang seperti ini siapa sih yang mau nerima. Selain Novi."
"Namun semuanya berbeda saat Mas ketemu Adek. Perempuan cantik, sholiha, dan sangat baik. Dari awal ketemu Adek di Bandara, Mas udah kagum sama Adek. Kepribadian Adek, kebaikan Adek, khusyuk beribadahnya. Jujur Mas malu, karena Mas aja sholatnya masih bolong bolong."
"Sejak saat itu Mas mencoba berubah. Dan ternyata semua jawaban dari doa doanya Mas pun terkabul. Adek lah yang menjadi jodohnya Mas." Indra mengusap lembut kepala sang istri. Kinan pun tersenyum.
"Maaf ya Dek, kalo Mas nggak cerita lebih awal. Mas takut Adek akan menjauh dari Mas, Mas takut Adek akan ninggalin Mas jika tau masa lalunya Mas itu." Indra memelas.
"Nggak apa apa, Mas. Lagian itu kan bukan keinginannya Mas sendiri, melainkan karena tugas. Jadi nggak masalah."
"Jujur sampe sekarang Mas takut mereka akan membalas semuanya, dan berbalik melukai Adek."
"Nggak usah berfikiran seperti itu. In Shaa Allah kita akan selalu di jaga sama Allah." ucap Kinan seraya tersenyum.
"Terima kasih ya sayang." Indra memeluk hangat sang istri.
Mereka pun kembali memadu kasih.
__ADS_1