
Apalagi saat tadi dia melihat Niko yang berada di dekat Kinan. Tatapan Niko yang terlihat masih sangat mencintai Kinan itu, membuat rasa cemburunya tak bisa terbendung lagi. Dia ingin segera menjadikan Kinan hanya miliknya.
"Kamu tahu sendiri kan bagaimana proses pengajuan nikah dalam militer??"
"Siap, paham Bapak."
"Butuh waktu panjang untuk pengurusannya. Tidak bisa hanya sehari dua hari, bisa jadi sampai berbulan bulan baru bisa di setujui dan kalian bisa menikah."
"Siap, Bapak. Itulah kenapa jika di ijinkan saya mau menghalalkan Kinan secara agama dulu sambil menunggu proses pengajuan kami."
"Kamu mau nikahin anak saya secara sirih?!!" tanya sang Jenderal dengan nada tinggi. "Kamu tidak menghargai saya?!!"
"Siap, maaf Bapak. Saya tidak bermaksud menyinggung Bapak." ucap tegas Indra.
"Saya hanya bermaksud mengikat Kinan saja, karena seperti yang Bapak katakan. Proses pengajuan nikah butuh waktu yang lama, dan kemana mana kita harus berdua untuk melalui semua prosesnya. Dan tak jarang kita harus pulang sampai larut malam untuk menjalani semua tesnya." jelas Indra.
"Jadi saya hanya mau menghalalkan Kinan, Bapak. Sambil menunggu proses pengajuan selesai" imbuh Indra.
Sejenak sang Jenderal hanya terdiam. Berbeda dengan Kinan, dia sangat terkejut dengan semua yang Indra ucapkan.
Bagaimana bisa dia seberani itu di depan Papa??
"Kamu tau kan, Ndra?? Di militer di larang untuk menikah sirih. Jika ketahuan, kamu bisa kena pasal pra nikah."
"Siap, saya tahu Bapak."
"Terus kenapa masih mau memilih jalan itu?? Apa kamu berniat mau mempermainkan anak saya?? Setelah nikah sirih, kamu akan meninggalkannya."
"Siap, tidak Bapak. Saya sama sekali tidak pernah ada niat seperti itu. Saya hanya ingin menghalalkan Kinan yang bersifat mengikat saja. Tidak ada maksud lain, Bapak." jelas Indra.
Lagian mana mungkin aku berani mempermainkan anak Jenderal?? Bisa bisa aku di tembak mati di tempat jika itu sampai terjadi. Pikir Indra.
"Bapak juga sudah tau dimana tempat saya berdinas. Dengan sangat mudah Bapak bisa menjatuhkan saya kapan saja jika Bapak menghendaki." imbuh Indra.
Sejenak terlihat sang Jenderal sedang berfikir keras.
"Baiklah. Kamu sekarang boleh pulang." ucap Papa Kinan.
"Siap, ijin Bapak. Bolehkah saya menemani Kinan dulu malam ini??"
"Tidak. Malam jni saya yang akan menemani Kinan, kamu pulang saja." tegas Papa Kinan.
"Siap, Bapak." jawab Indra.
Dengan terpaksa Indra pun meninggalkan Kinan. Sebelum pergi, dia masih menyempatkan untuk berpamitan pada Kinan.
"Mas pulang dulu ya Dek?? Besok Mas akan kesini lagi." ucap Indra.
"Iya. Hati hati di jalan ya Mas."
Indra pun tersenyum. Sebelum pergi tak lupa Indra memberi hormat pada Papanya Kinan.
"Kalo kamu memang serius, datangkan orang tuamu kesini." kata kata itu membuat langkah Indra terhenti. Indra pun tersenyum.
"Siap, baik Bapak." jawab Indra tegas.
.
Keesokan paginya Kinan sudah di perbolehkan pulang. Sang Papa mengantarnya pulang.
[Aku udah sampe rumah, Mas.]
[Ohh, Alhamdulillah kalo gitu. Sekarang Adek istirahat saja ya??] pinta Indra.
[Aku masih belum ngantuk Mas. Mau bersantai dulu sebentar.]
[Ya udah kalo gitu, Adek udah makan??]
[Sudah. Mas sendiri udah makan??]
[Sudah, barusan aja makan di kantin.]
[Makan apa??]
__ADS_1
[Biasa. Makanan sejuta umat, mie instan.] jawab Indra bangga yang di sertai tawa.
[Itu sih makanan yang nggak sehat.] protes Kinan.
[Itulah kenapa Mas mau segera punya istri, biar bisa di masakkin makanan yang sehat.] goda Indra.
[Siapa istrinya??] tanya Kinan pura pura tidak tahu.
[Ehmm..., siapa ya?? Kayaknya yang semalam habis Mas temuin di rumah sakit deh. Terus Mas minta langsung aja ke Papanya.] jelas Indra.
[Hahahaha.] Kinan tertawa.
[Jujur aku nggak nyangka Mas bisa seberani itu ngomong sama Papa.]
[Sebenarnya sih nggak berani, cuma setelah Mas pikir pikir mungkin ini jalan yang terbaik buat kita. Lagian dari awal Mas kan memang berniat mau nikahin Adek.] ucap Indra.
[Tapi aku masih belum siap Mas.]
[Iya, Mas tau. Makanya itu Mas ngajuin untuk nikah secara agama dulu, sambil kita menunggu proses pengajuan dan bisa lebih mengenal pribadi masing masing.]
Sejenak Kinan terdiam mendengar penjelasan Indra. Indra menyadari ada sesuatu yang mengganjal di pikiran Kinan.
[Tapi Adek nggak usah kuatir. Setelah nikah agama, kita akan tetap tinggal di tempat masing masing kok. Nggak tinggal bersama. Jadi nikah agama ini kita lakuin hanya untuk menghalalkan aja.] imbuh Indra.
[Iya.] jawab Kinan singkat. [Tapi sama aja kan, yang namanya nikah agama atau pun nikah secara hukum tetap aja sah. Dan nggak bisa di batalkan begitu saja.]
[Emang Adek mau kita pisah nantinya??] tanya Indra heran.
[Dek, prinsipnya Mas itu nikah cuma sekali seumur hidup. Jadi semisal nanti kita nikah agama, ya seterusnya Adek akan tetap sah jadi istrinya Mas. Bahkan setelah pengajuan nikah selesai, Mas akan langsung mengurus pernikahan kita secara hukum.]
[Ya kali aja kan, tiba tiba Mas berubah pikiran dan mulai bosan sama aku.] celetuk Kinan.
[In Shaa Allah nggak Dek. Mas tetap teguh sama pendiriannya Mas. Lagi pula Mas janji setelah kita nikah agama, Mas nggak akan ngelakuin yang macem macem sama Adek. Nunggu kita udah nikah hukum dulu, baru bisa macem macem.] goda Indra.
[Ihh, apaan sih?? Mesum tau.]
[Ya nggak apa apa, kan sama calon istri sendiri.] sahut Indra tersenyum.
[Apa??!!] Kinan terkejut.
[Kok buru buru banget?? Apa nggak nunggu bulan depan atau dua bulan lagi aja??] saran Kinan.
[Bukannya niat baik itu memang harus di segerakan.] sahut Indra percaya diri.
[Iya sih, tapi kan nggak harus dalam minggu ini juga. Lagian mumpung Bapak ngasih lampu hijau, jadi mending di segerakan biar nggak berubah pikiran.]
[Papa kan hanya nyuruh untuk mendatangkan orang tuanya Mas kesini.]
[Tapi kan setidaknya kata kata itu menandakan kalo Bapak ngasih lampu hijau sama Mas.] jawab Indra.
[Iya, iya.] sahut Kinan.
[Tapi kalo orang tuanya Mas kesini, Adek jangan kaget ya??]
[Kaget kenapa Mas??] Kinan heran.
[Ya kaget. Karena orang tuanya Mas itu cuma orang kampung biasa. Bapaknya Mas cuma pensiunan, dan Ibu cuma seorang ibu rumah tangga.]
[Ehm.] respon Kinan. [Beliau disana ikut kakak kakaknya Mas??]
[Nggak, mereka tinggal berdua aja. Kakak kakaknya Mas sudah berumah tangga dan tinggal jauh di luar kota. Kebetulan disana Bapak punya kebun, jadi Bapak nggak mau jauh jauh dari kebunnya. Alhamdulillah masih ada kebun, jadi Bapak punya kesibukan di masa pensiunnya.]
[Kebun apa Mas??]
[Ada kebun cengkeh, kebun teh, sama kebun kelapa.]
[Ouhh.]
Kinan berusaha lebih mengenal keluarganya Indra.
[Terus, terus. Gimana responnya beliau saat Mas nyuruh mereka kesini??] tanya Kinan penasaran.
[Ya awalnya sih kaget. Karena kata mereka kok tumben di suruh datang ke Jawa?? Ada apa??] jelas Indra.
__ADS_1
[Ya Mas langsung jawab aja, mau nikahin anaknya orang gitu. Ehh mereka malah kaget.] imbuhnya.
[Hahahaha.] Kinan tertawa lepas. [ Gimana nggak kaget coba. Aku aja semalam kaget waktu Mas bicara gitu sama Papa, apalagi orang tuanya Mas.]
[Iya, bener. Bahkan mereka sampe penasaran dan bertanya ada masalah apa Nak?? Kenapa tiba tiba mau menikah?? Perasaan selama ini kamu nggak pernah ngenalin satu perempuan pun kepada kami. Kamu nggak hamilin anaknya orang kan??] ucap Indra menirukan gaya bicara orang tuanya.
Sontak Kinan pun tertawa saat mendengar kata kata Indra itu. Indra pun ikut tertawa.
[Kok bisa sih pikiran mereka sampe kesitu??] ucap Kinan yang menahan tawa.
[Ya gimana lagi Dek, namanya juga orang desa. Kalo ada berita yang mendadak gitu kan mereka berfikirnya pasti ada sesuatu. Lagian bukan rahasia umum lagi, kalo jaman sekarang banyak perempuan yang sudah hamil di luar nikah. Di kampungnya Mas aja banyak.] jelas Indra.
[Iya juga sih Mas. Jaman sekarang makin ngeri.] imbuh Kinan.
[Padahal di usia mereka yang masih belia itu, mereka masih bisa meraih cita cita setinggi langit dan membahagiakan orang tuanya. Bukan malah terjerumus ke dalam pergaulan bebas dan memalukan nama keluarganya.] jelas Indra.
[Tapi kan kalo di desa gitu, biasanya perempuan memang hanya di jadikan sebagai objek untuk di nikahkan di usia yang sangat muda.] sahut Kinan.
[Kasian sih sebenarnya. Di umur mereka yang masih belum matang, mereka harus sudah di wajibkan untuk memegang tanggung jawab yang besar. Bukan hanya di pihak perempuan, tapi juga di pihak lelaki sebagai suami.] jelas Indra.
[Itulah kenapa, kalo ada laki laki yang masih muda minta kerjaan ke Bapak pasti di terima. Dan mereka di suruh untuk bantu di kebunnya Bapak. Karena Bapak tau pasti jika ada perut yang harus di kasih makan.] ucap Indra tersenyum.
[Oh iya ngomong ngomong soal kerjaan, Adek kapan mulai masuk kerja??]
[Nanti malam aku udah mulai masuk kerja Mas.]
[Loh, apa nggak sebaiknya minta ijin libur dulu Dek??]
[Nggak deh Mas. Lagian aku udah nggak apa apa kok, nggak enak juga sama tim IGD kalo sering nggak masuk.] jelas Kinan.
[Kalo gitu nanti Mas antar ya??] pinta Indra.
[Nggak usah Mas, nanti aku di antar Pak Rachmad aja. Mas istirahat aja. Kedengaran sekali dari suaranya kalo Mas masih ngantuk.] sindir Kinan.
[Hehehe. Kedengeran banget ya Dek??] ucap Indra malu yang sedari tadi memang sering menguap.
[He em.] jawab Kinan. [Pasti itu karena Mas semalam kurang tidur.] duga Kinan.
[Mungkin.]
[Ya udah kalo gitu Mas istirahat aja.] saran Kinan.
[Nggak bisa istirahat sekarang Dek, Mas masih di kantor.]
[Ohh lagi di kantor, kirain lagi di mess. Maaf ya udah ganggu Mas kerja.]
[Nggak kok, nggak ganggu. Lagian kan Mas duluan yang telpon Adek. Ya udah kalo gitu Adek istirahat gih, biar nanti malem kuat dinasnya.]
[Iya Mas.]
Kinan pun menutup telponnya. Terlihat Indra senyum senyum sendiri menatap layar ponselnya.
"Ceilehh, yang lagi kasmaran. Dari tadi senyam senyum sendiri." sindir Erwan yang sedang duduk di samping Indra.
"Kenapa?? Iri?? Cari calon istri juga dong, jangan jadi jojoba terus." ejek Indra.
"Apaan tuh Jojoba??"
"Jomblo Jomblo Bahagia." sindir Indra seraya tertawa.
"Sialan. Mentang mentang sekarang udah punya cewek, malah ngatain lagi."
"Eittsss, bukan cewek. Calon istri." tegas Indra.
"Emang calon istrimu itu bukan cewek??" celetuk Erwan.
"Hehehehhehe. Iya juga ya." jawab Indra konyol.
"Nih orang semenjak kasmaran, otaknya kayak agak bermasalah." celetuk Erwan. "Harus di bawa ke dokter nih."
"Ke dokter?? Ayukk, kita ke dokter Kinan aja." saran Indra seraya tersenyum.
"Nah itu kan bener. Di pikirannya cuma ada Kinan, Kinan terus." sindir Erwan.
__ADS_1