
"Terus masalahnya dimana?? Dia masih sama sama berbentuk orang kan?? Masih sama sama makan nasi kan??"
"Masalahnya nggak sesimple itu Dek. Mas harus benar benar tau dulu gimana perasaan cewek itu ke Mas."
"Kalo Mas nggak ungkapin perasaannya ke dia, gimana Mas akan tau." Kinan makin kesal.
"Itulah masalahnya. Mas belum siap Dek. Mas takut dia akan menjauh saat Mas ungkapin perasaan itu. Mas takut hubungan kami akan renggang."
"Semua kan ada resikonya masing masing Mas. Di coba aja dulu, kali aja dia punya perasaan yang sama kayak Mas."
"Mas belum siap kehilangan dia Dek. Mas masih belum siap jika hubungan kami akan renggang."
Kinan sejenak terdiam dan menghela napas.
"Mas sepertinya sayang banget ya sama cewek itu??"
"Iya. Mas sayang sekali sama dia." jawab Indra tulus sambil memandangi Kinan.
"Semangat ya Mas." ucap Kinan memberi semangat. Indra pun hanya membalas dengan senyuman.
Kinan. Apa kamu tau siapa cewek yang sedang kita bicarakan sekarang?? Apa kamu tau siapa cewek yang sedang aku suka?? Jika kamu tau kalo cewek itu adalah kamu, apakah kamu akan menjauh dari aku?? Atau apakah mungkin kamu punya perasaan yang sama denganku??
.
Beberapa jam pun berlalu. Kini mereka sudah hampir dekat dengan rumah. Saat itu pandangan Kinan tertuju pada sebuah gunung di hadapan mereka.
"Itu gunung apa Mas??" Kinan penasaran.
"Ohh, itu gunung bromo."
"Hemm."
"Kenapa?? Adek mau kesana??"
"Emang boleh kesana??"
"Boleh lah. Itu kan tempat wisata."
"Beneran??" Kinan tak percaya.
Indra hanya mengangguk.
"Jauh nggak dari sini??"
"Nggak terlalu jauh kok. Adek mau kesana??"
"He em." Kinan mengangguk.
"Ya udah kapan kapan Mas ajak Adek kesana."
"Mas pernah kesana??"
"Sering malah. Nganterin Komandan dan para Jenderal. Biasanya kalo ada kunjungan, mereka pasti mintanya liburan ke Bromo."
__ADS_1
"Ohh. Disana ada penginapan juga??"
"Ada. Banyak. Tinggal milih aja."
"Heem..., gitu."
"Tapi jangan heran disana suhunya sangat dingin. Harus siap jaket berlapis lapis kalo mau kesana." saran Indra.
"Oke. Terus kapan kita mau kesana?? Sekarang?? Besok??"
"Jangan sekarang. Kasian Adek habis perjalanan jauh. Lain waktu aja kita kesana kalo Adek libur kerja."
"Oke deh." Kinan mengacungkan jempolnya seraya tersenyum. Indra pun ikut tersenyum.
Sesampainya di rumah Nenek. Kinan pun turun dari mobil, mandi dan beristirahat. Saat malam harinya tiba tiba ada yang mengetuk pintu kamarnya.
Tokk...tokk...tokk...
"Iya masuk." ucap Kinan yang sedang berbaring di ranjang.
Nenek pun masuk ke dalam kamar Kinan.
"Lagi ngapain nih cucu Nenek??" tanya Nenek sambil duduk di tepi ranjang.
"Cuma lagi santai aja kok Nek. Kenapa Nek??" Kinan membetulkan posisi duduknya.
"Ehmm, gini. Besok malam kamu ada acara??" tanya Nenek.
"Nggak ada. Kenapa Nek??"
"Tumben??"
"Besok akan ada pejabat penting yang berkunjung, jadi Papamu meminta kamu juga ikut." jelaa Nenek.
"Kenapa mereka nggak telpon langsung aja ke aku??"
"Mereka takut kamu lagi istirahat, jadi Nenek yang di suruh menyampaikan ke kamu." imbuh Nenek.
"Ohh." jawab Kinan santai.
"Ya udah kalo gitu kamu istirahat ya sayang. Kamu pasti capek sekali. Besok dandan yang cantik yaa." saran Nenek. "
Kinan hanya menganggukkan kepala.
Keesokan malamnya. Kinan pun bersiap untuk pergi makan malam. Sebuah dress cantik berwarna salem telah melekat di tubuhnya.
"Sudah siap??"
"Sudah Nek." jawab Kinan tersenyum.
"Ya udah kalo gitu ayo kita berangkat."
"Nenek juga ikut?" tanya Kinan heran saat melihat Nenek yang mengenakan kebaya.
__ADS_1
"Ya iya lah. Sekali kali nemuin pejabat penting." gurau Nenek. "Ya udah yukk berangkat. Takut pejabatnya keburu datang lagi. Nggak enak kalo duluan mereka yang datang."
"Iya Nek." jawab Kinan tersenyum.
Mereka pun menuju garasi mobil. Terlihat Indra sudah stand by disana. Dengen sopan dia membuka pintu mobil dan mempersilahkan kami masuk ke mobil. Kini Kinan tidak duduk di samping kemudi, melainkan duduk di samping Nenek di kursi tengah.
"Mas udah aku kasih tau untuk lokasinya kan??"
"Sudah." jawab Indra tegas.
Mereka pun berangkat. Butuh sekitar 2 setengah jam hingga mereka sampai di sebuah restaurant di Kota Surabaya.
"Mas Indra nggak ikut masuk juga??"
"Saya biar nunggu di mobil saja." jawab Indra tersenyum.
"Iya Nak. Biar Indra di mobil saja." timpal Nenek.
Kinan hanya mengangguk.
Mereka berdua masuk ke dalam lobi dan di sambut seorang pelayan. Pelayan itu menunjukkan jalan menuju ruangan khusus tempat dimana orang tua Kinan menunggu.
Saat pintu ruangan itu di buka. Terlihatlah siapa sosok tamu yang mereka sebut pejabat penting itu. Tubub Kinan mendadak kaku.
"Sini masuk Nak." ucap Mama.
Sejenak Kinan masih melongo melihat tamu itu. Dia terkejut dan tidak menyangka jika tamu penting itu adalah keluarga Bapak Antok. Ada Niko juga disini, mengenakan setelah kemeja yang sangat rapi. Entah hanya makan malam biasa, atau ada maksud terselubung di balik kedatangan keluarga Bapak Antok.
"Ngapain bengong sih?? Buruan masuk sini." ucap sang Mama.
"Ohh.., ii.. Iya." jawab Kinan gugup. Perlahan dia pun masuk ke dalan ruangan itu dan duduk berhadapan dengan Niko.
"Kayak nggak pernah ketemu aja. Padahal beberapa hari yang lalu udah ketemu di Semarang." ucap Bu Antok.
"Oh ya??" Mama tidak percaya.
"Kita kan kemarin makan malam bersama ya sayang??" tanya Bu Antok lembut.
"Iya, Tante." jawab Kinan lembut.
Saat kedua orang tua saling berbincang bincang. Pandangan Kinan tertuju pada Niko. Dari jarak jauh mereka saling berhadapan dan Kinan melempar pandangan sinis pada Niko seakan bertanya Ada apa sih ini? Kenapa orang tua pada ngumpul gini?
Namun Niko seakan tahu isi hati Kinan, dia pun hanya menaikkan pundaknya sebagai tanda bahwa dia tidak tahu. Mereka seakan memiliki ikatan batin.
"Mereka sama sama single. Jadi maksud kedatangan kami kesini sebenarnya ingin lebih mendekatkan keluarga, kami bermaksud untuk melamar Kinan." ucap tegaa Pak Antok.
"Apa??!" Kinan terkejut.
Bu Rizal yang duduk samping Kinan langsung memegang tangan anaknya itu, seakan berkata Jangan marah dulu. Tenang. Jangan bertindak sesuatu hal yang tidak sopan.
"Iya sayang. Kami kesini memang dengan maksud dan tujuan yang baik. Kami berniat untuk menyatukan Kinan dan Niko. Karena kami lihat kalian sudah lama dekat, dan hubungan kalian pun juga semakin akrab." imbuh Bu Antok.
Apanya yang semakin akrab?? Boro boro akrab. Adanya tuh sering tengkar mulu.
__ADS_1
Ingin sekali Kinan menjawab seperti itu. Tapi mau bagaimana lagi, dia hanya bisa diam. Dia tidak ingin mempermalukan orang tuanya.