Cinta Sang Ajudan

Cinta Sang Ajudan
Tak Sejalan


__ADS_3

"Kamu mau makan apa??" tanya Niko.


"Terserah deh." jawab Kinan malas.


"Gimana kalo makan bakso?? Udah lama banget aku nggak makan bakso."


"Bakso dimana??"


"Disekitar sini ada bakso enak, terkenal pula."


"Kamu pernah kesana??"


"Nggak pernah, cuma lihat lihat di konten Yo**ube aja. Katanya sih enak."


"Itu sih namanya mereka lagi promosi. Yang namanya promosi dimana mana pasti di enakkin, pasti di nomor satukan. Nggak mungkinlah ngonten, dapat uang, malah di jelek jelekkin." celetuk Kinan.


"Ya kan kita coba aja dulu. Entar kalo emang nggak enak, nggak usah kesitu lagi. Itung itung nganter aku wisata kuliner." gurau Niko.


"Kalo ngikutin kamu wisata kuliner, bisa bisa aku jadi mengembang."


"Nggak apa apa, aku masih tetap sayang kok." Niko genit.


"Uuwweekkk!!!" sindir Kinan dengan pura pura muntah.


"Hahahahahaha." Niko tertawa lepas. "Beneran loh, serius itu. Aku akan menerima kamu apa adanya."


"Iya deh, terserah kamu aja mau ngomong apa. Seenaknya kamu aja lah biar kamu senang." jawab Kinan.


Tak beberapa lama kemudian, mereka tiba di sebuah warung bakso. Warung bakso yang berada di tengah tengah sawah. Banyak mobil yang sudah berjajar disana. Pengunjung disana juga cukup ramai.


Cara penyajian disana pun cukup unik. Mereka memilih sendiri bakso mana yang akan mereka makan, seperti prasmanan bakso. Setelah memilih, mereka pun duduk di lantai 2.


"Kemarin kamu kemana?? Aku hubungi kok gak bisa??"


"Kemarin kapan??"


"Kemarin pagi."


"Ohh, aku lagi ke Bromo."


"Ke Bromo?? Sama siapa?? Kok nggak bilang bilang sih??" Niko kesal.


"Mau mulai berantem nih ceritanya??" ucap Kinan yang malas berdebat.


Mendengar itu, Niko hanya bisa terdiam. Dia tidak ingin menyulut emosi Kinan.


"Aku berangkat sama sopir saja. Sebenarnya pengen ngajak kamu sih, tapi gimana lagi. Saat itu kita kan lagi berantem, jadi malas mau ngajak." jelas Kinan.


"Setidaknya kamu bilang, biar aku nggak kuatir." ucap Niko yang berusaha sabar.


Niko pun lebih banyak diam. Sebenarnya dia ingin mengobrol tentang acara pertunangan dan pernikahan mereka, namun hal itu ia urungkan. Dia merasa jika saat itu perasaan Kinan sedang tidak enak untuk di ajak membahas sesuatu yang serius. Dia tidak ingin ada pertengkaran lagi di antara mereka.

__ADS_1


Selesai makan, mereka pun kembali. Tak ada hal serius yang mereka bicarakan. Niko memilih waktu lain untuk membicarakan tentang hubungan mereka ke depannya.


Sesampainya di depan rumah Kinan, ternyata Indra masih belum pulang. Dia masih menemani Nenek mengobrol di teras rumah.


"Assalamuallaikum, Nek." panggil Kinan.


"Waallaikumsalam." jawab Nenek. "Loh, ada Niko juga."


"Iya Nek." jawab Niko seraya mencium tangan Niko.


"Ayo sini, sini masuk dulu." ajak Nenek.


"Iya Nek." jawab Niko.


Niko dan Nenek pun masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Kinan dan Indra.


"Mas Indra kenapa belum pulang??"


"Aku udah pulang kok, cuma barusan datang kesini lagi."


"Mau ngapain??"


"Nggak ngapa ngapain, cuma mau nemenin Nenek ngobrol aja. Kasian Nenek sendirian." jawab Indra.


Sebenarnya dia kesana dengan maksud untuk mengetahui Kinan sudah pulang apa belum. Namun dia tak berani untuk berkata jujur, dia takut Kinan akan semakin menjauh darinya.


"Ohh ya udah kalo gitu. Mas sekarang boleh pulang kok." Kinan berusaha menyingkirkan rasa canggungnya.


"Iya." jawab Indra tersenyum.


Kinan yang melihat itu pun sontak memanggil Indra untuk sementara berteduh.


"Mas, masuk sini aja dulu." ajak Kinan.


Mendengar itu, Indra pun langsung buru buru masuk kembali. Namun karena tidak berhati hati, dia pun hampir terpeleset. Dan tidak sengaja Indra memeluk tubuh Kinan.


Beberapa saat mereka pun saling berpandangan, hingga pada akhirnya Kinan mulai tersadar dan melepas pelukan Indra.


"Ehm, itu, anu... Ehm, mas Indra berteduh saja dulu. Diluar masih hujan deras." ucap Kinan canggung.


"Iya." jawab Indra tersenyum.


Setelah hujan agak reda, Indra pun pulang.


Malam harinya, Kinan memikirkan apa yang di katakan Niko.


Apa memang sebaiknya aku harus ganti sopir saja?? Tapi aku harus ngomong gimana sama Mas Indra. Nggak enak juga langsung berhentiin dia secara sepihak.


Mungkin dengan begini, perasaan Mas Indra akan berubah. Aku nggak mau membuatnya terlalu berharap.


Keesokan harinya di mess ajudan. Terlihat Indra sudah bersiap siap untuk berangkat ke rumah Kinan.

__ADS_1


"Kamu mau kemana Ndra??" tanya Erwan.


"Kok masih tanya. Ya mau kemana lagi, ke rumah Kinan lah."


"Kayaknya mulai hari ini kamu jadi sopirnya Komandan lagi deh."


"Loh kok bisa??"


"Ya bisa lah, kamu kan emang notabennya sopir Komandan."


"Iya, paham. Tapi kan Komandan sendiri yang memerintahkan aku untuk jadi sopirnya Kinan."


"Mungkin kontrakmu udah selesai kali." jawab Erwan santai.


"Kontrak apaan?? Kemarin aja Kinan nggak ngomong apa apa sama aku."


"Coba kamu tanya aja sendiri sama Komandan." tegas Erwan.


Karena penasaran, Indra pun menghadap langsung ke Komandan yang rumahnya bersebelahan dengan mess ajudan.


"Ijin, Komandan."


"Iya, kenapa Ndra??"


"Siap, Ijin Komandan. Saya dengar hari ini kami mulai melayani Komandan lagi atau bagaimana Komandan?? Ijin petunjuk."


"Oh iya, mulai hari ini kamu nggak perlu ngelayani anaknya jenderal lagi. Tadi malam saya sudah mendapat telpon dari Bapak Jenderal. Katanya sih sopirnya sudah membaik, jadi kamu tidak perlu kesana lagi."


"Oh siap, Komandan." jawab Indra.


Dia pun keluar dari rumah dinas Komandan dengan penuh kebingungan.


Kemarin Kinan nggak ngomong apa apa sama aku. Kenapa mendadak begini?? Nanti aku coba telpon dia.


Setelah mengantar Komandan ke kantor, Indra pun duduk di meja ajudan yang berada tepat di depan ruang Komandan.


Dia sibuk memainkan ponselnya. Memonitor jadwal Komandan untuk beberapa hari ke depan, dan menulis di buku agenda kegiatan.


Tak sengaja saat dia memonitor jadwal di ponsel, tiba tiba ada sebuah undangan yang membuatnya terdiam sejenak. Membuatnya kaku bagai patung.


"Ap..app..apaan ini??" ucap Indra yang tak percaya.


Undangan itu adalah undangan pertunangan antara Kinan dan Niko. Yang akan di lakukan minggu depan.


Meski dia sudah tahu Kinan dan Niko akan segera meresmikan pertunangan mereka, tapi dia tak menyangka akan di lakukan secepat ini. Bahkan dia harus melihat dengan mata kepalanya sendiri undangan itu. Dan mau tidak mau, dia harus mengantar Komandan untuk datang ke acara tersebut.


Apa ini alasan kenapa aku harus di berhentikan mendadak?? Kenapa kamu nggak bilang dari kemarin, Kinan?? Kenapa aku harus melihat sendiri undangan ini??


Apa seperti ini caramu untuk menjauhiku??


Indra berusaha menenangkan pikirannya. Dia berkali kali menghela napas.

__ADS_1


__ADS_2