Cinta Sang Ajudan

Cinta Sang Ajudan
Pengajuan


__ADS_3

Beberapa hari setelah acara kelulusan, Indra pun bergerak cepat untuk mengurus pengajuan nikah. Dia khawatir akan ada cobaan lagi ke depannya, jadi dia ingin segera mengesahkan Kinan sebagai Ibu Persitnya.


Pagi itu Kinan terlihat anggun saat mengenakan baju Persit lengkap beserta tas hitam dan sepatunya. Sepanjang jalan Indra selalu tersenyum.


Akhirnya bisa pengajuan juga, setelah banyak cobaan yang sudah kami lalui. Mudah mudahan semua berjalan lancar. Gumam Indra sembari memegangi tangan Kinan yang melingkar ke perutnya.


Di awali dengan menghadap ke Batalyon. Mereka pun masuk ke dalam area Batalyon itu. Tak lupa Indra membawa setumpuk berkas di dalam tas ransel yang dia bawa. Itulah kali kedua Kinan memasuki kesatuan sang suami. Banyak pasang mata yang tertuju pada mereka.


"Siap Pasi, ijin menghadap." ucap Indra saat akan memasuki sebuah ruangan perwira staf.


"Iya Ndra. Ada apa??"


Di Batalyon, tidak ada orang yang tidak mengenal Indra. Dialah ajudan sekaligus sopir sang Komandan. Jadi semua urusan yang menyangkut Komandan, dialah yang akan menghandle.


"Siap, ijin Pasi. Kami mau menghadap untuk pengajuan nikah."


"Wihh, jadi nikah juga kamu Ndra. Kayaknya baru beberapa hari yang lalu deh kamu lulus Secaba. Cepat juga pergerakanmu." ucap Perwira staf.


"Siap." jawab Indra.


"Loh, calonnya kok nggak di gandeng sih Ndra?? Di gandeng dong." gurau perwira itu.


Indra pun langsung menggandeng tangan Kinan.


"Nggak, saya nggak mau disini. Saya maunya kamu gandeng calon istrimu itu mulai dari gerbang sana, sampai masuk kesini."


Suruh perwira staf itu seakan ingin mengerjai Indra. Namun hal itu sudah biasa di lakukan jika ada pengajuan nikah. Malahan ada yang di suruh untuk menceburkan dirinya ke dalam kolam, ada juga yang harus mentraktir makan, terkadang ada juga yang mengerjai untuk saling menyuapi calon istrinya masing masing di depan sang perwira staf itu.


Pegangan tangan bukanlah hal yang sulit untuk Indra. Namun bagi Kinan, itu adalah sesuatu yang membuatnya malu. Dimana semua orang pasti akan melihat mereka saat berjalan sambil berpegangan tangan.


"Udah, nggak apa apa. Anggap aja lagi nggak ada orang." saran Indra saat berada di gerbang depan Batalyon.


Banyak pasang mata prajurit yang bersiap untuk bersorak melihat mereka. Seakan akan bagai model yang hendak berjalan di catwalk, tapi bedanya ini berjalan di Batalyon.


"Udah, ayoo." Indra mengulurkan tangannya pada Kinan.


Perlahan Kinan pun meraih tangan Indra. Mereka berjalan beriringan memasuki area Batalyon. Tak sedikit para prajurit yang menggoda mereka, bersiul bahkan bersorak saat melihat mereka berjalan bersama. Yang membuat sesekali Kinan menundukkan kepalanya karena malu. Indra yang melihat hal itu pun tersenyum.


Ternyata istriku ini pemalu juga ya. Gumam Indra dalam hati.


Mereka pun terus berjalan sambil berpegangan tangan hingga sampai di depan kantor yang tadi dia datangi.


"Nah gitu dong kan kelihatan mesra." goda sang perwira.


"Siap, Pasi." jawab Indra tersenyum.


"Tapi ya nggak pegangan terus juga kali, Ndra. Masa di depan saya gini juga pegangan tangan sih. Bikin iri saja." ucap si perwira saat melihat Indra masih memegang erat tangan Kinan.

__ADS_1


Sontak Indra pun melepaskan pegangan tangannya.


"Siap, Pasi."


"Duduk dulu. Saya mau lihat berkas berkas yang sudah kamu siapkan, apa sudah lengkap semua??"


"Siap, sudah Pasi." Indra menyerahkan setumpuk berkas berkas yang sudah mereka siapkan di dalam tas ranselnya.


Pasi itu melihat secara teliti satu per satu berkas yang Indra serahkan.


"Kayaknya sudah siap semua nih??" ucapnya sambil membuka berkas berkas itu.


"Siap, Pasi."


"Kapan rencana mau nikah??"


"Siap, kalo bisa secepatnya Pasi."


"Wihh, buru buru amat Ndra."


"Siap." Indra tersenyum.


Setelah dari staf, Indra pun langsung menarik Kinan menuju ruang sang Komandan. Saat akan memasuki ruang Komandan, di meja ajudan sudah ada Erwan dan Aris yang sedang duduk.


"Ndra, kamu beneran mau pengajuan??" Erwan heran.


Sejenak Erwan dan Aris sama sama melihat ke arah Kinan. Kinan yang melihat teman teman Indra itu pun langsung menundukkan kepalanya. Dengan sigap, Indra langsung menutupi istrinya itu. Dia menghadap tepat di depan istrinya.


"Ngapain sih lihat lihat kayak gitu??" Indra kesal.


"Ayo kita masuk." ajak Indra pada Kinan.


Indra pun mengetuk pintu ruangan sang Komandan.


Tokkk...Tokk...Tokk...


"Masuk."


"Siap, ijin menghadap Komandan."


"Ohh, Indra. Masuk, Ndra."


Indra pun masuk ke ruangan itu dan di ikuti oleh Kinan. Komandan mempersilahkan Indra dan Kinan untuk duduk.


"Ada apa, Ndra??"


"Siap, ijin Komandan. Saya mau menghadap untuk pengajuan nikah." ucap tegas Indra.

__ADS_1


"Akhirnya nikah juga nih ajudan saya." goda Sang Komandan.


"Siap."


"Ini Dokter yang dulu pernah ngisi materi kesehatan di Batalyon kan??"


"Siap, betul Komandan."


"Pantes saja saat itu Ibu pernah bilang kalo kamu dekat sama Dokter yang ngisi materi waktu itu." jelas Komandan.


"Siap."


Sang Komandan pun mulai melihat kembali berkas berkas yang sudah terkumpul.


"Kamu sudah minta tanda tangan sama Pasi??"


"Siap, sudah Komandan. Tapi kami belum menghadap ke Wakil Komandan, karena beliau ada urusan dinas keluar."


"Ya udah nggak usah, nggak apa apa. Lewat saya saja." ucap Komandan santai.


"Kapan rencana mau menikah??"


"Siap, secepatnya Komandan setelah kami selesai pengajuan."


"Bagus. Memang harus seperti itu. Cepat di halalkan." imbuh sang Komandan.


"Yang namanya pernikahan itu pasti ada masalah, jadi sebagai Komandan saya hanya berpesan. Jagalah selalu keluargamu Ndra, karena merekalah yang akan selalu menjaga dan merawatmu hingga menua nanti. Jangan sia siakan istrimu. Jadikanlah dia partner hidup, bukan sebagai pembantu." Komandan memberikan wejangan.


"Siap, Komandan."


Beberapa minggu pun sudah mereka lewati untuk mengurus pengajuan. Bukan hanya Batalyon, tapi jajaran di atas Batalyon pun harus mereka lewati. Dari tes Bintal (Bimbingan Mental), bimbingan keagamaan, tes wawasan kewarganegaraan, dan juga ada bimbingan dari Pengurus Persit.


Disana Kinan di wajibkan harus menghafal Mars Persit dan juga tugas pokok sebagai istri prajurit. Dia pun juga di uji dengan pertanyaan seputar tugas sang suami, seperti NRP dan jabatan suami di Batalyon. Tapi syukurlah, Kinan bisa menjawab semua pertanyaan dengan sangat lancar.


"Capek ya??" tanya Indra.


Kinan pun menganggukkan kepalanya dengan wajah yang lesu.


"Sabar ya sayang." Indra mengusap pipi sang istri.


Dia kemudian menggenggam tangan sang istri seraya tersenyum untuk memberi kekuatan pada Kinan.


Bukan hanya sekali dua kali mereka harus kembali karena persyaratan yang ada di pusat sangatlah sulit. Bahkan hanya sekedar perkara foto yang tidak sejajar saja, mereka harus pulang dan kembali lagi esok hari sambil membawa foto terbaru sesuai yang di instruksikan.


Benar benar bukan perkara mudah mengurus pengajuan untuk menjadi istri seorang prajurit.


.

__ADS_1


__ADS_2