Cinta Sang Ajudan

Cinta Sang Ajudan
Perkelahian


__ADS_3

"Semena mena seperti apa?? Aku ngelakuin kayak gini karena aku perduli sama kamu."


"Perduli itu nggak kayak gini Nik" sahut Kinan. "Bukan menjadi posesif seperti ini. Aku ini bukan bawahanmu yang bisa kamu atur atur seenakmu." Kinan mulai memberontak. Terlihat Niko menghela napas kasar.


"Sebentar lagi kita akan bertunangan." Niko mengingatkan.


"Iya, aku tau kok." jawab Kinan ketus.


"Jadi aku harap kamu nggak usah keluar kemana mana dulu. Aku minta kamu sekarang balik sama aku." pinta Niko berusaha merendahkan suaranya.


"Aku akan balik kok. Tapi nunggu setelah acara workshop ini selesai."


"Kapan??"


"Dua hari lagi." jawab Kinan singkat.


"Kinan. Ada banyak yang harus kita persiapkan."


"Bukannya kamu bilang sendiri kemarin kalo semua sudah di persiapkan sama Mamamu??" Kinan menegaskan.


"Tapi ada beberapa lagi yang perlu kita urus."


"Apa lagi??" tanya Kinan heran.


"Ya, pokoknya ada lah. Makanya itu kita harus balik sekarang." Niko kembali menarik tangan Kinan. Namun sontak Kinan menepis tangan Niko.


"Jangan egois Nik. Aku juga masih ada kerjaan, aku akan balik kalo urusanku disini sudah selesai." tegas Kinan.


"Urusan apa?? Urusanmu sama Indra maksudnya??" Niko kembali emosi.


"Loh, kenapa tiba tiba kamu membahas Indra?? Dia nggak ada hubungannya sama kita."


"Ada. Dia yang membawamu kesini. Dia ingin dekat sama kamu. Dia ingin mengambilmu dari aku."


"Niko, nggak usah ngayal."


"Aku nggak ngayal. Itu memang kenyataannya. Dia ingin merebutmu dari aku." tegas Niko.


"Tapi aku nggak akan ngebiarin semuanya, semua rencana yang telah aku buat nggak akan bisa di gagalkan oleh siapa pun." imbuhnya.


Sejenak Kinan memicingkan matanya, dia berfikir apa yang telah terjadi pada dirinya dan Niko.


"Rencana?? Rencana apa maksudnya??" Kinan heran.

__ADS_1


Seketika Niko pun sadar apa yang tadi telah dia ucapkan. Kalimat yang tidak seharusnya dia ungkapkan. Dia tidak sadar sudah mengungkapkan sendiri apa yang telah terjadi.


"Ohh, aku paham sekarang. Jadi ini yang sebenarnya terjadi." Kinan mulai menerka.


"Jujur dari awal sebenarnya aku merasa agak aneh dengan semua yang telah terjadi. Dari kita ketemu di Batalyon, kamu yang tiba tiba menyusul aku ke Semarang. Ngadain pertemuan keluarga, bahkan acara tukar cincin yang sangat dadakan. Jadi ini semua rencanamu??" jelas Kinan.


"Apa jangan jangan kejadian di Malang malam itu juga adalah rencanamu??" tanya Kinan memastikan. "Sampai membuat namaku tercoreng di mata orang tuaku sendiri, mereka sampai berfikir kita benar benar melakukan hal yang nggak terpuji. Apa seperti itu yang kamu mau??"


"Bukan, bukan seperti itu maksudku." Niko berusaha membela diri. "Aku hanya ingin lebih dekat denganmu."


"Apa menurutmu dengan cara seperti ini kita bisa dekat??" tanya Kinan. "Nggak Nik, caramu malah bikin aku semakin ingin menjauh dari kamu."


"Maaf Nik, aku permisi dulu."


Saat Kinan hendak beranjak, tiba tiba saja Niko kembali menarik tangan Kinan dan berniat menjatuhkannya dalam pelukan. Namun dengan sigap Kinan mendorong tubuh Niko menjauh darinya.


Kinan tidak habis pikir, kenapa Niko bisa berbuat seperti ini.


"Iya, aku tau aku salah. Aku memang sudah berbohong. Aku memang sudah merencanakan semuanya, bahkan Allah pun mendukung dengan menurunkan hujan pada malam itu. Membuat kita berdua bener bener terjebak di dalam vila." Niko berusaha membela diri.


"Tapi semua ini sudah terjadi, pertunangan pun sudah di depan mata. Kita sudah nggak bisa kembali lagi, kita tetap harus melanjutkan rencana ini." ucap Niko memelas.


"Nggak Nik, sepertinya kamu salah. Kita harus menjelaskan semua yang telah terjadi."


"Terus membuat kedua orang tua kita malu gitu??" tanya Niko. "Semua undangan sudah di sebar. Jika pertunangan ini batal, mau taruh di mana muka orang tua kita?? Kamu harus pikir baik baik itu."


"Cara apa lagi?? Sudah nggak ada cara lain. Kita harus melanjutkan pertunangan ini." paksa Niko.


"Maaf Nik, aku nggak bisa." jawab Kinan yang hendak beranjak.


"Oke, kalo kamu tetap bersi keras untuk membatalkan pertunangan ini. Tapi kamu jangan nyesel, aku juga akan mengambil tindakan tegas buat Indra." ancam Niko yang membuat langkah Kinan terhenti. Dia pun berbalik.


"Jangan bawa bawa Mas Indra dengan masalah kita. Dia nggak ada hubungan apa apa."


"Ya jelas ada hubungan. Dia melalaikan tugas, bahkan dia menentang perintah. Dari situ aja, sudah banyak pelanggaran yang bisa di angkat."


"Jangan jadikan jabatanmu sebagai tameng untuk menundukkan orang lain." tegas Kinan.


"Kalo kamu memang tidak ingin Indra terkena kasus, aku harap kamu menuruti kata kataku tadi. Pulang denganku sekarang." ancam Niko.


Kinan enggan menjawab, dia pun hendak pergi. Namun sekali lagi Niko menarik paksa tangan Kinan, hingga Kinan meringis kesakitan.


"Lepas?!!! Lepasin aku!!!" pinta Kinan. "Sakit!!"

__ADS_1


Kejadian itu di saksikan banyak orang yang ada di lobi. Tapi tak ada satu pun yang berani untuk membantu, hingga sebuah tangan tiba tiba menggapai tangan Kinan.


"Maaf bang, Kinan kesakitan. Bisa minta tolong abang lepas tangannya??" ucap sopan Indra.


"Ohh, mau jadi sok pahlawan ya??" sindir Niko yang enggan melepas tangan Kinan. "Ingat Ndra, kamu hanya sebatas seorang Tamtama. Nggak selevel denganku. Kamu tau?? Aku bisa dengan mudah memberikanmu tindakan tegas atas dasar tidak mematuhi perintah."


"Terserah abang mau menjatuhi hukuman apa buat saya. Tapi tolong jangan sakiti Kinan." ucap Indra seraya melepas tangan Kinan dari cengkeraman Niko.


"Ouwh, jadi kamu mau main main ya?? Oke, aku ladenin." ucap Niko.


Seketika Niko pun langsung memukul Indra, perkelahian pun tak terelakkan.


"Sudah, Nik!!! Sudah!!! Hentikan!!!" teriak Kinan.


Namun Niko tak mendengar perkataan Kinan, dia masih saja memukuli tubuh Indra. Terlihat Indra hanya bisa membela diri, namun tak berani untuk melawan. Mungkin karena Niko seorang perwira, dia menghargainya sebagai seorang senior.


"Sudah Nik!! Cukup!!!" teriak Kinan saat melihat Indra tersungkur di lantai. Dia pun menghampiri Indra.


"Sudah!! Cukup!!! Kelakuanmu sama sekali tidak mencerminkan seorang abdi negara. Malahan kamu mirip seperti seorang berandalan." ucap Kinan emosi.


"Jadi kamu membela dia??"


"Iya, aku membela Indra. Kenapa??"


"Kamu suka sama dia??"


"Iya, aku memang suka sama dia. Terus kenapa??" ucap Kinan spontan.


Kata kata yang membuat semuanya terkejut, tak terkecuali Indra. Antara senang dan bingung.


Apa benar dia suka sama aku?? Apa dia serius??


"Ohh, jadi seperti itu ya??" senyum Niko sinis. "Oke kalo seperti itu, jangan sesali apa yang telah kamu ucapkan."


Niko pun pergi dengan penuh emosi.


Sepeninggal Niko.


"Mas Indra nggak apa apa??" tanya Kinan kuatir. Dia melihat ada darah mengalir dari sudut bibir Indra, pipinya pun bengkak dan kebiruan.


"Iya, nggak apa apa." jawab Indra tersenyum. Dia tidak ingin membuat Kinan khawatir.


"Sini biar aku bantu obatin lukanya Mas ya." tawar Kinan. Indra hanya mengangguk.

__ADS_1


"Ada kotak P3K nggak?? Minta tolong di antarkan ke kamar saya ya??" pinta Kinan pada seorang resepsionis.


"Baik Mbak." jawab si resepsionis.


__ADS_2