Cinta Sang Ajudan

Cinta Sang Ajudan
Sakit


__ADS_3

Kinan pun kembali ke kamarnya. Saat melewati kamar Indra, dia pun menyempatkan mengetuk pintu kamarnya.


Tokk..Tokk..Tokk...


Berkali kali Kinan mengetuk, namun tak ada jawaban.


Mungkin dia lagi diluar.


Kinan pun masuk ke dalam kamarnya. Merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


Setelah mandi, sholat dan berganti pakaian Kinan mengeluarkan ponselnya. Mencari sebuah nama dan mengiriminya pesan.


Kinan : Mas sudah makan??


Indra : Sudah


Kinan : Ohh ya sudah. Tadi aku ketuk kamarnya mas, tapi nggak ada jawaban. Mas lagi di luar?


Indra : Iya


"Kenapa responnya agak aneh gini ya??" ucap Kinan yang merasa jika Indra sedikit cuek padanya. Dia pun tak membalas lagi pesan dari Indra.


Di tempat lain, terlihat Indra sedang berbaring di ranjang. Ternyata sedari tadi Indra ada di kamar, bahkan saat Kinan mengetuk pintu kamarnya dia sebenarnya tahu. Namun dia sengaja tidak membuka pintu, dan seolah olah dia tidak berada di kamarnya.


Dia menutup matanya menggunakan lengan. Kebiasaan Indra saat dia sedang menahan sakit hatinya.


Aku tahu nggak seharusnya aku seperti ini. Aku bukan siapa siapanya Kinan. Aku tidak berhak untuk sakit hati, apalagi cemburu. Ya Allah..., bagaimana aku bisa membuang perasaan ini? Bagaimana caranya aku bisa melupakan sesuatu yang tak seharusnya ada di hati ini??


Tiba tiba sebuah air mata mengalir dari sudut mata yang tertutupi lengan itu. Sebagai seorang tentara, pantang baginya untuk menangis. Namun apa yang dia rasakan benar benar membuatnya putus asa.


Ya Allah..., Engkaulah Sang Pemilik Hati. Engkaulah Dzat yang dapat membolak balikkan hati seseorang.


Keesokan harinya saat sarapan bersama, Indra berusaha untuk bersikap biasa. Dia berusaha untuk sedikit menjauh dari Kinan dan tidak terlalu banyak bicara.


"Mas kemarin keluar kemana??"


"Cuma keluar cari udara segar."


"Ohh." jawab Kinan singkat. Dia merasa memang ada yang aneh dengan Indra. "Mas lagi ada masalah ya??"


"Nggak kok."


"Hemm." Kinan merespon.


Setelah sarapan, mereka pun kembali ke kamar. Namun saat perjalanan menuju kamar, tiba tiba Kinan merasakan perutnya sakit. Dia memegangi perutnya dan berjalan sedikit lambat dari Indra. Tubuhnya pun sedikit meringkuh. Indra yang merasa ada yang aneh dengan Kinan pun menghampirinya.


"Kenapa??" tanya Indra khawatir.


"Nggak tau nih. Tiba tiba perutku sakit."


"Sakit kenapa??"


"Entahlah. Padahal aku juga nggak habis makan yang pedes pedes." jawab Kinan dengan suara parau menahan sakit.

__ADS_1


"Kita ke rumah sakit aja." ajak Indra.


"Nggak usah. Kayaknya ini cuma asam lambungku aja yang lagi naik. Minum obat juga sudah sembuh." jelas Kinan.


"Beneran nggak apa apa??"


"Iya." jawab Kinan seraya menganggukkan kepalanya.


Indra sejenak terdiam, dia merasa kasian dengan kondisi Kinan yang menahan rasa sakit.


"Apa masih kuat jalan??" Indra semakin mengkhawatirkan Kinan.


"Iya. Masih." Kinan berusaha menahan sakitnya.


Namun saat berjalan beberapa langkah, tiba tiba tubuh Kinan melemah dan hendak jatuh. Dengan sigap Indra menangkap tubuh Kinan yang masih menahan sakit.


"Makanya kalo sakit itu bilang, jangan sok kuat!!!" ucap Indra dengan nada yang sedikit tinggi.


Terlihat jelas jika Indra sangat mengkhawatirkan Kinan. Dia pun menggendong Kinan, mengangkat tubuhnya bak seorang putri. Kinan yang melihat hal itu tak bisa berbuat apa apa, tubuhnya sangat lemah. Dia hanya bisa melingkarkan tangannya di leher Indra.


Sesampainya di kamar, Indra membaringkan tubuh Kinan di atas ranjang. Menyelimuti tubuhnya dan mengambil segelas air hangat untuk Kinan.


"Minum ini dulu." ucap Indra sambil membantu mengangkat tubuh Kinan. "Obat asam lambungnya ada dimana??"


"Aku lupa bawa." jawab Kinan lemah.


"Ya udah kalo gitu aku belikan dulu ya??" ucap Indra. "Kamu tulis aja nama obatnya, nanti aku cari di apotik."


"Nggak usah Mas. Aku cuma butuh istirahat aja kok."


"Aku beneran nggak apa apa kok mas." Kinan berusaha meyakinkan Indra.


"Tapi....."


"Nggak apa apa. Aku cuma butuh istirahat aja kok."


"Kalo gitu aku temenin disini ya?? Takut kamu kenapa napa."


"Nggak usah mas. Nggak enak kalo ada orang yang tau kita berduaan di dalam kamar." ucap Kinan.


"Kalo kamu butuh sesuatu gimana??"


"Kan ada ini." jawab Kinan sambil menunjukkan ponselnya.


Namun Indra masih terdiam. Dia seakan tidak tega meninggalkan Kinan sendirian.


"Udah. Aku nggak apa apa kok." Kinan berusaha meyakinkan kembali.


"Tapi beneran ya, kalo ada apa apa langsung telpon." pinta Indra.


"Iya." Kinan menganggukkan kepalanya. Dia pun kembali berbaring. Dengan lembut Indra menyelimuti tubuh Kinan.


Saat akan pergi, Indra sesekali melihat ke arah Kinan. Berat hatinya untuk meninggalkan Kinan sendirian dalam keadaan sakit. Tapi mau bagaimana lagi, itu adalah keinginan Kinan. Indra pun kembali ke kamarnya.

__ADS_1


Tak beberapa lama kemudian, tiba tiba ponsel Indra berdering. Dia melihat nama Kinan di layar ponselnya, dengan cepat Indra menuju kamar Kinan.


Tokk...tokk...tokk...


"Kinan!!! Kinan!! Buka pintunya!!" panggil Indra dengan sedikit berteriak.


Selang beberapa saat Kinan pun membuka sedikit pintu kamarnya. Dia hanya mengintip dari balik pintu.


"Ada apa?? Kamu butuh sesuatu?? Kamu nggak habis jatuh kan??" Indra memberondong Kinan dengan banyak pertanyaan. Namun Kinan membalas hanya dengan menggelengkan kepala.


"Terus kenapa?? Apa perutmu semakin sakit?? Apa kita perlu ke rumah sakit??"


Namun Kinan hanya menggelengkan kepala.


"Teruss??" tanya Indra heran.


"Ehmmm... Aku, aku boleh minta tolong nggak Mas??" tanya Kinan ragu.


"Minta tolong apa??"


"Tapi ini sedikit memalukan." imbuh Kinan.


"Memalukan gimana??" Indra semakin heran.


"Ehm..itu..anu....Boleh, boleh minta tolong belikan pembalut nggak??" tanya Kinan ragu.


"Pembalut??" Indra terkejut.


"Ii..iya. Ternyata aku sakit perut karena mau menstruasi. Dan aku kebetulan nggak bawa pembalut." jelas Kinan. "Bisa kan Mas??"


Indra ragu mau mengiyakan atau tidak. Tapi tidak mungkin juga Kinan yang harus pergi dengan kondisi dia yang sedang sakit seperti itu. Akhirnya mau tidak mau Indra harus membantu.


Indra pun mengangguk. Meski dalam hati dia pasti sangat malu membeli itu.


Sesampainya di sebuah minimarket, dia mencari rak yang menjual pembalut. Beragam jenis pembalut yang ada disana, dia bingung harus memilih yang mana. Karena itulah kali pertama dia membeli pembalut.


Gawat??!! Yang mana nih?? Banyak banget sih pilihannya. Mana di lihatin banyak orang lagi.


Akhirnya dia pun menjatuhkan pilihan pada sebuah pembalut dengan bungkus yang berwarna oranye.


Saat hendak membayar, petugas kasir pun sejenak melihat Indra. Indra yang merasa di lihatin itu pun berusaha cuek, padahal dalam hati sebenarnya dia malu sekali.


Saat hendak menuju hotel, dia melihat ada sebuah apotik di seberang jalan. Dia pun mampir ke apotik itu.


"Mbak. Ada obat untuk ngilangin sakit perut karena haid nggak??"


"Ohh, ada Mas. Sebentar ya, saya ambilkan."


Tak lama kemudian, petugas apotik pun kembali dengan membawa 3 macam obat yang berbeda merk.


"Mau yang mana Mas??" tanya si apoteker.


"Yang paling bagus aja Mbak." jawab Indra.

__ADS_1


"Baiklah kalo gitu yang ini ya Mas??" si apoteker menunjuk obat dengan pembungkus berwarna biru.


Setelah membayar, Indra pun segera kembali ke hotel.


__ADS_2