Cinta Sang Ajudan

Cinta Sang Ajudan
Gosip


__ADS_3

Indra pun menaiki motornya dan bergegas pergi dari sana. Pikirannya di penuhi Kinan.


Bagaimana ini? Kenapa perasaan ini masih tidak hilang meski aku menghabiskan waktu dengan perempuan lain? Kenapa pikiranku masih di penuhi olehnya?


Indra sendiri bingung dengan dirinya. Selama ini dia tidak pernah merasakan hal seperti itu.


Indra pun melajukan motornya entah kemana. Yang ada di pikirannya sekarang adalah bagaimana cara dia bisa menghilangkan perasaan tak masuk akal ini.


Hingga selang beberapa saat tibalah dia di depan sebuah rumah. Rumah yang baru beberapa jam yang lalu dia datangi. Ya, itu rumah Nenek Kinan. Indra berhenti di depan rumah yang tampak sepi itu. Dia menatap jauh ke arah rumah dengan nuansa hijau itu.


Terlihat Indra sesekali tersenyum meski hanya melihat rumah itu.


Kenapa aku bisa seperti ini?? Seperti orang gila saja.


.


Keesokan paginya. Mereka melakukan rutinitas seperti biasa. Indra mengantar Kinan berangkat ke rumah sakit. Tak ada hal penting yang mereka bicarakan. Hanya sekedar cerita dan gosipin orang. Hubungan pertemanan mereka semakin akrab.


Sesampainya di depan lobi rumah sakit.


"Nanti jemput aku seperti biasa ya?" ucap Kinan.


"Oke." jawab Indra mengacungkan jempol.


Saat akan turun dari mobil, tiba tiba saja seseorang muncul dari balik jendela di sisi Indra.


"Hayoo lohh??" seseorang muncul dari jendela.


"Ngagetin aja." protes Kinan yang masih berada di dalam mobil.


"Jangan mesra mesraan di tempat umum." gurau Ana.


"Apaan sih??" ucap Kinan seraya turun dari mobil dan mendekati Ana. "Yukk ahh masuk." ajak Kinan sambil menarik tangan Ana.


"Nggak kiss bye dulu nih sama ayang??" ucap Ana namun tak di gubris Kinan. Kinan masih terus menarik tubuh Ana meski dia menolak.


Indra yang melihat hal itu hanya bisa tersenyum.


Saat hendak memasuki IGD. Tiba tiba pandangan semua orang berubah. Mereka semua berusaha menyapa Kinan.


"Selamat pagi Dokter." sapa seorang perawat yang lewat.


"Pagi." jawab Kinan tersenyum.

__ADS_1


"Pagi, Dokter Kinan." sapa perawat yang lain.


"Pagi." jawab Kinan.


Awalnya Kinan merasa biasa saja, namun lama kelamaan semakin aneh. Hampir setiap orang menyapa dan menebar senyum kepada Kinan. Bahkan Ana yang berada di dekatnya pun juga merasakan hal yang tak biasa.


"Dokter, kayaknya ada yang aneh deh." ucap Ana berbisik.


"Kamu ngerasain juga ternyata??" tanya Kinan saat memasukkan tas ke dalam loker.


"Iya." ujar Ana mengiyakan.


"Kamu nggak ngomong aneh aneh kan sama mereka??" tanya Kinan yang mencurigai Ana.


"Ngomong apaan??"


"Ya kali aja kamu ngomong yang macem macem atau sebarin gosip apa gitu."


"Belum juga masuk IGD, gimana mau sebarin??" celetuk Ana. "Ya sebenarnya rencana awal emang mau ngomong sih kalo Dokter Kinan ternyata udah punya pacar, seorang abdi negara." gurau Ana yang di balas dengan tatapan tajam Kinan.


"Hehehe. Sorry sorry, cuma bercanda."


Kinan pun masuk ke IGD dan duduk sambil mengecek satu per satu les pasien yang sudah tersusun rapi disana. Dia mendapat laporan jaga dari yang shif malam.


Saat berkeliling untuk mengecek kondisi pasien, tiba tiba saja sebuah tangan menarik Kinan sedikit menjauh dari teman di sekitarnya.


"Kabar apa??" Kinan heran.


"Kabar kalo kamu adalah calon istri Dokter Adam??" tanya Ratna tanpa basa basi.


"Haahh??!!" Kinan terkejut. "Siapa yang sebarin gosip kayak gitu??"


"Nggak penting siapa yang sebarin gosip itu. Yang jelas kabar itu sudah terdengar di seluruh penjuru rumah sakit ini." jelas Ratna. "Bahkan Bu Direktur aja udah tau."


"Apa??!!" Kinan makin terkejut.


"Jadi sebetulnya kabar itu bener apa nggak sih??" Ratna penasaran.


"Ya nggak bener lah." tegas Kinan. "Mana mungkin."


Ratna menaikkan kedua pundaknya.


"Kenapa tiba tiba ada gosip seperti itu??"

__ADS_1


"Karena orang orang lihat kalo kamu dekat sama anaknya Dokter Adam, yang bernama Sinta itu. Bahkan ada yang ngelihat kamu sempat masuk ke kamar rawat inapnya."


"Aku cuma nolongin dia. Lagian aku ke kamar Sinta itu pun cuma bermaksud jenguk aja kok, nggak ada maksud lain." jelas Kinan.


"Terus ada juga yang bilang kalo kamu jadi sering di panggil ke ruangannya Dokter Adam."


"Itu kan menyangkut masalah kerjaan aja." imbuh Kinan.


"Tapi ada juga yang bilang kalo kemarin kamu sempat jalan sama anaknya Dokter Adam. Bahkan kamu nganterin dia nemuin Papanya ke rumah sakit ini."


"Haduhhh,.. bener bener ya disini ini. Seakan akan tembok aja bisa bicara." gerutu Kinan.


"Maksudnya??" Ratna heran.


"Ya maksudnya semua gerak gerikku seakan terpantau. Bahkan sekecil apa pun yang aku lakuin semua orang pada tahu dan kepo." Kinan kesal.


"Hahahahaha. Ya begitulah netizen disini Dokter." timpal Ratna tertawa. "Jadi jangan kaget hidup di sekeliling orang orang yang kepo dengan urusan pribadinya orang lain."


Kinan menghela napas kasar.


"Tapi anehnya Dokter Adam itu nggak mengelak loh saat di tanya tentang gosip ini."


"Nggak mengelak gimana maksudnya??"


"Ya.., dia nggak marah saat tahu ada gosip ini. Malahan dia bilang kalo kalian memang lagi dekat." ujar Ratna.


"Apa?!!" Kinan terkejut. "Bener bener nih Dokter, harus di kasih shock terapi rupanya."


"Hahahahah." Ratna menahan tawa saat mendengar kekesalan temannya itu. "Ehh, tapi kayaknya Dokter Adam itu emang ada perasaan deh sama kamu."


"Hadehhh, nggak usah aneh aneh deh. Nggak usah menduga sesuatu yang tidak mungkin. Lagian apa kamu pernah liat kalo aku sedekat itu dengan Dokter Adam??"


Kinan berusaha mengelak. Padahal sebenarnya Dokter Adam sudah mengungkapkan perasaannya, bahkan memintanya untuk menikah.


"Ya...., enggak juga sih." jawab Ratna yang merasa kata kata temannya itu benar.


"Nah itu kamu tau." Kinan membenarkan. "Udah, nggak usah mikir yang macem macem. Masih banyak pasien yang harus kita periksa."


Kinan pun melanjutkan pekerjaanya. Dia mengecek kondisi pasien yang ada di IGD, bahkan terlihat dia sibuk mengangkat konsulan via telpon yang berkali kali berbunyi. Telpon itu dari pasien atau dari beberapa Puskesmas dan Klinik yang hendak merujuk pasien ke rumah sakit. Jadi bahasa medisnya Stabilisasi dulu sebelum di rujuk ke fasilitas pelayanan yang lebih tinggi.


.


Saat tengah hari, Kinan pun pergi ke masjid yang berada di lingkungan rumah sakit untuk menunaikan sholat Dzuhur. Setelah sholat, Kinan pun makan siang. Kebetulan kantin rumah sakit berada di samping masjid.

__ADS_1


Dia memesan soto ayam dan teh hangat. Saat lagi asyik makan, tiba tiba seseorang datang mendekatinya. Dia duduk tepat di depan Kinan sambil memandanginya. Kinan yang merasa risih hanya bisa menatap sinis orang tersebut.


"Kenapa kayak gitu lihatnya??" tanya Dokter Adam.


__ADS_2