Cinta Sang Ajudan

Cinta Sang Ajudan
Mendadak


__ADS_3

"Bukannya Mas akan semakin capek kayak gitu?? Harus bolak balik datang kesini. Belum lagi kalo pagi Mas harus layani Komandan." ucap Kinan kuatir.


"Nggak apa apa, itu kan pengorbanan untuk orang yang tersayang." goda Indra.


Kinan pun tersenyum seraya melirik Indra.


"Oh iya, ngomong ngomong Adek pernah masak nggak??" tanya Indra penasaran.


"Kenapa memangnya Mas??"


"Ya nggak apa apa, cuma pengen tau aja." jawab Indra.


"Hemm..., kalo aku jawab nggak bisa masak, apa Mas Indra akan langsung ninggalin aku?? Udah nggak sayang lagi sama aku??" gurau Kinan.


"Ya nggak lah. Nggak mungkin cuma karena alasan nggak bisa masak, terus rasa sayangnya Mas ilang."


"Ohh, kali aja kan Mas langsung mau pergi dan cari cewek yang bisa masak." celetuk Kinan.


"Ya nggak mungkin lah." jawab Indra seraya mencubit pipi Kinan.


"Aku bisa masak kok Mas. Waktu aku kuliah di luar negeri juga lebih sering masak, makanan disana nggak sesuai sama selera lidahku yang orang Indonesia."


"Bener bener calon ibu rumah tangga idaman." puji Indra.


"Apaan sih??" Kinan malu.


"Pengen nih kapan kapan bisa ngerasain masakannya Adek."


"Iya deh, nanti kalo ada waktu aku masakin."


"Masakin apa??" Indra penasaran.


"Masak mie." canda Kinan.


"Ya elah Dek, anak TK aja udah tau caranya bikin mie." celetuk Kinan.


"Hahahahahha." Kinan tertawa. "Terus Mas maunya di masakkin apa??"


"Terserah deh, yang penting kamu yang masakkin. Jangan Ibu Jenderal."


"Mama mah nggak bisa masak. Kalo lagi di rumah aja biasanya aku yang suruh masak. Mama tuh bagian komentarin dan incip incip masakanku." jelas Kinan.


"Nggak boleh jelekkin Ibu kayak gitu, nanti kalo Ibu denger bisa marah loh." saran Indra.


"Nggak jelekkin, memang kenyataan kok." jawab Kinan tersenyum.


Sejenak terlihat Indra terdiam. Dia seakan membayangkan pasti bahagia jika seandainya Kinan menjadi pendampingnya.


"Dek." panggil Indra lembut.


"Hem."

__ADS_1


"Mas boleh tanya sesuatu??" tanya Indra berhati hati.


Kinan hanya membalasnya dengan menganggukkan kepala.


"Adek mau kan nikah sama Mas??" tiba tiba Indra mengajukan pertanyaan itu. Pertanyaan yang membuat Kinan sedikit terkejut.


Sejenak Kinan pun hanya terdiam.


"Kenapa tiba tiba tanya seperti itu Mas??"


"Mas cuma pengen memastikan saja, Dek." sahut Indra.


"Mas, Adek kan sudah bilang kalo kita jalani aja dulu yang sekarang. Perkara nanti nikah atau nggak, itu kan urusannya Allah." jawab Kinan.


"Jadi ada kemungkinan Adek akan pergi ninggalin Mas??"


"Kok bisa menyimpulkan seperti itu??" ucap Kinan heran. "Aku kan udah bilang urusan jodoh itu adalah kehendak dari Allah. Allah lah yang memutuskan. Kalo pun kita nggak bisa menikah, kita masih bisa jadi teman kan??" jawab Kinan yang seakan ingin membesarkan hati Indra.


"Tapi Mas sayang sama Adek."


"Iya, aku tau." ucap Kinan tersenyum. "Tapi tidak semua perasaan sayang harus berakhir dengan pernikahan kan??"


Terlihat wajah Indra murung, mungkin dia sedikit kecewa dengan jawaban Kinan.


Meski tak ada rasa sayang buat Mas, apa tidak bisa sedikit aja ngasih Mas harapan untuk hubungan kita ke depannya??


"Mas." panggil Kinan. "Kenapa diam?? Mas marah ya??"


"Nggak. Mas nggak marah kok." jawab Indra dengan ekspresi yang sedikit kecewa.


Tanpa di duga. Saat Indra sedang membelai kepala Kinan, tiba tiba seorang pria paruh baya masuk ke dalam ruangan Kinan.


Ternyata pria itu sudah lama berada di depan ruangan Kinan. Dia melihat semua kejadian dan pembicaraan mereka berdua, namun beliau seakan pura pura tidak tahu.


"Ngapain kamu disini??" tanya Papa Kinan.


"Pah." ucap Kinan terkejut.


"Siap Bapak. Saya hanya ingin menjenguk Adek Kinan." jawab Indra dengan posisi tegap.


"Terus ngapain tadi pegang pegang tangan dan kepala anak saya??"


"Siap, Bapak. Maaf." ucap Indra.


"Lagian ngapain malam malam seorang pria berduaan dengan seorang gadis di tengah malam seperti ini, di dalam ruangan lagi." ucap tegas Bapak.


"Mas Indra cuma mau jenguk aku, Pah." sahut Kinan.


"Apa jenguk harus semalam ini?? Bukankah masih ada hari esok??" tanya Papa secara beruntun.


"Siap, Bapak. Saya kepikiran terus sama Adek, jadi maaf kalo saya datang kesini tengah malam." ucap Indra.

__ADS_1


"Mas Indra nggak bermaksud apa apa kok Pah, dia cuma mau jenguk aku." bela Kinan.


"Tapi tetap aja dia seorang pria." imbuh Papa.


Sejenak mereka pun terdiam.


"Maaf, Bapak. Kalau begitu saya pamit undur diri dulu." ucap Indra yang tak ingin membuat sang Jenderal semakin marah.


"Maaf atas kelancangan saya."


Indra pun memberi hormat pada Jenderal dan kemudian hendak pergi, namun tiba tiba saja.


"Kamu beneran sayang sama anak saya??" tanya sang Jenderal yang menghentikan langkah Indra.


"Siap, Bapak. Saya memang beneran sayang sama Kinan."


"Kalo kamu memang serius, kenapa tidak mengajaknya menikah??" pertanyaan itu membuat Indra terkejut. Namun dia berusaha bersikap santai.


"Siap, sudah Bapak."


"Terus??"


"Kinan bilang dia masih perlu waktu, Bapak."


"Waktu buat apa Kinan??" tanya sang Jenderal pada Kinan yang sedang duduk di bednya.


"Ehm, aku...aku cuma butuh persiapan untuk menikah Pah. Bukankah pernikahan itu harus siap dari segala sisi."


"Kamu tau kan apa yang kalian lakukan ini termasuk dosa?? Berduaan di tengah malam, dan saling menyentuh. Kalian tuh bukan mahrom." tegas sang Jenderal dengan nada tinggi.


"Saya tidak mau melihat kalian berduaan seperti ini lagi. Apalagi di tengah malam seperti ini. Saya sebagai orang tua Kinan, bertanggung jawab untuk anak perempuan saya." imbuh Papa.


Kinan pun hanya diam mendengar omelan sang Papa.


"Mohon ijin, Bapak." tiba tiba suara Indra memecah keheningan ruangan itu.


"Kalau Bapak mengijinkan, saya ingin segera mempersunting Kinan agar kami tidak membuat dosa lebih jauh lagi." ucap tegas Indra yang berusaha memberanikan diri mengucap kata kata itu.


Keberanian Indra ini, bisa di acungi jempol. Dia berani meminta sang pujaan hati langsung di depan sang Papa. Yang notabennya adalah seseorang yang berpengaruh di dunia militer.


Indra mengatakan kata kata itu bukan tanpa persiapan. Dia memang sudah dari awal berniat untuk menikahi Kinan, namun Kinan seakan tak berniat menjalin hubungan yang serius dengannya. Itulah kenapa selama ini Indra hanya bisa diam menunggu kepastian Kinan.


"Mas??" panggil Kinan yang terkejut.


"Indra. Kamu tahu apa yang tadi kamu katakan?? Kamu sadar dengan ucapanmu itu??"


"Siap, Bapak. Saya tahu, dan saya sadar dengan apa yang saya ucapkan." tegas Indra.


Dia tahu betul apa resiko yang akan dia tanggung saat mengatakan itu. Mungkin saja sang Jenderal akan menganggapnya sebagai bawahan yang tak tahu diri. Namun Indra tetap bertekad kuat untuk meminang Kinan, meski seandainya sang Jenderal tak menyetujui.


Apalagi saat tadi dia melihat Niko yang berada di dekat Kinan. Tatapan Niko yang terlihat masih sangat mencintai Kinan itu, membuat rasa cemburunya tak bisa terbendung lagi. Dia ingin segera menjadikan Kinan hanya miliknya.

__ADS_1


__ADS_2