Cinta Sang Ajudan

Cinta Sang Ajudan
Janji Makan


__ADS_3

Keesokan paginya saat Indra sedang bersiap mengantar Komandan ke kantor, tiba tiba saja Erwan masuk ke dalam kamarnya.


"Ndra."


"Hem." jawab Indra yang sedang merapikan baju PDL nya.


"Kamu serius sama Kinan??" tanya Erwan cemas.


"Kenapa sih tanya itu terus??" kesal Indra.


"Kamu nggak berniat mempermainkan anak Jenderal kan??" tanya Erwan mendadak serius.


Mendengar pertanyaan itu, Indra pun berbalik.


"Hei, Wan. Jaga mulutmu. Kalo aku berniat mempermainkan dia, nggak mungkin aku perjuangin sampe kayak gini." ucap Indra tegas.


"Udahlah, aku mau ngantar Komandan dulu."


Indra pun berlalu tanpa menghiraukan Erwan yang sedang terpaku melihat kepergiannya.


Setelah mengantar Komandan ke kantor, Indra pun kembali duduk di meja ajudan yang berada tepat di depan kantor Komandan.


Seperti biasa, dia mengecek surat yang masuk dan menulis daftar pertemuan yang harus di hadiri sang Komandan.


Saat dia sedang duduk di meja ajudan, banyak mata yang melihat ke arahnya. Bahkan saat dia pergi ke kantin pun banyak yang memperhatikannya.


Kenapa semua pada ngeliatin aku ya?? Pasti gara gara kejadian kemarin Erwan ngadu ke Komandan, akhirnya seluruh Batalyon tahu. Di kiranya aku lagi yang tukang ngaduh. Dasar si Erwan.


Indra pun berusaha cuek dengan semua pandangan orang orang terhadapnya. Bahkan ada beberapa senior yang sempat ngetawain Indra saat dia berjalan dan memberi hormat pada mereka.


"Masih junior aja udah belagu." ucap salah satu senior saat Indra hendak berlalu. Indra mendengar hal itu, tapi dia pura pura tidak mendengar.


Dia pun kembali mengutak atik ponselnya, berkirim pesan dengan sang pujaan hati. Beberapa kali terlihat Indra senyum senyum sendiri saat melihat balasan pesan dari Kinan. Entah apa yang sedang mereka bicarakan.


Saat hari menjelang sore, Indra pun mengantar sang Komandan ke kediaman. Dia bergegas membersihkan mobil dinas dan langsung bersiap untuk pergi menjemput Kinan.


Namun saat akan pergi, tiba tiba saja.


"Ndra." panggil Komandan yang berdiri di depan mess ajudan.


"Siap Komandan." Indra berdiri tegap.


"Minta tolong antar Ibu ke supermarket dulu ya?? Mau beli keperluan sekolah anak anak sekalian mau belanja bulanan." pinta Komandan.


"Ohh, ehm. Siap Komandan." jawab Indra ragu.


Dia bingung mau jawab apa, dia tidak mungkin menolak perintah atasannya. Namun di satu sisi dia sudah janji mau ngajak Kinan makan bersama.


Aduh gimana nih?? Udah janji bakal nganterin Kinan pulang sekalian mau makan bareng. Mana Aris lagi cuti. Mudah mudahan aja Ibu nggak lama belanjanya, jadi aku masih bisa jemput Kinan.


Indra pun bergegas menelpon Kinan.


"Halo. Assalamuallaikum Dek."


"Waallaikumsalam, iya Mas ada apa??"


"Anu Dek, gini. Ehm, Mas di suruh ngantar Ibu Komandan belanja dulu. Jadi Mas nggak bisa janji bisa jemput apa nggak."


"Ohh ya udah nggak apa apa kalo gitu Mas." jawab Kinan santai.


"Tapi nanti kalo Ibu Komandan cepat belanjanya, Mas langsung meluncur kesitu." imbuh Indra.


"Nggak usah Mas, nggak apa apa kok. Mas antar aja Ibu Komandan. Nanti aku biar di jemput Pak Rachmad."


"Tapi kan nggak enak, Mas udah janji mau ngajak kamu makan."


"Kan masih bisa lain waktu." Kinan berusaha menenangkan Indra.

__ADS_1


Sejenak Indra terdiam. Sebenarnya dia sangat ingin bertemu Kinan, namun tugas dan perintah atasan tidak bisa ia tolak.


"Maafin Mas ya Dek??" sesal Indra.


"Nggak apa apa, nggak usah minta maaf. Itu kan memang sudah tugasnya Mas." jawab Kinan sopan.


"Ya udah kalo gitu Dek, nanti pulangnya hati hati di jalan yaa." saran Indra.


"Iya Mas."


Indra pun menutup telponnya. Dan setelah itu mengantar istri Komandannya ke supermarket.


"Saya masuk dulu ya Om." ucap si Ibu.


"Baik Ibu." jawab Indra.


Indra pun hanya menunggu di dalam mobil sambil bolak balik melihat ponselnya. Dia berharap Ibu Komandan cepat selesai berbelanja, agar dia bisa segera menemui Kinan.


Namun tak di sangka sangka, ternyata Ibu Komandan membutuhkan waktu yang lama untuk berbelanja. Bahkan hampir 2 jam Ibu Komandan berada di dalam supermarket itu. Ya yang namanya perempuan, pasti akan lama kalo di suruh belanja.


Setelah 2 jam berlalu, Ibu Komandan pun datang dengan membawa barang bawaan yang cukup banyak. Dengan sigap Indra membawakan barang barang itu dan memasukkannya ke dalam bagasi.


Setelah mengantar Ibu Komandan kembali ke kediaman, Indra pun bergegas pergi mengendarai motor merahnya.


Tak lama berselang, Indra pun sampai di depan rumah nenek. Saat itu Kinan menginap lagi di rumah nenek, karena orang tuanya sedang ada kegiatan di luar kota.


Terlihat Indra merogoh ponsel yang ada di sakunya dan memencet sebuah nomer.


[Iya. Assalamuallaikum.]


[Waallaikumsalam. Adek ada di rumah nenek kan??]


[Iya, kenapa Mas??]


[Nih Mas lagi ada di depan rumah nenek.] sahut Indra.


[Hahh?? Mau ngapain kesini Mas??]


[Bukannya Mas tadi lagi nyopiri Ibu Komandan ya??]


[Iya. Tadi setelah Mas nganter Ibu pulang ke kediaman, Mas langsung kesini.] jelas Indra.


[Ohh, gitu.]


[Terus ini ceritanya mau di temuin nggak??] sindir Indra seraya tersenyum.


[Iya, iya tunggu sebentar.] ucap Kinan sambil mengenakan jaket.


Dia pun bergegas segera keluar dan menemui Indra yang sedang berada di luar pagar. Terlihat Indra tersenyum lebar saat melihat kedatangan Kinan.


"Ini udah malem loh." celetuk Kinan.


"Iya nggak apa apa, Mas nggak mungkin ngajak kamu keluar kok. Mas cuma bawain ini buat kamu."


Indra menyodorkan sebuah kantong plastik kepada Kinan.


"Apa ini??" tanya Kinan penasaran.


"Ini lalapan kesukaanmu yang waktu itu. Kamu bilang suka sama sambelnya kan?? Jadi Mas belikan."


"Kok repot repot sih Mas?? Mas kan bisa makan sendiri ini."


"Nggak repot kok. Mas memang sengaja mau belikan kamu, karena Mas kan udah janji mau ngajak makan tapi nyatanya Mas sendiri yang mengingkari."


"Itu kan bukan salahnya Mas, tapi karena memang lagi ada tugas mendadak aja." Kinan memaklumi.


Perempuan yang sangat pengertian. Pikir Indra.

__ADS_1


"Ya udah kalo gitu kamu makan gih lalapannya, takut keburu dingin nanti."


"Mas sendiri nggak makan??"


"Itu Mas udah beli dua bungkus."


"Ohh ya udah kalo gitu kita makan bareng aja. Ayo masuk." ajak Kinan.


Mereka berdua pun masuk dan duduk di teras depan. Kinan membuka bungkusan lalapan itu.


"Hemm, bau sambelnya itu loh enak banget." komentar Kinan.


Melihat itu Indra tersenyum. Mereka pun menyantap makanan dengan di selingi sedikit perbincangan.


"Terima kasih ya Mas udah belikan aku makanan."


"Iya, sama sama."


"Kok Mas kepikiran makan bareng kayak gini sih??"


"Ya karena rencana awal kan emang mau ngajak makan bareng. Tapi berhubung ini udah malam, pastinya Adek nggak mungkin mau keluar malam. Akhirnya Mas mutuskan kayaknya bagus juga kalo langsung bawain makanan dan makan bareng gini." jelas Indra.


"Hem bagus juga idenya." ucap Kinan yang sedang menikmati lalapannya.


"Oh iya Dek, Mas mau minta pendapat."


"He em." jawab Kinan menganggukkan kepala.


"Gini, dalam waktu dekat kan mau ada tes Secaba. Mas boleh ikut nggak??"


"Secaba itu Bintara kan?? Ya udah nggak apa apa Mas ikut aja kalo mau." jawab Kinan santai.


"Jadi Mas di ijinkan ya??" tanya Indra polos.


"Ihh, ngapain ijin ke aku. Aku kan bukan apa apanya Mas. Seharusnya tuh ijin ke orang tua, biar dapat restu dan tes Secabanya bisa berjalan lancar." saran Kinan.


"Sudah. Mas sudah ijin sama Ibuk di kampung, bahkan Mas juga cerita tentang kamu."


"Aku?? Ngapain??"


"Ya biar dapat restu juga dari Ibuk. Biar hubungan kita bisa berjalan lancar dan bisa menuju ke arah yang lebih serius." ucap Indra serius.


"Ekhem, ekhem." mendengar itu, Kinan hanya berdehem.


Setelah makan, Indra pun pamit pulang.


Keesokan harinya saat di kantor, terlihat banyak orang yang sedang sibuk menata kursi di aula pertemuan. Kebetulan tempat meja ajudan berada persis berhadapan dengan aula pertemuan.


"Mau ada pertemuan Persit ya??" tanya Indra pada Erwan.


"Iya." jawab Erwan cuek yang juga sedang membantu merapikan kursi.


"Ohh, pantesan tadi aku di suruh balik ke kediaman lagi jemput Ibuk Komandan." sahut Indra.


Tak lama berselang, satu per satu ibu ibu Persit pun datang. Mengenakan baju seragam khas mereka yang di sertai lencana Persit Kartika Chandra Kirana, dan menenteng sebuah tas berwarna hitam.


Tatkala Indra pun membayangkan jika suatu saat nanti Kinan akan berada di tengah tengah mereka dan menyandang nama Nyonya Indra.


Senyum pun tiba tiba terukir di wajah Indra saat dia membayangkan hal itu benar benar terjadi, alangkah bahagianya dia.


Beberapa menit kemudian, Komandan dan Ibuk Komandan pun keluar ke depan aula Batalyon seakan hendak menyambut seseorang.


Ada tamu penting yaa?? Pikirnya.


Namun Indra tetap berada di meja ajudan memainkan ponsel yang ada di tangannya. Hingga tibalah saatnya sang tamu menyapa seluruh ibu ibu Persit yang ada di aula tersebut.


"Assalamuallaikum Ibu ibu semuanya. Mohon ijin Ibu, perkenalkan nama saya Dokter Kinan. Saya dari Rumah Sakit Malang."

__ADS_1


Mendengar kalimat perkenalan itu, sontak Indra pun berdiri dan melihat sosok yang ada di depan.


"Kinan???" Indra terkejut akan kehadiran Kinan.


__ADS_2