Cinta Sang Ajudan

Cinta Sang Ajudan
Pertemuan Kembali


__ADS_3

"Mas Indra??!!" Kinan terkejut. "Kenapa Mas Indra bisa ada disini??"


"Maaf Kinan, aku cuma butuh waktu untuk ngobrol sama kamu." ucap Indra.


Seketika Kinan pun hendak keluar dari mobil, namun Indra mencegah. Dia menarik tangan Kinan untuk kembali duduk di kursinya.


"Tolong, jangan menghindari Mas." pinta Indra.


"Tapi nggak seharusnya mas Indra ada disini." ucap Kinan bingung.


"Iya, aku tau. Tapi tolong kasih aku kesempatan terakhir kalinya untuk jadi sopirmu lagi. Biar aku bisa memastikan keselamatanmu." jelas Indra.


"Setelah ini aku janji, aku nggak akan nemuin kamu lagi." imbuhnya.


Kinan sejenak berfikir, dan akhirnya dia pun mengiyakan permintaan Indra. Indra pun tersenyum dan menjalankan mobilnya.


Saat perjalanan.


"Gimana kabarmu??" tanya Indra membuka pembicaraan.


"Alhamdulillah baik, Mas." jawab Kinan seperlunya.


"Kenapa kamu seakan menjauhi Mas?? Kamu juga mengganti nomer kan?? Apa karena kejadian saat di Bromo itu??" tanya Indra tanpa basa basi.


"Tolong Mas, jangan bahas itu lagi." pinta Kinan.


"Ya udah kalo gitu." ucap Indra yang menuruti Kinan.


"Mas denger, kamu mau tunangan ya sama Niko??" tanya Indra memastikan.


"Iya." jawab Kinan mengangguk.


"Selamat ya Dek." ucapan yang sebenarnya sangat sulit keluar dari mulut Indra.


Ucapan yang membuat hatinya seakan teriris. Mengucapkan selamat pada orang yang dia kasihi, sama halnya seperti mengucapkan selamat tinggal. Bagai tersayat, namun tak berdarah.


"Semoga lancar sampai hari H ya??" imbuh Indra menahan kesedihan.


Hatinya sakit, namun dia berusaha tetap tegar di depan orang yang dia sayangi. Meskipun masih besar harapannya untuk bisa mendapatkan sedikit ruang dalam hati Kinan.


"Terima kasih, Mas." jawab Kinan.


Sebenarnya ada rasa kasihan dalam hati Kinan, namun dia tak berani mengungkapkannya. Dia tidak ingin Indra menaruh harapan padanya, dia tidak ingin menyakiti Indra.


Bagi Kinan, Indra adalah sosok teman yang sangat baik. Dia bisa menjadi pendengar yang baik di saat Kinan mengeluarkan seluruh keluh kesahnya. Bahkan Indra juga bisa menghiburnya di saat dia sedang sedih.


"Mas Indra menghubungi sopir baruku ya??" tanya Kinan berusaha bersikap biasa.


"Iya. Dia masih adik lettingnya Mas."


"Ohh." jawab Kinan.


"Awalnya dia nggak mau bertukar peran, tapi Mas yang maksa dia."


"Kalo Batalyon tau, nanti Mas bisa kena masalah." ucap Kinan kuatir.


"Nggak apa apa, ini kan keputusan yang Mas ambil sendiri. Semua resikonya akan Mas tanggung. Lagian Mas bukan melakukan tindakan yang melanggar hukum."


"Tapi kan semua tindakan pasti ada konsekuensinya."


"Iya. Palingan cuma di sel." jawab Indra santai.


"Palingan???" Kinan heran. "Oke, kalo gitu mending kita putar balik aja."


"Nggak usah, udah terlanjur jauh nih. Nanggung mau putar balik. Jadi mending di terusin aja." ucap Indra tersenyum.

__ADS_1


"Tapi gimana kalo Komandan nyadar Mas Indra nggak ada di mess??"


"Kan ada sopir satunya. Jadi sementara dia yang handle dulu."


"Yang namanya Aris itu??"


"Iya." jawab Indra tersenyum.


"Hemm, sebenarnya mas Indra males kan mau layani Komandan?? Ngaku deh, sebenarnya mas Indra pengen healing kan??" gurau Kinan. "Jenuh kan di Batalyon terus??"


"Kok tau??" canda Indra sembari tersenyum. Kinan pun juga ikut tersenyum.


Indra pandai mengalihkan suasana. Yang awalnya Kinan canggung dengan kebersamaan mereka, namun Indra dengan mudahnya membuat suasana berubah jadi santai dan membuat Kinan nyaman.


"Kita mampir makan dulu ya??" ajak Indra.


"Boleh deh." jawab Kinan.


Mereka pun akhirnya mampir di sebuah warung makan sederhana yang ada di pinggir jalan. Kinan memesan nasi campur, dan Indra memesan nasi lodeh.


Mereka makan dan mengobrol dengan santai. Hingga akhirnya ponsel Kinan pun berdering. Dia pun melihat nama kontak yang ada di layar ponsel, nama yang membuatnya terkejut. Awalnya Kinan ragu mau mengangkatnya, pada akhirnya dia mengangkat telpon itu.


"Iya. Assalamuallaikum." ucap Kinan.


"Kamu sekarang ada dimana??" tanya Niko tanpa membalas salam Kinan.


"Aku...lagi di perjalanan menuju Banyuwangi. Kenapa??"


"Kamu sekarang sama Indra kan??" sontak pertanyaan Niko membuat Kinan terkejut.


Gimana dia bisa tau??


Dia pun sejenak menoleh ke arah Indra.


"Kok malah tanya kenapa sih?? Aku udah siapin sopir baru buat kamu, tapi kenapa dia malah seenaknya jadi sopirmu tanpa ada perintah." ucap Niko emosi.


"Udahlah, Nik. Ini kan cuma soal sopir, siapa pun kan bisa jadi sopir. Toh aku juga udah kenal sama mas Indra."


"Kenal katamu?? Dia itu sebenarnya punya maksud buat deketin kamu."


"Kamu ngomong apa sih?? Nggak usah ngaco deh." tegas Kinan.


"Aku mau sekarang kamu balik." perintah Niko.


"Maaf aku nggak bisa. Aku harus datangi acara workshop di Banyuwangi." tolak Kinan.


"Kenapa sih kamu selalu saja menentang apa yang aku suruh??" Niko semakin emosi.


"Karena aku bukan bawahanmu yang bisa selalu kamu suruh suruh." jawab Kinan tegas.


Dia pun langsung menutup telpon dari Niko, dan menonaktifkan ponselnya. Wajah Kinan yang sedang kesal membuat Indra paham siapa yang tadi menelponnya.


"Maaf ya??" ucap Indra.


"Maaf buat apa??" Kinan heran.


"Maaf karena gara gara aku kamu jadi marahan kan sama dia??" sesal Indra.


"Nggak apa apa. Lagian dianya aja yang terlalu posesif dan menganggap aku seperti bawahannya, yang harus selalu nurutin apa pun yang dia suruh." jelas Kinan.


"Aku bukanlah boneka yang bisa dia atur. Aku juga punya kehidupan dan pekerjaan." imbuhnya.


"Sabar." ucap Indra berusaha menenangkan Kinan.


Namun sepertinya perkataan Indra tak berpengaruh pada Kinan, dia masih tetap aja kesal.

__ADS_1


"Yukk ah, kita lanjutin aja perjalanannya." ajak Kinan.


"Loh, nggak di habisin dulu makanannya."


"Nggak usah deh, lagi nggak mood makan." ucap Kinan kesal.


"Meskipun lagi marah, setidaknya makan dulu. Yang namanya marah kan juga butuh energi." canda Indra seraya tersenyum.


Kinan pun sempat melirik tajam ke arah Indra.


"Udah, makan dulu aja. Kasihan tuh nasinya kalo nggak di makan, bisa nangis dia." gurau Indra.


Mendengar itu Kinan pun tersenyum.


"Aku bukan anak kecil yang bisa di bercandain kayak gitu." jawab Kinan seraya melanjutkan makannya.


Selesai makan, mereka pun kembali melanjutkan perjalanannya. Banyak hal yang mereka bicarakan, hingga pada akhirnya Kinan pun tertidur.


Indra tesenyum melihat wajah Kinan yang sedang tertidur di sampingnya. Hanya dengan melihat Kinan saja sudah membuat senyuman Indra semakin mengembang.


Beberapa jam pun berlalu, mereka sudah sampai di sebuah hotel di pinggiran kota Banyuwangi. Hotel yang menghadap langsung ke arah pantai. Pemandangan pantai yang sangat menyejukkan mata.


Mereka masuk dan check in dalam hotel. Seperti biasa, kamar Indra berada di samping kamar Kinan. Kinan beristirahat sebentar dan menunaikan sholat, sebelum akhirnya dia turun ke lobi.


Sesuai waktu yang tertera, Kinan pun masuk ke dalam Hall untuk mengikuti workshop bersama beberapa dokter lain dari seluruh Jawa Timur.


.


Setelah acara selesai, Kinan pun hendak kembali ke kamar. Namun tiba tiba saja sebuah tangan menariknya kasar.


"Kinan?!!"


"Niko?!!" ucap Kinan terkejut. "Ngapain kamu kesini??"


"Aku mau ngajak kamu pulang." jawab Niko tegas. Dengan kasar dia pun menarik tangan Kinan.


"Niko, lepasin. Sakit?!!"


Kinan berontak. Tangan Niko mencengkeram erat tangan Kinan, hingga membuat Kinan kesakitan.


"Kamu mau apa sih Nik?? Lepasin." pinta Kinan. Namun kata katanya tak di gubris oleh Niko.


"Niko!!!" teriak Kinan. Teriakan Kinan itu membuat Niko berhenti, namun tangannya masih erat memegang tangan Kinan.


"Kamu tau kan, sebentar lagi kita itu mau tunangan. Kenapa kamu malah keluyuran sama lelaki lain??" ucap Niko.


"Keluyuran katamu??" Kinan heran. "Aku ini lagi ada acara workshop, bukan keluyuran seperti yang kamu pikirkan."


"Tapi kamu lagi sama cowok lain kan??"


"Dia itu cuma sopir, apa bedanya sama sopir yang kemarin baru kamu rekrut??"


"Ya beda lah. Indra itu punya perasaan sama kamu, makanya selama ini dia selalu berusaha ngedeketin kamu. Selama ini dia berusaha menjauhkan kita."


"Nggak Nik. Mas Indra nggak pernah kayak gitu. Dia sama sekali nggak pernah berusaha untuk ngejauhin kita." bela Kinan.


"Malahan sikapmu sendiri yang membuat kita makin jauh." imbuhnya.


"Maksudmu??" tanya Niko heran.


"Selama ini aku berusaha ngikutin alur yang kamu buat. Bahkan kamu memaksaku untuk mengganti sopir, oke aku turutin sesuai apa yang kamu mau. Tapi semakin kesini, aku merasa kamu semakin bertindak semena mena." jelas Kinan.


"Semena mena seperti apa?? Aku ngelakuin kayak gini karena aku perduli sama kamu."


"Perduli itu nggak kayak gini Nik" sahut Kinan. "Bukan menjadi posesif seperti ini. Aku ini bukan bawahanmu yang bisa kamu atur atur seenakmu."

__ADS_1


__ADS_2